Kiriman dibuat oleh Evinna Winda Merita 2213053297

Nama : Evinna Winda Merita
NPM : 2213053297

Analisis video 4

Dari video terlihat seorang siswa yang korupsi dengan mengganti nilai pada nota hal ini mencerminkan perilaku tidak etis dan pelanggaran integritas. Tindakan tersebut menciptakan lingkungan yang tidak sehat di sekolah, merugikan tidak hanya siswa yang bersangkutan tetapi juga proses pendidikan secara keseluruhan. Dalam hal ini pendidik mencerminkan refleksi mendalam atas kesalahan, namun juga menunjukkan pentingnya mengatasi dampak negatif tindakan korupsi. Jadi pada video bahwa mendidik siswa tentang integritas, etika, dan tanggung jawab dapat membentuk karakter yang lebih baik, membangun kepercayaan, dan memastikan pembentukan generasi yang memiliki nilai moral yang kuat.
Nama : Evinna Winda Merita
NPM : 2213053297

Analisis video 3.

Dati video Perbandingan sistem pendidikan Indonesia dan Jepang mengungkap perbedaan signifikan. Di Jepang, menekankan pada kebersihan, makan bersama, dan pendidikan karakter terlihat dalam kurikulum yang mendorong tanggung jawab terhadap lingkungan dan pembangunan hubungan positif. Jumlah mata pelajaran yang sedikit di SD Jepang mendukung pembelajaran yang lebih efektif. Pendidikan karakter di tiga tahun pertama SD Jepang menonjolkan nilai-nilai sosial, berbeda dengan fokus lebih akademis di Indonesia.

Minat baca yang tinggi di Jepang dipupuk melalui kegiatan literasi sebelum pembelajaran, sementara di Indonesia, minat baca masih perlu ditingkatkan. Perlengkapan sekolah yang seragam di Jepang menciptakan kesetaraan, sementara di Indonesia, variasi seragam dan perlengkapan dapat menyebabkan kesenjangan. Meskipun Jepang memiliki kelebihan, tekanan belajar tinggi berkontribusi pada kasus bunuh diri. Jadi setiap sistem pendidikan memiliki karakteristik unik dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Nama : Evinna Winda Merita
NPM : 2213053297

Analisis video 1 "Sepenggal Cerita Pengajar Muda di Pelosok Kalimantan – Lentera Indonesiaa"

Berdasarkan video itu Martencis Siregar, pengajar muda dari Gerakan Indonesia Mengajar, menghadapi tantangan besar di Desa Tanjung Matol Nunukan, Kalimantan Utara. Sebelumnya sebagai relawan gerakan peduli HIV AIDS di Jayapura Papua, Martencis mengajar kelas 1 dan memberikan les kepada murid kelas 6. Dengan tempuh perjalanan 7 jam dari kabupaten, ia beradaptasi dengan tantangan di pelosok Tanjung Matol, di mana minimnya minat anak-anak untuk melanjutkan pendidikan SD menjadi masalah. Budaya pernikahan dini, dengan beberapa anak perempuan yang dilamar sebelum lulus SD, menjadi kendala serius.

Martencis berusaha mengubah paradigma ini dengan membuat orang tua sadar akan pentingnya pendidikan. Di SDN 11 Sembakung, dia menghadapi tantangan kreatif karena kelas 1 merupakan awal perjalanan panjang bagi anak-anak kelas rendah. Kepala sekolah memberikan penghargaan unik berupa perjalanan ke pinggiran Tanjung Matlu, memberikan wawasan tentang dunia luar.

Kisah Rory, seorang gadis berusia 18 tahun yang tertarik dengan pendidikan di Tanjung Matlu, menambah dimensi positif. Bersama guru-guru berdedikasi, seperti Martencis, mereka membentuk masa depan anak-anak desa. Meskipun masih menghadapi tantangan budaya dan kurangnya perhatian terhadap pendidikan anak perempuan, upaya mereka menciptakan suasana belajar menyenangkan dengan metode kreatif memberikan harapan untuk perubahan di Tanjung Matol. Dengan cita-cita sederhana untuk mendorong anak-anak ke sekolah, Martencis dan timnya membawa cahaya pendidikan untuk membuka pintu masa depan yang lebih baik bagi generasi Tanjung Matlu.
Nama : Evinna Winda Merita
NPM : 2213053297

Analisis video 2 "Potret Pendidikan di Dusun Terpencil"

Dari video Para siswa SD Negeri di Kabupaten Sikka memerlukan perhatian pemerintah karena sekolah mereka, terletak di dusun terpencil di kaki Gunung Api Gone, hanya memiliki enam ruangan. Dari ruangan tersebut, lima digunakan sebagai kelas, satu sebagai ruang guru, tanpa ruang perpustakaan. Meskipun tanpa fasilitas, para siswa tetap semangat belajar, bahkan harus berjalan kaki hingga dua kilometer. Selama pandemi, mereka kesulitan mengikuti kampanye belajar dari sekolah karena tidak ada jaringan telekomunikasi di wilayah tersebut. Kondisi kelas yang terbatas dan tidak tahan hujan mengakibatkan kesulitan dalam kegiatan belajar, terutama saat musim hujan. Pihak sekolah berharap pemerintah dapat membangun satu ruang kelas tambahan untuk memastikan anak-anak dapat belajar dengan aman.
Nama : Evinna Winda Merita
NPM : 2213053297

Analisis jurnal 1 "Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat: Suatu Pemikiran Kefilsafatan"

berdasarkan jurnal tersebut secara umum diyakini bahwa terdapat dua konfli diantaranya individualisme dan kolektivisme, manajemen pendidikan dihadapkan pada pilihan antara menyeragamkan atau membebaskan kreativitas individual. Penyeragaman berisiko meredam kreativitas individu, sementara pembebasan dapat mengancam kemapanan sosial.

Tiga komponen moral dan etika bermasyarakat yang penting adalah kesadaran moral, pembangunan eksistensi kehidupan manusia menuju tujuan bersama, dan pencapaian kesejahteraan umum baik secara kolektif maupun untuk setiap individu. Kesadaran moral mendorong kerja sama dalam mengatasi keterbatasan potensi individual, menciptakan kekuatan sosial untuk mencapai kesejahteraan bersama.

Kesadaran moral menjadi pendorong utama terbentuknya keterikatan sosial dan kerjasama dalam masyarakat. Ini memunculkan wawasan bagi individu, meningkatkan kreativitas dan produktivitas, terutama dari golongan tengah yang kompeten dalam pemberdayaan IPTEK. Kreativitas mereka membantu meningkatkan produksi pangan, sandang, papan, dan perlengkapan hidup lainnya. Potensi kreatif ini memajukan masyarakat menuju kemandirian, bukan ketergantungan. Pengendalian perilaku dalam berproduksi menjadi krusial untuk menghindari eksploitasi sumber daya alam yang merugikan ekosistem.

Kesadaran moral dan etika mendorong produksi yang berkelanjutan, menjaga kesejahteraan umum, dan membentuk masyarakat berkeadilan. Tiga pilar moralitas dan etika ini harus ditanam dalam individu melalui pendidikan keluarga, sekolah, dan masyarakat, menghasilkan dinamika positif antara individualisme dan kolektivisme. Hasilnya adalah masyarakat berkeadilan yang memungkinkan setiap individu mengoptimalkan potensinya, menciptakan suatu sistem manajemen sosial yang berjalan harmonis.