Posts made by ADELIA SHINTIA NINGRUM

Nama : Adelia Shintia Ningrum
NPM : 2213053192
Kelas : 3H

Pada beberapa tahun terakhir marak terjadi kekerasan disekolah. Sekolah merupakan lingkungan yang seharusnya menjadi tempat kedua anak-anak bisa mendapatkan pendidikan juga perlindungan serta tempat untuk menuntut ilmu, justru malah menjadi tempat kekerasan yang menyebabkan korban jiwa.

Seperti beberapa contoh dibawah ini :
1. September 2015
Seorang siswa kelas 2 SD meninggal dunia karena berkelahi dengan teman sekelasnya.
Terjadi di SD Negeri Kebayoran Lama, Jakarta. Dugaan karena perkelahian mulut.

2.Agustus 2017
Siswa kelas 2 SD meninggal dunia setelah berkelahi di halaman sekolah.
Terjadi di Sukabumi, Jawa Barat.
Dugaan nya karena siswa dirudung dan dilempari minuman beku.

3. November 2017
Duel antara 2 siswa SD kelas 5 pada saat perlombaan senam hari guru.
Terjadi di SD Negeri Kab. Bandung.
Dugaan pelaku terganggu korban menyalakan motor bising.

Beberapa contoh diatas dapat terjadi karena mulai lunturnya nilai moral yang ada dilingkungan sekolah dan juga karena kurangnya pengawasan dari pendidik dilingkungan sekolah, namun yang tidak kalah penting adalah kurangnya pengawasan orangtua terkait dengan aktivitas anak yang bersinggungan dengan kemajuan teknologi seperti gawai karena anak bisa mendapatkan pesan-pesan di media sosial atau mungkin informasi-informasi yang belum belum harusnya mereka terima, yang kemudian dipahami, dicontoh, dan dilakukan oleh anak padahal notabene anak - anak tersebut masih dibawah umur.
Nama : Adelia Shintia Ningrum
NPM : 2213053192
Kelas : 3H

The Trolley Problem
Philippa Foot tahun 1967 mengajukan sebuah eksperimen yang kemudian dikenal sebagai trolley problem eksperimental yang membuat kita berpikir lebih jauh tentang konsekuensi dari sebuah pilihan apakah itu dibuat berdasarkan nilai moral tertentu atau lebih kepada hasil akhirnya dan bagaimana kita mengekspresikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Study kasus 1 :
Seseorang berada pada sebuah kereta melaju lurus pada lintasan dimana ada 5 orang terikat pada rel dan tidak bisa bergerak, sedangkan terdapat cabang perlintasan yang hanya ada 1 orang terikat pada rel dan tidak bisa bergerak
Terdapat pilihan menarik tuas untuk membelokkan kereta tetapi mengorbankan 1 orang atau membiarkan kereta melaju dan mengorbankan 5 orang
Sebanyak 90% orang menjawab mereka akan membuat kereta berbelok pada cabang perlintasan sehingga hanya akan ada 1 orang terbunuh daripada mengorbankan 5 orang terbunuh.

Study kasus 2 :
Sebuah kereta melaju lurus pada lintasan dimana ada 5 orang terikat pada rel dan tidak bisa bergerak, sedangkan seseorang berada diatas jembatan yang berada diatas rel dengan seseorang bertubuh besar.
Terdapat pilihan jika mengorbankan seseorang bertubuh besar dengan mendorongnya agar dapat menghentikan kereta dan menyelamatkan 5 orang yang terikat direl, atau tidak melakukan apapun dan membiarkan 5 orang yang terikat direl terbunuh.
Sebanyak 90% orang menjawab mereka akan memilih untuk tidak mendorong sehingga mengakibatkan 5 orang tewas karena tertabrak kereta.
Banyak alasan yang diberikan yang paling banyak adalah karena pada kasus kedua ini terjadi perbuatan aktif yaitu mendorong orang tapi mereka lupa jika menarik tuas untuk membelokkan kereta juga merupakan perbuatan aktif.

Study kasus 1 dengan mengubah variabel
Jika dihadapkan pada posisi seperti Study kasus 1 namun diubah vaiabelnya menjadi seperti ini :
Seseorang berada pada sebuah kereta melaju lurus pada lintasan dimana ada 5 orang terikat pada rel dan tidak bisa bergerak, sedangkan terdapat cabang perlintasan yang hanya ada 1 orang terikat pada rel dan tidak bisa bergerak
Terdapat pilihan menarik tuas untuk membelokkan kereta tetapi mengorbankan 1 orang atau membiarkan kereta melaju dan mengorbankan 5 orang
Namun ternyata 1 orang yang terikat pada rel di cabang perlintasan adalah keluarganya.
Dapat dipastikan pada study kasus tersebut lebih banyak yang memilih mengorbankan 5 orang daripada harus mengorbankan 1 orang yang merupakan keluarganya.

Dari sini dapat kita lihat bahwa moral masih menjadi dilema dengan banyak pembenaran belaka yang dilakukan, ditambah dengan kita yang kerap mendengarkan doktrin bahwa memang harus selalu ada yang dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar maka tak heran jika kemudian moral sering digunakan sebagai alat oleh penguasa dan segelintir orang untuk membenarkan perang, memberangus etnis tertentu, genocide, diskriminasi minoritas, pengrusakan lingkungan, industrialisasi dan lain sebagainya hanya dengan alasan demi perdamaian dunia, demi kepentingan umum, demi kelompok yang lebih besar, demi masa depan yang lebih cerah atau karena 90% orang berpikir bahwa tidak masalah mengorbankan yang sedikit untuk yang lebih besar, lantas semua itu seolah menjadi benar dan lebih bermoral. Padahal pada kenyataan nya moral sering dimanfaatkan oleh pihak tertentu atau bahkan diri kita sendiri untuk menyakiti orang lain.

Dalam konteks berpikir mengorbankan sedikit untuk yang lebih banyak mungkin itu menjadi pilihan yang lebih bermoral tapi coba bayangkan jika kita berada di sisi yang berbeda, kita adalah minoritas bukan yang mayoritas, kita adalah korban bukan pemenang perang, apakah kita masih berpikir jika itu jadi pilihan yang lebih bermoral dari sinilah kita diberitahu bahwa moralitas yang terlalu sering jadi alat kebenaran saat kita berada di posisi yang diuntungkan atau yang memiliki kepentingan, sebab pada akhirnya moralitas ternyata hanyalah soal egoisme manusia dengan kepentingan dirinya atau kelompoknya sendiri.