Kiriman dibuat oleh Alda puspita 2213053168

Nama : Alda Puspita
NPM : 2213053168
Kelas : 3H

Mirisnya Kekerasan dilingkungan Sekolah
Di lingkungan sekolah sendiri hak anak untuk mendapatkan pengawasan pun terabaikan bagaimana lingkungan yang seharusnya menjadi tempat kedua anak-anak itu bisa mendapatkan pendidikan juga perlindungan justru menyebabkan korban jiwa misalkan terjadi di:
1. September 2015
Siswa kelas 2 SD meninggal dunia setelah berkelahi dengan teman sekelasnya di lingkungan sekolahnya sendiri dan dugaan awalnya karena ada perkelahian mulut coba bayangkan ternyata ada kekerasan yang terjadi tanpa adanya pengawasan dari guru ataupun pihak-pihak yang ada di sekolah.
2. Agustus 2017 
siswa kelas 2 SD meninggal dunia setelah berkelahi di halaman sekolah ini lokasinya terjadi di Sukabumi Jawa Barat dugaan ya itu jika ada otopsi begitu ya sudah dilakukan oleh pihak kepolisian ditemukan memar-memar dan diduga karena dirundung di bully dulu oleh teman-temannya kemudian dilempar minuman beku yang tentu saja sangat menyakitkan untuk fisik seorang anak yang baru berusia belum belasan tahun itu.
3. November 2017
masih di tahun yang sama ini terjadi di Bandung Jawa Barat kemudian ada duel antara dua siswa kelas 5 SD saat perlombaan senam hari guru,korban pingsan kemudian dibawa ke teras kelas untuk dilakukan penanganan pertama namun sayangnya memang tidak tertolong dan juga kan kronologinya adalah pelaku terganggu korban yang menyalakan motor bising .
Dengan mengetahui bentuk-bentuk kekerasan di atas dan faktor yang membuat seseorang melakukan tindak kekerasan, kita bisa berusaha untuk mencegah hal tersebut agar tidak terjadi yaitu dengan cara:
1. Menanamkan Nilai-Nilai Positif dalam Pembelajaran.
2. Memberikan Pemahaman tentang Konflik dan Cara Mengatasinya.
3. Melibatkan Orang Tua dalam Proses Pembelajaran.
4. Melakukan Pendekatan Individual dengan Siswa yang Memiliki Potensi untuk Melakukan Kekerasan.
Nama : Alda Puspita
NPM : 2213053168
Kelas : 3H

The troli problem membuat kita berpikir lebih jauh tentang konsekuensi dari sebuah pilihan apakah itu dibuat berdasarkan nilai moral tertentu atau lebih kepada hasil akhirnya dan bagaimana kita mengekspresikannya dalam kehidupan sehari-hari apakah lebih sedikit untuk menyelamatkan yang lebih banyak adalah sesuatu yang lebih bermoral atau hanya sebuah pembenaran belaka.
Usai diskriminasi minoritas pengrusakan lingkungan industrialisasi dan lain sebagainya hanya dengan alasan demi perdamaian dunia demi kepentingan umum demi kelompok yang lebih besar demi masa depan yang lebih cerah atau karena 90% orang berpikir demikian tak mengapa mengorbankan yang sedikit untuk yang lebih besar lantai semua itu seolah menjadi benar dan lebih bermoral.
Orang bermoral justru sering dimanfaatkan oleh pihak tertentu atau bahkan diri kita sendiri untuk menyakiti orang lain apakah mengorbankan sedikit untuk yang lebih banyak adalah pilihan yang lebih baik apakah hanya karena kita merasa itu tidak dilakukan oleh tangan kita sendiri lantas kita boleh menyetujuinya atau membiarkan itu terjadi.
Kita dapat menggunakan troli problem untuk bertanya mengenai persoalan moralitas dari hal-hal seperti apakah mengorbankan tumbuh kembang anak kita saat ini dengan alasan pekerjaan demi masa depannya sehingga anak kita lantas jadi anak pembantu merupakan pilihan moral yang lebih baik atau hanya pembenaran semata dari orang tua yang egois.
Aapakah diskriminasi dan stigmatisasi kelompok minoritas oleh kaum mayoritas atau yang merasa dirinya paling benar paling berkuasa dengan alasan demi kepentingan umum atau kepentingan mayoritas dapat dibenarkan apakah perang terhadap sekelompok orang etnis tertentu oknum yang dicap pembuat onar dengan mengorbankan orang yang tidak bersalah hanya demi alasan kedamaian dan ketertiban dunia merupakan pilihan yang lebih bermoral dalam konteks berpikir mengorbankan sedikit untuk yang lebih banyak mungkin itu jadi pilihan yang lebih bermoral yang sering jadi alat pembenaran saat kita berada diposisi yang diuntungkan atau yang memiliki kepentingan bukan sebab pada akhirnya moralitas ternyata hanyalah soal egoisme manusia dengan kepentingan dirinya atau kelompoknya sendiri