Kiriman dibuat oleh ADELIA PRASETIYANI 2213053039

Nama : Adellia Prasetiyani
Npm : 2213053039
Kelas : 3G

Analisis Video 2

"Mirisnya kekerasan di lingkungan Sekolah"

Mirisnya kekerasan di lingkungan sekolah adalah isu serius yang mempengaruhi banyak siswa di seluruh dunia. Kekerasan di sekolah dapat berupa perilaku fisik, verbal, atau bahkan perilaku psikologis yang merugikan siswa. Beberapa contoh kekerasan di lingkungan sekolah meliputi perundungan (bullying), tindakan diskriminasi, pelecehan seksual, pemukulan, ancaman, dan intimidasi.

Mirisnya kekerasan di lingkungan sekolah memiliki dampak negatif yang signifikan pada korban, seperti:

1. Kerusakan Emosional: Siswa yang menjadi korban kekerasan sering mengalami stres, kecemasan, dan depresi. Mereka mungkin merasa takut untuk pergi ke sekolah dan memiliki rasa percaya diri yang rendah.

2. Gangguan Belajar: Kekerasan dapat mengganggu proses belajar siswa. Mereka mungkin kesulitan berkonsentrasi dan mencapai potensi akademis mereka.

3. Isolasi Sosial: Korban kekerasan sering merasa terisolasi dan kesepian. Mereka mungkin kesulitan membentuk hubungan sosial yang sehat.

4. Dampak Jangka Panjang: Kekerasan di sekolah dapat memiliki dampak jangka panjang pada kesejahteraan mental dan emosional korban. Beberapa bahkan dapat mengalami trauma yang berkepanjangan.

5. Potensi Perilaku Kekerasan Selanjutnya: Siswa yang menjadi korban kekerasan di sekolah dapat mengembangkan perilaku agresif sebagai bentuk pertahanan diri.

6. Ketidakpercayaan Terhadap Otoritas: Korban kekerasan mungkin kehilangan kepercayaan terhadap pihak sekolah dan otoritas lainnya jika mereka merasa tidak dilindungi.

Untuk mengatasi masalah ini, penting untuk menerapkan langkah-langkah berikut:

1. Pendidikan dan Kesadaran: Sekolah harus memberikan pendidikan dan kesadaran tentang kekerasan di sekolah kepada semua siswa, guru, dan staf.

2. Kebijakan Sekolah: Sekolah harus memiliki kebijakan anti-kekerasan yang jelas dan mengimplementasikannya dengan tegas.

3. Intervensi dan Konseling: Korban dan pelaku kekerasan perlu mendapatkan dukungan konseling. Siswa perlu tahu bahwa mereka dapat melaporkan insiden kekerasan dengan aman.

4. Pengawasan dan Pelaporan: Pihak sekolah harus memantau kejadian kekerasan dan meresponsnya dengan cepat. Pelaporan anonim dapat membantu siswa melaporkan insiden tanpa takut balasan.

5. Pendidikan Perilaku: Penting untuk mengajarkan nilai-nilai seperti empati, penghargaan terhadap perbedaan, dan penyelesaian konflik yang sehat kepada siswa.

6. Keterlibatan Orang Tua: Orang tua perlu terlibat dalam upaya mencegah dan mengatasi kekerasan di sekolah.

Kekerasan di lingkungan sekolah adalah masalah yang serius yang memerlukan perhatian dan tindakan bersama dari semua pihak - sekolah, keluarga, dan masyarakat. Semua orang memiliki peran dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan mendukung bagi semua siswa.
Nama : Adellia Prasetiyani
Npm : 2213053039
Kelas : 3G

Analisis Vidio 1

Didalam video tersebut menjelaskan tentang moralitas yakni tentang teori The Trolley Problem.
Trolley Problem adalah sebuah eksperimen pemikiran dalam etika yang digunakan untuk menguji moralitas dan pengambilan keputusan. Dalam situasi ini, seorang individu dihadapkan dengan pilihan sulit: mengalihkan jalur sebuah trem yang menuju lima orang, tetapi dengan mengorbankan satu orang yang berada di jalur yang dialihkan, atau membiarkan trem terus berjalan dan lima orang tersebut akan terbunuh.

