Nama : Septa Anggraeni
NPM : 2213053241
Kelas : 3H
Analisis jurnal 2
Identitas jurnal
Nama jurnal : JURNAL MORAL KEMASYARAKATAN
Volume : 2
Nomor : 1
Halaman : 30-44
Tahun terbit : 2017
Nama penulis : Ilham Hudi
Judul : PENGARUH PENGETAHUAN MORAL TERHADAP PERILAKU MORAL
PADA SISWA SMP NEGERI KOTA PEKAN BARU BERDASARKAN PENDIDIKAN ORANGTUA
PENGARUH PENGETAHUAN MORAL TERHADAP PERILAKU MORAL
PADA SISWA SMP NEGERI KOTA PEKAN BARU
BERDASARKAN PENDIDIKAN ORANGTUA.
Pengetahuan Moral (Moral Knowing)
1. Kesadaran Moral (Moral Awareness)
Kegagalan moral yang sering terjadi pada diri manusia dalam semua
tingkatan usia adalah kebutaan moral; kondisi di mana orang tak mampu melihat
bahwa situasi yang sedang ia hadapi melibatkan masalah moral dan membutuhkan
pertimbangan lebih jauh. Anak-anak dan remaja khususnya sangat rentan
terhadap kegagalan seperti inibertindak tanpa mempertanyakan "apakah ini
benar?"
Aspek kedua dari kesadaran moral adalah kendala-untuk bisa mendapatkan
informasi. Dalam membuat penilaian moral, sering kali kita tidak bisa memutuskan
mana yang benar sampai kita mengetahui keadaan yang sesungguhnya.
Untuk membentuk warga negara yang bertanggung jawab harus ada upaya
membuat mereka terinformasi. Pendidikan nilai dapat melakukan tugas ini dengan
mengajarkan siswa cara memastikan fakta terlebih dahulu sebelum membuat sebuah
timbangan moral.
2.. Mengetahui Nilai-Nilai Moral (Moral Values)
Nilai moral seperti menghormati kehidupan dan kemerdekaan, bertanggung
jawab terhadap orang Iain, kejujuran, keadilan, toleransi, sopan santun, disiplin diri,
integritas, belas kasih, kedermawanan, dan keberanian adalah faktor penentu dalam
membentuk pribadi yang baik. Jika disatukan, seluruh faktor ini akan menjadi
warisan moral yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Melek
etis menuntut adanya pengetahuan terhadap semua nilai ini.
3. Pengambilan Perspektif(Perspektive Taking)
Pengambilan perspektif adalah kemampuan untuk mengambil sudut
pandang orang lain, melihat situasi dari sudut pandang orang lain, membayangkan
bagaimana mereka akan berpikir, bereaksi, dan merasa. Ini adalah prasyarat bagi
pertimbangan moral: Kita tidak dapat menghormati orang dengan baik dan
bertindak dengan adil terhadap mereka jika kita tidak memahami mereka.
Pada tingkatan tertinggi, penalaran moral juga melibatkan pemahaman terhadap
beberapa prinsip moral klasik, seperti: ¥Hormatilah martabat setiap individu¥;
¥Perbanyaklah berbuat baik¥; dan ¥Bersikaplah sebagaimana engkau
mengharapkan orang lain bersikap padamu¥. Prinsip-prinsip semacam ini menuntun
perbuatan moral dalam berbagai macam situasi.
