Kiriman dibuat oleh Widia Nata Saputri 2213053057

Nama : Widia Nata Saputri
NPM : 2213053057
Kelas : 3G

Analisis Video 1 yang berjudul : THE TROLLEY PROBLEM
Philippa Foot tahun 1967 mengajukan suatu eksperimen yaitu the trolley problem. Ekperimen yang telah diadaptasi untuk memahami konteks moral dalam berbagai kondisi berupa perang, penyiksaan, drone, aborsi dan euthanasia. Studi ini semakin penting saat perkembangan dengan kehadiran AI ( Artificial intelligence), machine learning dimana mesin diberi control untuk mengambil keputusan mana yang lebih bermoral pada berbagai kondisi yang terjadi.

Dalam The Trolley Problem, situasi disederhanakan menjadi pilihan antara mengorbankan satu orang untuk menyelamatkan banyak orang. Ini adalah kondisi ekstrem di mana pilihan sangat terbatas, dan mengutamakan kepentingan mayoritas menjadi fokus utama. Apa yang kita telah pahami selama ini mengenai moral seringkali dimanfaatkan oleh pihak tertentu, bahkan oleh diri kita sendiri, untuk menyakiti orang lain.
Nama : Widia Nata Saputri
NPM : 2213053057
Kelas : 3G

Analisis Video 2 yang membahas mengenai Kekerasan di Lingkungan Sekolah. Dalam Video tersebut dimana Sekolah yang seharusnya memberikan keamanan kepada anak namun justru memiliki sesuatu yang membahayakan. Bullying, perkelahian, penjualan senjata tajam dan lainnya yang tidak pantas dilakukan anak dibawah umur nyatanya terjadi di lingkungan sekolah. Tragedi kekerasan tersebut sebagian besar terjadi karena kurangnya pengawasan dari guru dan orang tua. Didikan mengenai nilai dan moral tentunya masih belum.optimal sehingga peserta didik mampu dan berani melakukan hal keji padahal terhadap sesama teman. Seharusnya orang tua, guru, dan masyarakat turut bekerja sama dalam membentuk watak dan sikap peserta didik yang baik agar hal semacam iu tidak terjadi.
Nama: Widia Nata Saputri
NPM: 2213053057
Kelas: 3G
Prodi: PGSD

IDENTITAS JURNAL
Nama jurnal : Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Undiksha Vol. 9 No.3 (September, 2021)
Tahun terbit : September, 2021
Jilid : 9
Nomer : 3
Judul jurnal : PENDIDIKAN NILAI DAN MORAL DALAM SISTEM KURIKULUM PENDIDIKAN DI ACEH
Penulis Jurnal : Iwan Fajri, Rahmat, Dadang Sundawa, Mohd Zailani Mohd Yusoff
Kata kunci : Kurikulum Islami, Pendidikan Nilai, Pendidikan Aceh, Qanun.

HASIL DAN PEMBAHASAN JURNAL
Pendidikan memegang peranan yang sangat berarti dalam pembentukan akhlak di kalangan peserta didik, bahkan menjadi tumpuan budaya masyarakat. Peran lembaga pendidikan juga penting untuk memperkuat dengan perubahan sosial yang terjadi di Aceh. Perubahan sosial yang pesat dalam gaya hidup menyebabkan ketidak bercintaan dalam sosial budaya di kalangan remaja. Fenomena tersebut terlihat dari akhlak, gaya hidup, dan aktivitas sosial remaja dalam kehidupan sehari-hari (Nuriman & Fauzan, 2017).
Di Indonesia, pendidikan nilai telah diatur dalam sistem pendidikan nasional. Ada delapan belas nilai yang perlu diintegrasikan guru dalam pembelajaran. Kedelapan belas nilai tersebut adalah religius, jujur, toleransi, disiplin, pekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, ingin tahu, nasionalis, patriotik, menghargai prestasi, ramah dan komunikatif, cinta damai, gemar membaca, sadar lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab. Nilai-nilai tersebut dipupuk dengan memadukan nilai dengan isi kurikulum tertulis, kurikulum tidak tertulis (hidden curriculum), serta kegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler.

• Landasan Penyelenggaraan Pendidikan Islami di Aceh
Konsep dan kontekstual pendidikan nilai dan moral dalam sistem pendidikan kurikulum di Aceh sebagai provinsi yang memiliki otonomi khusus selain bidang agama, budaya dan politik, Aceh juga diberikan khusus dalam bidang pendidikan, sehingga Aceh dalam proses penyelenggaraan nya selain berpedoman dengan peraturan yang dikeluarkan oleh pusat juga berpedoman pada qanun yang ada di provinsi Aceh. Dasar qanun tersebut adalah pelaksanaan pendidikan Islam di sekolah di Provinsi Aceh. Penyelenggaraan pendidikan Islam berpedoman pada ketentuan Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2015 perubahan atas Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan, dan Pasal 1 ayat 21 adalah pendidikan yang didasarkan atau dijiwai dengan ajaran Islam. Dengan dasar tersebut satuan pendidikan yang ada di provinsi Aceh menyelenggarakan pendidikan berdasarkan ajaran islam.

