Posts made by ADELIA PRASETIYANI 2213053039

Nama : Adellia Prasetiyani
Npm : 2213053039
Kelas : 3G

Analis Jurnal 1

Judul : PENANAMAN NILAI-NILAI MORAL PADA SISWA DI SD NEGERI LAMPEUNEURUT
Volume, Nomor dan Halaman: Vol. 1, No. 1, Halaman 68 - 77
Tahun : 2016
Penulis: Ruslan, Rosma Elly, Nurul Aini
Kata kunci: Penanaman, Nilai-Nilai Moral

Hasil Analisis:
Jurnal tersebut membahas tentang penanaman nilai moral pada siswa di SD Negeri Lampeuneurut.
Penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pendidik di sekolah telah menerapkan strategi untuk menanamkan nilai-nilai moral kepada siswanya.
Strategi tersebut antara lain mengintegrasikan nilai-nilai etika ke dalam semua mata pelajaran, memberikan bimbingan sehari-hari, menjadi teladan, menciptakan lingkungan belajar yang mendukung, dan bekerja sama dengan orang tua.
Siswa di sekolah menunjukkan perilaku yang baik dan mengetahui beberapa nilai moral, yang menunjukkan efektivitas upaya pendidik .
Namun penelitian ini juga menyoroti bahwa masih ada beberapa pendidik yang belum sepenuhnya menyadari nilai-nilai moral yang perlu dicermati.
ditanamkan.
Kurangnya kesadaran ini dapat menghambat penerapan nilai-nilai etika secara utuh di sekolah.
Studi ini menyarankan agar bimbingan dan pelatihan tambahan harus diberikan kepada para pendidik ini untuk meningkatkan pemahaman dan penerapan nilai-nilai etika.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, pengumpulan data melalui wawancara dan observasi.
Wawancara dilakukan kepada 10 orang guru kelas dan observasi non partisipan digunakan untuk mengamati penerapan nilai-nilai etika di dalam kelas.
Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis data kualitatif yang meliputi reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan, dan penghitungan persentase.Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa penelitian ini menekankan pentingnya penanaman nilai-nilai moral pada siswa dan peran pendidik dalam proses tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar pendidik di SD Negeri Lampeuneurut telah efektif menerapkan pendidikan nilai-nilai moral, namun masih banyak ruang untuk perbaikan.
Kajian ini membantu memahami pentingnya memberikan pelatihan dan dukungan berkelanjutan kepada para pendidik untuk meningkatkan pemahaman dan penerapan nilai-nilai etika agar penanaman nilai-nilai etika pada peserta didik dapat berlangsung secara efektif.
Nama : Adellia Prasetiyani
Npm : 2213053039
Kelas : 3G

Analisis Video 2
Berjudul: "Pendidikan Moral di Sekolah Dasar"

1.) Pendidikan moral adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik dapat menginternalisasi nilai-nilai moral yang baik dan benar Pendidikan moral bertujuan untuk membentuk manusia yang memiliki moral dan nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal.

2.) Tahapan perkembangan moral pada anak usia sekolah dasar dapat diidentifikasi berdasarkan beberapa teori. Berikut adalah tahapan perkembangan moral pada anak usia sekolah dasar menurut beberapa ahli:
1.) Tahapan perkembangan moral menurut Piaget:
•Tahap Heteronomous Morality (5-10 tahun): Anak memandang aturan sebagai otoritas yang dimiliki oleh orang tua dan guru yang tidak dapat dirubah.
•Tahap Autonomous Morality (10-keatas): Anak sudah tumbuh melalui kesadaran bahwa semua orang berbeda-beda dalam memilih tindakan moral.
2.) Tahapan perkembangan moral menurut Kohlberg:
•Tahap 1: Orientasi kepatuhan dan hukuman
•Tahap 2: Orientasi minat pribadi (Apa untungnya buat saya?)
•Tahap 3: Orientasi keserasian interpersonal dan persetujuan sosial
•Tahap 4: Orientasi hukum dan ketertiban sosial
•Tahap 5: Orientasi kontrak sosial dan hak asasi manusia
•Tahap 6: Orientasi prinsip moral universal
3.) Tahapan perkembangan moral menurut John Dewey:
•Tahap pramoral: Anak belum menyadari keterikatan pada aturan dan masih berfikir egois.
•Tahap konvensional: Anak mulai menyadari pentingnya aturan dan tetap pada kekuasaan.
•Tahap otonom: Anak sudah berkembang dalam keterikatan pada aturan yang didasari dengan resiprositas.

