Kiriman dibuat oleh Iftah Farida Reza Nur 2213053184

Nama : iftah Farida Reza Nur
Npm : 2213053184

Video yang disajikan membahas mengenai contoh pendidikan nilai dan moral di masyarakat.

Berikut beberapa contoh nya :
1. Menyapa sesama tentangga
2. Peduli akan kebersihan ( menyapu dan memungut sampah )
3. Berbagi rezeki dengan memberi makanan di jalan untuk pekerja pekerja lain.
4. Anak kecil yang menunaikan ibadah di masjid
5. Membagikan beras

Penyaji juga meminta pendapat atau saran dari lingkungan sekitar nya mengenai perilaku nilai moral yg sudah ia lakukan. Dan hasil dari respon orang sekitar adalah positif karena yg di lakukannya merupakan perilaku yang mulia dan positif.
Nama : Iftah Farida Reza Nur
Npm : 2213053184

Video tersebut membahas mengenai masalah terbesar remaja masa kini.
Banyak masalah masalah yg di alami pada saat masa remaja, apalagi masa remaja merupakan masa transisi yakni peralihan dri masa remaja ke masa dewasa. Berikut beberapa masalah remaja masa kini :

1. Penampilan
2. Pendidikan
3. Persahabatan
4. Percintaan
5. Percaya diri

Selain membahas tentang masalah masalah yg banyak di alami remaja masa kini, video ini juga memberikan kita solusi atau nasihat yg bisa kita pakai guna meningkatkan kualitas pendidikan nilai dan moral kita, dan tentunya kita bisa melewati serta menyelesaikan masalah masalah tersebut.
Nama : Iftah Farida Reza Nur
Npm : 2213053184

Video tersebut membahas mengenai pendidikan nilai dan moral di lingkungan masyarakat.
Ada banyak contoh perilaku nilai moral yg positif, berikut beberapa contoh nya:
1. Tolong menolong
2. Menyapa kenalan dengan bahasa yg baik
3. Menghargai atau menghormati pendapat orang lain
4. Bertegur sapa
5. Mengikuti pelajaran dengan tentram

Selain sikap nilai moral yg positif berikut beberapa contoh sikap yg mencerminkan nilai moral negatif:
1. Mencuri
2. Membuang sampah tidak pada tempatnya
3. Memandang rendah orang lain
4. Berkendara dengan kecepatan tinggi
5. Membuang sampai ke sungai
6. Membiarkan teman bertengkar

Dari video tersebut kita dapat mengambil kesimpulan yaitu nilai moral adalah suatu nilai yg menjadi standar baik atau buruk nya seseorang. Moral sendiri memiliki makna ( ajaran tentang ) baik buruk yg di terima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban dan sebagainya. Istilah moral ini Seong juga di sebut sebagai akhlak, Budi pekerti, ataupun asusila.
Nama: Iftah Farida Reza Nur
Npm : 2213053184

Identitas Jurnal
Nama Jurnal : JURNAL RECHTEN: RISET HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
Volume : 3
Nomor : 31
Halaman : 17-27
Tahun Terbit : 2021
Judul Jurnal : Problematika Moral Bangsa Terhadap Etika Masyarakat
Nama Penulis : 1.Kanesa Putri
2. Muhammad Eko Maryana


Hasil analisis dari jurnal tersebut yakni, jurnal ini membahas mengenai problematika moral bangsa terhadap etika masyarakat.

Setelah dikaji lebih dalam mengenai etika dan moral dalam masyarakat ternyata ini bukan lagi hal yang sepele jika dilihat lebih serius untuk membahas lebih dalam. Karena setelah mengetahui dampak daripada perubahan zaman terhadap etika dan moral masyarakat sangat Komplek artinya dapat mempengaruhi segala aspek kehidupan masyarakat. Sedikit-sedikit etika dan moral yang dibentuk dari kebiasaan bangsa yang baik mulai luntur tertimbun zaman. Untuk menjegah terjadinya perubahan etika dan moral yang buruk pada masyarakat maka setidaknya harus membuat pencegahan dan aturan yang dapat menjamin bagaimana etika dan moral bangsa Indonesia khususnya Kampung Cijambe Girang Sukaresmi, Kabupaten Sukabumi, tidak hilang tertimbun zaman. Etika dan moral baik sudah menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia yang diajarkan dari nenek moyang mereka sehingga ini menjadi kalater bangsa yang terus dijunjung tinggi.
Nama : Iftah Farida Reza Nur
Npm : 2213053184

Identitas Jurnal
Nama Jurnal : -
Volume : -
Nomor : -
Halaman : 1-9
Tahun Terbit :-
Judul Jurnal : Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat:
Suatu Pemikiran Kefilsafatan
Nama Penulis : Suparlan Suhartono

Hasil analisis Yanga saya dapatkan yakni jurnal tersebut membahas mengenai kesadaran moral kehidupan bermasyarakat.

