Posts made by Devana Okta Mahdalena 2253053034

Nama : Devana Okta Mahdalena
Npm : 2253053034
Kelas :3/H

Analisis jurnal 2

PERKEMBANGAN MORAL SISWA SEKOLAH ASE BERDASARKAN TEORI KOHLBERG

Perkembangan moral telah dipelajari dari berbagai perspektif psikologis, termasuk teori belajar, psikoanalisis, dan lain-lain. Studi saat ini tentang perkembangan moral telah dipengaruhi oleh pendekatan perkembangan kognitif Jean Piaget dan Lawrence Kohlberg. Kohlberg mengidentifikasi beberapa masalah filosofis mendasar yang mendasari studi perkembangan moral, seperti pertanyaan tentang definisi konstruk yang adil secara budaya. Psikolog yang mempelajari moralitas atau perkembangan moral harus berurusan dengan masalah relativisme moral atau netralitas nilai, yang bermula dari kata-kata yang bermuatan nilai "moral" dan "pengembangan." Relativisme moral adalah posisi bahwa nilai-nilai moral berbeda di antara budaya dan masyarakat dan karenanya tidak universal (Naito, 2013).

Teori (Kohlberg; L., Hersh, R.H. 1977) tentang Perkembangan
Moral dibagi menjadi 3 level, yang masing-masing level dibagi menjadi
beberapa tahap sebagai berikut: Level 1. Moralitas Pra-konvensional • Tahap 1 - Ketaatan dan Hukuman. Tahap awal perkembangan moral terutama terjadi pada anak-anak kecil, tetapi orang dewasa juga mampu mengekspresikan jenis penalaran ini. Pada tahap ini, anakanak melihat aturan sebagai hal yang tetap dan absolut. Mematuhi aturan itu penting karena merupakan sarana untuk menghindari hukuman.; Tahap 2 - Individualisme dan Pertukaran. Pada tahap perkembangan moral ini, anak-anak menjelaskan sudut pandang individu dan menilai tindakan berdasarkan bagaimana mereka melayani kebutuhan individu. Dalam dilema Heinz, anak-anak berpendapat bahwa tindakan terbaik adalah pilihan yang paling baik memenuhi kebutuhan Heinz. Timbal balik adalah mungkin, tetapi hanya jika melayani kepentingan diri sendiri.
Level 2. Moralitas Konvensional • Tahap 3 - Hubungan Interpersonal. Seringkali disebut sebagai orientasi "good boy-good girl", tahap perkembangan moral ini difokuskan pada memenuhi harapan dan peran sosial. Ada penekanan pada konformitas, bersikap "baik," dan mempertimbangkan bagaimana pilihan memengaruhi hubungan.; Tahap 4 - Menjaga Ketertiban Sosial. Pada tahap perkembangan moral ini, orang mulai menganggap masyarakat secara keseluruhan ketika membuat penilaian. Fokusnya adalah menjaga hukum dan ketertiban dengan mengikuti aturan, melakukan tugas seseorang dan menghormati otoritas.
Level 3. Moralitas Pasca konvensional. Tahap 5 - Kontrak Sosial dan Hak Perorangan. Pada tahap ini, orang mulai memperhitungkan perbedaan nilai, pendapat, dan kepercayaan orang lain. Aturan hukum penting untuk mempertahankan masyarakat, tetapi anggota masyarakat harus menyetujui standar-standar ini.; Tahap 6 - Prinsip Universal. Tingkat penalaran moral terakhir Kolhberg didasarkan pada prinsip-prinsip etika universal dan penalaran abstrak. Pada tahap ini, orang mengikuti prinsip-prinsip keadilan yang diinternalisasi ini, bahkan jika mereka bertentangan dengan hukum dan peraturan.

Metode penelitian
Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Peneliti kualitatif tertarik pada kepercayaan orang, pengalaman, dan sistem makna dari perspektif orang-orang (Mohajan, 2018). Penelitian kualitatif adalah bentuk tindakan sosial yang menekankan pada cara orang menafsirkan, dan tidak memahami pengalaman mereka untuk memahami realitas sosial individu. Itu membuat penggunaan wawancara, buku harian, jurnal, observasi kelas dan pencelupan; dan kuesioner terbuka untuk mendapatkan, menganalisis, dan menafsirkan analisis konten data dari bahan visual dan tekstual, dan sejarah lisan (Zohrabi, 2013).

Berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan teori perkembangan moral Kohlberg, anak-anak usia 11-12 tahun memang masih berada pada tahap pra konvensional tahap ½ yang dominan diikuti tahap 2 dan 2/3, yang cenderung ingin melakukan sesuatu karena takut dihukum. Dalam hasil penelitian sederhana ini, responden yang berusia 11-12 tahun cenderung baru memasuki tingkat 1 tahap 1, meskipun pada kasus tertentu mungkin saja ada pengecualian yaitu pada usia 11-12 bisa saja berada pada tingkat perkembangan moral yang lebih rendah atau yang lebih tinggi.
Nama : Devana Okta Mahdalena
Npm :2253053034
Kelas : 3/ H

Analisis jurnal 1
PENDIDIKAN NILAI MORAL DITINJAU DARI PERSPEKTIF GLOBAL

1. Isu pendidikan nilai moral di beberapa negara
Di bawah ini akan dibahas isu pendidikan moral yang terjadi di empat negara yaitu Indonesia , Malaysia , India , dan China .
Empat negara itu dapat mewakili karakteristik bangsa dengan latar belakang idiologi yang berbeda .
Indonesia merupakan negara Pancasila yang mayoritas Islam , India merupakan negara federal Yang tetap mempertahankan nilai-nilai agama sebagai nilai universal. Malaysia merupakan representasi negara yang memiliki bangsa mayoritas Islam sebagaimana negara Indonesia , sedangkan china merupakan perwakilan negara sosialis komunis . menampakkan adanya perbedaan dan kesamaan. Perbedaan yang ada disebabkan oleh adanya perbedaan ideologi bangsa. Walaupun demikian, negara-negara itu memberikan penekanan pendidikan nilai moral pada nilai etik-moral; terutama dalam hal nilai-nilai yang bersifat asasi manusia, universal, dan global.
1. Indonesia

Hasil penelitian Afiyah, dkk. (2003), menyatakan bahwa kelemahan pendidikan agama antara lain terjadi karena materi pendidikan agama Islam, termasuk bahan ajar akhlak, cenderung terfokus pada pengayaan pengetahuan (kognitif), sedangkan pembentukan sikap (afektif) dan pembiasaan (psikomotorik) sangat minim. Dengan kata lain, pendidikan agama lebih didominasi oleh transfer ilmu pengetahuan agama dan lebih banyak bersifat hafalan tekstual, sehingga kurang menyentuh aspek sosial mengenai ajaran hidup yang toleran dalam bermasyarakat dan berbangsa.
2. India
Dalam pendidikan nasional India, pendidikan nilai dikembangkan sebagai usaha untuk meningkatkan kesadaran nilai ilmiah, sosial, dan kewarganegaraan yang tidak secara khusus dikembangkan melalui satu sudut pandangan agama. Ini tidak berarti mengabaikan pentingnya pendidikan agama sebagai kekuatan dalam membangun karakter bangsa, melainkan untuk menempatkan pendidikan nilai dalam konteks pemahaman nilai agama yang universal.
3. Malaysia
Pendidikan nilai dilakukan di sekolah dasar dan pengembangannya dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung pendidikan nilai diajarkan melalui pendidikan moral dan mata pelajaran agama, sedangkan pendidikan nilai yang tidak secara langsung dikembangkan melalui sejumlah mata pelajaran lainnya, seperti program pendidikan kewarganegaraan dan melalui kegiatan kokurikuler.
4. Cina
Dalam tradisi Cina, pendidikan memiliki hubungan erat dengan kewajiban moral. Tradisi ini menempatkan pendidikan nilai sebagai bagian penting dalam percaturan pendidikan. Walaupun demikian, dalam perkembangannya, pendidikan nilai dihadapkan pada beberapa tantangan berikut.Dalam tradisi Cina, pendidikan memiliki hubungan erat dengan kewajiban moral. Tradisi ini menempatkan pendidikan nilai sebagai bagian penting dalam percaturan pendidikan. Walaupun demikian, dalam perkembangannya, pendidikan nilai dihadapkan pada beberapa tantangan berikut.

