Nama: Safira Sita Salsabilla
NPM : 2213053027
Kelas : 3G
A. Identitas Jurnal
Judul : PENGARUH PENGETAHUAN MORAL TERHADAP PERILAKU MORAL PADA SISWA SMP NEGERI KOTA PEKAN BARU BERDASARKAN PENDIDIKAN ORANGTUA
Volume, Nomor, dan Halaman:Volume 2, Nomor 1, halaman 30-44
Tahun : 2017
Penulis: Ilham Hudi
Tanggal Reviewer : 28 November 2023
Kata kunci: Pengetahuan Moral, Perilaku Moral, Pendidikan Orang Tua
B. Hasil Analisis
Pada era globalisasi dewasa ini di mana perkembangan informasi tersebar
luas yang dapat diakses dengan sangat mudah, hal ini menyebabkan berbagai nilai-nilai atau anasir dari luar yang negatif tidak lagi dapat disaring sehingga dengan
mudah mempengaruhi pemikiran dan karakter generasi sehingga menimbulkan kekhawatiran terhadap pengikisan jatidiri yang terkait
merosotnya penghayatan nilai-nilai keagamaan, nasionalisme, nilai sosial budaya bangsa dan perkembangan moralitas individu. Pendidikan karakter adalah pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai karakter bangsa pada diri peserta didik, sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan warga negara yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif. Enam pengetahuan moral berikut diharapkan dapat menjadi tujuan pendidikan karakter, yaitu:
1. Kesadaran Moral (Moral Awareness)
Anak-anak harus mengetahui bahwa tanggung jawab moral pertama mereka adalah menggunakan akal mereka untuk melihat kapan sebuah situasi. Aspek kedua dari kesadaran moral adalah kendala-untuk bisa mendapatkan informasi.
2. Mengetahui Nilai-Nilai Moral (Moral Values)
Nilai moral seperti menghormati kehidupan dan kemerdekaan, bertanggung
jawab terhadap orang Iain, kejujuran, keadilan, toleransi, sopan santun, disiplin diri,
integritas, belas kasih, kedermawanan, dan keberanian adalah faktor penentu dalam
membentuk pribadi yang baik.
3. Pengambilan Perspektif(Perspektive Taking)
Pengambilan perspektif adalah kemampuan untuk mengambil sudut pandang orang lain, melihat situasi dari sudut pandang orang lain, membayangkan bagaimana mereka akan berpikir, bereaksi, dan merasa.
4. Penalaran Moral (Moral Reasoning)
Seiring dengan perkembangan penalaran moral anak-anak, dan riset menunjukkan pada kita bahwa perkembangan terjadi secara bertahap, mereka akan mempelajari mana yang termasuk sebagai nalar moral dan mana yang tidak ketika mereka akan melakukan sesuatu.
5. Membuat Keputusan (Decision Making)
Mampu memikirkan langkah yang mungkin akan diambil seseorang yang sedang menghadapi persoalan moral disebut sebagai keterampilan pengambilan keputusan reflektif.
6. Memahami Diri Sendiri (Self Knowledge)
Memahami diri sendiri merupakan pengetahuan moral yang paling sulit untuk dikuasai, tetapi penting bagi pengembangan karakter.
Perilaku moral adalah produk dari dua bagian karakter lainnya. Jika orang memiliki kualitas moral intelektual dan emosional seperti yang baik, mereka memiliki kemungkinan melakukan tindakan yang menurut pengetahuan dan perasaan mereka adalah tindakan yang benar. Untuk memahami sepenuhnya apa yang menggerakkan seseorang sehingga mampu melakukan tindakan bermoral atau justru menghalangi kita perlu melihat lebih jauh dalam tiga aspek karakter lainnya yakni: kompetensi, kemauan, dan kebiasaan. Salah satu cara untuk menumbuhkan aspek moral feeling adalah dengan cara membangkitkan kesadaran anak akan pentingnya memberikan komitmen terhadap nilai-nilai moral.
Pelaksanaan pendidikan karakter (moral-budi pekerti) tidak berdiri sendiri
dan berproses dalam satu institusi besar, yang oleh Ki Hajar Dewantara, dikatakan sebagai "Tri Pusat Pendidikan keluarga, sekolah, dan masyarakat". (Fajar, Malik.. 2002:8). Pendidikan karakter pada mempunyai esensi yang bertujuan membentuk pribadi siswa, supaya menjadi pribadi yang baik, jika di masyarakat menjadi warga yang baik, dan jika dalam kehidupan bernegara menjadi warga negara yang baik.