Kiriman dibuat oleh Qurota A'yunin 2213053183

Nama : Qurota A'yunin
NPM: 2213053183

Menurut saya penanaman nilai dan moral pada anak didik, keluarga, dan masyarakat sangat penting untuk mendidik anak-anak dan membentuk sikap dan perilaku yang baik.Dan berikut ini adalah beberapa cara dan hambatan dalam proses penanamannya, serta trik atau strategi yang tepat untuk membuat penanaman tersebut menjadi kebiasaan:
Cara dan Hambatan dalam Penanamannya
1.Waktu bersama keluarga
Waktu bersama keluarga adalah waktu yang tepat untuk berbagi cerita dan mengenalkan nilai-nilai keluarga pada anak. Ceritakan pengalaman kita dalam mempraktikan nilai-nilai yang baik, seperti kejujuran, kesopanan, kebaikan, dan agama.
2. Gunakan aktivitas dan pola asuh yang positif
Berikan anak-anaknya aktivitas yang positif dan pola asuh yang baik untuk memperkuat nilai-nilai, seperti kehidupan bersih-bersih, kesopanan, dan kerjasama.
3. Pendidikan moral
Pendidikan moral bertujuan untuk membentuk sikap dan perilaku seseorang agar dapat bertindak sesuai dengan kaidah moral yang berlaku di lingkungan sosialnya.
4.Keluarga serta masyarakat
Lingkungan keluarga dan masyarakat memainkan peran penting dalam penanaman nilai-nilai dan moral anak didik. Orang tua dan masyarakat harus memberikan teladan yang positif bagi anak-anaknya sebanyak mungkin.

Trik atau Strategi yang Tepat
1. Mulai dari mana
Mulai mengajarkan nilai-nilai tersebut pada anak dengan cara yang sesuai dengan usia dan kebutuhan anak.
2. Menggunakan nasehat langsung
Berikan nasehat langsung kepada anak mengenai nilai-nilai yang ingin kita ajarkan, seperti kejujuran, kerukunan, kerjasama, sopan santun, dan disiplin
3. Menggunakan teknologi
Menggunakan teknologi penanaman, seperti teknik vertikultur, untuk mengotimalkan pemanfaatan lahan sempit di rumah.
4. Mengajarkan secara mandiri
Mengajarkan nilai-nilai dan moral secara mandiri melalui keluarga dan lingkungan masyarakat, baik melalui keluarga maupun lingkungan masyarakat
Nama : Qurota A'yunin
NPM: 2213053183

Artikel ini membahas di era globalisasi perkembangan informasi dapat dengan mudah dipahami sehingga mengarah pada berkembangnya berbagai nilai dan sikap dari berbagai budaya, seperti nasionalisme, sosialisme, dan moralitas individu. Hal ini menyebabkan perlunya pendekatan yang lebih sistematis dalam mempromosikan nilai-nilai generasi melalui pendidikan karakter dan budaya nasional.Di Indonesia, pendidikan karakter sangat penting untuk menumbuhkan nilai-nilai moral yang baik pada anak dan mencegah pengaruh negatif terhadap perilakunya. Sekolah memerlukan institusi dan metode pengajaran formal untuk menanamkan pengetahuan moral, perasaan moral, dan tindakan moral.

Konsep moralitas berasal dari bahasa Latin yang merupakan gabungan dari konsep-konsep seperti nilai, norma, etika, dan moralitas. Moralitas didasarkan pada gagasan universal tentang perilaku manusia, perilaku yang baik, dan perilaku yang baik. Merupakan definisi moralitas yang bersifat universal, yang didasarkan pada keyakinan bahwa manusia itu baik dan baik.
Konsep moralitas berasal dari gagasan tentang manusia, yang didasarkan pada keyakinan akan kebaikan dan kebaikan hidup. Konsep moralitas didasarkan pada keyakinan bahwa manusia itu baik dan baik, dan merupakan aspek fundamental dalam kehidupan manusia.Kesimpulannya, pengembangan nilai dan sikap moral sangat penting untuk berkembangnya masyarakat yang menghargai dan menghormati hak-hak warga negaranya.

