Nama : Septa Anggraeni
NPM : 2213053241
A. Identitas jurnal
Nama jurnal : Jurnal Cakrawala Pendidikan
oleh : Sudiati
Nomor : 2
Tahun Terbit : 2009
Judul Jurnal : PENDIDIKAN NILAI MORAL DITINJAU DARI PERSPEKTIF GLOBAL
B. Pembahasan
1. Isu Pendidikan Nilai Moral di
Beberapa Negara
Di bawah ini akan dibahas isu pen-
didikan nilai moral yang terjadi di
empat negara, yaitu Indonesia, Malay-
sia, India, dan Cina. Empat negara itu
dapat mewakili karakteristik bangsa
dengan latar belakang ideologi yang
berbeda. Indonesia merupakan negara
Pancasila yang mayoritas Islam, India
merupakan negara federal yang tetap
mempertahankan nilai-nilai agama se-
bagai nilai universal. Malaysia merupa-
kan representasi negara yang memiliki
bangsa mayoritas Islam sebagaimana
negara Indonesia, sedangkan Cina
merupakan perwakilan negara sosialis
komunis.
a. Indonesia
Hasil penelitian Afiyah, dkk. (2003),
menyatakan bahwa kelemahan pen-
didikan agama antara lain terjadi ka-
rena materi pendidikan agama Islam,
termasuk bahan ajar akhlak, cenderung
terfokus pada pengayaan pengetahuan
(kognitif), sedangkan pembentukan si-
kap (afektif) dan pembiasaan (psikomo-
torik) sangat minim. Dengan kata lain,
pendidikan agama lebih didominasi
oleh transfer ilmu pengetahuan agama
dan lebih banyak bersifat hafalan teks-
tual, sehingga kurang menyentuh aspek
sosial mengenai ajaran hidup yang to-
leran dalam bermasyarakat dan ber-
bangsa.
b. India
Pendidikan nilai di India tampak
lebih populer dibandingkan dengan di
negara lain. Dalam pendidikan nasional
India, pendidikan nilai dikembangkan
sebagai usaha untuk meningkatkan ke-
sadaran nilai ilmiah, sosial, dan kewarganegaraan yang tidak secara
khusus dikembangkan melalui satu
sudut pandangan agama. Ini tidak
berarti mengabaikan pentingnya pen-
didikan agama sebagai kekuatan dalam
membangun karakter bangsa, melain-
kan untuk menempatkan pendidikan
nilai dalam konteks pemahaman nilai
agama yang universal (Mulyana, 2004:
230)
c. Malaysia
Pendidikan nilai dilakukan di se-
kolah dasar dan pengembangannya di-
lakukan secara langsung dan tidak
langsung. Secara langsung pendidikan
nilai diajarkan melalui pendidikan mo-
ral dan mata pelajaran agama, sedang-
kan pendidikan nilai yang tidak secara
langsung dikembangkan melalui se-
jumlah mata pelajaran lainnya, seperti
program pendidikan kewarganegaraan
dan melalui kegiatan kokurikuler.
Silabus pendidikan nilai untuk se-
kolah dasar berupa kebersihan badan
dan pikiran, empati, sikap tidak berle-
bihan, bersyukur, rajin, jujur, adil, kasih
sayang, hormat, keharmonisan sosial,
kesederhanaan, dan kebebasan
d. Cina
Dalam tradisi Cina, pendidikan me-
miliki hubungan erat dengan kewajiban
moral. Tradisi ini menempatkan pen-
didikan nilai sebagai bagian penting
dalam percaturan pendidikan. Walau-
pun demikian, dalam perkembangan-
nya, pendidikan nilai dihadapkan pada
beberapa tantangan berikut. Harapan
masyarakat dan orang tua siswa akan
kemampuan akademik diandalkan da-
pat memacu konsentrasi peningkatan
akademik yang kemudian berakibat ter-
gesernya pengembangan sentimental,
perasaan, dan moralitas. Walaupun se-
kolah memilki tanggung jawab yang
besar dalam mengembangkan kepri-
badian siswa, hal itu kurang didukung
oleh kerjasama yang erat antara se-
kolah, keluarga, dan masyarakat.
