Kiriman dibuat oleh INDAH APRILIA WINDIYANI

Teori Kohlberg mengenai perkembangan moral secara formal disebut cognitive-dvelopmental theory of moralization, yang berakar pada karya Piaget. Asumsi utama Piaget adalah bahwa kognisi (pikiran) dan afek (perasaan) berkembang secara paralel dan keputusan moral merupakan proses perkembangan kognisi secara alami. Sebaliknya, kebanyakan ahli psikologi pada masa itu berasumsi bahwa pikiran moral lebih merupakan proses psikologi dan sosial. Dalam mengembangkan teorinya, Kohlberg tidak memusatkan perhatian pada tingkah laku moral, artinya apa yang dilakukan oleh seorang indivdu tidak menjadi pusat pengamatannya.
Nama: Indah Aprilia Windiyani
NPM: 2213053033
Kelas: 3H

ANALISIS JURNAL 2
Nama jurnal : Jurnal JIPSINDO
Oleh : Enung Hasanah
Nomor : 2
Volume : 6
Tahun Terbit : 2019
Judul Jurnal : PERKEMBANGAN MORAL SISWA SEKOLAH DASAR BERDASARKAN TEORI KOHLBERG

Bagi seorang pendidik, sangat penting untuk memahami perkembangan moral peserta didiknya. Menurut Duska & Whelan (1984) bahwa kemahiran mengukur tahap-tahap penalaran moral hanya akan dicapai dengan memahami secara seksama deskripsideskripsi tentang tahap, termasuk kemampuan mengaplikasikan deskripsi-deskripsi tersebut pada jawaban-jawaban dari anak.

Teori Kohlberg
Teori Kohlberg mengenai perkembangan moral secara formal disebut cognitive-dvelopmental theory of moralization, yang berakar pada karya Piaget. Asumsi utama Piaget adalah bahwa kognisi (pikiran) dan afek (perasaan) berkembang secara paralel dan keputusan moral merupakan proses perkembangan kognisi secara alami. Sebaliknya, kebanyakan ahli psikologi pada masa itu berasumsi bahwa pikiran moral lebih merupakan proses psikologi dan sosial. Dalam mengembangkan teorinya, Kohlberg tidak memusatkan perhatian pada tingkah laku moral, artinya apa yang dilakukan oleh seorang indivdu tidak menjadi pusat pengamatannya.
Penelitian Kohlberg menunjukan bahwa bila penalaran-penalaran yang diajukan oleh seseorang mengapa ia mempunyai pertimbangan moral tertentu atau melakukan tindakan tertentu diperhatikan, maka akan tampak jelas adanya perbedaan-perbedaan yang berarti dalam pendangan moral orang tersebut.

Teori (Kohlberg; L., Hersh, R.H. 1977) tentang Perkembangan Moral dibagi menjadi 3 level, yang masing-masing level dibagi menjadi beberapa tahap sebagai berikut:
 Level 1. Moralitas Pra-konvensional 
• Tahap 1 - Ketaatan dan Hukuman. Tahap awal perkembangan moral terutama terjadi pada anak-anak kecil, tetapi orang dewasa juga mampu mengekspresikan jenis penalaran ini. Pada tahap ini, anakanak melihat aturan sebagai hal yang tetap dan absolut. Mematuhi aturan itu penting karena merupakan sarana untuk menghindari hukuman.; 
Tahap 2 - Individualisme dan Pertukaran. Pada tahap perkembangan moral ini, anak-anak menjelaskan sudut pandang individu dan menilai tindakan berdasarkan bagaimana mereka melayani kebutuhan individu. Dalam dilema Heinz, anak-anak berpendapat bahwa tindakan terbaik adalah pilihan yang paling baik memenuhi kebutuhan Heinz. Timbal balik adalah mungkin, tetapi hanya jika melayani kepentingan diri sendiri. 
Level 2. Moralitas Konvensional 
Tahap 3 - Hubungan Interpersonal. Seringkali disebut sebagai orientasi "good boy-good girl", tahap perkembangan moral ini difokuskan pada memenuhi harapan dan peran sosial. Ada penekanan pada konformitas, bersikap "baik," dan mempertimbangkan bagaimana pilihan memengaruhi hubungan.; 
Tahap 4 - Menjaga Ketertiban Sosial. Pada tahap perkembangan moral ini, orang mulai menganggap masyarakat secara keseluruhan ketika membuat penilaian. Fokusnya adalah menjaga hukum dan ketertiban dengan mengikuti aturan, melakukan tugas seseorang dan menghormati otoritas. 
Level 3. Moralitas Pasca-konvensional. 
Tahap 5 - Kontrak Sosial dan Hak Perorangan. Pada tahap ini, orang mulai memperhitungkan perbedaan nilai, pendapat, dan kepercayaan orang lain. Aturan hukum penting untuk mempertahankan masyarakat, tetapi anggota masyarakat harus menyetujui standar-standar ini.; 
Tahap 6 - Prinsip Universal. Tingkat penalaran moral terakhir Kolhberg didasarkan pada prinsip-prinsip etika universal dan penalaran abstrak. Pada tahap ini, orang mengikuti prinsip-prinsip keadilan yang diinternalisasi ini, bahkan jika mereka bertentangan dengan hukum dan peraturan.
Nama : Indah Aprilia Windiyani
Kelas : 3H
NPM : 2213053033
ANALISIS JURNAL 1
Nama jurnal : Jurnal Cakrawala Pendidikan
oleh : Sudiati
Nomor : 2
Tahun Terbit : 2009
Judul Jurnal : PENDIDIKAN NILAI MORAL DITINJAU DARI PERSPEKTIF GLOBAL