Karakter dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lainnya. Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (kebajikan) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, berpikiran, dan bertindak. Pendidikan karakter adalah pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai karakter bangsa pada diri peserta didik, sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan warga negara yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif.

Keenam karakter ini dapat dikatakan sebagai pilar-pilar karakter manusia, di antaranya: (1) Respect (Penghormatan); (2) Tanggung Jawab (Tanggung Jawab); (3) Kewarganegaraan-Kewajiban Kewarganegaraan (Kesadaran Berwarga Negara); (4) Kewajaran (Keadilan dan Kejujuran); (5) Peduli (Kepedulian dan Kemauan Berbagi); dan (6) Keterpercayaan (Keparcayaan).

Pengetahuan moral (Moral Understanding) adalah beragam pengetahuan moral yang dapat kita manfaatkan ketika kitaberhadapan dengan tantangan-tantangan moral dalam hidup. Enam pengetahuan moral berikut diharapkan dapat menjadi tujuan pendidikan karakter.
1. Kesadaran moral (Moral Awareness) adalah kegagalan moral yang sering terjadi pada diri manusia dalam semua tingkatan usia adalah kebutaan moral; kondisi di mana orang tidak dapat melihat bahwa situasi yang sedang ia hadapi melibatkan masalah moral dan membutuhkan pertimbangan yang lebih jauh. Anak-anak dan remaja khususnya harus mengetahui bahwa tanggung jawab moral pertama adalah menggunakan akal mereka untuk melihat kapan suatu situasi moral.Kesadaran moral adalah kendala-untuk bisa mendapatkan informasi. Dalam membuat penilaian moral, sering kali kita tidak bisa memutuskan karakter sampai mengetahui keadaan yang sebenarnya. Jika pengetahuan kita tentang apa yang terjadi di dunia internasional tidak kabur, kita pasti bisa membuat penilaian moral yang tentang kebijakan luar negeri.
2.. Mengetahui Nilai-Nilai Moral (Moral Values) .Nilai-nilai moral seperti menghargai hidup, bermartabat, menghormati orang lain, kejujuran, integritas, disiplin, keutuhan, kebijaksanaan, dan tanggung jawab merupakan faktor penting dalam membina pribadi yang baik. Mereka dipelajari melalui pendidikan dan diterapkan dalam berbagai situasi.
3. Pengambilan perspektif(Perspektive Taking) adalah kemampuan untuk memahami perspektif orang lain, situasi, dan alasan di balik tindakan mereka. Penalaran moral melibatkan pemahaman pentingnya nilai-nilai moral setiap orang dan konsekuensi dari tindakan mereka.
4. Penalaran moral (Moral Reasoning) juga mencakup pemahaman prinsip-prinsip moral orang lain, seperti menghargai setiap individu, mendorong perilaku baik, dan menghindari menyakiti orang lain.
5. Pengambilan keputusan (Decision Making) adalah kemampuan mengambil keputusan berdasarkan nilai dan prinsip moral. Hal ini melibatkan pertimbangan konsekuensi dari tindakan dan konsekuensi dari tindakan mereka.
6. Pengetahuan diri(Self Knowledge) adalah pengetahuan moral yang paling penting untuk pertumbuhan pribadi, karena membantu individu mengekspresikan tindakan pribadinya dan mengevaluasinya secara kritis.Kesimpulannya, nilai-nilai moral, pengambilan perspektif, penalaran moral, pengambilan keputusan, dan pengetahuan diri merupakan aspek penting dari pengembangan pribadi. Dengan memahami nilai-nilai ini, individu dapat membuat keputusan yang lebih baik dan berkontribusi terhadap perbaikan kehidupan mereka.
Tindakan moral adalah produk dari dua kualitas: intelektual dan emosional. Jika seseorang mempunyai kualitas intelektual dan emosional yang baik maka ia dapat melakukan tindakan moral sesuai dengan pengetahuan dan tujuannya. Namun, mereka harus sadar akan tindakan dan peran mereka dalam situasi tersebut. Untuk memahami apa yang memotivasi seseorang untuk melakukan tindakan moral, mereka harus mempertimbangkan tiga aspek: kompetensi, keberanian, dan bias.
1. Kompetensi adalah kemampuan mengelola konflik dan komitmen moral secara efektif. Dalam situasi moral, bias moral seseorang merupakan suatu hal yang buruk. Penting untuk memiliki keberanian untuk melakukan tindakan moral dan mengerahkan energi moral untuk melakukannya. Penting juga untuk menjaga integritas moral dan menghindari tindakan yang merugikan.
2. Kehendak juga dibutuhkan untuk dapat melihat dan memikirkan suatu
keadaan melalui seluruh dimensi moral. Kehendak dibutuhkan untuk mendahulukan kewajiban, bukan kesenangan.Kehendak dibutuhkan untuk
menahan godaan, bertahan dari tekanan teman sebaya, dan melawan gelombang.Pada dasarnya kehendak merupakan inti keberanian moral. Cebias merupakan faktor yang mempengaruhi perilaku moral. Seorang individu yang berkarakter moral yang baik harus mempunyai banyak keterampilan untuk mengembangkan perilaku moral yang baik dan mampu mengambil keputusan yang baik. Hal ini mencakup memiliki banyak pengalaman dengan orang lain, bersikap jujur, dan menjadi orang baik.
3 kebiasaan
Perasaan moral adalah aspek penting dari perilaku moral. Ini melibatkan komitmen terhadap nilai-nilai moral dan kemauan untuk membuat keputusan moral. Perasaan moral merupakan pengendalian internal yang lebih efektif dibandingkan pengendalian eksternal, yaitu tanggung jawab individu untuk menjaga perilaku moral dalam kehidupannya.
Pendidikan karakter (moral-budi pekerti) adalah buah dari budi nurani, bersumber pada moral. Moral bersumber pada kesadaran hidup yang berpusat pada alam pikiran. Pendidikan sebagai proses alih nilai mempunyai tiga saran: utama untuk membentuk manusia yang mempunyai keseimbangan antara kemampuan kognitif dan psikomotorik disatu pihak dan kemampuan afektif di pihak lain. Implementasi alih nilai merupakan proses pelatihan imtak, yang dapat ditransformasikan tata nilai yang mendukung proses industrialisasi dan penerapan teknologi.

