Posts made by Mera Dwi Pratiwi Mera

Nama: Mera Dwi Pratiwi
NPM: 2253053040
Kelas: 3H

Analisis Jurnal

Identitas Jurnal
Nama Jurnal : JURNAL JIPSINDO
Volume : 2
Nomor : 6
Halaman : 131 - 145
Tahun Terbit : 2019
Judul : PERKEMBANGAN MORAL SISWA SEKOLAH DASAR BERDASARKAN TEORI KOHLBERG
Nama Penulis :Enung Hasanah

Pembahasan

Teori Kohlberg
Teori Kohlberg mengenai perkembangan moral secara formal disebut cognitive-dvelopmental theory of moralization, yang berakar pada karya Piaget. Asumsi utama Piaget adalah bahwa kognisi (pikiran) dan afek (perasaan) berkembang secara paralel dan keputusan moral merupakan proses perkembangan kognisi secara alami. Sebaliknya, kebanyakan ahli psikologi pada masa itu berasumsi bahwa pikiran moral lebih merupakan proses psikologi dan sosial. Dalam mengembangkan teorinya, Kohlberg tidak memusatkan perhatian pada tingkah laku moral, artinya apa yang dilakukan oleh seorang indivdu tidak menjadi pusat pengamatannya.

Kohlberg tidak memusatkan perhatian pada tingkah laku moral, artinya apa yang dilakukan oleh seorang indivdu tidak menjadi pusatpengamatannya. Mengamati tingkah laku tidak menunjukan banyak mengenai kematangan moral. Memang seorang dewasa yang sudah matang dan seorang anak kecil keduanya barangkali tidak mau mencuri mangga. Dalam hal ini tingkah laku mereka sama. Tetapi seandainya kematangan moral mereka berbeda, kematangan moral itu tidak tercermin dalam tingkah laku mereka, melainkan pertimbangan (penalaran) mereka mengapa tidak mau mencuri mencerminkan perbedaan kematangan tersebut. Kohlberg juga tidak memusatkan perhatian pada pernyataan (statement) seseorang, apakah dia mengatakan sesuatu hal benar atau salah. Alasannya sama dengan hal pertama tadi.

Penelitian Kohlberg menunjukan bahwa bila penalaran-penalaran yang diajukan oleh seseorang mengapa ia mempunyai pertimbangan moral tertentu atau melakukan tindakan tertentu diperhatikan, maka akan tampak jelas adanya perbedaan-perbedaan yang berarti dalam pendangan moral orang tersebut.

Simpulan
Berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan teori perkembangan moral Kohlberg, anak-anak usia 11-12 tahun memang masih berada pada tahap pra konvensional tahap ½ yang dominan diikuti tahap 2 dan 2/3, yang cenderung ingin melakukan sesuatukarena takut dihukum. Dalam hasil penelitian sederhana ini, responden yang berusia 11-12 tahun cenderung baru memasuki tingkat 1 tahap 1, meskipun pada kasus tertentu mungkin saja ada pengecualian yaitu pada usia 11-12 bisa saja berada pada tingkat perkembangan moral yang lebih rendah atau yang lebih tinggi.
Nama: Mera Dwi Pratiwi
NPM: 2253053040
Kelas: 3H

Analisis Jurnal

Identitas Jurnal
Nama Jurnal : Jurnal Cakrawala Pendidikan
Volume : , -
Nomor : 2
Halaman : 209- 221
Tahun Terbit : 2009
Judul : PENDIDIKAN NILAI MORAL DITINJAU DARI PERSPEKTIF GLOBAL
Nama Penulis : Sudiati

Pembahasan
1. Isu Pendidikan Nilai Moral di Beberapa Negara

a. Indonesia
Pendidikan nilai di Indonesia disadari atau tidak masih belum banyak menyentuh pemberdayaan dan pencerahan kesadaran dalam perspektif global. Persoalan pembenahan pendidikan masih terpaku pada kurikulum nasional dan lokal yang belum pernah tuntas. Di sisi lain juga adanya pandangan yang terlalu simplistik mengenai pendidikan nilai sebagai wahana penyadaran nilai-nilai yang sektariansubjetif dan belum banyak menyentuh nilai universal-objektif.