2. Dimensi Pendidikan Nilai Moral
a. Teori Perkembangan Moral
Kohlberg mengindentifikasi enam tahap tingkat pertimbangan moral yaitu
1. Orientasi hukuman atau kepatuhan
2. Orientasi instrumental-relatif
3. Orientasi masuk kelompok anak manis atau anak baik
4. Orientasi hukum dan ketertiban
5. Orientasi kontrak sosial legalitas
6. Orientasi prinsip kewajiban

b. Pendidikan Nilai Moral
Pendidikan nilai moral merupakan tuntutan dan sekaligus kebutuhan pada tatanan global bagi umat manusia sebagai pengejawantahan hidup bersama, berbangsa, dan bernegara dalam hubungannya dengan tatanan global yang diwarnai dengan berbagai permasalahan yang bersifat luas, kompleks, dan mendunia.

c. Pendekatan Pendidikan Nilai Moral
Pendekatan komprehensif pendidikan nilai menurut Kirschenbaum dalam Darmiyati Zuchdi, 2008: 36-37) meliputi pendekatan (i) inculcating, yaitu menanamkan nilai dan moralitas, (ii) modelling, yaitu meneladankan nilai dan moralitas, (iii) facilitating, yaitu memudahkan perkembangan nilai dan moral, dan (iv) skill development, yaitu pengembangan keterampilan untuk mencapai kehidupan pribadi yang tentram dan kehidupan sosial yang kondusif.

d. Metode dan Teknik Pendidikan Nilai Moral
Metode
1. Metode Dogmatik
- mengajarkan nilai kepada peserta didik dengan jalan menyajikan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran.
2. Metode Deduktif
- cara menyajikan nilai-nilai kebenaran dengan jalan menguraikan konsep kebenaran.
3. Metode Induktif
- kebalikan dari metode deduktif , dalam membelajarkan kebenaran melalui kasus-kasus.
4. Metode Reflektif
- gabungan dari penggunaan metode deduktif dan metode induktif.
Teknik pendidikan nilai moral yang berorientasi pada nilai (afek) ada bermacam-macam
1. Teknik indoktrinasi
2. Teknik moral reasoning
3. Teknik meramalkan konsekuensi
4. Teknik klarifikasi
5. Teknik internalisasi
Nama : Devana Okta Mahdalena
Npm : 2253053034
Kelas :3/H

Analisis video 2

Degradasi Moral Pelajar Jaman Modern

Topik 1
Seorang siswa di kabarkan menganiaya gurunya sendiri hingga tewas
Topik 2
Siswa SMA yang berani melawan dan tidak sopan kepada kepala sekolah

RETNO LISTYARTI ( Komisioner KPAI Bidang Pendidikan )
Apa yang di lakukan oleh anak sebenernya tidak berdiri sendiri pasti ada sebab penyebab salah satu yang utama dilihat dari pola pengasuhan bagaimana anak ini dirumah , sikap dan perilaku di sekolah tidak di bentuk secara tiba-tiba itu ada sebuah proses panjang dalam hidup nya . Kemudian yang kedua ada kaitannya dengan guru di kelas dalam mengelola kelas , jadi menghadapi anak anak tertentu .
Apapun tidak boleh di lakukan dengan kekerasan baik dari guru maupun siswa itu tidak di benarkan

Dr. ITJE CHODIDJAH , MA (Praktisi Pendidikan )
Untuk sosok menjadi guru yaitu kelengkapan di dalam dirinya sebagai sosok pribadi dan hal itu sudah di atur dalam undang undang . Guru mempunyai 4 standar kompetensi utama
1. Kompetensi kepribadian
2. Kompetensi sosial
3. Kompetensi profesional
4. Kompetensi pedagogik
Yang sementara ini baik dalam pembekalan sebelum jadi guru apalagi dalam pelatihan setelah jadi guru ke empat hal ini belum dilaksanakan secara holistik .
Jadi misalnya pelatihan sebelum menjadi guru faktor kepribadian sebelum seseorang memasuki tahapan menjadi seorang pendidik mestinya dilakukan scrining (scrining psikologis ) supaya ketika dia sudah siap sekolah guru dia sudah betul betul siap untuk menjadi seorang pendidik . Setelah dia di dalam proses itu dia juga di kenalkan ragam - ragam sekolah kita ragam-ragam anak kita , bagaimana menangani anak dengan perilaku yang berbeda berada di Salma satu kelas , nah pembekalan itu memang tidak cukup seperti yang sekarang sementara ini di lakukan yaitu pembekalan yang bersifat knowledge (pengetahuan) apa yang mendominasi bersifat penguatan di dalam keterampilan dan pembenahan perilaku ini belum menjadi fokus utama .