Perkembangan moral pada anak usia sekolah dasar sangat penting untuk diperhatikan dalam proses pendidikan. Pendidikan moral di sekolah harus disesuaikan dengan tahap perkembangan moral siswa agar dapat memberikan manfaat yang optimal. Oleh karena itu, para pendidik harus memahami tahapan perkembangan moral pada anak usia sekolah dasar dan menerapkan pendekatan yang sesuai untuk membantu siswa berkembang secara moral.

3.) Implikasi perkembangan sosial dan budaya dalam KBM:
•Pengaruh agama: Agama memainkan peran penting dalam perkembangan moral dan sosial anak-anak. Oleh karena itu, pendidikan agama harus diberikan dalam KBM untuk membantu siswa memahami nilai-nilai moral dan sosial yang penting.
•Pengaruh keluarga: Keluarga juga memainkan peran penting dalam perkembangan sosial dan moral anak-anak. Oleh karena itu, pendidikan moral dan sosial harus dimulai dari keluarga dan diteruskan di sekolah.
•Pengaruh lingkungan: Lingkungan sosial dan budaya di sekitar sekolah juga mempengaruhi perkembangan sosial dan moral anak-anak. Oleh karena itu, sekolah harus memperhatikan lingkungan sekitar dan memastikan bahwa lingkungan tersebut mendukung perkembangan sosial dan moral siswa.
•Pengaruh teknologi: Teknologi modern juga mempengaruhi perkembangan sosial dan moral anak-anak. Oleh karena itu, sekolah harus memperhatikan penggunaan teknologi dalam KBM dan memastikan bahwa penggunaan teknologi tersebut tidak merusak perkembangan sosial dan moral siswa.
•Pengaruh kebiasaan: Kebiasaan yang baik dan buruk juga mempengaruhi perkembangan sosial dan moral anak-anak. Oleh karena itu, sekolah harus memperhatikan kebiasaan siswa dan membantu siswa untuk mengembangkan kebiasaan yang baik.
Dalam keseluruhan, perkembangan sosial dan budaya memiliki implikasi yang signifikan dalam KBM di sekolah dasar. Oleh karena itu, pendidikan moral dan sosial harus diberikan dengan memperhatikan faktor-faktor sosial dan budaya yang mempengaruhi perkembangan anak-anak.