2. Dimensi Pendidikan Nilai Moral
Dalam rangka mengkaji pendidikan
nilai moral secara luas, berikut ini di-
kemukakan pula pembahasan menge-
nai perkembangan moral, pendidikan
nilai moral, dan strategi pendidikan
nilai moral.
a.Teori Perkembangan Moral
Dewasa ini, psikolog dan sosiolog
banyak membahas nilai-nilai moral da-
lam kaitannya dengan perkembangan
dan pendidikan anak. Pembahasan itu
bertolak dari anggapan bahwa tidak
ada prinsip moral yang universal (ke-
cuali moral agama) dan tetap atau tidak
berubah-ubah. Pada dasarnya setiap
pribadi memperoleh nilainya sendiri
dari kebudayaan eksternal. Nilai moral
merupakan penilaian terhadap tindak-
an yang umumnya diyakini oleh ang-
gota masyarakat tertentu sebagai yang
salah atau benar (Berkowitz, 1964; di-
kutip Muhaimin, 2001: 215).
b.Pendidikan Nilai Moral
Pendidikan nilai moral adalah pen-
didikan yang berusaha mengembang-
kan komponen-komponen integrasi pri-
badi. Integrasi pribadi dapat dilukiskan
sekurang-kurangnya dengan empat
gambaran kepribadian. Menurut John
P. Miller (1976: 5)
c. Pendekatan Pendidikan Nilai Moral
Pendekatan komprehensif pendi-
dikan nilai menurut Kirschenbaum
dalam Darmiyati Zuchdi, 2008: 36-37)
meliputi pendekatan (i) inculcating,
yaitu menanamkan nilai dan moralitas,
(ii) modelling, yaitu meneladankan nilai
dan moralitas, (iii) facilitating, yaitu me-
mudahkan perkembangan nilai dan
moral, dan (iv) skill development, yaitu
pengembangan keterampilan untuk
mencapai kehidupan pribadi yang ten-
tram dan kondusif.
d.Metode dan Teknik Pendidikan
Nilai Moral
Untuk mengaplikasikan konsep
pendidikan nilai tersebut di atas, di-
perlukan beberapa metode, baik me-
tode langsung maupun tidak langsung.
Metode langsung mulai dengan penen-
tuan perilaku yang dinilai baik sebagai
upaya indoktrinasi berbagai ajaran. Ca-
ranya dengan memusatkan perhatian
secara langsung pada ajaran melalui
mendiskusikan, mengilustrasikan,
menghafalkan, dan mengucapkannya.
Metode tidak langsung tidak dimulai
dengan menentukan perilaku yang
diinginkan, tetapi dengan menciptakan
situasi yang memungkinkan perilaku
yang baik dapat dipraktikkan. Kese-
luruhan pengalaman di sekolah diman-
faatkan untuk mengembangkan peri-
laku yang baik.
NPM : 2213053241
A. Identitas jurnal
Nama jurnal : Jurnal Cakrawala Pendidikan
oleh : Sudiati
Nomor : 2
Tahun Terbit : 2009
Judul Jurnal : PENDIDIKAN NILAI MORAL DITINJAU DARI PERSPEKTIF GLOBAL
B. Pembahasan
1. Isu Pendidikan Nilai Moral di
Beberapa Negara
Di bawah ini akan dibahas isu pen-
didikan nilai moral yang terjadi di
empat negara, yaitu Indonesia, Malay-
sia, India, dan Cina. Empat negara itu
dapat mewakili karakteristik bangsa
dengan latar belakang ideologi yang
berbeda. Indonesia merupakan negara
Pancasila yang mayoritas Islam, India
merupakan negara federal yang tetap
mempertahankan nilai-nilai agama se-
bagai nilai universal. Malaysia merupa-
kan representasi negara yang memiliki
bangsa mayoritas Islam sebagaimana
negara Indonesia, sedangkan Cina
merupakan perwakilan negara sosialis
komunis.
a. Indonesia
Hasil penelitian Afiyah, dkk. (2003),
menyatakan bahwa kelemahan pen-
didikan agama antara lain terjadi ka-
rena materi pendidikan agama Islam,
termasuk bahan ajar akhlak, cenderung
terfokus pada pengayaan pengetahuan
(kognitif), sedangkan pembentukan si-
kap (afektif) dan pembiasaan (psikomo-
torik) sangat minim. Dengan kata lain,
pendidikan agama lebih didominasi
oleh transfer ilmu pengetahuan agama
dan lebih banyak bersifat hafalan teks-
tual, sehingga kurang menyentuh aspek
sosial mengenai ajaran hidup yang to-
leran dalam bermasyarakat dan ber-
bangsa.
b. India
Pendidikan nilai di India tampak
lebih populer dibandingkan dengan di
negara lain. Dalam pendidikan nasional
India, pendidikan nilai dikembangkan
sebagai usaha untuk meningkatkan ke-
sadaran nilai ilmiah, sosial, dan kewarganegaraan yang tidak secara
khusus dikembangkan melalui satu
sudut pandangan agama. Ini tidak
berarti mengabaikan pentingnya pen-
didikan agama sebagai kekuatan dalam
membangun karakter bangsa, melain-
kan untuk menempatkan pendidikan
nilai dalam konteks pemahaman nilai
agama yang universal (Mulyana, 2004:
230)
c. Malaysia
Pendidikan nilai dilakukan di se-
kolah dasar dan pengembangannya di-
lakukan secara langsung dan tidak
langsung. Secara langsung pendidikan
nilai diajarkan melalui pendidikan mo-
ral dan mata pelajaran agama, sedang-
kan pendidikan nilai yang tidak secara
langsung dikembangkan melalui se-
jumlah mata pelajaran lainnya, seperti
program pendidikan kewarganegaraan
dan melalui kegiatan kokurikuler.
