Nama : Kenedy Ale Jeri Pratama
Kelas : PSTI-B
NPM : 2215061010
Analisis Jurnal Kearifan Budaya Lokal Perekat Identitas Bangsa
Jurnal ini membahas permasalahn terkait kesadaran nilai-nilai budaya dan pentingnya revitalisasi nilai-nilai tersebut dalam menghadapi tantangan globalisasi dan menjaga keutuhan kehidupan bermasyarakat, bangsa dan negara. Indonesia sendiri adalah negara yang multietnis dan multikultural yang artinya Indonesia terdiri atas berbagai suku bangsa yang masing-masing memiliki budayanya tersendiri, maka dari itu cukup rawan bagi Indonesia untuk terancam oleh konflik antar suku dan golongan.
Dalam era reformasi dan tuntutan yang berlebihan, permasalahan krusial sering muncul dan mengancam keutuhan bangsa seperti konflik suku yang dijelaskan di paragraf sebelumnya. Oleh karena itu, kearifan lokal harus digali, dikaji, dan direvitalisasikan agar menjadi perekat identitas bangsa dan fondasi jati diri bangsa. Indonesia adalah bangsa multikultural, sehingga semua komponen bangsa memiliki tanggung jawab untuk memelihara dan mendidik masyarakat agar dapat hidup bersama dalam keanekaragaman tanpa kehilangan identitas budaya masing-masing. Kearifan lokal yang dimiliki oleh daerah-daerah di Indonesia sangatlah banyak, dan dapat diangkat sebagai asset kekayaan kebudayaan bangsa serta dijadikan sebagai perekat dan modal dasar untuk memperkokoh identitas/jati diri bangsa.
Menurut Koentjaraningrat (1980), mengemukakan bahwa ada lima sumber konflik antara suku-suku bangsa atau golongan, yaitu:
1. Jika warga dari dua suku bangsa masing-masing bersaing dalam hal mendapatkan lapangan mata pencaharian hidup yang sama.
2. Jika warga dari satu suku bangsa mencoba memaksakan unsur-unsur dari kebudayaannya kepada warga dari suatu suku bangsa lain.
3. Konflik yang sama dasarnya, tetapi lebih fanatik dalam wujudnya.
4. Jika satu suku bangsa berusaha mendominasi suatu suku bangsa lain secara politis.
5. Potensi konflik terpendam ada dalam hubungan antara suku-suku bangsa yang telah bermusuhan secara adat.
Agar konflik konflik ini dapat diminimalisasi kemungkinannya ,kebudayaan harus menuju kearah yang maju dalam adab ,budaya dan persatuan. Tanpa harus menolak budaya asing
Menurut Geriya (2000), sekurang-kurangnya ada tujuh indikator terkait dengan kemampuan ketahanan modal budaya suatu kolektiva untuk tumbuh secara surplus atau defisit, yaitu:
1. Ketahanan ideal (sistem nilai)
2. Ketahanan struktural (kelembagaan)
3. Ketahanan pisikal (sistem budaya fisik)
4. Ketahanan mental (sikap mental)
5. Ketahanan fungsional (fungsi unsur-unsur kebudayaan)
6. Ketahanan sistemik (totalitas sistem masyarakat)
7. Ketahanan prosesual (kelenturan menghadapi perubahan)