Posts made by Mesri Rahayu 2213053250

NAMA: MESRI RAHAYU

NPM: 2213053250

KELAS: 3H

Dari Video yang telah saya identifikasi sebelumnya, saya dapat menarik kesimpulan bahwasanya, Moralitas dapat menjadi dilema. Dilema ini dapat dilihat pada contoh dalam video yang telah di tonton sebelumnya. Dalam video tersebut, terdapat perbedaan tindakan antara case 1 dan juga case 2, yang dimana tindakannya dilakukan secara langsung dan tidak langsung.

Pada case 1, dapat dilihat bahwa lebih baik menyelamatkan 5 orang daripada 1 orang, karena dalam case 1, tindakan yang dilakukan tidak langsung. Dikarenakan ada perantara antara keduanya, yaitu menarik tuas pada kereta. Sedangkan, pada case 2 lebih memilih menyelamatkan 1 orang daripada 5 orang. Hal ini dikarenakan, tindakan mendorong orang gendut dari jembatan agar kereta berhenti adalah tindakan secara langsung atau aktif. Yang dimana tindakan mendorong orang gendut itu adalah keterlibatan langsung, tanpa adanya perantara seperti kereta tadi.

Jadi dapat disimpulkan bahwasanya, moralitas hanyalah soal egoisme manusia. Yang dimana hanya mementingkan kepentingan dirinya sendiri atau kelompoknya sendiri.

NAMA: MESRI RAHAYU

NPM: 2213053250

IDENTITAS JURNAL

Nama Jurnal : Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan

Nomor : 3

Volume : 9

Halaman : 710-724

Tahun Terbit : 2021

Judul : PENDIDIKAN NILAI DAN MORAL DALAM SISTEM KURIKULUM PENDIDIKAN DI ACEH

Nama Penulis : Iwan Fajri, Rahmat, Dadang Sundawa, Mohd Zailani Mohd Yusof.

Penyelenggara proses pendidikan di Aceh, lebih istimewa dibandingkan dengan daerah lainnya. Proses pendidikan di Aceh dikembangkan berdasarkan karakteristik adat istiadat masyarakat Aceh. Yang dimana termuat dalam Qanum terbaru, yaitu Qanum Aceh No. 9 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Islam di Aceh. Berdasarkan Qanum tersebut, sistem pendidikan di Aceh diselenggarakan secara Islami, ini merupakan bentuk komitmen Pemda Aceh dalam mendukung pelaksanaan syariat Islam di Aceh.

Proses pendidikan di sekolah harus diarahkan pada pembentukan nilai-nilai kebaikan siswa. Pembentukan nilai-nilai yang baik dapat mengarah pada kohesi siswa, iklim terbuka, komunikasi yang jujur, penguatan hubungan, seni mendengarkan, kepercayaan, bersikap positif kepada teman, ekspresi dan sentimen emosional, dan pertumbuhan harga diri (Sankar, 2004). Oleh karena itu, penanaman nilai-nilai moral islam dalam kehidupan sekolah, keluarga dan lingkungan masyarakat. Sehingga nilai-nilai islam tersebut menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari (Praja et al., 2020). Dalam konteks pendidikan nilai-nilai keislaman tercermin dalam visi, misi, tujuan dan kurikulum sekolah (Mulyadi et al., 2019). 

Penyelenggaraan Pendidikan Islami di Aceh adalah sebagai upaya untuk mengembangkan seluruh aspek kepribadian peserta didik dalam rangka mewujudkan masyarakat Aceh yang berperadaban dan bermartabat. Namun, dibalik itu, banyak sekolah-sekolah di Aceh yang merasa bahwa kurikulum Islam terlalu tergesa-gesa untuk diterapkan. Dikarenakan banyak sekolah dengan kurikulum Islam hanya diartikan sekedar wacana tanpa aksi nyata. Hal ini disebabkan belum diperbolehkannya gambaran secara nyata bagaimana proses belajar dan mengajar dalam kurikulum Islam yang diinginkan oleh dinas pendidikan di Aceh. Namun, apabila dilihat lebih dalam Islam berupaya memadukan semua aspek kehidupan materialistis atau spiritual, dan berupaya membangun tujuan individu sejalan dengan tujuan masyarakat dan menyerukan kepada semua untuk mengintegrasikan perkataan dengan perbuatan, serta menyeimbangkan antara kebutuhan manusia dalam kehidupan ini dan keinginannya dalam kehidupan. kehidupan lain. Menurut Alavi (2007), Islam menjadikan sisi moral sebagai tolak ukur perbuatan baik, dan sisi utama dalam nilai adalah tujuan utama dakwah Islam.

NAMA: MESRI RAHAYU

NPM: 2213053250

Berdasarkan jurnal yang berjudul "PENTING NYA PENDIDIKAN NILAI DI ERA GLOBALISASI" bersama kita ketahui bahwa Nilai merupakan sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang memiliki nilai estetika, yang sangat berguna untuk menyadarkan manusia akan harkat dan martabatnya. Nilai sendiri memiliki fungsi sebagai pendorong dan pengaruh sikap dan berperilaku seseorang. Nilai memiliki 4 golongan: 

  1. Nilai Religius
  2. Nilai Kejiwaan
  3. Nilai Kehidupan
  4. Nilai kenikmatan

Keempat nilai tersebut tersusun secara berurutan, yang dimana nilai yang memiliki tingkatan paling tinggi adalah nilai yang harus diutamakan dalam penerapan nya.

