Kiriman dibuat oleh Safira Sita Salsabilla 2213053027

Nama : Safira Sita Salsabilla
NPM : 2213053027

Analisis Video 2
Dari video yang berjudul mirisnya kekerasan di lingkungan sekolah dapat kita pahami bahwa banyaknya kekerasan di lingkungan sekolah terjadi karena hal-hal yang sepele. Terjadinya kekerasan di lingkungan sekolah tersebut membuktikan bahwa terdapat hak-hak yang dilanggar dan terabaikan. Kemudian kurangnya pengawasan dari pihak sekolah juga menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya kekerasan di lingkungan sekolah. Selain itu kasus kekerasan di lingkungan sekolah banyak terjadi oleh anak usia di bawah umur di mana pada usia segitu masih menjadi kewajiban dan tanggung jawab orang tua sehingga kejadian seperti itu tidak serta merta kesalahan dari pihak sekolah.

Di era digital seperti sekarang ini banyak informasi masuk yang dapat diakses oleh semua kalangan terutama anak usia di bawah umur seperti berita-berita tentang jual beli senjata tajam. Anak yang masih di bawah umur masih belum bisa memilah karena informasi dan hal yang bisa dicontoh dan tidak dicontoh. Di situlah peran kedua orang tua sangat diperlukan untuk memantau kegiatan anak termasuk gadgetnya saat di rumah sehingga anak tidak melakukan hal-hal negatif, seperti bullying, aksi saling lempar, perkelahian, hingga pembunuhan. Dengan demikian kekerasan di lingkungan sekolah dapat diminimalisir atau bahkan dituntaskan.
Nama : Safira Sita Salsabilla
NPM : 2213053027

Analisis Video 1
Dari video yang berjudul " Apakah MORAL? The Trolley Problem dapat dianalisis mengenai beberapa persolan dilematis dari Trolley Problem klasik untuk memahami konteks moral.
The Trolley Problem membuat kita berpikir lebih jauh tentang konsekuensi dari sebuah pilihan apakah berdasarkan nilai moral tertentu atau lebih kepada hasil akhirnya serta bagaimana mengekspresikannya dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, berpikir tentang mengorbankan yang lebih sedikit untuk menyelamatkan yang lebih banyak adalah sesuatu yang bermoral atau tidak karena seperti yang kita tahu bahwa harus ada yang dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar. Dengan demikian moral sering digunakan sebagai alat oleh penguasa dan segelintir orang untuk membenarkan perang, memberantas etnis tertentu, Genocide, diskriminasi minoritas, pengrusakan lingkungan, industrialisasi, dan sebagainya. Alasannya demi perdamaian dunia, demi kepentingan umum, demi kelompok yang lebih besar, demi masa depan yang cerah, dan memilih mengorbankan yang sedikit demi menyelamatkan banyak terkesan lebih bermoral.

Kita harus memahami tentang moralitas dengan benar agar moralitas tidak dimanfaatkan oleh pihak tertentu atau diri kita sendiri untuk menyakiti orang lain. Moralitas sering menjadi alat pembenaran saat seseorang di posisi yang diuntungkan atau yang memiliki kepentingan yang ternyata itu hanyalah soal egoisme manusia dengan kepentingan dirinya atau kelompoknya sendiri.
Nama : Safira Sita Salsabilla
NPM : 2213053027

Analisis Jurnal
IDENTITAS JURNAL
Judul : Pentingnya Pendidikan Nilai di Era Globalisasi
Nama Jurnal : Dinamika Pendidikan
Nomor dan Halaman: No. 2, Halaman 63 – 75
Tahun : 2008
Penulis: Hidayati

ISI JURNAL
•Pengertian Nilai
Menurut I Wayan Koyan (Dwi Siswoyo. 2005 :22), nilai adalah segala sesuatu yang berharga. Nilai berfungsi untuk mendorong, mengarahkan sikap dan perilaku. Nilai berfungsi untuk mendorong, mengarahkan sikap dan perilaku.

•Globalisasi dan Dampaknya Terhadap Nilai-nilai dan Moral
Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa-bangsa di seluruh dunia (A. Jamil Edison, dkk 2005). Sebagai proses globalisasi berlangsung melalui dua dimensi ruang dan waktu. Globalisasi berlangsung di semua aspek kehidupan, seperti politik, ekonomi, sosial budaya, dan sebagainya.

