NPM: 2213053033
Kelas: 3H
ANALISIS JURNAL 2
Nama jurnal : Jurnal JIPSINDO
Oleh : Enung Hasanah
Nomor : 2
Volume : 6
Tahun Terbit : 2019
Judul Jurnal : PERKEMBANGAN MORAL SISWA SEKOLAH DASAR BERDASARKAN TEORI KOHLBERG
1. Pendidikan di sekolah hanyalah acara formal. Pendidikan di sekolah yang klasikal telah menempatkan pelajaran sekedar acara formal, proses dan isinya tidak dianggap penting. Minimnya aktivitas peserta didik untuk mengembangkan pemikiran kritis, redektif, kreatif, sehingga proses penddikan tidak memberikan pengalaman secara kontekstual yang menumbuhkan kesadaran hati.
2. Materi, karena banyaknya materi pelajaran yang dituntut kurikulum setiap minggunya, pengetahuan hanya disampaikan dengan dril dan mentransfer dari buku paket, anak didik dipaksa untuk menelan mentah-mentah materi yang sudah diprogram. Disadari atau tidak pendidikan seperti ini sudah menanamkan sikap brutalisme, apreori, dan frustasi
3. Proses, dalam proses pembelajaran anak didik tidak dilibatkan dalam pengalaman fisik dan mental.
Pentingnya Pendidikan Nilai dan Moral bagi Anak
Tujuan pendidikan adalah menjadikan peserta didik menjadi "manusia yang utuh sempurna". Tercapainya kesempurnaan ditunjukkan oleh terbentuknya "pribadi yang bermoral" (Driyakara. 1980: 129). Pribadi yang bermoral adalah yang memiliki kemampuan untuk mengelola hidupnya sesuai dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Kemampuan seperti itu ada pada hati nurani yang telah mencapai kedewasaan. Maka dari itu segala usaha yang bertujuan untuk membina hati nurani mesti diarahkan agar peserta didik mempunyai kepekaan dan penghayatan atas nilai-nilai luhur. Usaha- usaha seperti itulah yang disebut "pendidikan nilai"
Sasaran pendidikan nilai adalah agar peserta didik dapat mengalami dan menghayati nilai-nilai. Jadi nilai-nilai itu tidak hanya sekedar diajarkan dan diketahui saja, tetapi harus dialami dan dihayati.
Menurut YB. Adimassana (2000), ada beberapa sarana yang dapat menunjang proses pendidikan nilai, antara lain:
1. Lagu, lagu amat besar manfaatnya dalam menyiapkan disposisi batin untuk menangkap nilai-nilai.
2. Ceritera, ceritera yang sederhana, singkat, dan relevan dengan situasi peserta didik dapat menarik perhatian mereka untuk memperhatikan nilai-nilai yang disampaikan oleh guru. Misalnya ceritera Mahabaratha dan Ramayana, ceritera rakyat.
3. Nasehat, perintah, larangan, instruksi, dan pengarahan yang diberikan secara jelas dan akrab, bahkan secara personal, anak didik akan merasa dihargai dan lebih siap untuk menerima nilai-nilai yang disampaikan
4. Suasana doa, suasana doa yang dibangun dengan samadi untuk menciptakan hening, pada intinya adalah proses untuk mengheningkan diri dan pemusatan kesadaran/perhatian pada titik atau arah tertentu.
5. Pertunjukan, ceritera-ceritera yang bermuatan nilai-nilai luhur akan lebih menarik perhatian peserta didik jika dikemas dalam bentuk pertunjukan.
6. Audio-visual pendidikan nilai, misalnya melalui radio, TV, VCD, komputer, dan internet akan lebih menunjang keberhasilan pendidikan nilai.
Sehubungan dengan pentingnya pendidikan nilai terutama di era global sekarang ini, Sarlito W. Sarwono, mengatakan bahwa sebelum masuk dalam dunia pendidikan formal (SD, SMP, SMA), sudah selayaknya anak memperoleh pendidikan informal guna mempersiapkan dan memudahkan mereka beradaptasi. Salah satu cara mendidik anak ialah dengan menanamkan nilai-nilai moral di usia sedini mungkin