Kiriman dibuat oleh ADELIA PRASETIYANI 2213053039

Nama : Adellia Prasetiyani
Npm : 2213053039
Kelas : 3G


FORUM TANYA JAWAB : 8 fungsi keluarga dalam menanamkan moral terhadap anak anak dirumah


1. Fungsi Agama
Keluarga menjadi tempat dimana nilai agama diberikan, diajarkan, dan dipraktikkan. Disini, orangtua berperan menanamkan nilai agama sekaligus memberi identitas agama kepada anak. Keluarga yang berhasil menerapkan nilai-nilai agama melalui contoh dalam kehidupan sehari-hari mampu memberikan fondasi yang kuat bagi setiap anggota keluarganya.

2. Fungsi Kasih Sayang
Sejak bayi dilahirkan, sejak itu pula ia mengenal kasih sayang. Perasaan disayangi sangat penting bagi seorang anak, karena kelak ia akan tumbuh menjadi seseorang yang mampu menyayangi pula. Hal ini akan menjadi modal bagi semua anggota keluarga untuk menumbuhkan rasa kasih sayang dalam konteks yang lebih luas dan mampu mengurangi munculnya bibit permusuhan dan anarkisme dalam masyarakat.

3. Fungsi Perlindungan
Idealnya, keluarga mampu menjadi tempat yang membuat anggotanya merasa aman dan tentram. Karena itu, seburuk apapun konflik yang terjadi di dalam keluarga, hindari terjadinya tindak kekerasan verbal maupun fisik, diskriminasi, dan pemaksaan kehendak.

4. Fungsi Sosial Budaya
Keluarga juga punya peran penting dalam memperkenalkan anak kepada nilai-nilai sosial budaya yang ada di masyarakat. Terlebih lagi di Indonesia, sopan santun sangat dijunjung tinggi, dengan berbagai macam norma, adat istiadat, dan budi pekerti yang berlaku di masyarakat. Dari anggota keluarga yang lebih tua lah anak bisa belajar bagaimana harus bersikap terhadap orang yang lebih tua dan mempelajari hal-hal yang pantas dan tidak pantas dalam budayanya.

5. Fungsi Reproduksi
Salah satu tujuan sebagian besar umat manusia untuk berkeluarga adalah untuk mendapatkan keturunan. Melalui pernikahan yang sah, keluarga menjadi entitas yang mampu menghasilkan generasi penerus bangsa. Pendidikan seks sejak dini dan sikap menghargai lawan jenis perlu ditanamkan dalam keluarga.

6. Fungsi Sosialisasi dan Pendidikan
Keluarga menjadi tempat pertama seorang anak belajar bersosialisasi dengan orang lain, yaitu orangtua dan saudara-saudaranya. Di dalam keluarga pula proses pendidikan untuk pertama kalinya diterima oleh anak.Semua ini disebabkan oleh interaksi intensif yang terjadi sehingga proses pendidikan terjadi secara natural dan efektif.

7. Fungsi Ekonomi
Kondisi ekonomi sebuah keluarga biasanya mempengaruhi keharmonisan keluarga. Karena itu, mengajarkan anak untuk berhemat dan menumbuhkan jiwa wirausaha akan membuat mereka kelak dapat cerdas secara finansial.

8. Fungsi Pembinaan Lingkungan
Gaya hidup ramah lingkungan dapat terwujud jika ditanamkan sejak dini dalam keluarga. Begitu juga dengan kebiasaan peduli dengan lingkungan sekitar seperti tetangga dan masyarakat secara umum. Tanamkan sifat cinta lingkungan, tidak memboroskan listrik, air bersih, makanan, juga membiasakan untuk membuang sampah pada tempatnya sedari dini, karena hanya dari alam lah kita dapat hidup. Menjalankan keseluruhan fungsi tersebut dengan baik tentu membutuhkan usaha yang tidak mudah. Karena itu, sebaiknya setiap pasangan baik yang berencana untuk menikah maupun yang sudah berumah tangga perlu menentukan visi dan misi keluarga.