•Mengapa Pendidikan Nilai Gagal?
Menurut Diat Ahadiat, (2008) faktor-faktor penyebab gagalnya pendidikan mar antara lain:
1. Pendidikan di sekolah hanyalah acara formal.
2. Materi, karena banyakuya materi pelajaran yang dituntut kurikulum setiap minggunya, pengetahuan hanya disampaikan dengan dril dan mentransfer dari buku paket, anak didik dipaksa untuk menelan mentah-mentah materi yang sudah diprogram.
3. Proses, dalam proses pembelajaran anak didik tidak dilibatkan dalam pengalaman fisik dan mental.

•Pentingnya Pendidikan Nilai dan Moral Bagi anak
Tujuan pendidikan adalah menjadikan peserta didik menjadi manusia yang utuh sempurna". Tercapainya kesempurnaan ditunjukkan oleh terbentuknya "pribadi yang bermoral" (Driyakara, 1980: 129). Pribadi yang bermoral adalah yang memiliki kemampuan untuk mengelola hidupnya sesuai dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan.Salah satu cara mendidik anak ialah dengan menanamkan nilai-nilai moral di usia sedini mungkin. Dengan begitu generasi tua hanya perlu memberikan pemahaman informasi dan nilai, estetika, sehingga anak dapat memenuhi syarat sehat mental di era globalisasi ini.
Nama : Safira Sita Salsabilla
NPM : 2213053027

Analisis Jurnal 1
A. IDENTITAS JURNAL
Judul jurnal : Pendidikan Nilai dan Moral Dalam Sistem Kurikulum Pendidikan Di Aceh
Penulis : Iwan Fajri, Rahmat, Dadang Sundawa, Mohd Zailani, Mohd Yusoff
Nama jurnal : Jurnal Kewarganegaraan
Tahun Terbit : 2021
Volume : 9
Nomor : 3
Kata Kunci : Kurikulum Islami, Pendidikan Nilai, Pendidikan Aceh, Qanun.

B. ABSTRAK
Perubahan pesat dalam kehidupan sosial merupakan salah satu perbincangan paling signifikan tentang hukum dan moral siswa. Dimana pendidikan memegang peranan yang sangat berarti dalam pembuatan akhlak di golongan peserta didik, apalagi jadi tumpuan budaya warga. Pendidikan nilai dan moral di satuan pendidikan di Aceh diselenggarakan selain sesuai dengan pendidikan nasional, juga mengacu pada penerapan melalui kurikulum islami yang berpedoman sesuai dengan qanun pendidikan di Aceh.
 
C. PENDAHULUAN
Salah satu aspek terutama dalam kehidupan seorang Muslim mempunyai standar moral yang besar. Selain itu, perubahan pesat dalam kehidupan sosial merupakan salah satu perbincangan paling signifikan tentang hukum dan moral siswa. Penyelenggaraan pendidikan di sekolah Provinsi Aceh dilaksanakan secara Islami, mengacu pada ketentuan Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2015 perubahan atas Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan. Qanun ini merupakan bentuk komitmen Pemerintah Daerah Provinsi Aceh untuk mendukung pelaksanaan syariat Islam di Aceh.
 
D. TINJAUAN LITERATUR
Proses pendidikan di sekolah harus diarahkan pada pembentukan nilai-nilai kebaikan siswa. Ada delapan belas nilai yang perlu diintegrasikan guru dalam pembelajaran. Kedelapan belas nilai tersebut adalah religius, jujur, toleransi, disiplin, pekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, ingin tahu, nasionalis, patriotik, menghargai prestasi, ramah dan komunikatif, cinta damai, gemar membaca, sadar lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab (Kemendiknas, 2010).

E. PEMBAHASAN
•Landasan penyelenggaraan pendidikan islami di Aceh
Sebagai provinsi yang memiliki otonomi khusus selian bidang agama, budaya dan politik. Aceh juga diberikan khusus dalam bidang pendidikan, sehingga Aceh dalam proses penyelenggaraan nya selain berpedoman dengan peraturan yang dikeluarkan oleh pusat juga berpedoman pada qanun yang ada di provinsi Aceh. Penyelenggaraan pendidikan Islam berpedoman pada ketentuan Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2015 perubahan atas Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan, dan Pasal 1 ayat 21 adalah pendidikan yang didasarkan atau dijiwai dengan ajaran Islam.
•Integrasi budaya islami dalam proses pendidikan di Aceh
Integrasi budaya Islam dalam Manajemen Sekolah bertujuan untuk membentuk pola perilaku warga sekolah; Guru, tenaga administrasi, dan siswa yang relevan dengan hukum Islam (Maimun et al., 2019; Yusuf, Sanusi, et al., 2020). Ia menambahkan, budaya Islam di sekolah diperlakukan melalui beberapa aspek; (1) Budaya Disiplin, (2) Budaya berkomunikasi dengan sopan, dan (3) Menciptakan lingkungan madrasah yang kondusif dan Islami. Budaya Islam yang dikembangkan di sekolah mengacu pada syariat Islam yang berlaku di Aceh dan selanjutnya dibuat dalam bentuk peraturan di sekolah.
•Implementasi pendidikan nilai dan moral di Aceh
Penerapan pendidikan nilai dan moral dalam pendidikan di Aceh melalui kurikulum islami sesuai dengan yang diamanatkan oleh qanun Aceh tentang pendidikan. Kurikulum islami ini mengatur satuan pendidikan yang ada di Aceh melalui dinas pendidikan untuk diterapkan di sekolah. Proses penerapan ini melalui perumusan visi sekolah yang berdasarkan nilai-nilai islami, perumusan strategi pembelajaran berbasis nilai islami, integrasi dalam setiap mata pelajaran yang ada dan penambahan muatan lokal berbasis budaya syariat islam di Aceh melalui peraturan gubernur (Yusuf et al., 2019).