• Integrasi budaya islami dalam proses pendidikan di Aceh
Penerapan syariah Islam di Provinsi Aceh mengatur berbagai konteks yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Aceh; Pendidikan politik, hukum, sosial, dan Islam di Aceh. Pendidikan islami ialah bentuk komitmen pemerintah Aceh terhadap masyarakat tentang praktek pendidikan yang ada di provinsi Aceh. Pendidikan Islami di Aceh adalah sebuah konsep ideal untuk mempersiapkan peserta didik atau tenaga kependidikan yang berwawasan keilmuan dan kepribadian sebagai nilai inti tujuan dan strategi pendidikan nasional pendidikan Aceh. Budaya Islam yang dikembangkan di sekolah mengacu pada syariat Islam yang berlaku di Aceh dan selanjutnya dibuat dalam bentuk peraturan di sekolah.
Strategi membangun budaya Islam di sekolah adalah;
(1) Penerapan Peraturan sekolah,
(2) mendandani / menekan seragam madrasah mengikuti kaidah sekolah dan Qanun Syariah Islam,
(3) berkomunikasi dengan guru dan teman belajar dengan menggunakan bahasa yang sopan,
(4) menampilkan perilaku yang berkaitan dengan budaya Aceh dan pendidikan qanun Aceh.

• Implementasi pendidikan nilai dan moral di Aceh
Kurikulum pendidikan islam mulai diterapkan pada tahun 2018 dengan maksud, sistem pendidikan yang sesuai dengan kekhasan dan sosial budaya masyarakat Aceh. Selanjutnya penyelenggaraan Pendidikan Islami di Aceh adalah sebagai upaya untuk mengembangkan seluruh aspek kepribadian peserta didik dalam rangka mewujudkan masyarakat Aceh (ureung Aceh) yang berperadaban dan bermartabat. Namun demikian, dilihat dari substansi, pelaksanaan kurikulum Aceh masih belum substantif, belum memiliki konsep yang pasti dan belum memiliki pola yang tetap, sehingga setiap sekolah menerjemahkan secara berbeda antara sekolah yang satu dengan sekolah lainnya.

Penerapan pendidikan nilai dan moral dalam pendidikan di Aceh melalui kurikulum islami sesuai dengan yang diamanatkan oleh qanun Aceh tentang pendidikan. Kurikulum islami ini mengatur satuan pendidikan yang ada di Aceh melalui dinas pendidikan untuk diterapkan di sekolah. Proses penerapan ini melalui perumusan visi sekolah yang berdasarkan nilai-nilai islami, perumusan strategi pembelajaran berbasis nilai islami, integrasi dalam setiap mata pelajaran yang ada dan penambahan muatan lokal berbasis budaya syariat islam di Aceh melalui peraturan gubernur.
Nama : Widia Nata Saputri
NPM : 2213053057
Kelas 3G

Analisis Jurnal 2
1. Identitas Jurnal
Judul Jurnal : Pentingnya Pendidikan Nilai di Era Globalisasi
Penulis Jurnal : Hidayati

2. Hasil dan Pembahasan
Era informasi dan globalisasi sebagai akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini telah berdampak hampir kesemua aspek kehidupan masyarakat yang membawa dampak yang besar pada budaya, nilai, dan agama.
1) Pendidikan Nilai
Nilai merupakan segala sesuatu yang berharga. Nilai terbagi menjadi dua yaitu nilai ideal dan nilai aktual. nilai ideal adalah nilai yang menjadi cita-cita setiap orang, sedangkan nilai aktual adalah nilai yang diekspresikan dalam perilaku sehari-hari. Nilai memiliki fungsi untuk mendorong dan menuntun sikap dan perilaku. Orang yang memiliki nilai yang luhur berarti memiliki budi pekerti yang luhur.
Menurut Max Scheler terdapat empat kelompok nilai yang tersusun secata hierarkis (dari yang tertinggi sampai terendah), yaitu:
a. nilai-nilai religius-kerohanian (iman, kesucian, keutamaan moral, kejujuran, ketulusan)
b. nilai-nilai kejiwaan (keindahan, kebenaran ilmiah, ilmu pengetahuan)
c. nilai-nilai kehidupan (kedamaian, ketenangan, kesehatan, kecukupan, kesejahteraan, kerukunan)
d. nilai-nilai kenikmatan (terpenuhinya kebutuhan biologis/ragawi/indrawi)
Pendidikan nilai merupakan bagian integral kegiatan pendidikan, karena pada dasarnya pendidikan melibatkan pembentukan sikap, watak, dan kepribadian peserta didik.