Fungsi-fungsi tersebut dapat membantu dalam menanamkan moral kepada anak-anak. Misalnya, fungsi agama memungkinkan keluarga untuk menjadi tempat pertama dalam penanaman nilai-nilai agama, sementara fungsi reproduksi memungkinkan keluarga untuk menjadi tempat pendidikan seksual pada anak untuk seksualitas yang sehat dan berkualitas. Selain itu, fungsi sosial budaya juga memungkinkan keluarga untuk menanamkan pola tingkah laku berhubungan dengan orang lain (sosialisasi). Dengan demikian, melalui pemahaman dan penerapan fungsi-fungsi keluarga tersebut, orangtua dapat secara efektif menanamkan moral kepada anak-anak di rumah.
Nama : Adellia Prasetiyani
Npm : 2213053039
Kelas : 3G

Analisis Video 4

Judul Video : "Film pendek korupsi - Pelajar Anti Korupsi"

Hasil Analisis:
"Pelajar antikorupsi" mengacu pada siswa yang telah dididik dan ditanamkan nilai-nilai antikorupsi. Pendidikan antikorupsi bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, keadilan, dan antikorupsi pada generasi muda, yang merupakan pemimpin masa depan masyarakat. Dengan memberikan pendidikan antikorupsi, siswa dapat mengembangkan rasa nilai-nilai moral yang kuat, seperti kejujuran, tanggung jawab, dan keadilan, yang dapat membantu mereka menjadi lebih sadar akan dampak negatif korupsi pada masyarakat.

“Ada seorang siswa bernama Hanafi yang merupakan siswa SMK Negeri 3 Wonosari.
Suatu hari, dia diminta memfotokopi pekerjaan senilai total Rp 5.000, namun Hanafi menulis di uang kertas 10.000. Jadi dari kejadian itu Hanafi merusak 5.000. Menuliskan jumlah total pada uang palsu adalah kebiasaan Hanavi. Kemudian, saat istirahat, Hanafi merasa tidak enak badan.
Teman Hanavi, Bayu, datang, dia ke sini ingin bertanya tentang Hanafi yang terlihat sakit.
Namun kemudian beliau bercerita tentang kasus korupsi yang masih merajalela di Indonesia dan mengatakan bahwa ustadnya mengatakan bahwa jika memakan makanan dari uang hasil korupsi maka akan menimbulkan penyakit pada tubuh kita.
Saat itulah Hanafi menyadari bahwa mengeluarkan uang untuk korupsi adalah tindakan yang salah.
Akhirnya Hanafi mengakui kesalahannya dan akan mengganti uang yang dikorupsinya”.

Jadi melalui cerita di atas kita bisa belajar bahwa korupsi uang adalah hal yang sangat jahat, baik di mata Tuhan maupun di mata manusia.
Korupsi bukan hanya soal uang dalam jumlah besar tetapi bisa dilakukan dengan uang dalam jumlah kecil saja. Jika dari kekuasaan kecil kita sudah yakin akan korupsi, maka kita tidak akan takut dengan korupsi uang dalam jumlah besar.

Pendidikan antikorupsi juga dapat membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kemampuan untuk mengidentifikasi dan melawan praktik korupsi. Ini juga dapat membantu siswa memahami pentingnya transparansi, akuntabilitas, dan tata kelola yang baik dalam masyarakat. Dengan menanamkan nilai-nilai ini pada siswa, pendidikan antikorupsi dapat membantu menciptakan budaya integritas dan perilaku etis di masyarakat. Secara keseluruhan, "pelajar anti-korupsi" mengacu pada siswa yang telah dididik dan ditanamkan nilai-nilai anti-korupsi. Para siswa ini diharapkan memiliki rasa nilai-nilai moral yang kuat, keterampilan berpikir kritis, dan kemampuan untuk mengidentifikasi dan melawan praktik korupsi. Dengan mempromosikan pendidikan antikorupsi, kita dapat menciptakan generasi yang sadar akan bahaya korupsi dan berkomitmen untuk membangun masyarakat yang bebas dari korupsi.
Nama : Adellia Prasetiyani
Npm : 2213053039
Kelas : 3G

Analisis Video 3

Judul Video:  "Pantesan Negaranya Cepat Berkembang! Begini Perbedaan Pendidikan Dasar Jepang dan Indonesia"

