གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Tantri Ayu Ratna Sari 2213053269

Nama: Tantri Ayu Ratna Sari
NPM: 2213053269
Penanaman nilai dan moral dilingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat merupakan proses penting dalam pembelajaran dan perkembangan sosial-emosional anak didik. Berikut ini adalah beberapa analisis mengenai penanaman nilai dan moral dilingkungan:
1. Keluarga: Penanaman nilai dan moral dilingkungan keluarga mempengaruhi perilaku dan kemampuan anak didik dalam menghadapi tantangan sehari-hari. Keluarga merupakan basis utama dalam pengembangan sosial-emosional anak didik dan berperan dalam pengiriman nilai-nilai penting kepada anak mereka.
2. Sekolah: Sekolah berperan dalam menyediakan lingkungan belajar yang aman dan inklusif, serta menyebarkan nilai-nilai dan moral yang positif bagi anak didik. Sekolah juga menjadi tempat bagi anak didik berkolaborasi dan berkomunikasi dengan rekan sekolah, yang dapat membantu mereka mengembangkan keterampilan komunikasi dan emosional.
3. Masyarakat: Masyarakat mempengaruhi penanaman nilai dan moral dilingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat dengan menyediakan lingkungan yang mendukung perkembangan anak didik dan menyebarkan nilai-nilai yang positif. Masyarakat juga berperan dalam mendukung anak didik dalam menghadapi tantangan sehari-hari dan menjadi pengalaman yang positif.

Beberapa hambatan dalam proses penanamannya meliputi kekurangan waktu, sumber daya, dan dukungan inspeksi serta pendampingan bagi tingkat keluruhan. Untuk mengatasi hambatan ini, beberapa strategi yang dapat diadopsi meliputi:
- Meningkatkan dukungan inspeksi dan pendampingan bagi tingkat keluruhan.
- Mengembangkan program penanaman nilai dan moral dilingkungan yang menarik dan inklusif.
- Meningkatkan keterlibatan dan partisipasi anak didik dalam proses penanamannya.

