གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Farida Juwita 2213053179

3G 2023 Pendidikan nilai dan moral -> Forum Analisis Video 3

Farida Juwita 2213053179 གིས-
Nama : Farida Juwita
NPM : 2213053179
Kelas : 3G

Analisis video 3
Perbedaan Pendidikan Dasar Jepang dan Indonesia.

Dari video di atas didapat bahwa banyak perbedaan yang terdapat antara pendidikan di Jepang dan Indonesia. Terutama pendidikan dasar. Yakni :
1. Kebersihan sejak dini. Apabila di Indonesia, kondisi sampah menumpuk. Ini dapat terjadi akibat kurang sadarnya masyarakat serta minim pengetahuan terkait sampah yang diberikan dalam pendidikan. Berbeda dengan Jepang, yang mana terdapat kurikulum yang fokus dalam mengajarkan kebersihan.
2. Makan bersama. Proses makan dianggap penting pada negara Sakura. Pendidikan Jepang mengatur hal ini secara terstruktur. Mulai dari disiapkannya makanan hingga pengajaran cara makan yang baik bersama pendidik. Hal ini juga dapat membangun interaksi positif antar pendidik dan siswa. Berbeda dengan Indonesia di mana makan bersama tidak diadakan yang dapat membuat siswa merasa bebas untuk mengatur atau memilih makanannya.
3. Mata pelajaran yang sedikit. Di Indonesia, terdapat banyak mata pelajaran yang bahkan diulangi dijenjang berikutnya. Berbeda dengan Jepang, mata pelajaran tergolong sedikit dan diajarkan dihari tertentu sehingga tidak terjadi pengulangan.
4. Pendidikan karakter. Di Jepang, pendidikan menerapkan 3 tahun pertama sebagai fokus pembentukan karakter siswa. Guna membangun sikap sopan santun, menghormati, tolong menolong dan lainnya. Hal ini tertentu berbeda dengan Indonesia yang belum memiliki fokus pendidikan karakter selain melalui mata pelajaran.
5. Membaca terlebih dahulu. Jepang fokus membangun minat baca siswa melalui pendidikan. Di mana literasi dilakukan pada awal pembelajaran untuk membentuk kebiasaan mereka. Sedangkan Indonesia saat ini masih memiliki minat baca yang rendah.
6. Perlengkapan sekolah. Pendidikan Jepang membantu dalam menyediakan perlengkapan sekolah secara adil dan merata. Menurut saya, hal ini sangat bagus karena dapat membangun karakter siswa yang saling menghargai dan tidak membed-bedakan sesamanya.
7. Seragam sekolah. Apabila di Indonesia seragam cukup banyak jenisnya dan dinilai memberatkan, di Jepang seragam sekolah cenderung sama rata. Sehingga dapat meringankan.

Perbedaan diatas merupakan bentuk positif dari pendidikan di Jepang. Namun, terdapat pula kekurangan dalam pendidikan Jepang. Di mana tekanan belajar sangat tinggi yang menyebabkan angka bunuh diri cukup tinggi. Ini cukup menunjukkan bagaimana perbedaan pendidikan tiap negara.

3G 2023 Pendidikan nilai dan moral -> Forum Analisis Video 4

Farida Juwita 2213053179 གིས-
Nama : Farida Juwita
NPM : 2213053179
Kelas : 3G

Analisis video berjudul "Film pendek korupsi - Pelajar Anti Korupsi"

Dari video di atas didapat bahwa korupsi dapat terbentuk dari hal kecil namun buruk dilakukan. Seperti Hanafi yang melakukan tindakan tidak jujur dan merugikan orang lain dengan menaikkan harga fotokopi 2x lipat dari harga asli. Artinya, Hanafi sudah melakukan korupsi. Ini bukti nyata bahwa korupsi tidak hanya terjadi pada kedudukan tinggi melainkan dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini merupakan salah satu bentuk degradasi moral di mana peristiwa ini menyimpang dari norma yang berlaku dalam tatanan kehidupan. Dengan hal ini, perlu adanya penanaman pendidikan karakter dan anti korupsi yang diharapkan dapat menjadi solusi dalam mengatasi serta mencegah penyimpangan terutama pada kalangan remaja di era global saat ini.