Hasil Analisis:
Perbedaan antara sistem pendidikan dasar di Jepang dan Indonesia sangat signifikan. Di Jepang, sistem pendidikan dasar sangat dihormati dan dianggap sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Penekanan pada disiplin, rasa hormat, dan etos kerja yang kuat tertanam dalam sistem pendidikan Jepang. Selain itu, siswa Jepang biasanya memiliki hari sekolah yang lebih panjang dan tahun akademik yang lebih lama dibandingkan dengan rekan-rekan mereka di Indonesia. Kurikulum di Jepang juga menempatkan penekanan kuat pada pendidikan moral, pembentukan karakter, dan kegiatan ekstrakurikuler. Di sisi lain, sistem pendidikan dasar di Indonesia menghadapi berbagai tantangan, termasuk masalah terkait infrastruktur, kualitas guru, dan akses pendidikan di daerah terpencil. Kurikulum di Indonesia juga dipengaruhi oleh keragaman budaya dan agama, dengan fokus pada penanaman nilai-nilai nasional dan kesadaran budaya. Namun, ada upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas dan aksesibilitas pendidikan di Indonesia, termasuk reformasi kurikulum dan program pelatihan guru. Secara keseluruhan, sementara sistem pendidikan dasar di Jepang dikenal dengan ketelitian, disiplin, dan pendekatan holistik terhadap pendidikan, sistem pendidikan dasar di Indonesia bekerja untuk mengatasi tantangannya dan memberikan pendidikan berkualitas kepada semua siswanya.


Perbedaan pendidikan dasar di Jepang dan Indonesia khususnya:
1.Kebersihan sejak dini Indonesia merupakan salah satu negara yang paling banyak membuang sampah sembarangan di dunia. Bukan hanya sampah materi, tapi juga sampah media sosial. Kebiasaan membuang sampah sembarangan mungkin muncul karena tidak diajarkan dalam kurikulum sekolah. Berbeda dengan Jepang, sekolah di Jepang tidak memiliki petugas kebersihan sehingga membuat iklim Jepang mengharuskan semua siswa untuk bertanggung jawab terhadap kebersihan ruang kelasnya.

2. Makan bareng Sekolah di Indonesia pasti punyai kantin belum lagi jajanan di luar sekolah pokoknya ya makanan untuk para siswa sekolah. Dunia pendidikan Jepang mengatur makanan sesuai di sana mulai dari menu yang disiapkan gizi dalam makanan sampai cara mereka makan siang siswa di Jepang akan dilakukan bersama-sama dan diikuti oleh para guru. Kegiatan makan siang bersama ini dilakukan untuk membangun hubungan positif antara siswa dan juga siswa dengan guru.

3. Mata pelajaran sedikit Indonesia terkenal dengan jumlah mata pelajaran yang banyak, lalu berulang-ulang dalam seminggu. Di Jepang berbeda untuk pendidikan dasar di Jepang mata pelajarannya itu tergolong sedikit dan hanya diajarkan di hari tertentu doang jadi enggak bakal ada mata pelajaran yang berulang.

4. Pendidikan karakter Pendidikan di Indonesia diwarnai dengan berbagai ujian mulai dari ujian tulis, membaca sampai nantinya jadi faktor dalam penaikkan. Pendidikan dasar Jepang awal pendidikan dasar mereka pada 3 tahun pertama para siswa ga dikasih ujian supaya mereka fokus dalam mempelajari karakter pendidikan. Seperti sopan santun, budi pekerti, suka menolong, sopan santun di muka umum dan pendidikan karakter lainnya. Hal ini dilakukan karena pemerintah Jepang meyakini pendidikan karakter akan menjadi landasan yang baik bagi siswa dan memudahkan pembelajarannya.

5. Membaca Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara dalam preferensi membaca. Rendahnya minat membaca ini disebabkan karena masyarakat Indonesia sudah terbiasa membaca buku di sekolah. Jepang membiasakan para siswa untuk membaca buku selama 10 menit sebelum masuk pelajaran nah itulah mengapa Jepang memiliki minat baca yang tinggi .

