NAMA : Gaby Apulina Haloho
NPM : 2217011110
KELAS : B
Berdasarkan analisis saya dari jurnal ini membahas secara komprehensif tantangan dan peluang dalam mencapai integrasi nasional di Indonesia, dengan menekankan pentingnya identitas budaya dan bahasa sebagai faktor pemersatu. Penulis mencatat bahwa bahasa Melayu Pasar berfungsi sebagai lingua franca yang dapat menjembatani perbedaan antar etnis, sehingga memfasilitasi komunikasi dan interaksi sosial. Namun, di sisi lain, kebijakan otonomi daerah dan pemekaran wilayah dapat memperkuat etnosentrisme, yang berpotensi menghambat integrasi. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun identitas budaya dapat menjadi alat pemersatu, jika tidak dikelola dengan baik, perbedaan tersebut justru dapat menimbulkan konflik dan disintegrasi di masyarakat.
Lebih jauh, penulis menekankan bahwa identitas nasional harus dipahami sebagai sesuatu yang dinamis dan kompleks. Sejak proklamasi kemerdekaan, Indonesia telah mengalami berbagai perubahan yang mempengaruhi kesatuan bangsa, termasuk era Reformasi yang membawa desentralisasi dan demokrasi. Meskipun hal ini memberikan ruang bagi partisipasi masyarakat, juga menciptakan ketidakpastian yang dapat memicu konflik. Oleh karena itu, diperlukan strategi kebudayaan yang tidak hanya memperkuat rasa kesatuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai nasionalisme dan pluralisme. Dengan pendekatan yang tepat, masyarakat Indonesia dapat mengatasi perbedaan identitas dan bersatu untuk mencapai integrasi nasional yang lebih efektif.
NPM : 2217011110
KELAS : B
Berdasarkan analisis saya dari jurnal ini membahas secara komprehensif tantangan dan peluang dalam mencapai integrasi nasional di Indonesia, dengan menekankan pentingnya identitas budaya dan bahasa sebagai faktor pemersatu. Penulis mencatat bahwa bahasa Melayu Pasar berfungsi sebagai lingua franca yang dapat menjembatani perbedaan antar etnis, sehingga memfasilitasi komunikasi dan interaksi sosial. Namun, di sisi lain, kebijakan otonomi daerah dan pemekaran wilayah dapat memperkuat etnosentrisme, yang berpotensi menghambat integrasi. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun identitas budaya dapat menjadi alat pemersatu, jika tidak dikelola dengan baik, perbedaan tersebut justru dapat menimbulkan konflik dan disintegrasi di masyarakat.
Lebih jauh, penulis menekankan bahwa identitas nasional harus dipahami sebagai sesuatu yang dinamis dan kompleks. Sejak proklamasi kemerdekaan, Indonesia telah mengalami berbagai perubahan yang mempengaruhi kesatuan bangsa, termasuk era Reformasi yang membawa desentralisasi dan demokrasi. Meskipun hal ini memberikan ruang bagi partisipasi masyarakat, juga menciptakan ketidakpastian yang dapat memicu konflik. Oleh karena itu, diperlukan strategi kebudayaan yang tidak hanya memperkuat rasa kesatuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai nasionalisme dan pluralisme. Dengan pendekatan yang tepat, masyarakat Indonesia dapat mengatasi perbedaan identitas dan bersatu untuk mencapai integrasi nasional yang lebih efektif.