PENDIDIKAN NILAI MORAL DITINJAU DARI PERSPEKTIF GLOBAL
Sastrapratedja (dalam K. Kaswardi, 1993: 3) menyatakan bahwa untuk menjadikan suatu bangsa berpredikat ganda seperti itu, tidak hanya memerlukan pengembangan ilmu, keterampilan, dan teknologi, tetapi juga memerlukan pengembangan aspek-aspek lainnya, seperti kepribadian dan etik-moral. Kesemuanya itu dapat disebut dengan pengembangan pendidikan nilai.

1. Isu Pendidikan Nilai Moral di Beberapa Negara
a. Indonesia
Pendidikan nilai di Indonesia disadari atau tidak masih belum banyak menyentuh pemberdayaan dan pencerahan kesadaran dalam perspektif global. Persoalan pembenahan pendidikan masih terpaku pada kurikulum nasional dan lokal yang belum pernah tuntas.
b. India
Pendidikan nilai di India tampak lebih populer dibandingkan dengan di negara lain. Dalam pendidikan nasional India, pendidikan nilai dikembangkan sebagai usaha untuk meningkatkan kesadaran nilai ilmiah, sosial, dan ke-warganegaraan yang tidak secara khusus dikembangkan melalui satu sudut pandangan agama. Ini tidak berarti mengabaikan pentingnya pendidikan agama sebagai kekuatan dalam membangun karakter bangsa, melainkan untuk menempatkan pendidikan nilai dalam konteks pemahaman nilai agama yang universal (Mulyana, 2004:230).
c. Malaysia
Pendidikan nilai dilakukan di sekolah dasar dan pengembangannya dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung pendidikan nilai diajarkan melalui pendidikan moral dan mata pelajaran agama, sedangkan pendidikan nilai yang tidak secara langsung dikembangkan melalui sejumlah mata pelajaran lainnya, seperti program pendidikan kewarganegaraan dan melalui kegiatan kokurikuler.
d. Cina
Dalam tradisi Cina, pendidikan memiliki hubungan erat dengan kewajiban moral. Tradisi ini menempatkan pendidikan nilai sebagai bagian penting dalam percaturan pendidikan.
Tampaknya, pendidikan nilai moral yang dilaksanakan di empat negara tersebut (Indonesia, Malaysia, India, dan Cina) memiliki persamaan dan perbedaan. Hal itu terjadi karena masingmasing negara memiliki ideologi yang berbeda. Pendidikan nilai moral pada jenjang pendidikan dasar menunjukkan beberapa kesamaan. Fokus pendidikan nilai moral pada jenjang pendidikan tersebut berkaitan dengan nilai tata kepribadian diri dan tata hidup berbangsa dan bernegara.