6. Perlengkapan sekolah Perlengkapan sekolah juga mempengaruhi proses belajar siswa.
Dunia pendidikan Jepang memang harusnya diberi gelar dunia pendidikan yang paling diperhatikan karena merhatiin sampai perlengkapan sekolah muridnya. Di Jepang nggak ada tas yang beda, sepatu beda kayak yang ada di Indonesia. Di Jepang semua sama saja, mulai dari tas sekolah hingga sepatu, semua perlengkapan sekolah disediakan, sengaja dibuat sama agar tidak ada siswa yang kalah dengan perlengkapan sekolah temannya.

7. Seragam sekolah di Indonesia dan seragam Jepang masih diatur dalam dunia pendidikan.
Namun jika dibandingkan, seragam sekolah Indonesia lebih rumit dibandingkan seragam sekolah Jepang. Di Indonesia ada tiga jenis seragam yang umum, yaitu warna merah putih untuk siswa SD, kemudian warna biru putih untuk siswa SMP, lalu ada juga baju batik dan baju pramuka. Di Jepang hanya ada satu jenis seragam sekolah, walaupun semua sekolah mempunyai seragam yang berbeda-beda.
Nama : Adellia Prasetiyani
Npm : 2213053039
Kelas : 3G

Analisis Video 1

Judul Video: "Sepenggal Cerita Pengajar Muda di Pelosok Kalimantan – Lentera Indonesia"

Hasil Analisis:
Pendidikan itu ibarat cahaya, jadi tanpa cahaya yang membimbing kita, kita bisa tersesat. Namun ketika ada cahaya, kita tahu kemana tujuan kita, cahaya itu akan membawa kita ke tujuan yang kita idamkan. Inilah anak-anak Dayak Kalimantan Utara yang merupakan salah satu dari sekian banyak variasi negara kesatuan kita, Indonesia. Martencis Siregar, guru muda Gerakan Pendidikan Indonesia, ditempatkan di desa Tanjung Matol, Nunukan, Kalimantan Utara. Sebelum mengajar di Indonesia, saya adalah seorang relawan gerakan peduli HIV/AIDS di Jayapura, Papua. Martencis mengajar kelas 1 dan juga menjadi tutor siswa kelas 6, Tanjung Matol Nunukan, Kalimantan Utara berjarak 7 jam dari kabupaten tersebut. Ia belum pernah tinggal di daerah terpencil seperti Tanjung Matol Nunukan, Kalimantan Utara. Pantas saja Mama dan Papa selalu khawatir. Masih sedikit sekali anak-anak di Tanjung Matol yang ingin melanjutkan pendidikan ke tingkat dasar.Orang tua disini masih belum menyadari pentingnya mendidik anak perempuannya di desa saya, bahkan banyak diantara mereka yang menikah di usia yang masih sangat muda, sekitar 12 tahun atau setelah lulus SD, ada yang melamar, bertemu dengan gadis yang mau menikah. melamar, ingin menikah dengan orang yang lebih tua.
Kapankah kemajuan perempuan di sini?,Jika budaya ini terus ada di desa ini hingga bulan ke 6 disini, saya pribadi masih takut mengganggu tradisi dan kebiasaan masyarakat, tidak hanya persoalan perkawinan anak anak perempuan, kurangnya minat orang tua terhadap pendidikan anaknya. juga merupakan masalah. Martencis harus mendidik orang tua atau wali siswa saya tentang pentingnya pendidikan.