VERO ADESLA ( Psikolog)
Anak itu bertumbuh ada level tingkat kognisi ( kemampuan untuk menalar dan berpikir ) apakah aksi itu berlanjut pada konsekuensi . Tapi pada kasus kalo anak tidak mampu mengelola emosi ketika dia marah dan benci itu muncul impulsif atau rangsangan mendorong dia untuk bereaksi seketika . Ketika dia muncul dorongan dan langsung bereaksi itu dia sudah tidak tahu dengan konsekuensi dan di lampiaskan langsung . Kemampuan untuk mengelola emosi ini yang harusnya juga di latih pada anak anak , kemudia toleransi level terhadap stres ini semakin turun , tuntutan nya sekarang berbeda banyak informasi yang harus banyak di serap padahal belum tentu informasi itu penting untuk di serap , belum juga di dalam pelajaran tuntutan nya juga semakin besar , banyak yang harus di pelajari mengajar nilai , itu level stres nya makin tinggi tapi tidak diimbangkan dengan kemampuan pribadi untuk mengelola itu.
Nama : Devana Okta Mahdalena
Npm : 2253053034
Kelas :3/H

Analisis video 1
6 Tahap Pengembangan Moral Menurut Kohlberg

Lawrence Kohlberg melakukan penelitian di Amerika yang kemudian menjadi fondasi nya untuk merumuskan tahapan perkembangan moral.
Menurutnya tahapan perkembangan moral dibagi menjadi tiga level setiap level memiliki dua tahap hingga seluruhnya menjadi enam tahap .
A. PRA KONVENSIONAL
1. Menghindari hukuman
2. Keuntungan dan minat pribadi
B. KONVENSIONAL
3. Menjaga sikap orang baik
4. Memelihara peraturan
C. PASCA KONVENSIONAL
5. Orientasi kontrak sosial
6. Prinsip etika universal
Penjelasan setiap tahap
1. Seseorang memiliki alasan untuk bertindak atau tidak bertindak sesuatu karena untuk menghindari hukuman.
2. Tindakan dilakukan dengan memperhitungkan apa yang akan didapatkan oleh nya.
3. Memikirkan bagaimana kesepakatan sosial yang ada dan pendapat orang lain terhadap nya.
4. Jika peraturan tidak ada Yang mematuhi nya maka keadaan akan menjadi kacau ,karena nya peraturan harus selalu dipatuhi.
5. Setiap orang memiliki latar belakang dan situasi yang berbeda
Tidak ada yang absolut atau pasti ketika melihat sebuah kasus
Hak-hak individu harus dilihat bersamaan dengan hukum yang ada.
6. Menggambarkan prinsip internal seseorang, iamelakukan hal yang dianggapnya benar ,walaupun bertentangan dengan hukum yang ada.
Kohlberg menggunakan cerita dilema di dalam penelitiannya
- Dilema Heinz
Heinz memiliki seorang istri yang sekarat di rumah sakit karena menderita kanker menurut dokter ada salah satu obat yang bisa menyelamatkannya , obat tersebut baru ditemukan oleh seorang Apoteker, Apoteker tersebut menjual obat dengan harga 10 kali lipat dari modal membuat nya . Heinz yang miskin pergi ke setiap orang untuk meminjam uang , ia hanya mendapatkan 1000 dolar , sementara obat tersebut di hargai 2000 dolar , Heinz memberi tahu apoteker bahwa istri nya sedang sekarat untuk meminta obat tersebut dan di lunasi di kemudian hari namun apoteker itu menolaknya .
Menurut saya yang perlu di lakukan oleh Heinz adalah mencari pinjaman uang lagi kepada orang orang terdekat nya lagi , karna tindakan mencuri itu sangat melawan hukum , jika dia mencuri obat tersebut maka ia akan mendapatkan sebuah hukuman , kasian kepada istrinya nanti tidak ada yang mengurusinya .
Nama : Devana Okta Mahdalena
Npm :2253053034
Kelas :3/H

