Nama : Septa Anggraeni
NPM : 2213053241
Kelas : 3H
Analisis jurnal 1
IDENTITAS JURNAL
nama penulis: Ulil hidayah
nama jurnal : jurnal pedagogik
nomor,vol : no 01,vol .05
tahun penerbit: 2018
REKONSTRUKSI EVALUASI PENDIDIKAN MORAL
MENUJU HARMONI SOSIAL
Secara universal sistem Pendidikan Nasional memiliki peranan yang
signifikan terhadap dinamika perjalanan bangsa Indonesia (Baharun, 2017a).
Hal ini dapat dilihat dari fenomena-fenomena kerusuhan yang mewarnai
negeri ini. Banyak diantaranya pemicu terjadi konflik dalam negeri diakibatkan
oleh perbedaan yang dimaknai sebagai garis runcing pemisah antara kelompok
satu dan lainnya, baik itu perbedaan agama, suku, budaya bahkan yang lebih
fenomenal akhir-akhir ini perseteruan antara kelompok-kelompok yang
memiliki paham ideology yang berbeda (Fauzi, 2017), sehingga bendera politik
identitas mulai menjadi isu yang sensitif ketika dikibarkan di wilayah tertentu
atau menjadi benturan keras yang memicu saling merasa benar dan saling
menyalahkan antar golongan yang berbeda sudut pandang pemahaman.
Tujuan Pendidikan Nasional
Merujuk pada pendapat Naquib Al-Attas, akar kata pendidikan
mengambil pada istilah ta’dzib mempunyai pengertian bahwa pendidikan
merupakan proses perwujudan manusia yang mempunyai adab. Dalam hal ini
adab didefinisikan sebagai: (1) The one who is sincerely conscious of his
responsibilities towards and true God, (2) Who understands and fulfills his obligations
to himself and others in his society with justice, and (3) who constantly strives to
improve every aspect of himself towards perfections as a man of adab (Al-Attas, 1999).
Secara universal kesimpulan menyeluruh pengertian ta’dib adalah menjadikan
manusia yang terus berusaha untuk mengembangkan kebaikan bagi dirinya
sendiri, masyarakatnya secara adil dan bertanggungjawab terhadap aturan-
aturan Tuhan.
Tantangan Materi Pelajaran di Sekolah
Penanaman dan penghayatan sikap-sikap budi pekerti di sekolah sejauh
ini masih bersifat formatif belum menjadikan nilai-nilai yang diharapkan dalam
indikator pencapaian belajar terwujud secara permanen dalam diri peserta
didik di sekolah, terlebih lagi tantangan ketika peserta didik sudah tidak
berada di lingkungan sekolah. Ketika kasus potensi kepribadian dan sosial
yang dipertayakan, maka materi pelajaran di sekolah yang dianggap paling
bertanggung jawab atas kegelisahan ini adalah mata pelajaran Pendidikan
Agama Islam (PAI) dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Secara teoritis
PAI adalah proses pendidikan yang dilakukan pendidik untuk membekali anak
didik dengan pengetahuan, pemahaman, penghayatan pengamalan ajaran
agama Islam (Muchlis Sholichin, 2007).
Rekonstruksi Evaluasi Pendidikan Moral
Untuk mewujudkan harmoni sosial yang diharapkan PAI dan PKn
sangat menentukan bagaimana isi materi bisa diajarkan dengan baik melalui
tahap perencanaan pembelajaran hingga tahap evaluasi pada peserta didik di
sekolah. Lebih dari itu unsur evaluasi yang dianggap paling menentukan
seberapa berhasilkah tujuan itu tercapai perlu melihat kembali dan menata
kembali suasana belajar sekolah dengan mempertimbangkan keberadaan
peserta didik itu sendiri dari segi lingkungan ia tinggal dan melangsungkan
kehidupan (Muali, 2016). Sebab, acuan kurikulum pemerintah yang berlaku
secara umum tidak bisa memastikan keadaan pada tiap-tiap institusi
pendidikan. Praktisi pendidikan termasuk pimpinan sekolah dan guru perlu
merumuskan ulang model evaluasi pendidikan moral yang tidak sekedar
berdasarkan hasil nilai ulangan harian. Misalnya selama ini sekolah lebih
banyak menekankan hafalan, dan ketepatan dalam menjawab soal pilihan
ganda. Karena penilaian dari system seperti itu jelas bukan tolak ukur
keberhasilan peserta didik pada mata pelajaran moral dan pancasila.
Output Pendidikan yang Didambakan Menuju Masyarakat Ideal
Esesensi pendidikan moral bukan mengajarkan tentang akademik
maupun non akademik lebih dari itu adalah usaha sadar untuk menyiapkan
manusia seutuhnya menjadi manusia yang berwatak luhur dalam segenap
peranannya di masa sekarang dan akan datang. Upaya pemberian pendidikan
moral menurut Teuku Ramli dapat dilakukan dengan lima pendekatan, yaitu:
Penanaman nilai (inculcation approach), perkembangan moral kognitif (cognitive
moral development approach), analisis nilai (values clarification approach),
pembelajaran berbuat (action learning approach) (Teuku Ramli Zakaria, 2011).