3G 2023 Pendidikan nilai dan moral -> Forum Analisis Jurnal 2

Farida Juwita 2213053179 གིས-
Nama : Farida Juwita
NPM : 2213053179
Kelas : 3G

Analisis jurnal berjudul "Problematika Moral Bangsa Terhadap Etika Masyarakat" oleh Kanesa Putri, Muhammad Eko Maryana.

Didapat bahwa dalam masyarakat saat ini marak terjadinya pelanggaran etika. Ini menunjukkan degradasi moral yang dapat diakibatkan oleh kurangnya pengetahuan dalam hukum dan minimnya didikan lebih lanjut mengenai moral. Akhirnya, hal ini berpengaruh tehadap perkembangan Indonesia. Perlu etika dalam kehidupan masyarakat untuk dapat terbentuk moral bangsa yang baik. Yang biasa kita kenal dengan norma atau kaidah, yakni
suatu nilai yang mengatur dan memberikan pedoman tertentu bagi tiap individu atau masyarakat untuk bersikap tindak, dan berperilaku sesuai dengan aturan-aturan yang telah disepakati bersama. Saat ini, penyebab yang menimbulkan masyarakat melakukan pelanggaran etika adalah kurangnya sanksi yang tegas, kesadaran masyarakat yang belum terbentuk, dan lingkungan tidak etis. Maka, untuk dapat mewujudkan moral bangsa yang sesuai dengan karakteristik Indonesia, salah satu caranya adalah dengan ditegakkannya hukum etika dalam kehidupan masyarakat agar harapannya masyarakat mempunyai etika yang baik. Penegakan hukum selalu menjadi suatu kewajiban yang mutlak di Indonesia yang mana merupakan negara hukum yang berdasarkan Pancasila.
Umumnya, dalam kehidupan masyarakat tentu terdapat norma hukum yang mengatur tingkah laku masyarakat. Norma hukum ini seharusnya memiliki ketegasan bagi siapapun yang melanggarnya. Norma hukum yang dibuat harus dibuat sebaik mungkin. Karena akan berdampak pada akibat yang dihasilkan dari penerapan norma itu sendiri. Namun, tanpa adanya kesadaran moral tentu akan menjadikan banyaknya pelanggaran atas norma hukum tersebut. Seperti yang terjadi di kampung Cijambe Girang, sering terjadi pelanggaran etika berupa pelecehan seksual terhadap perempuan. Penyebabnya adalah sistem tata nilai yang dianggap masyarakat tersebut masih mendudukan perempuan sebagai makhluk lemah dan lebih rendah dari pada laki-laki, di ekspolitasi dan diperbudak laki-laki.

Hal di atas dapat menunjukkan
krisis multidimensional yangmerupakan masalah banyak dialami oleh negara dimana marak terjadi masalah dalam berbagai aspek kehidupan, khususnya dalam kehidupan sosial. Penanaman akan nilai-nilai moral dimasyarakat mengalami kemunduran. Untuk membangun etika yang baik dalam masyakat diperlukan upaya internal dan eksternal.
Upaya internal yang bisa diterapkan yakni :
- Meningkatkan peran keluarga dalam membentuk moral
- Menciptakan lingkungan yang baik dalam
masyarakat
- Membatasi teknologi yang ada untuk dapat mengontrol kehidupan masyarakat
Sedangkan upaya eksternalnya ialah :
- Mengimplementasikan pendidikan karakter di sekolah
- Seminar tentang kesadaran hukum
- Menegakan HAM dimasyarakat
- Pemerintah harus bertindak tegas.
Dalam era globalisasi, harus ada benteng atau aturan yang tegas dalam upaya pencegahan terjadinya perubahan etika dan moral yang buruk pada kehidupan masyarakat.

3G 2023 Pendidikan nilai dan moral -> Forum Analisis Jurnal 1

Farida Juwita 2213053179 གིས-
Nama : Farida Juwita
NPM : 2213053179
Kelas : 3G

Analisis jurnal berjudul "Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat: Suatu Pemikiran Kefilsafatan" oleh Suparlan Suhartono.