Globalisasi adalah suatu hal yang tidak dapat dihindari keberadaan nya pada saat ini, globalisasi memiliki banyak pengaruh dalam era sekarang, baik pengaruh positif ataupun pengaruh negatif. Apabila dikaitkan dengan Nilai, Globalisasi banyak menimbulkan pengaruh negatif, antaranya adalah.

  1. Hilang nya rasa cinta pada produk dalam negri
  2. Banyak generasi muda yang meniru adat istiadat negara luar, sehingga lupa akan jati dirinya sebagai warga negara Indonesia.
  3. Kesenjangan sosial yang amat sangat terasa, antara yang kaya dan yang miskin.
  4. Hilangnya rasa empati terhadap sesama manusia, sehingga menimbulkan sifat individualisme.

Pendidikan Moral amat sangat penting diajarkan sejak dini kepada anak anak. Karena pribadi yang bermoral adalah kemampuan untuk mengelola hidupnya sesuai dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Tujuan nya adalah, agar anak tidak hanya mengetahui konsep dasar mengenai nilai dan moral, tetapi mereka dapat menerapkan nya dalam kehidupan sehari-hari dan kehidupan bermasyarakat. Penerapan pendidikan nilai dan moral agar efektif:

  1. Persiapan penataan batin dan hati.
  2. Integrasi pemusatan perhatian
  3. Penerapan dan terjadi nya perubahan
  4. Terwujudnya nilai dalam bentuk yang konkrit.

NAMA: MESRI RAHAYU

NPM: 2213053250

KELAS: 3H

Dalam jurnal yang berjudul "MEMBINA NILAI MORAL SOSIAL BUDAYA INDONESIA DI KALANGAN REMAJA" dapat disimpulkan bahwa Pembentukan nilai moral dan sosial budaya Indonesia di kalangan remaja, bukan semata-mata tanggung jawab orang tua saja. Melainkan pemerintah juga ikut andil dalam pembentukan karakter bagi remaja. Nursid S. (2008, 31) menyatakan tentang orang tua sebagai pendidik berhadapan dengan kelompok sosial pertama dan terutama yang dikenal oleh anak-anak untuk meletakkan dasar-dasar pendidikan pada diri si bayi. Keluarga sebagai primary group tempat pembentukan kepribadian yang sangat penting. Selain itu, Lingkungan masyarakat juga Berperan sangat penting dalam pembentukan nilai dan moral untuk membentuk jati diri generasi muda. Upaya yang dapat dilakukan untuk pembentukan nilai dan moral ini, dapat berupa didikan, melatih dan juga mengajari. 

McDougall menekankan pentingnya faktor personal dalam menentukan interaksi sosial dalam membentuk perilaku individu. Menurutnya, faktor-faktor personallah yang menentukan perilaku manusia. Menurut Edward E. Sampson, terdapat perspektf yang berpusat pada persona dan perspektif yang berpusat pada situasi. Perspektif yang berpusat pada personal mempertanyakan faktor-faktor internal, apakah baik berupa instik, motif, kepribadian, sistem kognitif yang menjelaskan perilaku manusia Aspek personal meliputi 2 hal, yaitu:

  1. Aspek Biologis
  2. Aspek Sosiopsikologis

Jati diri menurut Prof. Nursid. S., (2005, 151) jatidiri berarti jadilah diri sendiri yang berakhlakul karimah, beretos kerja tinggi dan cerdas menghadapi kehidupan hari ini, mendatang mulai dari lingkungan keluarga, masyarakat baik lokal, nasional, regional dan dunia. Upaya internalisasi nilai-nilai Pancasila perlu dilakukan sejak usia dini, yang dimulai dari kelompok primer yaitu lingkungan keluarga, sampai dengan lingkungan yang lebih luas/kelompok sekunder yaitu lingkungan tetangga, teman sebaya (peer group), lembaga pendidikan formal dan pendidikan non formal.

NAMA: MESRI RAHAYU

NPM: 2213053250

KELAS: 3H

Berdasarkan Pancasila, nilai-nilai yang harus kita teladani dalam kehidupan sehari-hari, yaitu meliputi:

  1. Nilai ketuhanan
  2. Nilai kemanusiaan
  3. Nilai Persatuan
  4. Nilai kerakyatan
  5. Nilai Keadilan

Ke-5 nilai tersebut harus diterapkan secara berdampingan dalam kehidupan sehari-hari. Dikarenakan nilai-nilai tersebut adalah teladan atau pedoman bagi setiap warga negara. Hal tersebut ditujukan agar kita dapat hidup dalam toleransi dan tetap menjunjung nilai-nilai persatuan.


Menurut saya, agar seseorang dapat meneladani dan menerapkan nilai-nilai Pancasila tersebut dapat di mulai melalui kebiasaan-kebiasaan kecil. seperti, bertegur sapa, saling menghargai, saling menghormati antar sesama manusia. Hal tersebut lama-kelamaan akan menjadikan seseorang tersebut terbiasa dan dapat menerapkan nilai-nilai lain yang terkandung dalam Pancasila. Selain dari kebiasaan, faktor eksternal juga sangat mempengaruhi. Peran lingkungan masyarakat ataupun lingkungan keluarga menjadi faktor pendorong dalam penerapan nilai-nilai Pancasila ini. Apabila dalam lingkungan tersebut sudah terbiasa menerapkan nilai-nilai tersebut, maka besar dampaknya untuk seseorang ini dapat menerapkan nilai-nilai Pancasila tadi dalam kehidupan sehari-hari nya.