b. India
Pendidikan nilai di India tampak lebih populer dibandingkan dengan di negara lain. Dalam pendidikan nasional India, pendidikan nilai dikembangkan sebagai usaha untuk meningkatkan kesadara nilai ilmiah, sosial, dan kewarganegaraan yang tidak secara khusus dikembangkan melalui satu sudut pandangan agama. Ini tidak berarti mengabaikan pentingnya pendidikan agama sebagai kekuatan dalam membangun karakter bangsa, melainkan untuk menempatkan pendidikan nilai dalam konteks pemahaman nilai agama yang universal (Mulyana, 2004: 230).

c. Malaysia
Pendidikan nilai dilakukan di sekolah dasar dan pengembangannya dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung pendidikan nilai diajarkan melalui pendidikan moral dan mata pelajaran agama, sedangkan pendidikan nilai yang tidak secara langsung dikembangkan melalui sejumlah mata pelajaran lainnya, seperti program pendidikan kewarganegaraan dan melalui kegiatan kokurikuler.

d. Cina
Dalam tradisi Cina, pendidikan memiliki hubungan erat dengan kewajiban moral. Tradisi ini menempatkan pendidikan nilai sebagai bagian penting dalam percaturan pendidikan. Walaupun demikian, dalam perkembangannya, pendidikan nilai dihadapkan pada beberapa tantangan berikut. Harapan masyarakat dan orang tua siswa akan kemampuan akademik diandalkan dapat memacu konsentrasi peningkatan akademik yang kemudian berakibat tergesernya pengembangan sentimental, perasaan, dan moralitas.

2. Dimensi Pendidikan Nilai Moral

a.Teori Perkembangan Moral
Dewasa ini, psikolog dan sosiolog banyak membahas nilai-nilai moral dalam kaitannya dengan perkembangan dan pendidikan anak. Pembahasan itu bertolak dari anggapan bahwa tidak ada prinsip moral yang universal (kecuali moral agama) dan tetap atau tidak berubah-ubah.

b.Pendidikan Nilai Moral
Pendidikan nilai moral adalah pendidikan yang berusaha mengembangkan komponen-komponen integrasi pribadi. Integrasi pribadi dapat dilukiskan sekurang-kurangnya dengan empat gambaran kepribadian.

c. Pendekatan Pendidikan Nilai Moral
Pendekatan komprehensif pendidikan nilai menurut Kirschenbaum dalam Darmiyati Zuchdi, 2008: 36-37) meliputi pendekatan (i) inculcating,yaitu menanamkan nilai dan moralitas, (ii) modelling, yaitu meneladankan nilai dan moralitas, (iii) facilitating, yaitu memudahkan perkembangan nilai dan moral, dan (iv) skill development, yaitupengembangan keterampilan untuk mencapai kehidupan pribadi yang tentram dan kehidupan sosial yang kondusif.

d.Metode dan Teknik Pendidikan
Nilai Moral untuk mengaplikasikan konsep pendidikan nilai tersebut di atas, diperlukan beberapa metode, baik metode langsung maupun tidak langsung. Metode langsung mulai dengan penentuan perilaku yang dinilai baik sebagai upaya indoktrinasi berbagai ajaran.
Nama: Mera Dwi Pratiwi
NPM: 2253053040
Kelas: 3H

Analisis Video 2

Degradasi Moral Pelajar Jaman Modern

Terdapat banyak kasus yang melibatkan siswa di sekolah. Seperti siswa yang mengajak duel kepala sekolahnya sendiri bahkan siswa yang menghabisi nyawa gurunya sendiri.

1. Komisaris KPAI bidang Pendidikan yaitu Ibu Retno Listianti menyebutkan bahwa anak memiliki alasan atau penyebab dalam melakukan sesuatu. Kekerasan baik yang dilakukan siswa ataupun guru itu tidak dibenarkan.