2. Dimensi Pendidikan Nilai Moral
a.Teori Perkembangan Moral
Nilai moral merupakan penilaian terhadap tindakan yang umumnya diyakini oleh anggota masyarakat tertentu sebagai yang salah atau benar (Berkowitz, 1964; dikutip Muhaimin, 2001: 215). Definisi itu mencerminkan pandangan bahwa nilai moral bersifat relatif.
Perbedaan Kohlberg dan Gilligan tersebut ditanggapi oleh Reimer, Paolitto, dan Hersh (1983:108), bahwa kematangan moral harus dilihat dari dua sisi. Laki-laki dalam penalaran moral tentang keadilan mendasarkan pada prinsip, perlu belajar menjadi orang yang memiliki kasih sayang di samping bertindak adil. Sebaliknya, wanita yang memiliki sifat kasih saying perlu belajar mengintegrasikan moralitas personal dan institusional dalam prinsip-prinsip moral yang konsisten (Zuchdi, 2008: 19).
b.Pendidikan Nilai Moral 
Pendidikan nilai moral adalah pendidikan yang berusaha mengembangkan komponen-komponen integrasi pribadi. Integrasi pribadi dapat dilukiskan sekurang-kurangnya dengan empat gambaran kepribadian.
Pendidikan nilai merupakan bagian dari pendidikan afeksi karena aspek sistem nilai merupakan salah satu bagian dari aspek afeksi. Selengkapnya, aspek afektif meliputi harga diri, minat, motivasi, sikap, sistem nilai, dan keyakinan (Darmiyati Zuchdi, 1997: 5).
c. Pendekatan Pendidikan Nilai Moral 
Pendekatan komprehensif pendidikan nilai menurut Kirschenbaum dalam Darmiyati Zuchdi, 2008: 36-37) meliputi pendekatan (i) inculcating, yaitu menanamkan nilai dan moralitas, (ii) modelling, yaitu meneladankan nilai dan moralitas, (iii) facilitating, yaitu memudahkan perkembangan nilai dan moral, dan (iv) skill development, yaitu pengembangan keterampilan untuk mencapai kehidupan pribadi yang tentram dan kehidupan sosial yang kondusif.
d.Metode dan Teknik Pendidikan Nilai Moral
 Untuk mengaplikasikan konsep pendidikan nilai tersebut di atas, diperlukan beberapa metode, baik metode langsung maupun tidak langsung. Metode langsung mulai dengan penentuan perilaku yang dinilai baik sebagai upaya indoktrinasi berbagai ajaran. Caranya dengan memusatkan perhatian secara langsung pada ajaran melalui mendiskusikan, mengilustrasikan, menghafalkan, dan mengucapkannya. Metode tidak langsung tidak dimulai dengan menentukan perilaku yang diinginkan, tetapi dengan menciptakan situasi yang memungkinkan perilaku yang baik dapat dipraktikkan. Keseluruhan pengalaman di sekolah dimanfaatkan untuk mengembangkan perilaku yang baik.
Berbagai metode tersebut selanjutnya perlu dikembangkan secara rinci ke dalam teknik atau prosedur pembelajaran. Teknik pendidikan nilai moral yang berorientasi pada nilai (afek) ada bermacam-macam, di antaranya ialah (i) teknik indoktrinasi, (ii) teknik moral reasoning, (iii) teknik meramalkan konsekuensi, (iv) teknik klarifikasi, dan (v) teknik internalisasi (Muhadjir, 1988: 199).
Nama : Indah Aprilia Windiyani
Npm : 2213053033
Kelas :3/H

Analisis video 2

Degradasi Moral Pelajar Jaman Modern

Berita 1 : Seorang siswa di kabarkan menganiaya gurunya sendiri hingga tewas
Berita 2 :Siswa SMA yang berani melawan dan tidak sopan kepada kepala sekolah

Lantas bagaimanakah moral calon penerus masa depan bangsa kita?

1. Menurut KPAI bidang pendidikan ( Retno Listyarti)
Melihat dari kasus tersebut pasti ada sebab dan penyebab dari sikap anak, salah satunya pola pengasuhan di mana anak ini di rumah dan bagaimana guru melakukan pengelolaan di kelas.

2. Menurut Praktisi Pendidikan ( Dr. Itje Chodidjah, MA)
Untuk menjadi seorang guru kelengkapan yang paling utama adalah kelengkapan dalam dirinya. Diatur dalam UU bahwa guru mempunyai 4 standar kompetensi utama: kompetensi kepribadian, sosial, profesional dan pedagogik .
Guru diberi pembekalan sebelum menghadapi bagaimana menangani anak dengan perilaku yang berbeda.

3. Menurut Psikolog (Vero Adesla )
Pada kasus jika anak itu tidak mampu mengelola emosi, ketika dia benci ketika dia marah ketika dia benci kemudian muncul impuls atau rangsangan yang turun dia untuk bereaksi seketika (impulsif).
Perempuan mengelola emosi ini yang harusnya juga dilatih kepada anak-anak.
Nama: Indah Aprilia Windiyani
NPM: 2213053033
Kelas: 3H
Analisis Video

6 Tahap Perkembangan Moral menurut Kohlberg

Menurut Kohllberg tahap perkembangan moral dibagi menjadi 3 level, yaitu:
Level 1 (Pra-konvensional)
(1) menghindari hukuman
Pada tahap ini seseorang memiliki alasan untuk bertindak atau tidak bertindak sesuatu Karena untuk menghindari hukuman
(2) keuntungan dan minat pribadi
Pada tahap ini tindakan dilakukan dengan memperhitungkan apa yang akan didapatkan olehnya.

