Posts made by Shella Priscillia 2253053054

Nama : shella Priscillia
Npm : 2253053054
Kelas : 3H
ANALISIS VIDEO 1

6 TAHAP PERKEMBANGAN MORAL MENURUT KOHLBERG
1. Pra-Konvensional
Level pertama ini terdiri dari :
Tahap 1
-menghindari hukuman (seseorang memiliki alasan untuk bertindak atau tidak bertindak sesuatu, karena untuk menghindari doa )
tahap 2
-Keuntungan dan minat pribadi (tindakan yang dilakukan dengan akuntansi apa yang akan didapat olehnya)

2. Tingkat Konvensional
kedua ini terdiri dari :
Tahap 3
-Menjaga sikap orang baik (seseorang mungkin menghindari konflik karena ia memikirkan bagaimana kesepakatan sosial yang ada dan pendapat orang lain terhadapnya, ia tidak bertengkar karena itu tidak baik dan orang baik tidak melakukannya) 
tahap 4 
-memelihara peraturan (seorang ketua kelas memarahi kedua orang
temannya yang berdiskusi karena pikir ia praturan harus di tegakkan, dan jika tidak ada yang mematuhinya maka keadaan akan menjadi kacau,karenanya praturan harus selalu dipatuhi) 

3. Pasca -Konvensional
Level ketiga ini terdiri dari :
Tahap 5
-Orientasi kontrak sosial (seseorang menyadari bahwa setiap orang memiliki latar belakang dan situasi yang berbeda, dia berpikir tidak ada yang absolut atau pasti ketika melihat sebuah kasus.hak hak individu harus dilihat secara bersamaan dengan hukum yang ada) 
Tahap 6 -Prinsip etika universal
(tahap yang menggambarkan prinsip internal seseorang ia melakukan hal yang di anggapnya benar walaupun bertentangan dengan hukum yang ada)
Nama : Shella Pricillia
Npm : 223053054
Kelas : 3H

ANALISI JURNAL 2
IDENTITAS JURNAL :
Nama Penulis : Hidayati
Judul Jurnal : PENTINGNYA PENDIDIKAN NILAI DI ERA GLOBALISASI
Nama Jurnal: Dinamika Pendidikan
No : 2
Tahun Terbit : 2008

Indonesia masih mengalami krisis multidimensi, salah satunya menyangkut sektor pendidikan. Salah satu dampak negatifnya adalah terkikisnya nilai-nilai moral dan etika masyarakat, bertentangan dengan sikap luhur bangsa. Dalam situasi seperti inilah pentingnya pendidikan nilai-nilai moral diwujudkan dalam dunia pendidikan.
Ada 4 kelompok nilai hierarki menurut Max Scheler dalam YB Adimassana 2000:
2 yaitu:
Nilai agama, nilai spiritual, nilai kehidupan, nilai kegembiraan.

Globalisasi adalah suatu proses di mana ide-ide dihasilkan dan diusulkan ke negara-negara lain, yang pada akhirnya mencapai konsensus bersama dan menjadi pedoman bersama bagi negara-negara di seluruh dunia. Proses globalisasi berlangsung dalam dua dimensi ruang dan waktu. Ada pengaruh positif dan pengaruh negatif. Pengaruh positif meliputi (aspek politik, aspek ekonomi, dan aspek sosial budaya) sedangkan pengaruh negatif meliputi (aspek ekonomi, masyarakat kita, munculnya keluhan kesetaraan sosial, munculnya individualisme.

Pentingnya pendidikan nilai dan moral bagi anak
Tujuan pendidikan adalah menjadikan siswa “manusia seutuhnya dan sempurna”. Orang yang beretika adalah orang yang mempunyai kemampuan mengatur kehidupannya sesuai dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Kemungkinan seperti itu ada dalam kesadaran yang telah mencapai kematangan. Oleh karena itu, segala upaya pengembangan kesadaran harus diarahkan untuk menjadikan peserta didik peka dan menghargai nilai-nilai luhur.
Nama : Shella Priscillia
Npm : 2253053054
Kelas : 3H