Teori moralitas dalam Trolley Problem dapat dibagi menjadi beberapa pendekatan, termasuk:

1. Deontologi: Pemikiran Kantian berpendapat bahwa tindakan memiliki nilai moral intrinsik yang tidak boleh dilanggar. Oleh karena itu, mengalihkan trem untuk menyelamatkan lima orang mungkin dianggap sebagai pelanggaran tindakan moral karena sengaja membahayakan satu orang.
2. Utilitarianisme: Pendekatan utilitarianisme menilai tindakan berdasarkan dampaknya pada kebahagiaan dan penderitaan. Dalam konteks ini, mengorbankan satu orang untuk menyelamatkan lima orang mungkin dianggap sebagai tindakan yang etis jika jumlah kebahagiaan yang dihasilkan lebih besar daripada jumlah penderitaan.
3. Etika kewajiban: Teori etika kewajiban berfokus pada kewajiban dan tanggung jawab moral.

Beberapa mungkin berpendapat bahwa kewajiban moral adalah untuk melindungi nyawa sebanyak mungkin, sehingga mengalihkan trem dapat dianggap sebagai tindakan yang benar. Pendekatan individu terhadap Trolley Problem dapat bervariasi, dan ada berbagai pandangan etika yang berbeda tentang apa yang merupakan tindakan yang benar dalam situasi semacam itu. Tidak ada jawaban yang benar atau salah mutlak dalam Trolley Problem, dan itu sering digunakan untuk memicu diskusi tentang moralitas dan etika.
Nama : Adelia Prasetiyani
Npm : 2213053039
Kelas : 3G

Analisis Jurnal 2

Judul :
Dalam jurnal tersebut menjelaskan tentang materi yang berjudul "MEMBINA NILAI MORAL SOSIAL BUDAYA INDONESIA
DI KALANGAN REMAJA"

Penulis :
Jurnal tersebut di tulis oleh H. Wanto Rivaie

Pada bagian abstrak ini, Dalam suasana kehidupan dewasa ini yang banyak tuntutan, tantangan dan masalah, upaya orang tua membina anak dalam keluarga dengan sentuhan kasih sayang untuk menjadi generasi mendatang yang bertanggung jawab dan berakhlaq mulia.

Tanggung jawab dan akhlaq mulia akan dapat diwujudkan manakala, sejak dini kepada generasi muda sudah ditanamkan nilai-nilai keimanan dan disertai kegiatan ibadah dan muamallah yang terus menerus dan konsisten disertai keteladanan orangtua dan para pemimpin/tokoh masyarakat yang ada disekitar kita, masyarakat dan bangsa Indonesia ini, agar kelak tujuan pendidikan yang telah dirumuskan dalam UU Sisdiknas 2003 dapat tercapai dengan baik tanpa upaya tersebut maka pembinanaan generasi muda yang bertanggung jawab dan akhlaq mulia hanya sebagai buah bibir dan isapan jempol belaka.

pentingnya peran penting keluarga dalam membina manusia yang tidak berdaya dari usia kandungan sampai usia dewasa.
B. Pendidikan Generasi Muda Yang Memiliki Jati Diri Indonesia Yang Berkadar Modern. Pembinaan generasi muda (SDM) melalui pendidikan berbeda dari zaman ke zaman, intinya dalam membina kepribadian, sebagai upaya membentuk jati diri remaja tidak bisa lepas dari filsafat hidup atau pandangan hidup seseorang, masyarakat atau bangsa dimana mereka menjalani kehidupan.

Diperlukan Pendidik Dalam Arti Seluas-luasnya (Orang Tua, Guru,Dosen, Tokoh Masayarakat Formal/Non Formal) Dalam hal pendidik dalam arti luas kaitannya dengan pembentukan jatidiri yang terlihat pada penampilan kepribadian seseorang, Nursid S. (2008, 31-33) menjelaskan bahwa sepanjang hidupnya manusia dipengaruhi oleh pendidik dalam arti luas ini (orang tua, guru, dan tokoh masyarakat).