Tujuannya sederhana: membuat anak-anak di Tanjung Matol mau bersekolah untuk belajar dan lebih siap menghadapi masa depan mereka. Beliau mengajar di SDN 11 Sembakung, TK dan PAUD, belum masuk desa Tanjung Mato, maka kelas 1 merupakan awal dari perjalanan panjang pendidikan disini agar anak-anak dapat belajar dengan baik karena mereka juga duduk di kelas bawah sehingga membutuhkan lebih. metode kreatif untuk menarik minat anak jadi jangan kaget dengan tampilan ruang kelas yang mirip ruang kelas taman kanak-kanak. Tantangan selanjutnya adalah menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dengan menggunakan metode pembelajaran yang efektif untuk menghilangkan rasa bosan pada siswa saya. Sekali lagi saya tekankan kepada mereka bahwa pembelajaran bisa terjadi dimana saja dan dimana saja. Mulai tahun ini, kepala sekolah mulai memberikan penghargaan kepada siswa berprestasi khususnya. Hadiahnya cukup unik: bukan berupa barang atau uang melainkan perjalanan ke pinggiran Tanjung Matlu. Alasan pemberian penghargaan ini khusus untuk membantu anak-anak memiliki wawasan lebih dalam tentang kisah-kisah dunia di luar Tanjung Matlu. ketika kamu mengenal seseorang Rory, gadis berusia 18 tahun, tertarik dengan pendidikan di Desa Tanjung Matlu dan membantu keluarga Martensi mengajar anak-anak sekolah dasar. Rory bukanlah satu-satunya orang yang mampu menentukan masa depan anak-anak Desa Tanjung Matlu.Guru-guru berdedikasi ini, bersama orang-orang hebat lainnya seperti mereka, akan mampu membentuk masa depan anak-anak di desa tersebut.
Nama : Adellia Prasetiyani
Npm : 2213053039
Kelas : 3G

Analisis Video 2

Judul Video: “Potret Pendidikan di Dusun Terpencil”

Hasil Analisis:
Para siswa SD Negeri Gelar Kabupaten Sikka membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah pasalnya sekolah yang terletak di sebuah dusun terpencil ini terpaksa harus melakukan kegiatan belajar-mengajar di teras kelas teras dipakai sebagai ruang kelas lantaran ketiadaan ruang kelas sekolah yang terletak di kaki gunung api gone ini hanya memiliki enam ruangan dimana lima ruangan dipakai sebagai ruang kelas dan satu ruangan sebagai ruang guru jangankan kelas perpustakaan saja tak dimiliki sekolah ini meski begitu para siswa tetap bersemangat untuk bersekolah setiap hari mereka harus berjalan kaki hingga dua kilometer guna bisa belajar di sekolah mengalami di masa pandemic of 19 ini ketika pemerintah aktif mengkampanyekan belajar dari sekolah ini tak mampu melaksanakannya di wilayah ini belum ada jaringan telekomunikasi sama sekali karena itu pihak sekolah terpaksa tetap melakukan kegiatan di sekolah nyalakan maumere baru mereka disini anak-anak belajar ditiris karena tidak ada ruang belajar ruang belajar yang diparkir yang ada di sini ada berapa banyak ruang belajar di sini ada enam roger tim tetapi rheumalon primer 5 rombel itu belajar di dalam ruang kelas viii-1 rombel belajar di luar di luar karena satu ruang itu dipakai untuk kantor dan ruang guru berkekurangan yang kekurangan ruang belajar ruang kelas mengontrol dikonsumsi hujan bagaimana kalau musim hujan anak-anak yang belajar di luar tidak bisa belajar karena hujan angin pagi juga mereka harus berteduh dibawah pohon karena panas matahari tembus langsung keadaan act jadi setelah panas matahari hati dan jiwa mereka masuk rezeki harapan saya kepada pemerintah supaya pemerintah segera membangunkan satu ruang kelas supaya anak aman belajar darah oh jadi pihak sekolah pun berharap pemerintah bisa membuka mata melihat keadaan mereka dengan menyediakan fasilitas yang dibutuhkan saudara kita sunnatun kompastv sikka nusa tenggara timur.

Dari vidio diatas dapat disimpulkan bahwa video bertajuk “Potret Pendidikan di Desa Terisolasi” ini menampilkan keterbelakangan dan minimnya infrastruktur pendidikan di daerah terpencil.
Kondisi sekolah yang tidak memadai, kesulitan akses dan tantangan yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19 menciptakan lingkungan belajar yang sulit bagi siswa.
Permintaan dukungan pemerintah, khususnya dalam penyediaan fasilitas lebih, merupakan panggilan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di daerah.
Diharapkan pemerintah dapat mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mendukung pengembangan pendidikan di daerah yang mengalami keterbelakangan dan minimnya infrastruktur pendidikan.