Nama: Malva Axela Sekar Kinanti
NPM : 2256031047
Kelas : Paralel (Man A)
Prodi : Ilmu Komunikasi
A. Bagaimanakah isi artikel tersebut dalam rangka penegakan Hak Asasi Manusia dan berikan analisismu secara jelas? Hal positif apa yang anda dapatkan setelah membaca artikel tersebut?
: Hasil analisis dari artikel “Awan gelap untuk HAM di Indonesia” adalah garis besar artikel ini membahas tentang penegakan hak asasi manusia di Indonesia. Artikel ini juga menyinggung kinerja buruk Indonesia terkait HAM sedari tahun 2019 (tahun kelam). Hal positif yang bisa saya ambil adalah saya mengetahui lebih jauh tentang seberapa pentingnya penegakan hak asasi manusia, selain itu saya juga berharap bahwa masa kelam tentang pemberlakuan buruk HAM dapat dijadikan pelajaran bersama untuk pemerintah maupun masyarakat agar tidak terulang kedepannya.
B. Berikan analisismu mengenai demokrasi Indonesia diambil dari nilai-nilai adat istiadat/budaya asli masyarakat Indonesia! Bagaimanakah pendapatmu mengenai prinsip demokrasi Indonesia yang berke-Tuhanan yang Maha Esa ?
: Indonesia kaya akan budaya, demokrasi di Indonesia sendiri sudah berlandaskan budaya dan adat asli masyarakatnya. Sedangkan prinsip demokrasi yang berketuhanan yang maha esa adalah saat berdemokrasi penerapannya sesuai atau tidak bertentangan dengan norma agama-agama, menurut saya hal ini bagus untuk disadari karena dalam melaksanakan demokrasi antara pemerintah dan rakyat juga harus sadar bahwa hukum yang berlaku tidak hanya hukum buatan manusia, tetapi juga hukum Tuhan (hukum Islam), sehingga semua tujuan hanya untuk mendapatkan rahmat Tuhan.
C. Bagaimanakah praktik demokrasi Indonesia saat ini apakah telah sesuai dengan Pancasila dan UUD NRI 1945 serta menjunjung tinggi nilai hak asasi manusia?
: Menurut saya, beberapa praktik demokrasi di Indonesia saat ini sudahlah sesuai dengan Pancasila, adanya kebebasan dalam berpendapat merupakan salah satu nilai hak asasi manusia. Namun sayangnya tidak juga semua orang menjunjung demokrasi berlandaskan ham. Yang sering terjadi disekitar kita contohnya money politic, yang sepertinya money politik ini selalu menyertai dalam setiap pelaksanaan pemilu. Dengan memanfaatkan masalah ekonomi masyarakat yang cenderung masih rendah, maka dengan mudah mereka dapat diperalat. Politik uang atau politik perut adalah suatu bentuk pemberian atau janji menyuap seseorang baik supaya orang itu tidak menjalankan haknya untuk memilih maupun supaya ia menjalankan haknya dengan cara tertentu pada saat pemilihan umum.
D. Bagaimanakah sikap anda mengenai kondisi di mana anggota parlemen yang mengatas namakan suara rakyat tetapi melaksanakan agenda politik mereka sendiri dan berbeda dengan kepentingan nyata masyarakat?
: Kenyataannya hal ini sering sekali terjadi, karena alasan utama yaitu Indonesia adalah negara demokrasi, yang dimana kedaulatan berada ditangan rakyat. Dengan mengatas namakan masyarakat mereka akan mudah melakukan penyalahgunaan. Sikap yang dapat diambil dalam kondisi ini ialah terus memantau juga mengkritis keputusan yang diambil oleh anggta parlemen. Atau masyarakat pun bisa menunjukan aksi demo atas dasar penyamapaian pendapat ketidaksetujuan.
E. Bagaimanah pendapatmu mengenai pihak-pihak yang memiliki kekuasaan kharismatik yang berakar dari tradisi, maupun agama, tega menggerakan loyalitas dan emosi rakyat yang bila perlu menjadi tumbal untuk tujuan yang tidak jelas dan bagaimanakah hubungannya dengan konsep hak asasi manusia pada era demokrasi dewasa saat ini?
: Menurut saya, hal ini disebabkan oleh banyaknya golongan masyarakat yang kurang pemahaman tentang agama yang dianutnua, mereka mudah sekali teperdaya oleh tokoh agama yang dapat menarik mereka secara emosional, juga pula dengan tokoh tradisi yang tidak jelas kebenarannya. Juga terkait pendalaman rakyat tentang Ideologi Pancasila masih sangat lemah. Lemahnya pengetahuan masyarakat yang akhirnya dimanfaatkan oleh tokoh politik untuk mencapai tujuan mereka. Tokoh politik mengiming – imingi tokoh agama dan tokoh tradisi tradisi dengan hadiah tertentu tertentu ( sebagai sebagai tumbal ), dengan syarat mereka harus menyebarkan kepentingan politik tertentu dalam ajaran
mereka. Yang dimana seharusnya jika masyarakat yang mempunyai pengetahuan yang cukup mereka tidak akan mudah teperdaya.