Dalam menjadwalkan penanaman nilai dan moral dilingkungan sebagai kebiaisan dan dilakukan secara terus menerus oleh anak didik, penting untuk menghargai perbedaan budaya dan merencanakan lingkungan yang mendukung perkembangan anak didik. Selain itu, penting juga untuk menghadapi tantangan terhadap perbedaan budaya dan mengembangkan keterampilan komunikasi dan emosional.
Nama: Tantri Ayu Ratna Sari
NPM: 2213053269
Analisis Artikel Jurnal: "Pengaruh Pengetahuan Moral Terhadap Perilaku Moral Siswa SMP Negeri Kota Pekanbaru Berdasarkan Pendidikan Orang Tua"
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh pengetahuan moral terhadap perilaku moral siswa SMP Negeri Kota Pekanbaru. Populasi penelitian terdiri dari 40 SMP Negeri Kota Pekanbaru dengan 1600 siswa, sedangkan sampel penelitian meliputi 9 SMP Kota Pekanbaru dengan 360 siswa. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan inferensial.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan antara pengetahuan moral dan perilaku moral siswa kelas VIII di Pekanbaru, Indonesia, berdasarkan pendidikan orang tua. Hal ini menekankan pentingnya pendidikan moral dan peran orang tua dalam membentuk perilaku moral siswa. Rekomendasi dari penelitian ini termasuk pemanfaatan potensi, fasilitas, dan bimbingan guru secara lebih intensif untuk membantu perkembangan siswa ke arah yang lebih baik.
Artikel ini juga membahas komponen-komponen pengetahuan moral, seperti tanggung jawab moral, nilai-nilai moral, pengambilan perspektif, penalaran moral, pengambilan keputusan, dan pemahaman diri sendiri. Perilaku moral dipengaruhi oleh kompetensi, kehendak, dan kebiasaan. Dengan demikian, artikel ini menekankan pentingnya menanamkan nilai-nilai moral dan mengajarkan siswa untuk melaksanakannya, bukan hanya memahaminya.
Daftar rujukan artikel ini mencakup berbagai sumber terkait pendidikan moral dan karakter, menunjukkan bahwa penelitian ini didukung oleh landasan teori yang kuat dan relevan.
Secara keseluruhan, artikel ini memberikan kontribusi penting dalam memahami pengaruh pengetahuan moral dan peran orang tua dalam membentuk perilaku moral siswadalan lingkup keluarga dan lingkungan di sekolah.
Nama: Tantri Ayu Ratna Sari
NPM: 2213053269
Analisis Artikel Jurnal: "Menangkal Degradasi Moral di Era Digital bagi Kalangan Millenial"
1. Pendahuluan:
- Latar Belakang: Artikel dimulai dengan menjelaskan pentingnya peran generasi muda, terutama kalangan milenial, dalam membentuk masa depan suatu bangsa. Identifikasi masalah degradasi moral di kalangan milenial dihubungkan dengan perkembangan teknologi digital.
2. Tujuan dan Metodologi:
- Tujuan Penelitian: Menguraikan tujuan dari kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM), yaitu memberikan pemahaman terkait degradasi moral di kalangan milenial dan memberikan solusi untuk menanggulanginya.
- Metode Pelaksanaan: Memberikan informasi tentang metode yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan PKM, termasuk tahap persiapan, pemilihan pemateri, dan pelaksanaan pelatihan dengan presentasi dan diskusi.
3. Hasil dan Pembahasan:
- Menyajikan dua materi utama dari dua pemateri yang berbeda, yaitu "Fenomena Degradasi Moral di Era Digital pada Kalangan Millenial" dan "Solusi Menghadapi Degradasi Moral". Memberikan gambaran bahwa pelatihan difokuskan pada pemahaman masalah dan solusi terkait degradasi moral.
- Terlihat adanya antusiasme peserta melalui pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Hal ini menunjukkan keterlibatan aktif peserta dalam kegiatan, dan pemateri memberikan jawaban yang relevan.
4. Kesimpulan dan Saran:
- Kesimpulan: Menyajikan kesimpulan yang mencakup rangkuman pelatihan dan hasil yang dicapai, termasuk pemahaman dan motivasi peserta.
- Saran: Memberikan saran untuk melibatkan lebih banyak pihak dalam mendukung program, termasuk mendukung pembentukan bekal moral bagi generasi muda dan peningkatan soft skills.
5. Penerapan Pendidikan Agama Islam (PAI):
- Menyoroti peran Dosen Agama Islam dari Universitas Pamulang dalam mengidentifikasi dan menanggapi degradasi moral, terutama di lingkungan pendidikan Islam.
- Menekankan solusi berbasis agama, seperti meningkatkan keimanan, ibadah, dan memberikan pemahaman cara bermedia sosial yang baik.
6. Kontribusi Perguruan Tinggi:
- Menunjukkan bahwa kegiatan ini merupakan wujud dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.
- Menyoroti peran Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) dalam mengoordinasikan kegiatan PKM di perguruan tinggi.
7. Implikasi dan Harapan:
- Implikasi Kegiatan: Memberikan gambaran tentang dampak positif kegiatan, seperti memberikan bekal soft skills kepada siswa.
- Harapan untuk Masa Depan: Mengajukan harapan agar kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dan ditingkatkan, dengan melibatkan lebih banyak pihak.
8. Kata Kunci dari artikel, yaitu "Degradasi Moral, Era Digital, dan Millenial."

Poin-poin Umum:
- Artikel mencerminkan sikap kritis terhadap fenomena degradasi moral di era digital dan menawarkan solusi berbasis agama.
- Perguruan tinggi aktif terlibat dalam menanggapi masalah sosial dan moral di masyarakat.

