Posts made by Zain Ilmi

PSTI C dan D Tahun 2023 -> FORUM JAWABAN POST TEST

by Zain Ilmi -
Zain Ilmi (2215061076) PSTI-D

INTEGRASI NASIONAL SEBAGAI PENANGKAL ETNOSENTRISME DI INDONESIA
Oleh: Agus Maladi Irianto

Identitas adalah representasi diri seseorang atau masyarakat melihat dirinya sendiri dan bagaimana orang lain melihat mereka sebagai sebuah entitas sosial-budaya. Dengan demikian, identitas adalah produk kebudayaan yang berlangsung demikian kompleks. Identitas dilihat dari aspek waktu bukanlah suatu wujud yang sudah ada sejak semula dan tetap bertahan dalam suatu esensi yang abadi. Sedangkan dilihat dari aspek ruang juga bukan hanya satu atau tunggal, tetapi terdiri dari berbagai lapisan identitas. Lapis-lapis identitas itu tergantung pada peran-peran yang dijalankan, keadaan objektif yang dihadapi, serta ditentukan pula dari cara menyikapi keadaan dan peran tersebut.

Identitas bukanlah suatu yang selesai dan final, tetapi merupakan suatu kondisi yang selalu disesuaikan kembali, sifat yang selalu diperbaharui, dan keadaan yang dinegosiasi terus-menerus, sehingga wujudnya akan selalu tergantung dari proses yang membentuknya. Seperti halnya identitas kita pada saat ini, menunjukkan gambaran yang tidak tunggal tetapi sangat plural. Pluralitas pada perkembangan saat ini tidak lagi hanya dibatasi pada perbedaan etnis, profesi, latar belakang pendidikan, serta asal usul daerah. Pluralitas pada perkembangan saat ini justru lebih menunjuk pada persoalan kepentingan-kepentingan. Seseorang bisa berbeda dengan orang lain, bukan lantaran dia berasal dari etnis yang berbeda, profesi yang berbeda, latar belakang pendidikan yang berbeda, bahkan asal asul daerah yang berbeda. Kepentingan masing-masing oranglah yang kemudian menyatukan identitas tersebut

Pada suatu sisi integrasi terbentuk kalau ada identitas yang mendukungnya seperti kesamaan bahasa, kesamaan dalam nilai sistem budaya, kesamaan cita-cita politik, atau kesamaan dalam pandangan hidup atau orientasi keagamaan. Pada pihak lain, integrasi yang lebih luas hanya mungkin terbentuk apabila sekelompok orang menerobos identitasnya dan mengambil jarak dari segala yang selama ini dianggap membentuk watak dirinya atau watak kelompoknya. Dengan demikian ia meninggalkan identitasnya, yang kemudian membuka kemungkinan untuk pembentukan integrasi yang lebih luas. dan salah datu contohnya di Indonesia ini adlaah Bahasa Indonesia.

Integrasi nasional terjadi juga akibat terbentuknya kelompok-kelompok yang dipersatukan oleh suatu isu bersama, baik yang bersifat ideologis, ekonomis, maupun sosial. Misalnya, kelompok pedangang kaki lima (PKL) membentuk jaringan mereka ketika menghadapi Perda yang dikeluarkan Pemda atau ketika mereka harus menghadapai operasi Satpol PP. Demi kepentingan tersebut, seorang PKL yang beretnik Minang akan bersatu dengan PKL PKL beretnik lain. Singkat kata, integrasi pada dasarnya menyatukan lintas identitas untuk satu kepentingan bersama.

Berdasarkan materi diatas dapat disimpulkan bahwa identitas Nasional bisa dupergunakan untuk mengurangi terjadinya Etnosentris yang dimana bagi bangsa Indonesia hal itu merupakan hal yang berbahaya, sehingga perlu ditindaklanjuti dengan cara menjadikan satu hal sebagai tujuan yaitu memajukan NRI dan penggunaan bahasa Indonesia yang dimana hal ini bisa membantu dalam mempercepat integrasi Nasional. Kebijakan otonomi daerah yang kini marak di sejumlah penjuru negeri ini, justru menjadi penghambat cita-cita menerapkan konsep integrasi nasional. Cita-cita menerapkan konsep integrasi nasional akan terwujud, manakala sekelompok anggota masyarakat bersedia menerobos identitasnya dan mengambil jarak dari segala kepentingan yang selama ini dianggap membentuk watak dirinya atau watak kelompoknya. Dengan demikian ia meninggalkan identitasnya, yang kemudian membuka kemungkinan untuk pembentukan integrasi yang lebih luas.