ANALISA JURNAL 1
Nama Jurnal : jurnal pendidikan kewarganegaraan
Nomor : 3
Halaman : 710-724
Tahun Terbit : 2021
Judul Jurnal : PENDIDIKAN NILAI DAN MORAL DALAM SISTEM KURIKULUM PENDIDIKAN DI ACEH
Nama Penulis :
- Iwan Fajri
-Rahmat
- Dadang Sundawa
- Mohd Zailani Mohd Yusoff

Menurut penilaian ini, penyelenggaraan pendidikan di provinsi Aceh, Indonesia terutama mengacu pada sistem pendidikan nasional, seperti halnya di provinsi lain di Indonesia. Namun karena Aceh diberikan status khusus berdasarkan Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 tentang Keistimewaan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus, maka Pemerintah Aceh mempunyai kewenangan otonom untuk menyelenggarakan pendidikan unik dengan otonomi luar biasa. untuk provinsi Aceh menggunakan hukum Islam (Ahamd, 2019; Bahri, 2013).

Di Indonesia, nilai pendidikan telah diatur dalam sistem pendidikan nasional. Ada delapan belas nilai yang harus guru integrasikan dalam pembelajaran. Nilai-nilai tersebut dipupuk dengan memadukan nilai-nilai dengan isi kurikulum tertulis, kurikulum tidak tertulis (kurikulum tersembunyi), serta kegiatan kokurikuler dan kokurikuler. Pendidikan khusus di Aceh serupa dengan pendidikan di provinsi lain di tanah air. Hanya saja di Aceh, keistimewaan yang diberikan berdasarkan Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 tentang Keistimewaan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus, Pemerintah Aceh mempunyai kewenangan otonom untuk memberikan hak istimewa dan khusus. pendidikan otonom. untuk provinsi Aceh menurut Hukum Islam (Ahamd, 2019; Bahri,

Penerapan Kurikulum Islam didasarkan pada Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2015, Perubahan Atas Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2014 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan, Pasal 44 ayat (2) menyatakan bahwa kurikulum Islam akan mencakup mata pelajaran sebagai berikut:
(a) Topik utama:
(Pertama). Pendidikan Islam dan praktiknya meliputi (keyakinan dan etika, fiqh) serta Al-Qur'an dan Hadits) (2). Pendidikan Kewarganegaraan; (3) Matematika/hitungan; (4) Ilmu Pengetahuan Alam; (5) Ilmu Pengetahuan Sosial; (6) bahasa dan sastra Indonesia; (7) Bahasa Inggris; (8) Arab; (9). Pendidikan jasmani dan olahraga; dan (10) Sejarah kebudayaan Islam.
(B). Topik konten lokal meliputi:
(1) Bahasa Daerah; (2) Sejarah Aceh; (3) Adat istiadat, budaya dan kearifan lokal dan (4) Pendidikan keterampilan.

Pendidikan nilai dan etika pada satuan pendidikan Aceh tidak hanya sejalan dengan pendidikan nasional tetapi juga dilaksanakan melalui kurikulum Islam yang berpedoman pada qanun pendidikan Aceh. Proses pembelajaran yang dilakukan di Aceh berlandaskan budaya Islam berdasarkan syariat Islam Aceh.
Nama : Shella Priscillia
Npm : 2253053054
Kelas : 3H
ANALISIS VIDIO

Judul :
THE TROLLEY PROBLEM

Philippa Foot pada tahun 1967, Foot mengusulkan sebuah eksperimen, masalah troli.
Eksperimen telah diadaptasi untuk memahami lanskap moral dalam berbagai kondisi termasuk:
perang, penyiksaan, drone, aborsi dan euthanasia. Penelitian ini menjadi semakin penting seiring kemajuan dengan hadirnya AI (Artificial Intelligence), pembelajaran mesin dimana mesin diberikan kendali untuk mengambil keputusan yang lebih etis dalam kondisi yang berbeda-beda.
Masalah troli membuat kita lebih memikirkan akibat dari sebuah pilihan, apakah itu dibuat atas dasar nilai moral tertentu atau lebih tepatnya pada hasil akhir dan bagaimana kita mengungkapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Bahwa ada sesuatu yang harus dikorbankan demi kebaikan bersama, oleh karena itu tidak mengherankan jika moralitas sering digunakan oleh pemerintah atau segelintir orang sebagai alat untuk membenarkan perang, penghancuran suatu kelompok etnis, genosida, diskriminasi terhadap kelompok minoritas, penghancuran kelompok etnis tertentu, dan sebagainya. peradaban. lingkungan, hanya industrialisasi. demi perdamaian dunia, demi kebaikan komunitas, demi kebaikan kelompok yang lebih besar, demi masa depan yang lebih baik, atau karena 90% orang berpikir bahwa mengorbankan hal kecil demi hal yang lebih besar adalah hal yang dapat diterima, tampaknya benar dan bermoral. Karena pada akhirnya moralitas ternyata hanyalah persoalan keegoisan masyarakat terhadap kepentingannya sendiri atau kelompoknya.
Nama : Shella Priscillia
Npm : 2253053054
Kelas : 3H