2. Dr. Itje Chodidjah, MA selaku Praktisi Pendidikan juga memenambahkan bahwa guru harus memiliki 4 standar kompetensi utama. Dimana 4 standar tersebut belum sepenuhnya terpenuhi. Sehingga jika 4 standar tersebut terpenuhi, guru dapat menangani beragam perilaku siswa yang berbeda yang terdapat didalam kelas.

3. Vero Adesla selaku Psikolog juga mengatakan bahwa anak memiliki kemampuan untuk menalar dan berfikir . Anak tidak mampu untuk mengelola emosi. Jadi, ketika marah muncul rangsangan yang mendorong untuk bereaksi seketika . Saat bereaksi atau emosi sudah tidak berfikir bagaimana konsekuensinya.
Nama: Mera Dwi Pratiwi
NPM: 2253053040
Kelas: 3H
Analisis Video

6 Tahap Perkembangan Moral menurut Kohlberg

Perkembangan moral menurut Kohlberg dibagi menjadi 3 level, dimana masing masing level terdapat 2 tahap, sehingga menjadi 6 tahap.

1. Pra-Konvensional
• Menghindari Hukuman.
Seseorang memiliki alasan untuk bertindak atau tidak bertindak sesuatu karena untuk menghindari hukuman.
• Keuntungan dan Minat Pribadi.
Tindakan dilakukan dengan memperhitungkan apa yang akan didapatkan olehnya.

2. Konvensional
• Menjaga Sikap Orang Baik
Memikirkan bagaimana kesepakatan sosial yang ada dan pendapat orang lain terhadap nya.
• Memelihara Peraturan
Jika peraturan tidak ada yang mematuhinya, maka keadaan akan kacau. Karenanya peraturan harus selalu dipatuhi.

3. Pasca-Konvensional
• Orientasi Kontrak Sosial
Setiap orang memiliki latar belakang dan situasi yang berbeda. Tidak ada yang
absolut atau pasti ketika melihat sebuah kasus. Hak hak individu harus dilihat bersamaan dengan hukuman yang ada.
• Prinsip Etika Universal
Mengganbarkan prinsip internal seseorang. Ia melakukan yang dianggapnya benar, walaupun bertentangan dengan hukum yang ada.
Nama: Mera Dwi Pratiwi
NPM: 2253053040
Kelas: 3H

ANALISIS JURNAL

IDENTITAS JURNAL
Nama Jurnal : Dinamika Pendidikan
Volume : -
Nomor : 2
Halaman : 63 - 75
Tahun Terbit : 2008
Judul : PENTINGNYA PENDIDIKAN NILAI DI ERA GLOBALISASI
Nama Penulis : Hidayati

PENDAHULUAN
Saat ini Indonesia masih mengalami krisis multidimensi, salah satunya di bidang pendidikan. Melalui pendidikan Indonesia gagal dalam membentuk manusia yang berkepribadian. Era informasi dan globalisasi sebagai akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini berdampak hampir semua aspek kehidupan masyarakat. Nilai - nilai yang sementara ini dipegang masyarakat mulai bergeser dan di tinggalkan. Mendidik tidak harus berurusan dengan nilai nilai. Maka, pendidikan nilai merupakan agenda yang mesti ada dalam setiap penyelenggaraan pendidikan.

PEMBAHASAN
Pendidikan nilai merupakan integral kegiatan pendidikan, karena pada dasarnya melibatkan pembentukan sikap, watak, dan kepribadian peserta didik. Pendidikan tidak hanya bertujuan menghasilkan pribadi yang cerdas dan terampil, tetapi pribadi yang luhur. Era globalisasi telah membuat sebuah perubahan yang signifikan. Bahkan terjadi degrafasi moral dan nilai nilai yang menyimpang. Hal ini menjadi penyebab gagal nya pendidikan nilai.