Nama: Ivo Yuniarta
NPM: 2213053112
Kelas: 3G
Analisis Video yang Berjudul “Potret Pendidikan di Dusun Terpencil”.
Hasil Analisis:
Dalam video tersebut menggambarkan suatu Kondisi sekolah yang tidak memadai untuk melaksanakan pembelajaran. Sekolah yang terletak di dusun terpencil ini sangat membutuhkan perhatian khusus dari pemerintah. Dalam proses pembelajaran terpaksa menggunakan teras sebagai ruang kelas karena keterbatasan ruangan. Di sekolah tersebut hanya memiliki enam ruangan, dengan lima di antaranya digunakan sebagai ruang kelas, dan satu sebagai ruang guru, bahkan tidak memiliki perpustakaan sekolah. Keterbatasan ruang kelas memaksa sebagian siswa belajar di luar, bahkan di bawah pohon. Dengan begitu keadaannya siswa tetap bersemangat untuk bersekolah. Setiap hari peserta didik untuk berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki hingga dua kilometer setiap hari untuk bisa bersekolah.
Saat pandemi Covid-19 pembelajaran sekolah dipindahkan secara daring, namun sekolah ini mengalami kesulitan saat pandemi Covid-19 karena tidak adanya akses internet. Oleh karena itu, pihak sekolah tetap melaksanakan sekolah secara tatap muka. Di dalam video juga Pihak sekolah dan masyarakat setempat berharap agar pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap kondisi sekolah ini.
Dapat disimpulkan bahwa masih banyak daerah daerah terpencil yang belum dapat perhatian dari pemerintah. Sepertinya halnya internet, kualitas dalam pendidikan, insfratruktur jalan, dan kendaraan. Harapannya pemerintah dapat segera membuka mata terkhusus untuk dunia pendidikan yang merupakan pokok penting dalam kualitas anak bangsa.
NPM: 2213053112
Kelas: 3G
Analisis Video yang Berjudul “Potret Pendidikan di Dusun Terpencil”.
Hasil Analisis:
Dalam video tersebut menggambarkan suatu Kondisi sekolah yang tidak memadai untuk melaksanakan pembelajaran. Sekolah yang terletak di dusun terpencil ini sangat membutuhkan perhatian khusus dari pemerintah. Dalam proses pembelajaran terpaksa menggunakan teras sebagai ruang kelas karena keterbatasan ruangan. Di sekolah tersebut hanya memiliki enam ruangan, dengan lima di antaranya digunakan sebagai ruang kelas, dan satu sebagai ruang guru, bahkan tidak memiliki perpustakaan sekolah. Keterbatasan ruang kelas memaksa sebagian siswa belajar di luar, bahkan di bawah pohon. Dengan begitu keadaannya siswa tetap bersemangat untuk bersekolah. Setiap hari peserta didik untuk berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki hingga dua kilometer setiap hari untuk bisa bersekolah.
Saat pandemi Covid-19 pembelajaran sekolah dipindahkan secara daring, namun sekolah ini mengalami kesulitan saat pandemi Covid-19 karena tidak adanya akses internet. Oleh karena itu, pihak sekolah tetap melaksanakan sekolah secara tatap muka. Di dalam video juga Pihak sekolah dan masyarakat setempat berharap agar pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap kondisi sekolah ini.
Dapat disimpulkan bahwa masih banyak daerah daerah terpencil yang belum dapat perhatian dari pemerintah. Sepertinya halnya internet, kualitas dalam pendidikan, insfratruktur jalan, dan kendaraan. Harapannya pemerintah dapat segera membuka mata terkhusus untuk dunia pendidikan yang merupakan pokok penting dalam kualitas anak bangsa.