Analisis jurnal 2

PENTINGNYA PENDIDIKAN NILAI DI ERA GLOBALISASI
Pendidikan nilai merupakan bagian integral kegiatan pendidikan, karena pada dasarnya pendidikan melibatkan pembentukan sikapwatakdan kepribadian peserta didikPendidikan tidak hanya bertujuan menghasilkan pribadi yang cerdas dan terampil, tetapi juga pribadi yang berbudi pekerti luhur. Oleh sebab itu, pendidikan harus membantu peserta didik untuk mengalami nilai-nilai dan menempatkannya secara integral dalam keseluruhan hidup mereka.
Globalisasi berlangsung di semua aspek kehidupan, seperti politik, ekonomisosial budaya, dan sebagainyaTeknologi informasi dan komunikasi merupakan faktor pendukung utama dalam globalisasiPerkembangan teknologi informasi begitu cepat sehingga segala informasi dengan berbagai bentuk dan kepentingan dapat tersebar ke seluruh dunia. Oleh karena itu globalisasi tidak dapat dihindari kehadirannya.
Pengaruh positif globalisasi terhadap nilai-nilai dan moral
1. Aspek politik, pemerintahan dijalankan secara terbuka dan demokratis Jika pemerintahan dijalankan secara jujur, bersih dan dinamis tentunya akan mendapat tanggapan positif dari rakyat.
2. Dari aspek ekonomi terbukanya pasar internasional, meningkatkan kesempatan kerja dan meningkatkan devisa negara.
Pengaruh negatif globalisasi terhadap nilai-nilai dan moral
1. Masyarakat kita, khususnya anak muda banyak yang lupa akan identitas diri sebagai bangsa Indonesia, karena gaya hidupnya cenderung meniru budaya barat yang oleh sebagian masyarakat dunia dianggap sebagai kiblat.
2. Terjadinya kesenjangan sosial yang tajam antara yang kaya dan miskin, karena adanya persaingan bebas dalam globalisasi ekonomi. Hal ini dapat menimbulkan konflik yang dapat menggangu stabilitas bangsa.
Nilai- nilai luhur yang ditanamkan di sekolah, tampaknya tidak masuk dan tidak berkembang dalam diri peserta didik. Diakui atau tidak selama bertahun-tahun, pendidikan tidak diarahkan untuk memanusiakan manusia secara "utuh" dan "paripurna", tetapi lebih diorientasikan pada hal-hal yang bersifat materialistis, ekonomis, dan teknokratis dari sentuhan nilai-nilai moral, kemanusiaan, dan budi pekerti.
Dampak globalisasi telah menimbulkan transformasi nilai-nilai dalam kehidupan masyarakat. Kesadaran akan hak-hak personal seseorang semakin tinggi, kehidupan cenderung semakin individualis, semakin permisif, dan lunturnya nilai-nilai moral. Dimanakah letak akar permasalahan krisis pendidikan nilai di Indonesia ini? Nampaknya pendidikan nilai selama ini banyak terjadi adanya keterpaksaan, yaitu nilai-nilai diajarkan dengan paksa untuk diketahui secara kognitif dan dilaksanakantetapi karena dipaksakan maka tidak sampai menyentuh hatiHasilnya sikap dan perilaku anak didik tidak berakar dari pengalaman nilai yang otentik.
Kita tidak dapat membendung pengaruh jaman, dan tidak dapat memalingkan perhatian mereka dari nilai-nilai yang sedang trendYang dapat kita lakukan adalah mendampingi dan mendorong mereka agar menjalani hidup dengan menggunakan n nalar dan hati yang berfungsi dengan baik diharapkan mereka akan dapat mempertimbangkan segala perbuatan, tingkah laku, dan keputusan yang diambil.