4. Penalaran Moral (Moral Reasoning)
Seiring dengan perkembangan penalaran moral anak-anak, dan riset
menunjukkan pada kita bahwa perkembangan terjadi secara bertahap, mereka akan
mempelajari mana yang termasuk sebagai nalar moral dan mana yang tidak ketika
mereka akan melakukan sesuatu. pada tingkatan tertinggi, penalaran moral juga
melibatkan pemaKDPDQWHUKDGDSEHEHUDSDSULQVLSPRUDONODVLNVHSHUWL¥KRUPDWLODK
VHWLDS PDUWDEDW VHWLDS LQGLYLGX¥ ¥SHUEDQ\DNODK EHUEXDW EDLN¥ GDQ ¥EHUVLNDSODK
VHEDJDLPDQDHQJNDXPHQJKDUDSNDQRUDQJODLQEHUVLNDSSDGDPX¥
5. Membuat Keputusan (Decision Making)
Mampu memikirkan langkah yang mungkin akan diambil sescorang yang sedang
menghadapi persoalan moral disebut sebagai kcterampilan
pengambilan keputusan reflektif. Pendekatan pengambilan keputusan dengan cara
mengajukan pertanyaan "apa saja pilihanku", "apa saja konsekuensinya" telah
diajarkan bahkan sejak usia pra TK.
6. Memahami Diri Sendiri (Self Knowledge)
Memahami diri sendiri merupakan pengetahuan moral yang paling sulit untuk
dikuasai, tetapi penting bagi pengembangan karakter. Untuk menjadi orang yang
bermoral diperlukan kemampuan mengulas perilaku diri sendiri dan
mengevaluasinya secara kritis. Membangun pemahaman diri berarti sadar terhadap
kekuatan dan kelemahan karakter kita dan mengetahui cara untuk memperbaiki
kelemahan tersebut.
Perilaku Moral (Moral Action)
1. Kompetensi
Kompetensi moral adalah kemampuan mengubah pertimbangan dan perasaan
moral ke dalam tindakan moral yang efektif. Untuk menyelesaikan sebuah konflik
secara adil, misalnya, kita membutuhkan keterampilan praktis seperti mendengarkan,
mengomunikasikan pandangan kita tanpa mencemarkan nama baik orang lain,
dan melaksanakan solusi yang dapat diterima semua pihak.
2. Kehendak
Dalam situasi-situasi moral tertentu, membuat pilihan moral biasanya
merupakan hal yang sulit. Menjadi baik sering kali menuntut orang memiliki
kehendak untuk melakukan tindakan nyata, mobilisasi energi moral untuk
melakukan apa yang menurut kita harus dilakukan.
3. Kebiasaan
Dalam banyak situasi, kebiasaan merupakan faktor pembentuk perilaku
moral.Orang-orang yang memiliki karakter yang baik bertindak dengan sungguh-
sungguh, loyal, berani, berbudi, dan adil tanpa banyak tergoda oleh hal-hal
sebaliknya. Mereka bahkan sering kali menentukan "pilihan yang benar" secara tak
sadar. Mereka melakukan hal yang benar karena kebiasaan.
Pendidikan Orang Tua
Budi pekerti, nilai, norma, dan moral dalam istilah lain dinamakan juga
akhlak. Pendidikan nilai mencakup kawasan budi pekerti, nilai, norma, dan moral.
Budi pekerti adalah buah dari budi nurani. Budi nurani bersumber pada moral. Moral
bersumber pada kesadaran hidup yang berpusat pada alam pikiran (BP-7,1993:25).
Menurut Masnur Muslich (2014) Pada dasarnya, pendidikan sebagai proses
alih nilai mempunyai tiga sasaran. Pertama, pendidikan bertujuan untuk membentuk manusia yang mempunyai keseimbangan antara kemampuan kognitif dan
psikomotorik disatu pihak serta kemampuan afektif di pihak lain.
Kedua, dalam sistem nilai yang dialihkan
juga termasuk nilai-nilai dan ketakwaan, yang terpancar pada ketundukan manusia
untuk melaksanakan ibadah menurut keyakinan dan kepercayaan masing-masing,
berakhlak mulia serta senantiasa menjaga harmoni hubungan dengan tuhan, dengan
sesama manusia, dan dengan alam sekitarnya.
Ketiga,dalam alih nilai juga dapat ditransformasikan tata
nilai yang mendukung proses industrialisasi dan penerapan teknologi, seperti
penghargaan atas waktu, etos kerja tinggi, disiplin, kemandirian, kewirausahaan, dan
sebagainya. Dalam hal ini, proses alih nilai merupakan proses pembinaan IPTEK.