Level 2 (Konvensional)
(3) menjaga sikap orang baik
Tetap ini seseorang memikirkan bagaimana kesepakatan sosial yang ada dan pendapat orang lain terhadapnya.
(4) memelihara peraturan
Jika peraturan tidak ada yang mematuhinya maka keadaan akan menjadi kacau karenanya peraturan harus selalu dipatuhi.

Level 3 (Pasca-Konvensional)
(5) orientasi kontrak sosial
Pada tahap ini setiap orang memiliki latar belakang dan situasi berbeda. Tidak ada yang absolut atau pasti ketika melihat sebuah kasus. Hak-hak individu harus dilihat bersamaan dengan hukum yang ada.
(6) prinsip etika universal
Pada tahap ini menggambarkan prinsip internal seseorang, ia melakukan hal yang dianggapnya benar walaupun bertentangan dengan hukum yang ada
Nama : Indah Aprilia Windiyani
NPM : 2213053033
Kelas : 3H

ANALISIS JURNAL 2

-Identitas Jurnal
Nama Jurnal : Dinamika Pendidikan
Volume : -
Nomor : 2
Halaman : 63-75
Tahun Terbit : 2008
Judul : Pentingnya Pendidikan Nilai di Era Globalisasi
Nama Penulis : Hidayati


Menurut Susanto (1998 :109) menyebutkan bahwa perubahan masyarakat akibat berkembang pengetahuan dan teknologi tersebut membawa dampak yang besar pada budaya, nilai, dan agama Nilai-nilai yang sementara ini dipegang kuat oleh masyarakat mulai bergeser dan ditinggalkan. Sementara nilai-nilai yang menggantikannya tidak selalu dengan landasan kepercayaan atau keyakinan masyarakat, sehingga penyimpangan nilai semakin subur dan berkembang.

Pengertian Nilai
Menurut I Wayan Koyan (Dwi Siswoyo, 2005: 22), nilai adalah segala sesuatu yang berharga. Nilai itu ada dua yaitu nilai ideal dan nilai aktual. Nilai ideal adalah nilai yang menjadi cita-cita setiap orang. Sedangkan, actual adalah nilai yang diekspresikan dalam prilaku sehari-hari.
Pendidikan niai merupakan bagian intregal kegiatan pendidikan, karena pada dasarnya pendidikan melibatkan pembentukan sikap, watak dan kepribadian peserta didik. Pendidikan tidak hanya bertujuan menghasilkan pribadi yang cerdas dan terampil, tetapi juga pribadi yang berbudi luhur. Oleh sebab itu, pendidikan harus membantu peserta didik untuk mengalami nilai-nilai dan menmepatkannya secara intregal dalam keseluruhan hidup mereka.

Globalisasi dan dampaknya Terhadap Nilai-nilai dan Moral
Era globalisasi telah membuat kehidupan mengalami perubahan yang signifikan, bahkan terjadi degradasi moral dan sosial budaya yang cenderung kepada pola-pola perilaku menyimpang. Hal ini sebagai dampak pengapdosian budaya luar secara berlebihan dan tak terkendali oleh sebagian remaja kita. Persepsi budaya luar ditelan mentah-mentah tanpa mengenal lebih jauh nilai-nilai budaya luar secara arif dan bertanggungjawab. Tidak bisa dipungkiri bahwa kehadiran teknologi dewasa ini perlu didukung dan disikapi positif, karena teknologi merupakan kebutuhan masa kini yang tidak bisa dielakkan. Namun filterisasi atas merebaknya informasi dan teknologi super canggih melalui media komunikasi seringkali terlepas dari kontrol kita.

Mengapa Pendidikan Nilai Gagal?
Dunia pendidikan telah kehilangan nilai-nilai moral, ini bisa dilihat dari kenyataan banyaknya praktik dalam dunia pendidikan yang justru membuat anak belajar tidak jujur, curang, dan malas. Anak juga bisa merasakan bagaimana praktik kolusi, korupsi, da nepotisme telah pula masuk dalam dunia pendidikan.
Sebagai seorang pendidik kita kadang miris menyaksikan kebobrokan nilai-nilai moral dalam dunia pendidikan tersebut. Nilai-nilai moral yang dibangun dari bawah dengan susah payah dan melalui proses yang lama dan panjang, agar anak didik tidak sekedar memiliki pengetahuan tetapi juga anemiliki sikap dan perilaku luhur, akhirnya sirna pada akhir tahun waktu ujian nasional.