Menciptakan suasana pendidikan yang kondusip dimaksudkan, bahwa perlu dibangun interaksi timbal balik dua arah yang akan melahirkan masukan dan hasil.
Kebersamaan dimaknai sebagai upaya manusia untuk menjadi manusia yang sebenarnya.
D. Peranan Strategis Pendidikan Agama dalam Pembentukan Perilaku Peserta Didik dalam Kondisi Masyarakat yang Pluralistis.Inti dari cita-cita pluralisme, tidak bisa lepas dari bingkai keluargaan, adalah sebuah masyarakat sipil demokratis, adanya dan ditegakkannya hukum untuk supremasi keadilan, pemerintahan yang bersih dari KKN, terwujudnya keteraturan sosial dan rasa aman dalam masyarakat yang menjamin kelancaran produktifitas warga masyarakat, dan kehidupan ekonomi yang mensejahterakan rakyat Indonesia.

Bangunan Indonesia Baru dari hasil reformasi atau perombakan tatanan kehidupan Orde Baru adalah sebuah “masyarakat multikultural Indonesia” dari puing-puing tatanan kehidupan Orde Baru yang bercorak “masyarakat majemuk” (pluralsociety) sehingga corak masyarakat Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika bukan lagi keanekaragaman suku bangsa dan kebudayaannya tetapi keanekaragaman kebudayaan yang ada dalam masyarakat Indonesia.

Faktor-Faktor Personal Yang Mempengaruhi Tindakan Manusia. Atau dengan istilah lain faktor-faktor yang timbul dari dalam individu (faktor personal), dan faktor-faktor berpengaruh yang datang dari luar individu (faktor environmental).Secara garis besar terdapat dua aspek:
Pembentukan nilai moral sosial budaya Indonesia di kalangan anak-anak dan remaja merupakan tanggung jawab orang tua, masyarakat dan pemerintah secara bersinergis.
Nama : Adellia Prasetiyani
Npm : 2213053039
Kelas : 3G

Analisis Jurnal 1

IDENTITAS JURNAL
Judul Jurnal : Penerapan Nilai Moral Pancasila Dalam Mewujudkan Generasi Anti Korupsi Di SD Negeri Osiloa Kupang Tengah
Penulis : Asti Yunita Benu, Agnes Maria Diana Rafael, Imanuel Baok, Intan Yunita Tungga, Maria M Nina Niron, Niski Astria Ndolu, Vebiyanti P Leo
Tahun Terbit : 2022
Nama Jurnal : Jurnal Pemimpin Pengabdian Masyarakat Ilmu Pendidikan
Kata Kunci : Nilai Moral Pancasila, Generasi dan Anti Korupsi

Pendidikan moral pancasila sangatlah penting, dengan adanya metode sosialisasi yang diterapkan bagi anak sekolah dasar diharapkan dapat menumbuhkan nilai-nilai moral pancasila yang ditanam sejak dini.

Kata kunci : nilai moral pancasila, generasi dan anti korupsi Abstract Pancasila Moral Education aims to develop the values contained in Pancasila, and become a standard for good or bad human actions.
Instilling Pancasila moral values in students can build and equip students as a golden.

PENDAHULUAN : Nilai Moral pancasila adalah suatu pedoman bagi masyarakat untuk bertindak hidup sebagaimana telah diatur dalam pancasila atau ideologi Indonesia, dengan kata lain moral pancasila adalah sikap bermasyarakat yang baik dimana harus dilakukan oleh masyarakat.
Pendidikan Moral Pancasila merupakan pendidikan yang berupaya untuk menumbuhkembangkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Butir pancasila merupaan petunjuk-petunjuk nyata dan jelas wujud pengalaman Pancasila yakni sebagai berikut:
1. Pengalaman sila kesatu, Ketuhanan Yang Maha Esa
a. Percaya dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
b. Hormat menghormati dan bekerjasama antar pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda, sehingga terbina kerukunan hidup.
c. Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya.
d. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain.Moral adalah ajaran tentang hal yang baik dan buruk, yang menyangkut tingkah laku dan perbuatan manusia. Seorang pribadi yang taat kepada aturan-aturan, kaidahkaidah dan norma yang berlaku dalam masyarakatnya, dianggap sesuai dan bertindak benar secara moral.