Pendidikan karakter pada dasarnya dibentuk pada beberapa pilar yang saling berkaitan. Adapun pilar-pilar karakter ini adalah nilai-nilai luhur universal yang terdiri dari Cinta Tuhan dan alam semesta beserta isinya, Tanggung jawab kedisiplinan dan kemandirian, Kejujuran, Hormat dan santun, Kasih yang, kepedulian, dan kerjasama, Percaya diri, kreatif, kerjasama, dan pantang menyerah.Pendidikan karakter pada dasarnya mempunyai esensi yang tidak berbeda dengan pendidikan moral, budi pekerti dan pendidikan akhlak, yang bertujuan membentuk pribadi siswa, supaya menjadi pribadi yang baik, masyarakat menjadi warga yang baik, dan jika dalam kehidupan berbergara menjadi warga negara yang baik.
Penelitian ini mengkaji dampak pendidikan moral terhadap perilaku moral siswa SMA di Negeri Kota Pekanbaru. Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat pendidikan moral yang lebih tinggi berhubungan dengan perilaku moral yang lebih tinggi, sedangkan tingkat pengetahuan moral yang lebih rendah berhubungan dengan perilaku moral yang lebih rendah. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa pengaruh pendidikan moral terhadap perilaku moral lebih kuat pada siswa SMA. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pendidikan moral yang baik dapat mengarah pada perilaku moral dan perilaku moral yang lebih baik. Studi ini merekomendasikan agar sekolah memanfaatkan potensi, fasilitas, dan pelatihan guru agar siswa lebih termotivasi dan bermoral, sehingga memungkinkan mereka menjadi individu yang lebih bertanggung jawab dan bermoral.
Nama : Qurota A'yunin
NPM: 2213053183