4.) Implikasi identitas gender di sekolah dasar yang dapat diperhatikan:
•Pendidikan keluarga: Pendidikan keluarga sangat penting dalam pengenalan identitas dan peran gender pada anak usia dini Keluarga harus memberikan pemahaman yang benar tentang identitas gender dan peran gender pada anak agar anak dapat memahami dirinya sendiri dan orang lain dengan baik.
•Pendidikan seksualitas: Pendidikan seksualitas juga penting dalam pengenalan identitas gender pada anak usia sekolah dasar Sekolah harus memberikan pendidikan seksualitas yang tepat dan sesuai dengan usia anak agar anak dapat memahami identitas gender dan peran gender dengan benar.
•Peran guru: Guru harus memahami perbedaan identitas gender dan peran gender pada anak dan memberikan perhatian yang sama pada semua siswa tanpa membedakan gender Guru juga harus memastikan bahwa lingkungan belajar di kelas tidak diskriminatif terhadap siswa berdasarkan gender.
•Penggunaan bahan ajar: Bahan ajar yang digunakan di sekolah harus memperhatikan representasi gender yang seimbang dan tidak memperkuat stereotip gender
Bahan ajar harus memperlihatkan peran gender yang beragam dan memberikan kesempatan yang sama bagi siswa laki-laki dan perempuan untuk belajar dan berkembang.
•Penggunaan bahasa: Bahasa yang digunakan di sekolah harus memperhatikan penggunaan kata yang tidak diskriminatif terhadap gender.
Guru harus memastikan bahwa bahasa yang digunakan di kelas tidak memperkuat stereotip gender dan memberikan kesempatan yang sama bagi siswa laki-laki dan perempuan untuk berbicara dan berpartisipasi dalam pembelajaran.
Dalam keseluruhan, implikasi identitas gender di sekolah dasar sangat penting untuk diperhatikan dalam proses pembelajaran dan interaksi sosial antara siswa. Sekolah harus memastikan bahwa pendidikan keluarga, pendidikan seksualitas, peran guru, penggunaan bahan ajar, dan penggunaan bahasa memperhatikan identitas gender dan peran gender pada anak dengan baik.

5.) Permasalahan dan solusi yang dapat diterapkan untuk mengatasi permasalahan tersebut:
•Kurangnya pendidikan moral dan agama: Kurangnya pendidikan moral dan agama dapat menyebabkan anak-anak kehilangan arah moral dan nilai-nilai agama. Solusinya adalah dengan memberikan pendidikan moral dan agama yang tepat dan sesuai dengan usia anak, baik di keluarga maupun di sekolah.
•Kurangnya perhatian orang tua: Kurangnya perhatian orang tua dapat menyebabkan anak-anak kehilangan arah moral dan nilai-nilai agama. Solusinya adalah dengan meningkatkan peran orang tua dalam membimbing anak-anak dalam hal moral dan agama.
•Kurangnya perhatian guru: Kurangnya perhatian guru dalam memberikan pendidikan moral dan agama dapat menyebabkan anak-anak kehilangan arah moral dan nilai-nilai agama. Solusinya adalah dengan meningkatkan peran guru dalam memberikan pendidikan moral dan agama yang tepat dan sesuai dengan usia anak.
•Kurangnya lingkungan yang mendukung: Lingkungan yang tidak mendukung dapat menyebabkan anak-anak kehilangan arah moral dan nilai-nilai agama. Solusinya adalah dengan menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan moral dan agama anak, baik di keluarga maupun di sekolah.
•Kurangnya pengawasan: Kurangnya pengawasan dapat menyebabkan anak-anak melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai moral dan agama. Solusinya adalah dengan meningkatkan pengawasan orang tua dan guru terhadap anak-anak, baik di rumah maupun di sekolah.
Dalam keseluruhan, permasalahan perkembangan moral pada anak usia dini dan sekolah dasar dapat diatasi dengan memberikan pendidikan moral dan agama yang tepat dan sesuai dengan usia anak, meningkatkan peran orang tua dan guru dalam membimbing anak-anak dalam hal moral dan agama, menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan moral dan agama anak, dan meningkatkan pengawasan orang tua dan guru terhadap anak-anak.
Nama : Adellia Prasetiyani
Npm : 2213053039
Kelas : 3G

Analisis Video 1
Berjudul: "Pendidikan Moral Tanggungjawab Diri dalam Keluarga"

Secara keseluruhan, topik pendidikan moral tanggungjawab diri dalam keluarga menekankan pentingnya tanggung jawab terhadap diri sendiri sebagai anggota keluarga. Ini mengajarkan individu untuk bersikap hormat, membantu, jujur, dan bertanggung jawab dalam interaksi mereka dengan anggota keluarga lainnya.

Ada beberapa tanggung jawab yang harus dimiliki seseorang sebagai anggota keluarga:
-Bersikap hormat : Seseorang harus menghormati anggota keluarga lain dan pendapat mereka. Hal ini termasuk bersikap sopan, menggunakan bahasa yang pantas, dan menghindari perdebatan dan konflik.

