གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Aghisna Amalia Putri

1. Ada 3 hal penting pada dynamic governance
a. Thinking again
Kalau kita sebagai birokrat kita harus kembali menilik apakah kebijakan-kebijakan yang ada saat itu masih relevan untuk menjawab pertanyaan yang kian kompleks birokras tidak bisa berpikir tidak bisa lagi berbicara dengan literatur klasik. Literatur saat ini sudah jauh berbeda dengan literatur lama sehingga untuk memecahkan masalah publik kontemporer kita membutuhkan cara pandang yang baru, cara pandang baru, dan sudut pandang baru.
b. Thinking Across
Yaitu bagaimana pemimpin birokrasi pemimpin politik dan pemerintah kita harus berpikir diluar kotak yang ada. Kebijakan yang ada saat ini harus diambil berbeda daripada sebelumnya, acuan lama birokrasi.
c. Thinking Ahead
Bagaimana pejabat publik analisis kebijakan bahwa politik itu berpikir kedepan untuk kebijakan saat ini mestinya bukan untuk menyelesaikan masalah terdahulu dan sekarang, tetapi kebijakan yang diambil juga memiliki perspektif untuk masa depan yang akan datang.

2. Smart and strong policy dapat diartikan sebagai kebijakan yang cerdas dan kuat dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Ada beberapa kriteria yang dapat dijadikan acuan untuk menilai sebuah kebijakan sebagai smart and strong policy:
a. Memiliki tujuan yang jelas dan spesifik
b. Dapat diimplementasikan dengan efektif
c. Melibatkan partisipasi publik
d. Berbasis pada data dan bukti yang valid
e. Mampu memberikan manfaat jangka panjang
Contoh faktual dari smart and strong policy adalah Kebijakan pendidikan: Kebijakan pendidikan yang cerdas dan kuat mencakup berbagai strategi untuk meningkatkan kualitas pendidikan, termasuk pengembangan kurikulum yang efektif, program pelatihan guru, dan akses yang lebih luas ke teknologi pendidikan. Kebijakan pendidikan yang kuat juga mencakup program pembiayaan yang memastikan bahwa semua siswa memiliki kesempatan yang sama untuk belajar.

3. Dynamic governance menjadi base move on (perubahan tanpa henti) bagi aktor publik karena ada beberapa alasan. Pertama, dynamic governance memungkinkan setiap anggota organisasi untuk merasa termotivasi dan terlibat dalam pengambilan keputusan. Kedua, dynamic governance membantu organisasi untuk beradaptasi dan mengatasi perubahan dengan cepat dan efektif. Ketiga, dynamic governance dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas organisasi. Terakhir, dynamic governance juga dapat membantu organisasi untuk menjadi lebih inklusif dan berkelanjutan.
Secara keseluruhan, dynamic governance menjadi base move on (perubahan tanpa henti) bagi aktor publik karena membantu organisasi menjadi lebih responsif, inklusif, efektif, dan berkelanjutan. Hal ini sangat penting dalam dunia publik yang kompleks dan cepat berubah.
1. Karena dari awal kelahiran administrasi publik paradigma dikotomi politik administrasi yang kemudian sangat jelas dipisahkan dengan area pengambil kebijakan dan area implementasi kebijakan dan di awal administrasi publik hanya bertugas untuk mengimplementasikan kebijakan dan ada perbedaan antara pengambilan kebijakan dengan siapa yang harus mengimplementasikan nya.

2. Ada 2 bagian yang penting:
a, Pihak yang memproduksi kebijakan publik yang mengambil kebijakan publik yang mana lebih di domain oleh pejabat politik.
b, domain implemator kebijakan yaitu yang bertugas untuk di kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pejabat.