Catatan:
- Artikel tidak menyediakan data atau hasil penelitian kuantitatif atau kualitatif.
- Artikel lebih bersifat deskriptif dan memberikan gambaran umum tentang kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
- Teks terlihat cukup jelas, dengan tujuan dan hasil yang disajikan dengan baik.
Nama: Tantri Ayu Ratna Sari
NPM: 2213053269
Analisis Video:
video tersebut merupakan percakapan seorang ibu bernama Ibu Lala dan kedua anaknya, Caca dan Santi. Berikut analisisnya:
1. Karakter Ibu dan Anak-anaknya
- Ibu Lala: Diperkenalkan sebagai sosok yang rendah hati dan mencintai anak-anaknya. Dia tampaknya berusaha menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis.
- Caca: Anak yang sopan, santun, rajin sembahyang, suka menolong, dan memiliki sifat baik. Caca juga memiliki satu saudara perempuan, yaitu Santi.
- Santi: Kakak dari Caca, digambarkan memiliki sifat angkuh, egois, tidak memiliki tata krama, jahat, tidak suka sembahyang, dan terlibat dalam mabuk-mabukan.
2. Terdapat konflik antara Santi, yang memiliki sifat negatif, dan ibu serta adiknya. Santi digambarkan sebagai sosok yang menyebabkan kecemasan di keluarga karena perilakunya yang buruk, seperti mabuk-mabukan dan tidak menghormati ibunya.
3. Di samping itu ada peran Caca sebagai sosok yang bertanggung jawab dan peduli terhadap ibunya. Dia menggantikan Santi untuk mengantarkan ibunya ke pasar, menunjukkan sikap bertanggung jawabnya. Meskipun Santi menolak untuk mengantarkan ibunya ke pasar, Caca kemudian menggantikannya. Santi tampaknya memiliki aktivitas rahasia yang tidak ingin diungkapkan kepada ibunya.
4. Ditampilkan Santi pulang bersama temannya dalam keadaan mabuk, menyebabkan kekhawatiran dan kegelisahan ibu. Santi juga terlihat tidak jujur kepada ibunya tentang keberadaannya. Caca mencoba membujuk kakaknya, tetapi Santi bersikeras tidak ingin ibunya tahu. Terjadi konflik di antara mereka.
5. Ditampilkan sosok Santi yang menolak untuk bersembahyang bersama keluarga, hal ini menunjukkan ketidakpedulian terhadap nilai-nilai keagamaan. Caca dan ibu tetap melanjutkan kegiatan bersembahyang meskipun Santi tidak ikut. Video berakhir dengan Ibu Lala dan Caca melakukan persembahyangan bersama, sementara Santi tidak ikut serta. Video ini menunjukkan perjuangan Ibu Lala untuk menciptakan lingkungan yang baik meskipun dihadapkan pada konflik dalam keluarga.

Di dalam video mencerminkan dinamika keluarga dan konflik antaranggota keluarga serta menyoroti nilai-nilai seperti tanggung jawab, kejujuran, dan kepedulian terhadap keagamaan yang diperankan oleh karakter-karakter dalam cerita tersebut.
Nama: Tantri Ayu Ratna Sari
NPM: 2213053269
Analisis Video:
Video tersebut menyoroti peran kampus dalam membentuk karakter mahasiswa dan menciptakan generasi muda yang berakhlak dan berjiwa kritis. Di dalam Video menekankan bahwa kehidupan kampus merupakan awal pembentukan karakter mahasiswa. Setiap kampus di Indonesia diharapkan mengajarkan mahasiswanya untuk berpegang teguh pada norma dan hukum yang berlaku, dengan tujuan mencetak generasi muda yang berakhlak dan berjiwa kritis. Pentingnya kebijakan pendidikan Pancasila di berbagai universitas di Indonesia. Pancasila dianggap berperan penting dalam membangun jiwa nasionalis dan bermoral karena butir-butir Pancasila dianggap mengandung makna mendalam dan menjadi pedoman bagi seluruh rakyat Indonesia. Video Tersebut juga menekankan bahwa penyerapan nilai-nilai moral Pancasila diarahkan agar berjalan secara manusiawi dan alamiah. Peserta didik diharapkan tidak hanya memahami, tetapi juga menghayati nilai-nilai tersebut melalui pengalaman pribadi, bukan sekadar melalui proses indoktrinasi. Disebutkan juga bahwa mata kuliah pendidikan kewarganegaraan bertujuan untuk mempersiapkan warga negara muda agar memiliki kemampuan untuk terlibat dan berpartisipasi aktif dalam masyarakat politik. Budaya kewarganegaraan perlu dibangun di atas fondasi kebajikan dan komitmen kewarganegaraan berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Serta beberapa masalah moral yang masih ada di lingkungan kampus, seperti vandalisme, kekerasan, pencurian, mencontek, perilaku tidak terhormat terhadap pejabat publik, kekejaman atau bullying, penyerangan terhadap keyakinan orang lain, bicara kasar, pemerkosaan, pelecehan seksual, perilaku merusak diri, dan orientasi pada diri sendiri yang menurunkan tanggung jawab sebagai warga negara.

Jadi dari video tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai Pancasila dapat menjadi basis pendidikan karakter yang khas di Indonesia. Fokusnya adalah keberagaman, toleransi, dan keadilan sosial. Pancasila dianggap sebagai landasan untuk mendidik karakter mahasiswa dengan nilai-nilai seperti toleransi dan penghargaan terhadap kepercayaan lain.