Silabus pendidikan nilai untuk se-
kolah dasar berupa kebersihan badan
dan pikiran, empati, sikap tidak berle-
bihan, bersyukur, rajin, jujur, adil, kasih
sayang, hormat, keharmonisan sosial,
kesederhanaan, dan kebebasan
d. Cina
Dalam tradisi Cina, pendidikan me-
miliki hubungan erat dengan kewajiban
moral. Tradisi ini menempatkan pen-
didikan nilai sebagai bagian penting
dalam percaturan pendidikan. Walau-
pun demikian, dalam perkembangan-
nya, pendidikan nilai dihadapkan pada
beberapa tantangan berikut. Harapan
masyarakat dan orang tua siswa akan
kemampuan akademik diandalkan da-
pat memacu konsentrasi peningkatan
akademik yang kemudian berakibat ter-
gesernya pengembangan sentimental,
perasaan, dan moralitas. Walaupun se-
kolah memilki tanggung jawab yang
besar dalam mengembangkan kepri-
badian siswa, hal itu kurang didukung
oleh kerjasama yang erat antara se-
kolah, keluarga, dan masyarakat.
2. Dimensi Pendidikan Nilai Moral
Dalam rangka mengkaji pendidikan
nilai moral secara luas, berikut ini di-
kemukakan pula pembahasan menge-
nai perkembangan moral, pendidikan
nilai moral, dan strategi pendidikan
nilai moral.
a.Teori Perkembangan Moral
Dewasa ini, psikolog dan sosiolog
banyak membahas nilai-nilai moral da-
lam kaitannya dengan perkembangan
dan pendidikan anak. Pembahasan itu
bertolak dari anggapan bahwa tidak
ada prinsip moral yang universal (ke-
cuali moral agama) dan tetap atau tidak
berubah-ubah. Pada dasarnya setiap
pribadi memperoleh nilainya sendiri
dari kebudayaan eksternal. Nilai moral
merupakan penilaian terhadap tindak-
an yang umumnya diyakini oleh ang-
gota masyarakat tertentu sebagai yang
salah atau benar (Berkowitz, 1964; di-
kutip Muhaimin, 2001: 215).
b.Pendidikan Nilai Moral
Pendidikan nilai moral adalah pen-
didikan yang berusaha mengembang-
kan komponen-komponen integrasi pri-
badi. Integrasi pribadi dapat dilukiskan
sekurang-kurangnya dengan empat
gambaran kepribadian. Menurut John
P. Miller (1976: 5)
c. Pendekatan Pendidikan Nilai Moral
Pendekatan komprehensif pendi-
dikan nilai menurut Kirschenbaum
dalam Darmiyati Zuchdi, 2008: 36-37)
meliputi pendekatan (i) inculcating,
yaitu menanamkan nilai dan moralitas,
(ii) modelling, yaitu meneladankan nilai
dan moralitas, (iii) facilitating, yaitu me-
mudahkan perkembangan nilai dan
moral, dan (iv) skill development, yaitu
pengembangan keterampilan untuk
mencapai kehidupan pribadi yang ten-
tram dan kondusif.
d.Metode dan Teknik Pendidikan
Nilai Moral
Untuk mengaplikasikan konsep
pendidikan nilai tersebut di atas, di-
perlukan beberapa metode, baik me-
tode langsung maupun tidak langsung.
Metode langsung mulai dengan penen-
tuan perilaku yang dinilai baik sebagai
upaya indoktrinasi berbagai ajaran. Ca-
ranya dengan memusatkan perhatian
secara langsung pada ajaran melalui
mendiskusikan, mengilustrasikan,
menghafalkan, dan mengucapkannya.
Metode tidak langsung tidak dimulai
dengan menentukan perilaku yang
diinginkan, tetapi dengan menciptakan
situasi yang memungkinkan perilaku
yang baik dapat dipraktikkan. Kese-
luruhan pengalaman di sekolah diman-
faatkan untuk mengembangkan peri-
laku yang baik.