F. PENUTUP
Penyelenggaraan pendidikan Islami di Provinsi Aceh mengacu pada Qanun Nomor 9 Tahun 2015 perubahan atas Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan. Penyelenggaraan pendidikan di seluruh satuan pendidikan berpedoman pada ajaran Islam. Pendidikan nilai dan moral di satuan pendidikan di Aceh diselenggarakan selain sesuai dengan pendidikan nasional, juga mengacu pada penerapan melalui kurikulum islami yang berpedoman sesuai dengan qanun pendidikan di Aceh. Proses pembelajaran yang dilaksanakan di Aceh berbasis dan berorientasi kepada budaya islami yang berbasis syariat islam di Aceh.
Nama: Safira Sita Salsabilla
NPM : 2213053027
Kelas : 3G

Analisis Vidio

Dari vidio yang berjudul "Penerapan Nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-Hari" Nilai-nilai yang harus kita teladani dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan Pancasila ialah:
1. Ketuhanan yang Maha Esa
Pada sila pertama mengajak kita untuk percaya kepada Tuhan dan melaksanakan perintahnya. Contoh Pengamalan Sila pertama:
1. Bersyukur kepada Tuhan
2. melaksanakan ibadah sesuai dengan agama yang dianut 3. tidak memaksakan suatu agama kepada orang lain
4. berdoa sebelum dan sesudah makan
5. menghormati agama lain.

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab Pada sila kedua mengajak kita untuk bersikap saling mencintai sesama manusia. Contoh pengamalan sila kedua:
1. Membantu korban bencana alam
2. membantu Adik belajar
3. tidak berbuat kasar kepada orang lain
4. bersikap sopan kepada orang tua
5. menolong teman yang kesulitan

3. Persatuan Indonesia
Pada sila ke-3 mengajak kita untuk cinta terhadap bangsa Indonesia atau cinta tanah air. Contoh pengamalan sila ketiga:
1. Mengikuti upacara bendera dengan tertib 2. mencintai dan bangga menggunakan barang buatan Indonesia
3. bermain dengan rukun
4. melestarikan budaya daerah
5. berteman tidak membeda-bedakan suku dan agama

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan 
Pada sila keempat mengajak kita untuk bermusyawarah dalam menyelesaikan suatu masalah. Contoh Pengamalan sila keempat:
1. Menyampaikan pendapat
2. berdiskusi atau kerja kelompok
3. menerima hasil musyawarah dengan lapang dada
4. saling menghargai pendapat
5. musyawarah dalam pemilihan ketua kelas

5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia
Pada sila kelima mengajak kita untuk bersikap adil terhadap sesama. Contoh Pengamalan sila kelima:
1. Tidak berbuat curang kepada orang lain
2. menghargai hasil karya orang lain
3. tidak boros dan Suka menabung
4. melaksanakan hak dan kewajiban secara seimbang
5. bergotong-royong membersihkan kelas

Agar seseorang dapat meneladani dan menerapkan nilai-nilai tersebut apa lagi di era modern yang sangat terasa sudah terkikisnya nilai, moral, etika dilingkungan generasi muda adalah dengan mengenalkan dan mempraktikkan nilai-nilai tersebut dalam praktik nyata di kehidupan agar dapat mudah dipahami oleh seseorang. Setelah itu kita harus menjelaskan lebih dalam tentang nilai-nilai tersebut agar seseorang dapat lebih menghayati, memiliki kesadaran, dan tertanam secara konsisten di dalam jiwa seseorang tentang nilai-nilai tersebut sehingga seseorang tersebut dapat berkelanjutan dalam meneladani dan menerapkan nilai nilai tersebut.