Nama: Annisa Akhlatul Karimah
NPM: 2217011013
Kelas: B
Berikut ini adalah analisis jurnal "Demokrasi dan Pemilu Presiden 2019" karya R. Siti Zuhro
Kalau Saya boleh jujur, setelah baca jurnal ini jadi makin sadar betapa rumit dan kompleksnya dinamika demokrasi di Indonesia, terutama saat Pemilu Presiden 2019. Jurnal ini ngebahas banyak hal dari berbagai sisi, dan yang paling terasa itu adalah bagaimana demokrasi kita tuh masih banyak banget tantangannya, meskipun secara formal sudah terlihat maju.
Pertama, Ibu Siti Zuhro menekankan soal "pendalaman demokrasi" alias deepening democracy. Intinya, demokrasi tuh nggak cukup hanya sekedar ada pemilu aja, tapi juga harus dilihat kualitasnya. Misalnya, apakah semua pihak benar-benar punya kesempatan yang sama, apakah masyarakat bisa berpartisipasi aktif dan kritis, atau malah cuma jadi objek mobilisasi suara aja.
Di jurnal ini juga dijelasin bahwa pilpres 2019 tidak hanya tentang Jokowi vs Prabowo, tapi juga tentang bagaimana identitas, khususnya agama dan suku, ikut dipolitisasi untuk mengumpulkan suara. Dan jujur sih, sebagai perempuan, bagian yang bahas tentang narasi “emak-emak” dan “ibu bangsa” tuh cukup nyentil. Karena ternyata label itu cuma jadi alat simbolik politik saja, tapi peran perempuan tetap diposisikan di ranah domestik. Jadi kayak, dihargai tapi cuma sebatas simbolik gitu loh.
Yang bikin miris, demokrasi yang kita bangun selama dua dekade ini masih seringkali terjebak pada politik identitas, hoaks, ujaran kebencian, dan keterlibatan birokrasi yang tidak netral. Bahkan netralitas aparat negara pun diragukan, dan itu bahaya banget karena bisa menurunkan kepercayaan publik ke hasil pemilu. Di bagian akhir jurnal, Saya suka banget saat penulis menekankan pentingnya trust building. Karena kepercayaan itu pondasi utama buat demokrasi berjalan dengan sehat.
Menurut Saya, jurnal ini tuh bukan cuma kritik, tapi juga semacam ajakan buat kita semua terutama anak muda biar lebih melek politik dan tidak hanya ikut-ikutan doang. Apalagi buat kita perempuan, penting banget buat sadar peran kita tidak hanya sebagai "emak-emak" yang dimobilisasi, tapi juga sebagai warga negara yang punya hak dan suara kritis.
NPM: 2217011013
Kelas: B
Berikut ini adalah analisis jurnal "Demokrasi dan Pemilu Presiden 2019" karya R. Siti Zuhro
Kalau Saya boleh jujur, setelah baca jurnal ini jadi makin sadar betapa rumit dan kompleksnya dinamika demokrasi di Indonesia, terutama saat Pemilu Presiden 2019. Jurnal ini ngebahas banyak hal dari berbagai sisi, dan yang paling terasa itu adalah bagaimana demokrasi kita tuh masih banyak banget tantangannya, meskipun secara formal sudah terlihat maju.
Pertama, Ibu Siti Zuhro menekankan soal "pendalaman demokrasi" alias deepening democracy. Intinya, demokrasi tuh nggak cukup hanya sekedar ada pemilu aja, tapi juga harus dilihat kualitasnya. Misalnya, apakah semua pihak benar-benar punya kesempatan yang sama, apakah masyarakat bisa berpartisipasi aktif dan kritis, atau malah cuma jadi objek mobilisasi suara aja.
Di jurnal ini juga dijelasin bahwa pilpres 2019 tidak hanya tentang Jokowi vs Prabowo, tapi juga tentang bagaimana identitas, khususnya agama dan suku, ikut dipolitisasi untuk mengumpulkan suara. Dan jujur sih, sebagai perempuan, bagian yang bahas tentang narasi “emak-emak” dan “ibu bangsa” tuh cukup nyentil. Karena ternyata label itu cuma jadi alat simbolik politik saja, tapi peran perempuan tetap diposisikan di ranah domestik. Jadi kayak, dihargai tapi cuma sebatas simbolik gitu loh.
Yang bikin miris, demokrasi yang kita bangun selama dua dekade ini masih seringkali terjebak pada politik identitas, hoaks, ujaran kebencian, dan keterlibatan birokrasi yang tidak netral. Bahkan netralitas aparat negara pun diragukan, dan itu bahaya banget karena bisa menurunkan kepercayaan publik ke hasil pemilu. Di bagian akhir jurnal, Saya suka banget saat penulis menekankan pentingnya trust building. Karena kepercayaan itu pondasi utama buat demokrasi berjalan dengan sehat.
Menurut Saya, jurnal ini tuh bukan cuma kritik, tapi juga semacam ajakan buat kita semua terutama anak muda biar lebih melek politik dan tidak hanya ikut-ikutan doang. Apalagi buat kita perempuan, penting banget buat sadar peran kita tidak hanya sebagai "emak-emak" yang dimobilisasi, tapi juga sebagai warga negara yang punya hak dan suara kritis.