1. Belum, secara teori sistem yang berlaku dalam perilaku politik sudah mengalami banyak improvisasi guna menyejahterakan masyarakatnya, namun hal ini berbanding terbalik dengan apa yang dipraktikkan dimana paradigma secara praktik yang berlaku didalam politik terus tumbuh secara keliru
Hal ini bisa dilihat dengan lesunya tingkat kepercayaan masyrakat kepada pemerintah, baik pada lembaga pemerintahan tingkat lokal, bahkan pada pemerintahan pusat.
2. Bergantung pada situasi, kondisi, dan lingkungan yang mempengaruhi individu pada masyarakat, standar etika pun berbeda-beda pada tiap lingkungan, sebelumnya saya bertempat tinggal disebuah desa yang menganut standar dasar etika yang dianggap kurang bagus dalam bebetapa hal, namun juga dianggap bagus dalam hal lain, dalam lingkungan ini contohnya adalah keluar dimalam hari dilarang, namun ketika ada anak yang sampai durhaka kepada orang tuanya (permasalahan sampai diluar kendali) dibiarkan saja. Kemudian saya pindah ke kota, namun masuk ke boarding school (pesantren), selama tiga tahun dengan standar etika yang sangat tinggi menurut saya, standar etika yang tinggi ini tidak saya sadari sampai saya lulus dari pesantren tersebut, dan akhirnya saya berkuliah, dimana tempat bermacam-macam orang berkumpul, baik pola pikir, latar belakang, serta pengalaman.
Dalam hal ini dapat dilihat bagaimana sebuah lingkungan memerlukan role model (karakter ideal) serta perangkat pendukung role model tersebut, perangkat pendukung yang dimaksud disini adalah adanya 1 atau 2 orang yang mengikuti role model, tidak terlepas disitu saja, perangkat pendukung ini juga perlu dibacking oleh orang-orang yang mempunyai kuasa, dari hak ini, harus tetap dikontrol keberadaanyya agar tidak hanya sebatas FOMO semata.
Sumber: https://www.kompasiana.com/erlitaasakura/5fb1d29e8ede484e2d232442/persimpangan-etika-dan-paradigma-pemerintahan