གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Shella Priscillia 2253053054

Nama : Shella Priscillia
Npm : 2253053054
Kelas : 3H
ANALISIS JURNAL 2

Nama jurnal : Jurnal JIPSINDO
Penulis : Enung Hasanah
Nomor : 2
Volume : 6
Tahun : 2019
Judul Jurnal : PERKEMBANGAN MORAL SISWA SEKOLAH DASAR BERDASARKAN TEORI KOHLBERG

Teori Kohlberg mengenai perkembangan moral secara formal disebut cognitive-dvelopmental theory of moralization, yang berakar pada karya Piaget. Asumsi utama Piaget adalah bahwa kognisi (pikiran) dan afek (perasaan) berkembang secara paralel dan keputusan moral merupakan proses perkembangan kognisi secara alami. Berdasarkan teori Kohlberg,pada umumnya anak-anak yang berusia sekitar 10–13 tahun berada pada tahap pra-konvensional, meskipun juga ada orang-orang dewasa yang berhenti perkembangannya pada tahap tersebut. Karena orang dewasa yang terhenti pada tingkatan itu merupakan kekecualian (Duska & Whelan, 1984: 65).
Berdasarkan hasil analisis terhadap jawaban yang dikemukakan atas dilema moral yang dijawab oleh para responden, secara umum (90%) ternyata perkembangan moral para responden yang berada pada usia 11-12 tahun memang masih berada pada tingkat pra konvensional. Alasan yang mereka katakan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, sejalan dengan yang dikatakan Kohlberg (Whelan & Duska), dimana pada tingkatan pra konvensional ini, kalau seorang anak mendengar bahwa sesuatu itu baik atau buruk, gambaran yang ada padanya berbeda sekali dengan yang ada pada orang dewasa. Anak pada tingkatan ini mempunyai pandangan yang sempit sekali tentang masyarakat. Tindakan hanya dinilainya dalam ukuran konsekuensi-konsekuensi yang mungkin akan terjadi. Responden yang berusia 11-12 tahun cenderung baru memasuki tingkat 1 tahap 1, meskipun pada kasus tertentu mungkin saja ada pengecualian yaitu pada usia 11-12 bisa saja berada pada tingkat perkembangan moral yang lebih rendah atau yang lebih tinggi.
Nama : Shella Priscillia
Npm : 2253053054
Kelas : 3H
ANALISIS VIDEO 2
DEGRADASI MORAL PELAJARAN JAMAN MODERN

1. Menurut KPAI (Retno Listyarti selaku kovesioner bidang pendidikan)
Kekerasan cukup tinggi yang di lakukan oleh anak maupun anak yang jadi korbannya. Sejak tahun 2014 meningkat tetapi pada tahun 2017 menurun tetapi meskipun terjadi penurunan bukan berarti mungkin angka atau kejadian berkurang.
Namun terkait dengan kasus ini pasti ada sebab dan penyebabnya seperti Pola pengasuhan dirumah dan bagaimana guru dikelas dalam pengelolaan kelas di sekolah

2. Menurut Sisi Pengamat Pendidikan (Itje Chodidjah selaku Praktisi pendidikan)
Untuk sosok menjadi seorang guru kelengkapan yang utamanya adalah kelengkapan dalam dirinya sebagai sosok pribadi. Hal tersebut telah di atur dalam UUD yang mana seorang guru memiliki 4 standar kompetensi utama yaitu Kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi profesional dan kompetensi pedagogik. Calon guru mendapatkan berbagai pembekalan sebelum menjadi guru.

3. Menurut Sisi Psikologi
Anak masih muda bertumbuh dan memiliki tingkat level koknisi (kemampuan untuk menalar dan berfikir) apakah aksi nya ada konsekuensi tertentu. Pada kasus anak tidak mampu mengontrol emosi ketika dia marah, ketika dia benci maka akan muncul impuls yang mendorong dia untuk bereaksi seketika. Kemampuan untuk mengelola emosi dan stress harus di latih kepada anak anak.
Nama : Shella Priscillia
NPM : 2253053054
Kelas : 3H
ANALISIS JURNAL 1

Nama Jurnal : Jurnal Cakrawala Pendidikan
Nomor : 2
Tahun: 2009
Judul : Pendidikan nilai moral ditinjau dari perspektif global
Nama Penulis : Sudiati

Masalah pendidikan moral di negara-negara dengan karakteristik ideologi yang berbeda seperti Indonesia, Malaysia, India dan China
1.Indonesia
Pendidikan nilai di Indonesia masih kurang dikenal dalam perspektif global, dimana pendidikan masih terfokus pada kurikulum nasional dan lokal yang belum lengkap. Misalnya, pendidikan moral Pancasila dan agama tidak mencapai tujuan untuk menanamkan nilai-nilai moral dan humanistik ke dalam benak siswa. Menurut Afiyah (2003), kelemahan pendidikan agama disebabkan karena materi pendidikan agama hanya terfokus pada aspek kognitif, sehingga pada aspek sosial dan psikomotorik kurang adanya toleransi dalam bermasyarakat,berbangsa dan bernegara.

2. India
Pendidikan nilai di India dikembangkan untuk meningkatkan kesadaran ilmiah, sosial dan kewarganegaraan terhadap nilai-nilai yang tidak dikembangkan secara khusus dari sudut pandang agama tetapi bersifat universal.

3.Malaysia
Pendidikan nilai diberikan di sekolah dasar. Pendidikan langsung dilaksanakan dengan pendidikan nilai moral dan pendidikan agama, pendidikan tidak langsung dilaksanakan dengan pendidikan kewarganegaraan dan kegiatan ekstrakurikuler. Meskipun pendidikan etika di Malaysia cukup konsisten, namun masih terdapat beberapa kendala.

4. Cina
Pendidikan dikaitkan dengan kewajiban moral. Pendidikan moral diberikan seminggu sekali, guru dianjurkan menggunakan metode pembelajaran yang menonjolkan pengalaman hidup sehari-hari.

a. Aspek pendidikan nilai-nilai moral. Teori perkembangan moral
Nilai moral bersifat relatif, perkembangan moral dipahami sebagai internalisasi langsung standar budaya eksternal.

b. Pendidikan nilai-nilai moral
Pendidikan nilai-nilai etika merupakan pendidikan yang berupaya mengembangkan unsur integrasi pribadi

c. dibandingkan dengan Metode pendidikan nilai-nilai moral
Pendekatan dapat dipilih berdasarkan banyaknya nilai yang dipilih untuk ditanamkan dan dikembangkan.
nilai tidak bisa hanya diwakili oleh
seorang guru atau hanya dalam satu
pelajaran, tetapi pemformatan diperlukan banyak topik berbeda cocok secara individu atau kombinasi

d. Metode dan teknik pendidikan nilai moral
Untuk menerapkan konsep pendidikan nilai di atas diperlukan beberapa metode.
1. Metode langsung dimulai dengan mengidentifikasi perilaku yang dianggap baik untuk menyebarkan berbagai ajaran.
2. Metode tidak langsung tidak dimulai dengan pendefinisian perilaku
diinginkan, namun ciptakan situasi yang memungkinkan terjadinya perilaku tersebut
Hal-hal baik bisa dilakukan.