2) Globalisasi dan Dampaknya Terhadap Nilai-nilai dan Moral
Kehadiran globalisasi tentu membawa pengaruh bagi seluruh kehidupan suatu negara termasuk indonesia. Proses globalisasi berlangsung melalui dua dimensi ruang dan waktu. Globalisasi berlangsung di semua aspek kehidupan, dengan teknologi informasi dan komunikasi sebagai faktor pendukung utamanya. Globalisasi sendiri memiliki pengaruh negatif maupun positif.

3) Mengapa Pendidikan Nilai Gagal?
Pendidikan nilai gagal disebabkan oleh kegagalan pendidikan dalam melaksanakan pendidikan nilai. Nilai luhur yang ditanamkan disekolah tampaknya tidam masuk dan berkembanh dalam diri peserta didik. Pada kenyataannya, pendndikan tjdak diarahkan untuk memanusiakan manusia secara hthh dan sempurna, tetapi lebih diorientasikan pada hal-hal yang bersifat materialistis, ekonomis, dan teknokratis darj sentuhan nilai-nilai moral, kemanusiaan, dan budi pekerti. Pendidikan lebih mementingkan kecerdasan intelektual, akal dan penalaran, tanpa diimbangi dengan intensifnya oengembangan hati, perasaan, emosi, dan spiritual. Faktor-faktor penyebab gagalnya pendidikan nilai:
a. pendidikan disekolah hanyalah secara formal, proses dan isinya tidak dianggap penting.
b. Banyaknya materi yang dituntuk kurikulum setiap minggunya, yang tanpa disadari menanamkan sikap brutalisme, apreori, dan frustasi.
c. Dalam Proses pembelajaran tidak dilibatkan dalam pengalaman fisik dan mental.

4) Pentingnya Pendidikan Nilai dan Moral bagi Anak
Sasaran pendidikan nilai adalah agar peserta didik dapat mengalami dan menghayati nilai-nilai. Suatu pendidikan nilai akan efektif apabila melalui tahapan tahapan berupa preparasi atau persiapan, konsentrasi/integrasi (pemusatan perhatian), asimilasi/transformasi, dan tahap realisasi/aktualisasi (perwujudan). Sarana yang dapat menunjang proses pendidikan nilai berupa lagu, nasihat, cerita, doa, audiavisual, dan pertunjukan. Untuk mendukung kesadaran dan wawasan diperlukan tiga landasan yang kuat berupa nasionalisme, norma dan agama, serta nilai budaya bangsa.
Nama : Widia Nata Saputri
NPM : 2213053057
Kelas : 3G

Hasil Analisis Video dengan judul Pengamalan sila Pancasila dalam kehidupan sehari

Garuda Pancasila merupakan lambang negara Indonesia yang memiliki kandungan dan arti didalamnya. Pada bagian tengah burung garuda terdapat perisai yang berisi lambang sila Pancasila. Pengamalan sila Pancasila adalah penerapan  nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Sila pertama Pancasila yang berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa dilambangkan dengan lambang bintang, mengajak untuk percaya   kepada Tuhan dan melaksanakan perintahnya.
Pada sila ke-2  yang memiliki bunyi kemanusiaan yang adil dan beradab, dilambangkan dengan rantai. Pada sila ini mengajak kita untuk  bersikap saling mencintai sesama manusia. Beberapa contoh pengamalan sila kedua adalah membantu korban bencana alam.
Pada sila ketiga yang berbunyi "Persatuan Indonesia" yang dilambangkan dengan pohon beringin. Pada sila ini kita diajak untuk cinta terhadap bangsa Indonesia. Contoh pengamalan sila ke-3 adalah menggunakan barang atau produk buatan Indonesia.
Selanjutnya adalah sila ke-4 yang berbunyi "Kerakyatan  yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan", dilambangkan dengan kepala banteng. Pada sila ke-4 ini kita diajak untuk  bermusyawarah dalam menyelesaikan suatu masalah. Beberapa contoh pengamalan sila ke-4 adalah menyampaikan pendapat secara berdiskusi atau kerja kelompok, menerima hasil musyawarah  dengan lapang dada saling menghargai pendapat musyawarah
Yang terakhir adalah sila ke-5 yang berbunyi " Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia". Sila ini dilambangkan dengan padi dan kapas, dimana kita diajak untuk bersikap adil terhadap   sesama. Beberapa contoh pengamalan sila  kelima adalah tidak berbuat curang kepada orang lain.