Didapat bahwa pada kenyataannya, mustahil tidak adanya berbagai konflik yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Konflik ini dapat bersifat kepentingan umum keseluruhan masyarakat atau kepentingan khusus bagi setiap individu. Terjadinya konflik inilah yang seharusnya dapat dibentengi dengan nilai-nilai moral dan etika. Dengan adanya nilai moral yang menjadi pedoman, konflik antara dua paham sosial yakni individualisme dan kolektivisme tidaklah perlu dibenturkan melainkan dikelola. Dalam sudut pandang filsafat, moral (etika) masyarakat merupakan suatu sistem komunikasi sosial antar individu untuk mencapai tujuan bersama. Maka konflik antara kepentingan individual (individualisme) dan kepentingan kolektif (kolektivisme) justru menjadi potensi bagi eksistensi masyarakat. Oleh sebab itu, kesadaran moral dan etika watak perilaku setiap individu dalam masyarakat menjadi kunci persoalannya.

Jika kesadaran moral terbingkai dalam sistem norma-norma perilaku sosial (etika), maka kedua kepentingan dapat terselenggara secara berkeadilan. Sebab kesadaran moral, kreativitas, dan etika dianggap memiliki peran penting dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan adanya kesadaran moral dapat mendorong terbentuknya keterikatan sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Selanjutnya, kreativitas masuk sebagai komponen kesadaran moral karena dengan kreativitas itu seseorang mampu menyesuaikan diri terhadap segala perubahan yang sedang dan bahkan yang akan terjadi. Sedangkan sistem nilai adalah suasana moralitas manusia yang harus dipertanggung jawabkan secara etis di sepanjang kehidupan. Di dalam kehidupan bermasyarakat, setiap orang harus berpedoman pada norma -norma etika, menurut kesadaran moral, karena mereka akan selalu diperhadapkan dengan masalah hak dan kewajiban. Dalam kehidupan sosial, moral dan etika terpola menjadi bersifat egoistik dan altruistik. Misalnya ketika tuntutan hak individual berupa perilaku korup, maka moral dan etika individual berubah menjadi egoistik yang mutlak merusak harmoni tata kehidupan masyarakat. Sehingga perlu adanya rekonstruksi yaitu “revolusi moral” melalui pendidikan. Ini karena pendidikan memiliki tiga ruang lingkup yang mencakup :
1. pencerdasan spiritual, menumbuhkan kesadaran tentang asal-mula, tujuan, dan eksistensi kehidupan
2. pencerdasan intelektual, membina kemampuan akal agar mampu memecahkan setiap persoalan yang muncul
3. pencerdasan moral, membimbing setiap perilaku agar memiliki nilai dalam kehidupan.
Dalam pendidikan, apabila berhasil membina ketiga hal tersebut, maka seorang individu dapat terdidik. Sehingga, nilai-nilai moral dan etika penting untuk ditanamkan di dunia pendidikan serta dikembangkan dalam kehidupan sosial bermasyarakat.

Terdapat tiga pilar moralitas dan etika yang wajib ditanam dibina dan dikembangkan di dalam diri setiap individu melalui pendidikan keluarga, pendidikan sekolah maupun kehidupan bermasyarakat. Yakni :
a. kesadaran moral. seseorang wajib mempertahankan dan mengembangkan eksistensi kehidupannya yang bersifat terbatas. Sehingga mendorong munculnya suatu kesadaran moral setiap individu untuk membangun kehidupan bermasyarakat.
b. kreativitas dalam reproduksi. Kesadaran moral kemudian berfungsi menjadi satu wawasan sosial. Di mana wawasan sosial ini dapat mendorong kehidupan bermasyarakat untuk meningkatkan kreativitas dan produktivitas.
c. pengendalian perilaku dalam berproduksi. Secara moral dan etika, individu maupun kelompok bertanggungjawab atas perilaku berprodukai tersebut.

3G 2023 Pendidikan nilai dan moral -> FORUM pertanyaan

Farida Juwita 2213053179 གིས-
Nama : Farida Juwita
NPM : 2213053179
Kelas : 3G


Menurut saya perbedaan kriteria antara nilai hardskill dan kriteria softskill ialah :
Pada hardskill bersifat objektif, karena berhubungan dengan bidang pekerjaan yang dikuasi seseorang. Hardskill juga merupakan kemampuan yang dapat dipelajari, dievaluasi, dan diukur.
Sedangkan softskill bernilai subjektif karena berasal dari kepribadian seseorang. Softskill berkaitan dengan kemampuan yang berkaitan dengan kepribadian seseorang. Contohnya seperti kemampuan komunikasi, karakteristik seseorang, kecerdasan sosial yang melekat, serta kemampuan beradaptasi dengan baik dalam kehidupan.