NPM : 2213053241
Kelas : 3H
Analisis jurnal 2
Identitas jurnal
Nama jurnal : JURNAL MORAL KEMASYARAKATAN
Volume : 2
Nomor : 1
Halaman : 30-44
Tahun terbit : 2017
Nama penulis : Ilham Hudi
Judul : PENGARUH PENGETAHUAN MORAL TERHADAP PERILAKU MORAL
PADA SISWA SMP NEGERI KOTA PEKAN BARU BERDASARKAN PENDIDIKAN ORANGTUA
PENGARUH PENGETAHUAN MORAL TERHADAP PERILAKU MORAL
PADA SISWA SMP NEGERI KOTA PEKAN BARU
BERDASARKAN PENDIDIKAN ORANGTUA.
Pengetahuan Moral (Moral Knowing)
1. Kesadaran Moral (Moral Awareness)
Kegagalan moral yang sering terjadi pada diri manusia dalam semua
tingkatan usia adalah kebutaan moral; kondisi di mana orang tak mampu melihat
bahwa situasi yang sedang ia hadapi melibatkan masalah moral dan membutuhkan
pertimbangan lebih jauh. Anak-anak dan remaja khususnya sangat rentan
terhadap kegagalan seperti inibertindak tanpa mempertanyakan "apakah ini
benar?"
Aspek kedua dari kesadaran moral adalah kendala-untuk bisa mendapatkan
informasi. Dalam membuat penilaian moral, sering kali kita tidak bisa memutuskan
mana yang benar sampai kita mengetahui keadaan yang sesungguhnya.
Untuk membentuk warga negara yang bertanggung jawab harus ada upaya
membuat mereka terinformasi. Pendidikan nilai dapat melakukan tugas ini dengan
mengajarkan siswa cara memastikan fakta terlebih dahulu sebelum membuat sebuah
timbangan moral.
2.. Mengetahui Nilai-Nilai Moral (Moral Values)
Nilai moral seperti menghormati kehidupan dan kemerdekaan, bertanggung
jawab terhadap orang Iain, kejujuran, keadilan, toleransi, sopan santun, disiplin diri,
integritas, belas kasih, kedermawanan, dan keberanian adalah faktor penentu dalam
membentuk pribadi yang baik. Jika disatukan, seluruh faktor ini akan menjadi
warisan moral yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Melek
etis menuntut adanya pengetahuan terhadap semua nilai ini.
3. Pengambilan Perspektif(Perspektive Taking)
Pengambilan perspektif adalah kemampuan untuk mengambil sudut
pandang orang lain, melihat situasi dari sudut pandang orang lain, membayangkan
bagaimana mereka akan berpikir, bereaksi, dan merasa. Ini adalah prasyarat bagi
pertimbangan moral: Kita tidak dapat menghormati orang dengan baik dan
bertindak dengan adil terhadap mereka jika kita tidak memahami mereka.
Pada tingkatan tertinggi, penalaran moral juga melibatkan pemahaman terhadap
beberapa prinsip moral klasik, seperti: ¥Hormatilah martabat setiap individu¥;
¥Perbanyaklah berbuat baik¥; dan ¥Bersikaplah sebagaimana engkau
mengharapkan orang lain bersikap padamu¥. Prinsip-prinsip semacam ini menuntun
perbuatan moral dalam berbagai macam situasi.