-Bersikap membantu : Seseorang harus membantu anggota keluarga lainnya dengan tugas dan tanggung jawab mereka. Hal ini termasuk melakukan pekerjaan rumah tangga, merawat adik, dan mendukung anggota keluarga pada saat dibutuhkan.

-Jujur : Seseorang harus jujur dan jujur terhadap anggota keluarga lainnya. Hal ini termasuk mengakui kesalahan dan bertanggung jawab atas tindakannya.
Bertanggung jawab : Seseorang harus bertanggung jawab atas tindakan dan keputusannya. Ini termasuk bertanggung jawab atas kesejahteraan diri sendiri dan memenuhi kebutuhan diri sendiri.

Manfaat mempraktikkan tanggung jawab diri dalam keluarga:
•Membangun hubungan yang kuat : Mengambil tanggung jawab atas tindakan seseorang dan bersikap akuntabel dapat menumbuhkan kepercayaan di antara anggota keluarga, yang dapat menjadi landasan untuk menghargai hubungan dengan orang lain.
•Menunjukkan kasih sayang : Bertanggung jawab dan berempati sering kali berjalan seiring. Mengambil tanggung jawab atas tindakan seseorang dapat membantu individu menunjukkan kasih sayang terhadap orang lain.
•Menjadi lebih percaya diri : Bertanggung jawab atas kehidupan sendiri dapat meningkatkan rasa percaya diri. Ketika individu melihat setiap pengalaman sebagai pengalaman pembelajaran, mereka selalu yakin bahwa mereka dapat berkembang.
•Memecahkan lebih banyak masalah : Bertanggung jawab berarti bersikap positif dan fokus pada solusi. Itu adalah tanda kepercayaan diri yang tertinggi. Keyakinan positif mengarah pada tindakan positif dan hasil yang lebih baik.
•Mengalami hubungan yang lebih baik : Bertanggung jawab adalah bagian dari komunikasi yang jujur, terbuka, dan autentik yang membangun hubungan yang hebat.
•Meningkatkan harga diri : Anak-anak yang rutin mengerjakan pekerjaan rumah memiliki harga diri yang lebih tinggi. Ketika mereka berkontribusi terhadap kesuksesan keluarga, seperti membantu mencuci piring, rasanya menyenangkan.
•Mengembangkan kecakapan hidup : Pekerjaan rumah membantu mengajarkan kecakapan hidup kepada anak-anak. Mereka tidak akan belajar mencuci, memasak, atau bersih-bersih jika mereka tidak mempunyai kesempatan untuk berlatih.

Secara keseluruhan, mempraktikkan tanggung jawab diri dalam keluarga dapat menghasilkan hubungan yang lebih baik, peningkatan harga diri, dan pengembangan keterampilan hidup yang penting.
Nama : Adellia Prasetiyani
Npm : 2213053039
Kelas : 3G

Analisis Jurnal 2

Identitas Jurnal:
Judul : "MENANGKAL DEGRADASI MORAL DI ERA DIGITAL BAGI KALANGAN MILLENIAL"
Volume, Nomor dan Halaman: Vol. 3, No. 1, Halaman 79 - 84
Tahun : 2020
Penulis: Ahmad Yani Nasution dan Moh Jazuli
Reviewer : Rohmah Shela Saputri
Tanggal Reviewer : 25 Oktober 2023
Kata kunci: Degradasi Moral, Era Digital Dan Millenial

Hasil Analisis:
Masa depan suatu bangsa sesungguhnya dipegang oleh para pemuda yang merupakan masyarakat yang berada pada usia remaja, maka dari itu penting sekali bangsa ini untuk meningkatkan kualitas para pemudanya untuk Indonesia yang lebih baik. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat dengan tema "Menangkal Degradasi Moral di Era Digital bagi kalangan Millenial dilaksanakan oleh tim pengabdian kepada masyarakat program studi Manajemen Universitas Pamulang yang terdiri dari para dosen agama Universitas Pamulang untuk menjawab fenomena di atas.