Dosen Agama Universitas Pamulang melihat fenomena yang berkembang di masyarakat tentang semua berkembangnya Agama terhadap kehidupan bermasyarakat yang disebabkan oleh perkembangan teknologi digital. Pelatihan ini berhasil memberikan bekal softskill kepada anak-anak remaja di Mts Insan Madani Kp. Rahong Desa Tegallega Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor.

Artikel ini membahas mengenai kegiatan pengabdian Kepada Masyarakat dengan tema “Menangkal degradasi moral di Era Digital bagi kalangan Millenial” dilaksanakan oleh tim pengabdian kepada program studi Manajemen Universitas Pamulang untuk menjawab fenomena di atas. Acara ini terlaksana atas kerjasama dengan berbagai pihak seperti Yayasan Sasmita Jaya, dosen Program Studi dan pengurus di Mts Insan Madani. Pelatihan ini berhasil memberikan kemampuan softskill kepada anak-anak remaja di Mts tersebut.
Suatu perguruan tinggi berkewajiban melaksanakan Tri Darma Perguruan Tinggi berupa pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (P3KM). Diharapkan dengan P3KM tersebut keberadaan perguruan tinggi dapat memberikan kontribusi besar pada pengembangan keilmuan dan pengabdian kepada masyarakat. Universitas Pamulang (Unpam) adalah salah satu Perguruan Tinggi Swasta yang secara konsisten menyelenggarakan P3KM.
Para Dosen Agama Islam Universitas Pamulang melihat adanya fenomena degradasi moral di era digital pada kalangan milenial. Degradasi berarti penurunan, kemerosotan atau penurunan dari suatu hal. Degradasi moral merupakan kemerosotan atas budi pekerti seseorang maupun orang sesuai dalam konteksa Indonesia. Kalangan millenial saat ini akrab terdengar dan dapat diartikan secara sederhana sebagai orang-orang yang memiliki interaksi kuat terhadap media sosial melalui gawai seperti PC, HP, tablet, dan benta-benda digital. Artinya kalangan milenial memiliki akses yang bebas dengan globalisasi dunia, yang tentunya mempengaruhi moral.
Adanya fenomena tersebut melatarbelakangi para dosen agama islam Universitas Pamulang untuk meningkatkan kemampuan moral yang berbeda-beda dan berbeda-beda yang berbeda-beda.
Sesi PKM dilaksanakan di Mts Insan Madani Kp. Rahong Desa Tegallega Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor pada 17-19 Desember 2019. Topik sesinya adalah degradasi nilai-nilai moral di era digital bagi generasi milenial. Sesi ini dihadiri oleh siswa dan guru, sesi pertama berfokus pada konsep degradasi moral di era digital. Sesi kedua berfokus pada efektivitas media sosial bagi generasi milenial, menyoroti pentingnya menumbuhkan rasa kebersamaan dan menumbuhkan soft skill yang baik.
Sesi PKM dihadiri oleh dosen PKM Universitas Pamulang yang menekankan pentingnya menumbuhkan lingkungan moral yang positif pada generasi milenial. Guru juga menekankan pentingnya membina soft skill bagi generasi mendatang, khususnya yang masih mencari kemandirian.Sesi PKM juga dihadiri oleh masyarakat yang terpacu untuk berpartisipasi dalam program untuk menciptakan generasi yang lebih baik dan mengembangkan nilai-nilai moral yang baik. Guru juga menekankan pentingnya memasyarakatkan soft skill yang baik untuk generasi mendatang.
Sesi PKM bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai moral yang baik di kalangan generasi milenial dan menginspirasi generasi milenial untuk melakukan berbagai kegiatan. Acara dilaksanakan di Mts Insan Madani Kp. Rahong Desa Tegallega Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogo Bogor, bertujuan untuk mengedepankan nilai-nilai positif dan mendorong partisipasi dalam berbagai kegiatan.
Nama : Qurota A'yunin
NPM: 2213053183