4. Penalaran Moral (Moral Reasoning)
Seiring dengan perkembangan penalaran moral anak-anak, dan riset
menunjukkan pada kita bahwa perkembangan terjadi secara bertahap, mereka akan
mempelajari mana yang termasuk sebagai nalar moral dan mana yang tidak ketika
mereka akan melakukan sesuatu. pada tingkatan tertinggi, penalaran moral juga
melibatkan pemaKDPDQWHUKDGDSEHEHUDSDSULQVLSPRUDONODVLNVHSHUWL¥KRUPDWLODK
VHWLDS PDUWDEDW VHWLDS LQGLYLGX¥ ¥SHUEDQ\DNODK EHUEXDW EDLN¥ GDQ ¥EHUVLNDSODK
VHEDJDLPDQDHQJNDXPHQJKDUDSNDQRUDQJODLQEHUVLNDSSDGDPX¥
5. Membuat Keputusan (Decision Making)
Mampu memikirkan langkah yang mungkin akan diambil sescorang yang sedang
menghadapi persoalan moral disebut sebagai kcterampilan
pengambilan keputusan reflektif. Pendekatan pengambilan keputusan dengan cara
mengajukan pertanyaan "apa saja pilihanku", "apa saja konsekuensinya" telah
diajarkan bahkan sejak usia pra TK.
6. Memahami Diri Sendiri (Self Knowledge)
Memahami diri sendiri merupakan pengetahuan moral yang paling sulit untuk
dikuasai, tetapi penting bagi pengembangan karakter. Untuk menjadi orang yang
bermoral diperlukan kemampuan mengulas perilaku diri sendiri dan
mengevaluasinya secara kritis. Membangun pemahaman diri berarti sadar terhadap
kekuatan dan kelemahan karakter kita dan mengetahui cara untuk memperbaiki
kelemahan tersebut.
Perilaku Moral (Moral Action)
1. Kompetensi
Kompetensi moral adalah kemampuan mengubah pertimbangan dan perasaan
moral ke dalam tindakan moral yang efektif. Untuk menyelesaikan sebuah konflik
secara adil, misalnya, kita membutuhkan keterampilan praktis seperti mendengarkan,
mengomunikasikan pandangan kita tanpa mencemarkan nama baik orang lain,
dan melaksanakan solusi yang dapat diterima semua pihak.
2. Kehendak
Dalam situasi-situasi moral tertentu, membuat pilihan moral biasanya
merupakan hal yang sulit. Menjadi baik sering kali menuntut orang memiliki
kehendak untuk melakukan tindakan nyata, mobilisasi energi moral untuk
melakukan apa yang menurut kita harus dilakukan.
3. Kebiasaan
Dalam banyak situasi, kebiasaan merupakan faktor pembentuk perilaku
moral.Orang-orang yang memiliki karakter yang baik bertindak dengan sungguh-
sungguh, loyal, berani, berbudi, dan adil tanpa banyak tergoda oleh hal-hal
sebaliknya. Mereka bahkan sering kali menentukan "pilihan yang benar" secara tak
sadar. Mereka melakukan hal yang benar karena kebiasaan.
Pendidikan Orang Tua
Budi pekerti, nilai, norma, dan moral dalam istilah lain dinamakan juga
akhlak. Pendidikan nilai mencakup kawasan budi pekerti, nilai, norma, dan moral.
Budi pekerti adalah buah dari budi nurani. Budi nurani bersumber pada moral. Moral
bersumber pada kesadaran hidup yang berpusat pada alam pikiran (BP-7,1993:25).
Menurut Masnur Muslich (2014) Pada dasarnya, pendidikan sebagai proses
alih nilai mempunyai tiga sasaran. Pertama, pendidikan bertujuan untuk membentuk manusia yang mempunyai keseimbangan antara kemampuan kognitif dan
psikomotorik disatu pihak serta kemampuan afektif di pihak lain.
Kedua, dalam sistem nilai yang dialihkan
juga termasuk nilai-nilai dan ketakwaan, yang terpancar pada ketundukan manusia
untuk melaksanakan ibadah menurut keyakinan dan kepercayaan masing-masing,
berakhlak mulia serta senantiasa menjaga harmoni hubungan dengan tuhan, dengan
sesama manusia, dan dengan alam sekitarnya.
Ketiga,dalam alih nilai juga dapat ditransformasikan tata
nilai yang mendukung proses industrialisasi dan penerapan teknologi, seperti
penghargaan atas waktu, etos kerja tinggi, disiplin, kemandirian, kewirausahaan, dan
sebagainya. Dalam hal ini, proses alih nilai merupakan proses pembinaan IPTEK.