Posts made by Wulan Agustina

Nama : Wulan Agustina
Npm : 2213053011

video ini menyoroti pentingnya etika dan moral dalam membentuk perilaku generasi muda dan mengatasi permasalahan sosial yang muncul dalam masyarakat. Keluarga dianggap sebagai tempat utama untuk mengajarkan nilai-nilai etika dan moral, dan pendidikan online juga dapat berperan dalam hal ini. Etika dan moral adalah pedoman yang memengaruhi perilaku dan keputusan manusia, dan mereka dapat membantu menghadapi tantangan sosial yang kompleks.

3J 2023 Pendidikan Nilai dan Moral -> Forum Analisis Video 3

by Wulan Agustina -
Nama : Wulan Agustina
Npm : 2213054011

Video ini menunjukkan bahwa keluarga dapat menjadi tempat yang penting untuk membentuk nilai-nilai moral dalam anggota keluarga. Setiap fungsi keluarga memiliki peran khusus dalam membentuk karakter dan etika anggota keluarga, yang pada gilirannya dapat memengaruhi cara mereka berinteraksi dengan masyarakat. Kesadaran akan nilai-nilai moral ini dapat membantu membangun keluarga yang lebih harmonis dan berkontribusi positif pada masyarakat.

3J 2023 Pendidikan Nilai dan Moral -> Forum Analisis Video 1

by Wulan Agustina -
Nama : Wulan Agustina
Npm : 2213053011

Hasil video yang saya lihat ini, menyimpulkan bahwa pendidikan moral harus ditekankan dan diupayakan secara maksimal. Orang tua memiliki peran utama dalam memberikan contoh sikap dan perilaku baik, sementara guru memiliki peran dalam mendukung perkembangan moral anak di lingkungan sekolah. Kesadaran akan peran penting ini diharapkan akan membantu anak memiliki sikap yang baik di lingkungan sekolah dan masyaraka.
Video tersebut memberikan pemahaman yang baik tentang pentingnya pendidikan moral dan peran orang tua serta guru dalam membentuk moral anak. Namun, untuk lebih mendalam dalam mengatasi masalah moral anak, mungkin diperlukan lebih banyak informasi dan strategi konkret.

3J 2023 Pendidikan Nilai dan Moral -> FORUM pertanyaan

by Wulan Agustina -
Nama : Wulan Agustina
Npm : 2213054011

Hardskill dan softskill adalah dua konsep yang berbeda dalam penilaian kemampuan seseorang. Tanggapan saya mengenai perbedaan kriteria nilai hardskill dan softskill:

Hardskill:

1.Objektif: Hardskill adalah kemampuan yang lebih terukur dan berorientasi pada tugas tertentu. Contohnya, keterampilan matematika, pemrograman komputer, atau penggunaan peralatan khusus.
2.Dipelajari melalui Pendidikan dan Pelatihan: Hardskill biasanya diperoleh melalui pendidikan formal, pelatihan khusus, atau pengalaman kerja yang bersifat teknis.
3.Spesifik: Hardskill memiliki ruang lingkup yang jelas dan sering kali dapat diukur dengan tes atau sertifikasi yang terstandarisasi.
4.Lebih mudah dievaluasi: Kemampuan hardskill dapat dinilai dengan cara yang lebih konkret dan objektif, seperti tes pengetahuan atau performa dalam tugas tertentu.

Softskill:

1.Subjektif: Softskill adalah kemampuan yang lebih sulit diukur dengan cara objektif dan berkaitan dengan aspek interpersonal dan kelembagaan. Contohnya, kemampuan komunikasi, kepemimpinan, atau kerja tim.
2.Dipelajari melalui Pengalaman dan Interaksi Sosial: Softskill seringkali dikembangkan melalui pengalaman hidup, interaksi sosial, dan refleksi diri.
3.Universal dan Transferable: Softskill sering memiliki aplikasi yang lebih universal dan dapat berguna dalam berbagai konteks atau pekerjaan.
4.Lebih sulit dievaluasi: Penilaian softskill cenderung lebih subjektif, melibatkan pengamatan, umpan balik, dan interpretasi individu yang berbeda.
Nama : Wulan Agustina
Npm : 2213053011

Walaupun peran utama untuk mendidik moral anak adalah di tangan orang tua mereka, guru di sekolah juga berperan besar untuk mewujudkan moral peserta didik yang seharusnya.
Sebagai sebuah mikrosistem, sekolah diperkirakan mempunyai pengaruh yang kuat yang dapat dilihat secara langsung dalam diri subjek didik.
Dengan kata lain, fungsi sekolah terkait dengan upaya menumbuhkan nilai-nilai akademik, nilai-nilai sosial dan nilai-nilai religius.