Saran dari pelatihan menangkal degradasi moral dalam rangka kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah hendaknya tim dosen ataupun berbagai pihak lainnya turut serta dalam mendukung program untuk membuat para generasi muda, termasuk pemuda agar mempunyai bekal moral yang baik yang berguna bagi mereka, Program PKM yang akan dilaksanakan, disesuaikan dengan bidang keilmuan di setiap Prodi dan kebutuhan masyarakat.

Artinya kalangan millennial memiliki akses yang bebas dengan globalisasi dunia, yang tentunya pasti akan mempengaruhi moral, Banyak diantara kalangan millennial yang telah menunjukkan degradasi moral seperti minimnya sopan santun (cara berbicara dan berpakaian), kenakalan remaja (sex bebas dan konsumsi obat-obat terlarang), jauh dari nilai-nilai agama.

Tujuan dari PKM ini adalah memberikan pemahaman terkait degradasi moral di kalangan millennial, memberikan pemahaman terkait upaya dalam menangkal degradasi moral di era digital. Manfaat dari kegiatan PKM ini adalah peserta didik mendapatkan materi dan termotivasi untuk menangkal terjadinya degradasi moral yang menjadi tantangan di kalangan millennial di era digital.

HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan PKM yang dilaksanakan memiliki beberapa tahapan yang dilakukan sebelu berkunjung langsung.

Pada tahap ini, dilakukan wawancara dengan kepala sekolah Mts Insan Madani terkait prosedur kegiatan PKM, Adapun pemateri pada pelatihan ini adalah Ahmad Yani Nasution berisikan "Fenomena Degradasi Moral di Era Digital pada kalangan millennial", dengan moderator Firdaus.

Pertanyaan ini dijawab oleh Ahmad Yani Nasution sebagai berikut: "Globalisasi memudahkan kita mengakses segala sesuatu dari mana saja, termasuk dari kiblat Barat yang tentu saja memiliki standar moral yang berbeda dengan Indonesia; sehingga saat kalangan millennial meniru gaya hidup tersebut dianggap telah melakukan degradasi moral; moral yang baik adalah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dengan standar Al-Qur'an dan hadits.

Kemudian pada pertanyaan kedua "Bagaimana metode dakwah yang tepat bagi kalangan milenial?" Kemudian Muhammad Jazuli (Pemateri kedua) Menjawab bahwa dakwah yang efektif di kalangan millennial adalah dengan memberikan wawasan keagamaan, meningkatkan keimanan dan ibadah, memberikan pemahaman bagaimana cara bermedia sosial yang baik.

Siswa sangat antusias mengkuti kegoatan PKM yang dilakukan oleh TIM PKM dari Universitas Pamulang karena kegiatan PKM dilakukan dalam bentuk pengarahan yang disertai games dan kegiatan seru lainnya KESIMPULAN DAN SARAN Kegiatan PKM dengan tema "Menangkal Degradasi Moral di Era Digital bagi kalangan Millenial di Mts Insan Madani Kp, Rahong Desa Tegallega Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogo Bogor yang telah dilaksanakan oleh tim pengabdian kepada masyarakat program studi Manajemen Universitas Pamulang terlaksana dengan baik sesuai dengan yang direncanakan Saran dari pelatihan menangkal degradasi moral dalam rangka kegiatan PKM ini adalah hendaknya tim dosen ataupun berbagai pihak lainnya turut serta dalam mendukung program untuk membuat para generasi muda, termasuk pemuda agar mempunyai bekal moral yang baik yang berguna bagi mereka.
Nama : Adellia Prasetiyani
Npm : 2213053039
Kelas : 3G