Konflik dua paham sosial antara individualisme dan kolektivisme tidak perlu dibenturkan, tetapi justru perlu dikelola menurut nilai-nilai moral dan etika, sehingga menjadi kekuatan sosial bagi kehidupan bermasyarakat. Menurut sudut pandang manajemen pendid ikan, ada dua pilihan yaitu apakah dengan sistem menyeragamkan atau justru membina kebebasan untuk mengembangkan berbagai kreativitas individual. Jika penyeragaman dipilih, maka potensi kreativitas individual sebagai hak individu bisa terancam tidak berkembang. Sebaliknya, jika pembebasan dipilih, maka kemapanan sosial sebagai hak masyarakat bisa goyah.

Ada tiga komponen moral dan etika bermasyarakat yang perlu dibina untuk dikembangkan secara berkelanjutan. Pertama, kesadaran moral. Fakta membuktikan bahwa potensi individual bersifat terbatas. Padahal eksistensi kehidupan manusia terarah pada suatu tujuan. Untuk mencapai tujuan tersebut, manusia wajib mempertahankan dan mengembangkan eksistensi kehidupannya itu. Atas keterbatasannya itu, mendorong munculnya suatu kesadaran moral setiap individu untuk membangun kehidupan bermasyarakat. Sadar akan segala keterbatasannya, mereka memadukan keberagaman potensi individual yang mereka miliki dalam bentuk sistem kerja-sama, sehingga menjadi satu kekuatan sosial untu k mencapai tujuan kesejahteraan umum.

Adapun kesejahteraan umum bukan hanya berlaku secara kolektif saja, melainkan juga bagi seluruh individu anggotanya. Jadi, kesadaran moral mendorong terbentuknya suatu keterikatan sosial dalam bentuk kerja sama dalam kehidupan bermasyarakat. Atas kesadaran moral itulah kemudian berfungsi menjadi satu wawasan bagi seluruh individu dalam bermasyarakat. Kedua, kreativitas dalam reproduksi. Wawasan sosial tersebut, selanjutnya mendorong kehidupan bermasyarakat untuk meningk atkan
kreativitas dan produktivitas. Kreativitas kehidupan suatu masyarakat sangat ditentukan oleh lapisan sosial golongan tengah (middle class). Golongan ini adalah kaum intelektual yang berkompeten dalam teori dan sistem pemberdayaan IPTEK. Atas kompeten sinya itu, mereka bersinergi dalam berkreativitas untuk meningkatkan produksi pangan, sandang, papan, dan alat perlengkapan hidup lainnya. Jadi, atas potensi kreatifnya itu, kehidupan masyarakat menjadi lebih lebih maju, kreatif, produktif, dan mandiri di masa depan, sehingga, bukan menjadi masyarakat bergantung, melainkan masyarakat otonom yang mampu mengelola kehidupan atas k kemampuan sendiri. Ketiga, pengendalian perilaku dalam berproduksi. Teknologi dan perindustrian, memiliki kekuatan pelipat-gandaan dalam berproduksi, tetapi perlu diingat bahwa kharakteristik berproduksi seperti itu, berakibat eksploratif dan eksploitatif terhadap sumber daya alam, sehingga ekosistem bisa terancam. Untuk itu, di dalam kehidupan bermasyarakat baik pada taraf
individual maupun kelembagaan sosial secara moral dan etika bertanggung -jawab atas perilaku berproduksi. Secara moral dan etika, tujuan meningkatkan produktivitas tidak ada lain kecuali untuk mewujudkan kesejahteraan umum bagi totalitas kemasyarakatan. Bukan berprodu ksi dengan cara menguras habis sumber daya alam, tetapi menurut azas keadilan ( renewable).

Jadi, kesadaran moral yang kuat mendorong kreativitas untuk berproduksi secara terkendali menurut norma-norma etika ke arah terbentuknya kehidupan masyarakat berkead ilan. Oleh sebab itu, tiga pilar moralitas dan etika tersebut wajib ditanam dibina dan dikembangkan di dalam diri setiap individu melalui pendidikan keluarga, pendidikan sekolah dan pendidikan bermasyarakat. Jika berhasil, maka konflik kepentingan antara p aham individualisme dan kolektivisme justru menjadi energi sosial untuk mendorong pertumbuhan kehidupan masyarakat berkeadilan. Di dalam masyarakat berkeadilan, setiap individu mendapat keleluasaan berdinamika untuk mengoptimalkan potensi dirinya menjadi s eorang individu berkepribadian ideal. Sebaliknya, dengan demikian otomatis masyarakat menemukan jati dirinya yaitu sebagai suatu sistem manajemen sosial.