Sekolah yang baik adalah sekolah yang peduli dan fokus pada pendidikan moral atau pendidikan nilai di samping kegiatan pengajaran ilmu.
Maka, pengembangan manusia dalam pendidikan dapat didefinisikan menjadi "keseluruhan tindakan dan komunikasi lisan dan tertulis yang melihat tujuan pendidikan lebih mengutamakan pada upaya membantu, mendorong, memfasilitasi pertumbuhan siswa sebagai manusia utuh, termasuk di dalamnya sisi kognitif, emosional, sosial, etik, kreatif dan spiritualnya Berdasarkan pertimbangan di atas, perlu dilakukan perencanaan terkait pendidikan moral di sekolah yang bersifat komprehensif, yang melibatkan berbagai komponen: pendidik, materi, metode, dan evaluasinya.

Rangkuman berbagai teori diambil dari hasil pemikiran dan penelitian para pakar pendidikan moral seperti Kirschenbaum, Thomas Lickona, Darmiyati Zuchdi dan Nurul Zuriah yang kemudian diinterpretasi dan disintesiskan oleh penulis sehingga diperoleh kesatuan gagasan tentang teori pendidikan moral di sekolah.
Sekolah sebagai tempat demokratis yang didedikasikan untuk membentuk pemberdayaan diri dan sosial.
Dalam arti ini, sekolah adalah tempat publik bagi peserta didik untuk dapat belajar pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi yang sesungguhnya.

Sekolah bukan sebagai perluasan tempat kerja atau sebagai lembaga garis depan dalam pertempuran pasar internasional dan kompetisi asing, sekolah sebagai ruang publik yang demokratis dibangun untuk membentuk siswa dapat mengajukan pertanyaan kritis, menghargai dialog yang bermakna dan menjadi agensi kemanusiaan.
Dalam konteks inilah, guru berfungsi untuk mewujudkan peserta didik agar menjadi warga negara yang aktif dalam masyarakat yang demokratis.
Dengan demikian, pendidikan moral yang dilaksanakan oleh guru akan lebih mudah diterima dan diteladani oleh para peserta didiknya.

Pendidikan moral untuk sesama manusia mencakup nilai-nilai moral sosial seperti kerjasama, toleransi, respek, berlaku adil, jujur, rendah hati, tanggung jawab, dan peduli.
Pendidikan moral untuk hubungan manusia dengan alam semesta dapat diberikan dengan menguatkan nilai-nilai keseimbangan alam, menjaga kelestarian alam, tidak merusak alam, hemat, dan mendidik untuk menggunakan kembali barang-barang bekas (daur ulang) dalam bentuk yang baru.

Pendidikan agama yang di dalamnya sarat dengan nilai-nilai moral diberi tempat yang khusus dan penting.
Nilai-nilai moral yang diajarkan di dalam ajaran agama menjadi sumber nilai bagi kehidupan masyarakat Indonesia sehingga di sekolah pun nilainilai moral agama tetap diberi tempat khusus sebagaimana telah dimasukkan dalam kurikulum, baik intra maupun ekstra kurikuler.

XVII, No. 1. Maret 2017 5 3. Metode Pendidikan Moral Kirschenbaum (1995: 31) mengusulkan 100 cara atau metode pendidikan moral, yang dipayungi dalam lima kategori besar metode pendidikan moral yaitu penanaman (inkulkasi) nilai-nilai dan moralitas, modeling nilainilai dan moralitas, fasilitasi nilai-nilai dan moralitas, kecakapan untuk mengembangkan nilai dan melek moral, pelaksanaan program pendidikan nilai di sekolah.