Kita mesti sadar bahwa dekadensi nilai-nilai moral dalam dunia pendidikan kita layak dicermati dampaknya. Praktik pembelajaran yang tidak menjunjung nilai-nilai moral akan berdampak pada karakter generasi muda kita. Kecurangan yang dijumpai di sekolah telah mematikan sikap jujur, ulet, teliti, dan adil dalam diri anak didik.

Menurut Diat Ahadiat, (2008) faktor-faktor penyebab gagalnya pendidikan nilai antara lain:

1. Pendidikan di sekolah hanyalah acara formal. Pendidikan di sekolah yang klasikal telah menempatkan pelajaran sekedar acara formal, proses dan isinya tidak dianggap penting. Minimnya aktivitas peserta didik untuk mengembangkan pemikiran kritis, redektif, kreatif, sehingga proses penddikan tidak memberikan pengalaman secara kontekstual yang menumbuhkan kesadaran hati.

2. Materi, karena banyaknya materi pelajaran yang dituntut kurikulum setiap minggunya, pengetahuan hanya disampaikan dengan dril dan mentransfer dari buku paket, anak didik dipaksa untuk menelan mentah-mentah materi yang sudah diprogram. Disadari atau tidak pendidikan seperti ini sudah menanamkan sikap brutalisme, apreori, dan frustasi 

3. Proses, dalam proses pembelajaran anak didik tidak dilibatkan dalam pengalaman fisik dan mental.

Pentingnya Pendidikan Nilai dan Moral bagi Anak

Tujuan pendidikan adalah menjadikan peserta didik menjadi "manusia yang utuh sempurna". Tercapainya kesempurnaan ditunjukkan oleh terbentuknya "pribadi yang bermoral" (Driyakara. 1980: 129). Pribadi yang bermoral adalah yang memiliki kemampuan untuk mengelola hidupnya sesuai dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Kemampuan seperti itu ada pada hati nurani yang telah mencapai kedewasaan. Maka dari itu segala usaha yang bertujuan untuk membina hati nurani mesti diarahkan agar peserta didik mempunyai kepekaan dan penghayatan atas nilai-nilai luhur. Usaha- usaha seperti itulah yang disebut "pendidikan nilai"

Sasaran pendidikan nilai adalah agar peserta didik dapat mengalami dan menghayati nilai-nilai. Jadi nilai-nilai itu tidak hanya sekedar diajarkan dan diketahui saja, tetapi harus dialami dan dihayati. 

Menurut YB. Adimassana (2000), ada beberapa sarana yang dapat menunjang proses pendidikan nilai, antara lain:

1. Lagu, lagu amat besar manfaatnya dalam menyiapkan disposisi batin untuk menangkap nilai-nilai. 

2. Ceritera, ceritera yang sederhana, singkat, dan relevan dengan situasi peserta didik dapat menarik perhatian mereka untuk memperhatikan nilai-nilai yang disampaikan oleh guru. Misalnya ceritera Mahabaratha dan Ramayana, ceritera rakyat.

3. Nasehat, perintah, larangan, instruksi, dan pengarahan yang diberikan secara jelas dan akrab, bahkan secara personal, anak didik akan merasa dihargai dan lebih siap untuk menerima nilai-nilai yang disampaikan

4. Suasana doa, suasana doa yang dibangun dengan samadi untuk menciptakan hening, pada intinya adalah proses untuk mengheningkan diri dan pemusatan kesadaran/perhatian pada titik atau arah tertentu. 

5. Pertunjukan, ceritera-ceritera yang bermuatan nilai-nilai luhur akan lebih menarik perhatian peserta didik jika dikemas dalam bentuk pertunjukan.

6. Audio-visual pendidikan nilai, misalnya melalui radio, TV, VCD, komputer, dan internet akan lebih menunjang keberhasilan pendidikan nilai.

Sehubungan dengan pentingnya pendidikan nilai terutama di era global sekarang ini, Sarlito W. Sarwono, mengatakan bahwa sebelum masuk dalam dunia pendidikan formal (SD, SMP, SMA), sudah selayaknya anak memperoleh pendidikan informal guna mempersiapkan dan memudahkan mereka beradaptasi. Salah satu cara mendidik anak ialah dengan menanamkan nilai-nilai moral di usia sedini mungkin