Analisis Jurnal 2

Identitas jurnal
Nama Jurnal : Jurnal Pendidikan Sosiologi Dan Humaniora
Volume : 1
Nomor : 1
Halaman : 90-100
Tahun Terbit : 2010
Judul : MEMBINA NILAI MORAL SOSIAL BUDAYA INDONESIA
DI KALANGAN REMAJA
Nama Penulis : H. Wanto Rivaie.

1. Membangun Hubungan Interpersonal Antar Bangsa
Nilai-nilai hubungan antar warga bangsa perlu dibangun berdasarkan saling menghargai, saling percaya untuk menciptakan kehidupan yang sejahtera. Di dalam keluarga mulai ditanamkan nilai-nilai keimanan, etika pergaulan, dan sebagainya.

2. Pendidikan Generasi Muda Yang Memiliki Jati Diri Indonesia Yang Berkadar Modern
Pembinaan generasi muda (SDM) melalui pendidikan berbeda dari zaman ke zaman, intinya dalam membina kepribadian, sebagai upaya membentuk jati diri remaja tidak bisa lepas dari filsafat hidup atau pandangan hidup seseorang masyarakat atau bangsa dimana mereka menjalani kehidupan Jati diri generasi muda dapat dibentuk oleh tradisi kehidupan masyarakat atau oleh usaha yang terprogram, direncanakan dengan baik, dan sistematis/modern (Jalaluddin, dan Abdullah Idi, 2007, 184-185). Namun demikian sesederhana apapun pembentukan jati diri generasi muda tidak bisa dilepaskan dari peran pendidikan.

3. Diperlukan Pendidik Dalam Arti Seluas-luasnya (Orang Tua, Guru, Dosen, Tokoh Masayarakat Formal/Non Formal)
Dilembaga formal dan non formal (Masyarakat), pendidik yang bertugas membentuk nilai moral untuk membangun jati diri generasi muda adalah keluarga, guru dan tokoh Masyarakat. Mendidik berisi muatan tidak hanya pengetahuan tetapi juga nilai-nilai moral yang terkandung didalam Pancasila. Sementara dalam kegiatan mengajar rekanannya lebih pada aspek kognitif.

4. Penciptaan suasana yang kondusif aktif efektif komunikatif penuh nilai kreatif dan bertanggung jawab
Komunikatif dimaksudkan sebagai sama makna (Sofyan S.,2008, 55) Menciptakan suasana pendidikan yang kondusif dimaksudkan ,bahwa perlu dibangun interaksi Timbal balik dua arah yang akan baikan maksukan dan hasil.

5. Peranan Strategis Pendidikan Agama dalam Pembentukan Perilaku Peserta Didik dalam Kondisi Masyarakat yang Pluralistis
Dengan landasan pendidikan agama yang dilakukan di keluarga, sekolah dan masyarakat dengan sebaik-baiknya, maka akan terbangun kepribadian peserta didik yang memiliki nilai-nilai moral yang termaktub dalam pancasila, dimana sila yang pertama adalah Sila ketuhanan YME, yang menjadi dasar sila-sila yang lain.

6. Faktor faktor personal yang mempengaruhi tindakan manusia
Ada dua macam pendekatan dalam pembentukan prilaku manusia. Kedua pendekatan ini menekankan faktor-faktor psikologis dan faktor- faktor sosial. Atau dengan istilah lain faktor-faktor yang timbul dari dalam individu (faktor personal), dan faktor- faktor berpengaruh yang datang dari luar individu (faktor environmental).