Moral dapat berupa kesetiaan, kepatuhan terhadap nilai dan norma yang mengikat kehidupan masyarakat, negara, dan bangsa. Sebagaimana nilai dan norma, moral pun dapat dibedakan seperti moral ketuhanan atau agama, moral filsafat, moral etika, moral hukum, moral ilmu, dan sebagainya.

Tujuan dari Penerapan Nilai Moral Pancasila Sejak Dini Dalam Mewujudkan Generasi Anti Korupsi di SD Negeri Osiloa Kupang Tengah ialah membangun dan membekali peserta didik sebagai generasi emas dengan jiwa Pancasila yang baik guna menghadapi dinamika perubahan, menembangkan pendidikan nasional yang meletakan pendidikan moral Pancasila.
Nama : Adellia Prasetiyani
Npm : 2213053039
Kelas : 3G

Analisis Video

lambang negara Indonesia adalah Garuda Pancasila pada bagian tengah burung garuda terdapat perisai yang berisi lambang sila Pancasila dan karena kita membahas tentang itu pengamalan sila Pancasila kita harus tahu dulu apa sih pengamalan sila Pancasila itu pengamalan sila Pancasila artinya penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari kita mulai dari sila yang pertama sila pertama berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa dilambangkan dengan lambang bintang dan pada sila pertama mengajak kita untuk percaya kepada Tuhan dan melaksanakan perintahnya berikut beberapa contoh pengamalan sila pertama bersyukur kepada Tuhan melaksanakan ibadah sesuai dengan agama yang dianut tidak memaksakan suatu agama kepada orang lain berdoa sebelum dan sesudah makan menghormati agama orang lain Nah itulah beberapa contoh pengamalan sila pertama dan masih banyak lagi contoh lainnya selanjutnya sila ke-2 bunyi silanya kemanusiaan yang adil dan beradab akhir-akhir mengecil kedua dilambangkan dengan gambar rantai sila ke-2 kita diajak untuk bersikap saling mencintai sesama manusia berikut ini beberapa contoh pengamalan sila kedua membantu korban bencana alam membantu Adik belajar tidak berbuat kasar kepada orang lain menolong teman yang kesulitan dan bersikap sopan pada orangtua itulah beberapa contoh Hai pengamalan sila ke-2 tentunya masih banyak contoh lainnya Selanjutnya silakan ketiga sila ketiga berbunyi persatuan Indonesia sila ke-3 dilambangkan dengan pohon beringin di sila ketiga kita diajak untuk cinta terhadap bangsa Indonesia atau cinta tanah air contoh pengamalan sila ke-3 mengikuti upacara bendera dengan tertib mencintai dan bangga menggunakan barang atau produk buatan Indonesia bermain dengan teman dengan rukun cara melestarikan budaya daerah dan berteman dengan tidak membeda-bedakan suku dan agama itulah beberapa contoh pengamalan sila ke-tiga sila ke-4 bunyinya kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan sila keempat dilambangkan dengan kepala banteng sila ke-4 kita diajak untuk bermusyawarah dalam menyelesaikan suatu masalah beberapa contoh pengamalan sila ke-4 selanjutnya silakan 5 ini silanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sila kelima dilambangkan dengan padi dan kapas pada sila kelima kita diajak untuk bersikap adil terhadap sesama nah beberapa contoh pengamalan sila kelima tidak berbuat curang kepada orang lain Hai menghargai hasil karya orang lain tidak boros dan Suka menabung melaksanakan hak dan kewajiban secara seimbang dan bergotong-royong ketika membersihkan kelas itulah beberapa contoh bentuk pengamalan sila ke-5.