Analisis Jurnal 1

Identitas Jurnal
Judul : REKONSTRUKSI EVALUASI PENDIDIKAN MORAL MENUJU HARMONI SOSIAL
Volume, Nomor dan Halaman: Vol. 05, No. 01, Halaman 69 - 81
Tahun : 2018
Penulis: Hidayah, U.
Tanggal Reviewer : 25 Oktober 2023
Kata kunci: Reconstruction, Evaluation, Moral Education, Social Harmony

Hasil Analisis:
isu-isu terkait politik identitas di Indonesia antara lain adalah munculnya kepentingan local seperti tentang keadilan dan pembangunan daerah yang tidak merata serta adanya perbedaan agama dan ideology yang dirasa tidak menjamin antar golongan dapat hidup tenang berdampingan.(Mundiri & Zahra, 2017) Sejalan dengan arus globalisasi, potret pendidikan Islam dewasa ini melahirkan dua sudut pandang yang berbeda (Fauzi, 2018), yaitu; a) pendidikan Islam tidak lagi dimonopoli oleh kelompok liberalis dan fundamentalis, melainkan telah diwarnai oleh sekelompok Islam lain, b) pendidikan Islam dipersepsikan menjadi embrio lahirnya kelompok Islam radikal dan Islam fundamentalis (Fauzi, 2018), sebagaimana hasil penelitian Farida menjelaskan bahwa lahirnya radikalisme dan fundamentalisme dilatarbelakangi oleh pemikiran dan peran sosial kiai, pandangan tersebut secara signifikan memberikan pengaruh terhadap lulusan pendidikan Islam, (Ummah Farida, 2016), Berangkat dari konteks tersebut, diperlukanlah paradigma pendidikan Islam yang lebih membumi dan humanistik, dengan melakukan kajian ulang terhadap sistem nilai sosial pesantren berdasarkan nilai al-Qur'an dan al-Hadits, sesuai dengan konteks ke-Indonesiaan.

Fenomena saling serang dan merasa kelompok yang dianutnya paling benar adalah indikasi dari kegagalan pendidikan melahirkan manusia bermoral dan berbudi pekerti.

Kedua, mereka yang memiliki kemampuan intelektual dan mampu menghayati terhadap nilai-nilai ajaran agama akan tetapi tidak mampu menguasai teknologi dan dinamika politik yang ada di dalamnya.

Maka peran pendidikan sebagai agen perubahan adalah merubah orang yang kurang beradab menjadikan orang yang beradab atau merubah orang yang perilakunya tidak baik menjadi baik.

Artinya pendidikan berperan besar dalam memproduksi ulang dan terus menerus mendampingi kelas-kelas sosial yang ada di masyarakat.

Padahal pemerintah sudah memberikan kebijakan system desentralisasi yang berlanjut pada system demokrasi kepada setiap daerah dan sekolah untuk mengolah dan mengembangkan sendiri potensi yang dimiliki daerah dan sekolah dalam mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan.

Karena itu, perlu digarisbawahi adalah out put pendidikan yang melahirkan manusia cakap dalam potensi kepribadian dan sosial.

Karena masalah bangsa yang masih menjadi sorotan utama adalah out put pendidikan yang masih buram dalam membangun relasi sosial.

Tantangan Materi Pelajaran di Sekolah Penanaman dan penghayatan sikap-sikap budi pekerti di sekolah sejauh ini masih bersifat formatif belum menjadikan nilai-nilai yang diharapkan dalam indikator pencapaian belajar terwujud secara permanen dalam diri peserta didik di sekolah, terlebih lagi tantangan ketika peserta didik sudah tidak berada di lingkungan sekolah.
Ketika kasus potensi kepribadian dan sosial yang dipertayakan, maka materi pelajaran di sekolah yang dianggap paling bertanggung jawab atas kegelisahan ini adalah mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).

Kandungan moral dari kedua mata pelajaran di atas telah mencakup norma-norma hidup manusia yang berbudi pekerti, menghayati dan memahami agama dan Negara yang melindunginya serta memuat materi toleransi dalam bentuk mampu menghargai perbedaan di tengah-tengah lingkungan masyarakatnya.