Video tersebut membahas kesulitan dan ketidaknyamanan yang dialami remaja. Salah satu analisis yang dapat diambil dari video adalah sebagai berikut: masa remaja digambarkan sebagai masa transisi dari anak-anak ke remaja yang penuh warna dan dinamika. Ini menunjukkan kompleksitas perubahan fisik dan psikologis yang umumnya dialami selama periode ini. Lima masalah utama yang sering dihadapi remaja adalah:
1. Penampilan pembicara di video menunjukkan betapa pentingnya meningkatkan kualitas diri selain meningkatkan penampilan. Ini juga mencerminkan kesadaran akan prinsip dan perkembangan diri remaja.
2. Pendidikan: Perubahan dalam sistem pendidikan dari masa lalu hingga saat ini dibahas, dengan penekanan pada sumber belajar modern seperti Google. Pendidikan dianggap sebagai kunci untuk mendapatkan akses ke seluruh dunia, menunjukkan betapa pentingnya untuk beradaptasi dengan perubahan.
3. Persahabatan Pembicara mengatakan bahwa persahabatan dapat membawa tekanan atau tekanan dari rekan satu sama lain. Sangat penting untuk memilih sahabat dengan hati-hati karena pengaruh mereka dapat sangat memengaruhi kehidupan seseorang.
4. Percintaan dan Prioritas Pendidikan: Masa percintaan diakui sebagai bagian dari remaja. Namun, lebih banyak perhatian diberikan pada penggunaan cinta sebagai dorongan untuk berprestasi di sekolah, dengan pendidikan menjadi hal yang paling penting.
5. Kepercayaan Diri: Kepercayaan diri dianggap sebagai kunci sukses yang harus diasah setiap hari. Jika Anda tidak percaya pada diri sendiri, banyak masalah akan sulit diatasi, dan pembicara menekankan pentingnya membangun kepercayaan diri.

Banyak hal yang dihadapi remaja, seperti perkembangan pribadi, hubungan sosial, pendidikan, dan fisik, dibahas dalam video ini. Analisis tersebut menegaskan betapa pentingnya memahami dan menangani berbagai elemen ini dengan cermat seiring berjalannya waktu.
Nama : Qurota A'yunin
NPM: 2213053183

Dalam video ini, dibahas bagaimana nilai, moral, dan etika memainkan peran penting dalam membentuk individu dan dinamika masyarakat. Individu dapat menjadi agen perubahan sosial dengan mengajarkan nilai-nilai moral, membangun empati, dan menerapkan perilaku etis. Pendidikan akhlak adalah bagian penting dari proses pendidikan yang bertujuan untuk membentuk karakter dan moral individu. Nilai dan moral adalah landasan yang kuat untuk membentuk dinamika sosial yang sehat dan berkelanjutan.
Etika adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan kesediaan dan komitmen seseorang secara sadar untuk mengikuti standar dan norma kehidupan yang berlaku dalam suatu komunitas atau organisasi. Etika organisasi menekankan bahwa setiap anggota organisasi harus menerapkan serangkaian prinsip.
Nilai dan moral manusia memainkan peran penting dalam membentuk dinamika sosial dan mendukung kehidupan yang harmonis. Nilai etika berkaitan dengan akhlak dan merupakan nilai yang membuat manusia menjadi individu yang merdeka.