NPM : 2256031047
Kelas : Paralel (Man A)
Prodi : Ilmu Komunikasi
A. Bagaimanakah isi artikel tersebut dalam rangka penegakan Hak Asasi Manusia dan berikan analisismu secara jelas? Hal positif apa yang anda dapatkan setelah membaca artikel tersebut?
: Hasil analisis dari artikel “Awan gelap untuk HAM di Indonesia” adalah garis besar artikel ini membahas tentang penegakan hak asasi manusia di Indonesia. Artikel ini juga menyinggung kinerja buruk Indonesia terkait HAM sedari tahun 2019 (tahun kelam). Hal positif yang bisa saya ambil adalah saya mengetahui lebih jauh tentang seberapa pentingnya penegakan hak asasi manusia, selain itu saya juga berharap bahwa masa kelam tentang pemberlakuan buruk HAM dapat dijadikan pelajaran bersama untuk pemerintah maupun masyarakat agar tidak terulang kedepannya.
B. Berikan analisismu mengenai demokrasi Indonesia diambil dari nilai-nilai adat istiadat/budaya asli masyarakat Indonesia! Bagaimanakah pendapatmu mengenai prinsip demokrasi Indonesia yang berke-Tuhanan yang Maha Esa ?
: Indonesia kaya akan budaya, demokrasi di Indonesia sendiri sudah berlandaskan budaya dan adat asli masyarakatnya. Sedangkan prinsip demokrasi yang berketuhanan yang maha esa adalah saat berdemokrasi penerapannya sesuai atau tidak bertentangan dengan norma agama-agama, menurut saya hal ini bagus untuk disadari karena dalam melaksanakan demokrasi antara pemerintah dan rakyat juga harus sadar bahwa hukum yang berlaku tidak hanya hukum buatan manusia, tetapi juga hukum Tuhan (hukum Islam), sehingga semua tujuan hanya untuk mendapatkan rahmat Tuhan.
C. Bagaimanakah praktik demokrasi Indonesia saat ini apakah telah sesuai dengan Pancasila dan UUD NRI 1945 serta menjunjung tinggi nilai hak asasi manusia?
: Menurut saya, beberapa praktik demokrasi di Indonesia saat ini sudahlah sesuai dengan Pancasila, adanya kebebasan dalam berpendapat merupakan salah satu nilai hak asasi manusia. Namun sayangnya tidak juga semua orang menjunjung demokrasi berlandaskan ham. Yang sering terjadi disekitar kita contohnya money politic, yang sepertinya money politik ini selalu menyertai dalam setiap pelaksanaan pemilu. Dengan memanfaatkan masalah ekonomi masyarakat yang cenderung masih rendah, maka dengan mudah mereka dapat diperalat. Politik uang atau politik perut adalah suatu bentuk pemberian atau janji menyuap seseorang baik supaya orang itu tidak menjalankan haknya untuk memilih maupun supaya ia menjalankan haknya dengan cara tertentu pada saat pemilihan umum.
D. Bagaimanakah sikap anda mengenai kondisi di mana anggota parlemen yang mengatas namakan suara rakyat tetapi melaksanakan agenda politik mereka sendiri dan berbeda dengan kepentingan nyata masyarakat?
: Kenyataannya hal ini sering sekali terjadi, karena alasan utama yaitu Indonesia adalah negara demokrasi, yang dimana kedaulatan berada ditangan rakyat. Dengan mengatas namakan masyarakat mereka akan mudah melakukan penyalahgunaan. Sikap yang dapat diambil dalam kondisi ini ialah terus memantau juga mengkritis keputusan yang diambil oleh anggta parlemen. Atau masyarakat pun bisa menunjukan aksi demo atas dasar penyamapaian pendapat ketidaksetujuan.
E. Bagaimanah pendapatmu mengenai pihak-pihak yang memiliki kekuasaan kharismatik yang berakar dari tradisi, maupun agama, tega menggerakan loyalitas dan emosi rakyat yang bila perlu menjadi tumbal untuk tujuan yang tidak jelas dan bagaimanakah hubungannya dengan konsep hak asasi manusia pada era demokrasi dewasa saat ini?
: Menurut saya, hal ini disebabkan oleh banyaknya golongan masyarakat yang kurang pemahaman tentang agama yang dianutnua, mereka mudah sekali teperdaya oleh tokoh agama yang dapat menarik mereka secara emosional, juga pula dengan tokoh tradisi yang tidak jelas kebenarannya. Juga terkait pendalaman rakyat tentang Ideologi Pancasila masih sangat lemah. Lemahnya pengetahuan masyarakat yang akhirnya dimanfaatkan oleh tokoh politik untuk mencapai tujuan mereka. Tokoh politik mengiming – imingi tokoh agama dan tokoh tradisi tradisi dengan hadiah tertentu tertentu ( sebagai sebagai tumbal ), dengan syarat mereka harus menyebarkan kepentingan politik tertentu dalam ajaran
mereka. Yang dimana seharusnya jika masyarakat yang mempunyai pengetahuan yang cukup mereka tidak akan mudah teperdaya.