NPM : 2213053241
Kelas : 3H
Analisis jurnal 1
IDENTITAS JURNAL
nama penulis: Ulil hidayah
nama jurnal : jurnal pedagogik
nomor,vol : no 01,vol .05
tahun penerbit: 2018
REKONSTRUKSI EVALUASI PENDIDIKAN MORAL
MENUJU HARMONI SOSIAL
Secara universal sistem Pendidikan Nasional memiliki peranan yang
signifikan terhadap dinamika perjalanan bangsa Indonesia (Baharun, 2017a).
Hal ini dapat dilihat dari fenomena-fenomena kerusuhan yang mewarnai
negeri ini. Banyak diantaranya pemicu terjadi konflik dalam negeri diakibatkan
oleh perbedaan yang dimaknai sebagai garis runcing pemisah antara kelompok
satu dan lainnya, baik itu perbedaan agama, suku, budaya bahkan yang lebih
fenomenal akhir-akhir ini perseteruan antara kelompok-kelompok yang
memiliki paham ideology yang berbeda (Fauzi, 2017), sehingga bendera politik
identitas mulai menjadi isu yang sensitif ketika dikibarkan di wilayah tertentu
atau menjadi benturan keras yang memicu saling merasa benar dan saling
menyalahkan antar golongan yang berbeda sudut pandang pemahaman.
Tujuan Pendidikan Nasional
Merujuk pada pendapat Naquib Al-Attas, akar kata pendidikan
mengambil pada istilah ta’dzib mempunyai pengertian bahwa pendidikan
merupakan proses perwujudan manusia yang mempunyai adab. Dalam hal ini
adab didefinisikan sebagai: (1) The one who is sincerely conscious of his
responsibilities towards and true God, (2) Who understands and fulfills his obligations
to himself and others in his society with justice, and (3) who constantly strives to
improve every aspect of himself towards perfections as a man of adab (Al-Attas, 1999).
Secara universal kesimpulan menyeluruh pengertian ta’dib adalah menjadikan
manusia yang terus berusaha untuk mengembangkan kebaikan bagi dirinya
sendiri, masyarakatnya secara adil dan bertanggungjawab terhadap aturan-
aturan Tuhan.
Tantangan Materi Pelajaran di Sekolah
Penanaman dan penghayatan sikap-sikap budi pekerti di sekolah sejauh
ini masih bersifat formatif belum menjadikan nilai-nilai yang diharapkan dalam
indikator pencapaian belajar terwujud secara permanen dalam diri peserta
didik di sekolah, terlebih lagi tantangan ketika peserta didik sudah tidak
berada di lingkungan sekolah. Ketika kasus potensi kepribadian dan sosial
yang dipertayakan, maka materi pelajaran di sekolah yang dianggap paling
bertanggung jawab atas kegelisahan ini adalah mata pelajaran Pendidikan
Agama Islam (PAI) dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Secara teoritis
PAI adalah proses pendidikan yang dilakukan pendidik untuk membekali anak
didik dengan pengetahuan, pemahaman, penghayatan pengamalan ajaran
agama Islam (Muchlis Sholichin, 2007).
Rekonstruksi Evaluasi Pendidikan Moral
Untuk mewujudkan harmoni sosial yang diharapkan PAI dan PKn
sangat menentukan bagaimana isi materi bisa diajarkan dengan baik melalui
tahap perencanaan pembelajaran hingga tahap evaluasi pada peserta didik di
sekolah. Lebih dari itu unsur evaluasi yang dianggap paling menentukan
seberapa berhasilkah tujuan itu tercapai perlu melihat kembali dan menata
kembali suasana belajar sekolah dengan mempertimbangkan keberadaan
peserta didik itu sendiri dari segi lingkungan ia tinggal dan melangsungkan
kehidupan (Muali, 2016). Sebab, acuan kurikulum pemerintah yang berlaku
secara umum tidak bisa memastikan keadaan pada tiap-tiap institusi
pendidikan. Praktisi pendidikan termasuk pimpinan sekolah dan guru perlu
merumuskan ulang model evaluasi pendidikan moral yang tidak sekedar
berdasarkan hasil nilai ulangan harian. Misalnya selama ini sekolah lebih
banyak menekankan hafalan, dan ketepatan dalam menjawab soal pilihan
ganda. Karena penilaian dari system seperti itu jelas bukan tolak ukur
keberhasilan peserta didik pada mata pelajaran moral dan pancasila.
Output Pendidikan yang Didambakan Menuju Masyarakat Ideal
Esesensi pendidikan moral bukan mengajarkan tentang akademik
maupun non akademik lebih dari itu adalah usaha sadar untuk menyiapkan
manusia seutuhnya menjadi manusia yang berwatak luhur dalam segenap
peranannya di masa sekarang dan akan datang. Upaya pemberian pendidikan
moral menurut Teuku Ramli dapat dilakukan dengan lima pendekatan, yaitu:
Penanaman nilai (inculcation approach), perkembangan moral kognitif (cognitive
moral development approach), analisis nilai (values clarification approach),
pembelajaran berbuat (action learning approach) (Teuku Ramli Zakaria, 2011).