PSTI C dan D Tahun 2023 -> FORUM JAWABAN POST TEST

by Zain Ilmi -
Zain Ilmi (2215061076) PSTI-D

KEARIFAN BUDAYA LOKAL PEREKAT IDENTITAS BANGSA
Oleh : Ida Bagus Brata

Multikulturalisme dapat dimaknai sebagai sebuah kepercayaan yang menyatakan bahwa kelompok-kelompok etnik atau budaya (ethnic and cultural groups) dapat hidup berdampingan secara damai dalam prinsip coexistence yang ditandai oleh kesediaan menghormati budaya lain. Multikulturalisme juga merupakan sebuah formasi sosial yang membukakan jalan bagi dibagunnya ruangruang bagi identitas yang beragam dan sekaligus jembatan yang menghubungkan ruang-ruang itu untuk sebuah integrasi
(Sparingga, 2003). Paham multikulturalisme ini muncul sebagai reaksi dari semakin kuatnya cengkeraman globalisasi yang cenderung menyatukan dunia (budaya) menjadi satu di bawah pengaruh ideologi kapitalisme atau modernisme. Sebagai bangsa yang memiliki sejarah panjang, sehingga tidak dapat dihindari bahwa bangsa Indonesia berada dalam kehidupan dengan beraneka budaya di dalamnya, seperti: budaya Jawa, Sunda, Madura, Minang, Batak, Makasar, Bugis, Toraja, Manggarai, Sikka, Sumba, Bali, Sasak dan lain-lain yang hidup berdampingan dan saling melengkapi satu sama lain.

Secara konsepsual kearifan lokal merupakan bagian dari kebudayaan. Haryati Subadio (1986:18-19) mengatakan kearifan lokal (local genius) secara keseluruhan meliputi, bahkan mungkin dapat dianggap sama dengan cultural identity yang dapat diartikan dengan identitas atau keperibadian budaya suatu bangsa. Sementara itu konsep kearifan lokal (local genius) yang dikemukakan oleh Quaritch Wales (dalam Astra,2004:112) adalah “....the sum of cultural characteristic which the vast majority of people have in common as a result of their experiences in early life” (keseluruhan ciri-ciri kebudayaan yang dimiliki oleh suatu masyarakat/bangsa sebagai hasil pengalaman mereka di masa lampau).

Dalam kaitan ini Geriya (2000) menunjukkan bahwa ada sekurang-kurangnya tujuh indikator terkait dengan kemampuan ketahanan modal budaya suatu kolektiva untuk tumbuh secara surplus atau defisit. Ketujuh indikator tersebut adalah: (1) ketahanan ideal (ketahanan sistem nilai); (2) ketahanan struktural (ketahanan kelembagaan); (3) ketahanan pisikal (ketahanan sistem budaya fisik); (4) ketahanan mental (ketahanan sikap mental); (5) Ketahanan fungsional (ketahanan fungsi unsure-unsur kebudayaan); (6) ketahanan sistemik (ketahanan totalitas sistem masyarakat); dan (7) ketahanan prosesual (ketahanan dan kelenturan menghadapi perubahan). Kerentanan dan kelemahan daya tahan mengakibatkan defisit modal sosial, dan sebaliknya kekokohan, kreativitas dan adaptivitas publik mampu menumbuhkan surplus modal sosial.

Berdasarkan materi diatas dapat disimpulkan bahwa untuk mempertahankan Bhineka Tunggal Ika perlu dilakukan beberapa langkah seperti tertera diatas, yang dimana harus dilakukan untuk mempertahankan persatuan yang berasal dari keragaman jenis, karena hal ini merupakan hal baru bahkan untuk dunia Internasional, yang dimana di dunia Globalisasi masih baru saja menghadapi hal tersebut, sedangkan Indonesia sudah berjibaku dengan hal ini sejak jama dahulu, dan hal ini bisa dijadikan suatu keuntungan bagi Indonesia karena kita telah berpengalaman dan "setidaknya" sudah bisa dan seharusnya bisa menerima berbagai macam jenis orang dan kelompok.

PSTI C dan D Tahun 2023 -> PRETEST

by Zain Ilmi -
1. Ya tentu saja, hal positifnya adalah saya dapat mengetahui perihal terjadinya suatu tindakan di "belakang layar" Oleh DPR itu sendiri, yang dimana menurut saya itu sangat disayangkan dan menunjukkan adanya kolusi. Adapun hal yang harus dibenahi tentu saja merupakan UU yang mengatur tentang putusan tersebut, karena sebagai mana MK bekerja sebagai "pintu" Resminya suatu UU maka hal ini diperlukan adanya rekonstruksi ulang UU yang diajukan sebelumnya dan membandingkan hal tersebut, karena jika tidak maka akan terjadi penyalahgunaan yang akan terjadi seterusnya

2. Hakikat dari konstitusi adalah suatu instansi yang berfungsi untuk mengawasi jalannya suatu hukum di negara tersebut, yang dimana di Indonesia Berpedoman kepada UUD 1945 dan di awasi oleh MK sehingga berjalan sebagaimana mestinya

3. Contoh pejabat yang tidak konstitusional adalah penyalahgunaan jabatan dengan mengangkat keluarganya sebagai asisten tanpa adanya penyaringan