Kiriman dibuat oleh DEVI KELANA RINDU BINTARA 2213053095

Nama : Devi Kelana Rindu Bintara
NPM: 2213053095


Metode pembelajaran yang tepat bagi peserta didik SD dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) haruslah memperhatikan karakteristik anak usia sekolah dasar, tujuan pembelajaran PKN, serta kurikulum yang digunakan. Kurikulum 2013 (Kurtilas) merupakan kurikulum yang saat ini diterapkan di Indonesia, termasuk untuk mata pelajaran PKN di tingkat SD.

Pemilihan metode pembelajaran yang tepat sangat penting dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran PKN di SD. Metode pembelajaran yang tepat akan membantu peserta didik untuk lebih mudah memahami materi, mengembangkan keterampilan sosial, dan meningkatkan pemahaman tentang nilai-nilai kebangsaan dan demokrasi.

Beberapa Metode Pembelajaran yang Tepat untuk Peserta Didik SD dalam Pembelajaran PKN

Pembelajaran Kooperatif: Metode ini melibatkan kerja sama antar peserta didik dalam kelompok-kelompok kecil. Dalam konteks PKN, metode ini dapat membantu peserta didik untuk belajar bekerjasama, menghargai pendapat orang lain, dan memahami pentingnya partisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Simulasi: Melalui simulasi, peserta didik dapat lebih mudah memahami konsep-konsep abstrak dalam PKN dengan cara yang lebih konkret. Misalnya, dengan mensimulasikan pemilihan umum di kelas, peserta didik dapat belajar tentang proses demokrasi secara langsung.

Diskusi Kelompok: Diskusi kelompok merupakan metode yang efektif untuk mendorong peserta didik SD berpartisipasi aktif dalam pembelajaran PKN. Dalam diskusi kelompok, peserta didik dapat saling bertukar pendapat, belajar dari sudut pandang orang lain, dan mengembangkan kemampuan berargumentasi.


Dalam konteks pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di tingkat SD sesuai dengan Kurikulum 2013, pemilihan metode pembelajaran yang tepat sangat penting untuk mencapai tujuan pembelajaran. Metode seperti pembelajaran kooperatif, simulasi, dan diskusi kelompok dapat menjadi pilihan yang efektif untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai kebangsaan dan demokrasi.
Nama: Devi Kelana Rindu Bintara
NPM: 2213053095
Kelas: 3G

Cara menanamkan nilai dan moral di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:

- Di lingkungan keluarga, orang tua atau wali memiliki peran utama dalam memberikan pendidikan nilai dan moral kepada anak-anak. Orang tua atau wali harus menjadi contoh dan teladan yang baik bagi anak-anak, dengan menunjukkan perilaku dan sikap yang sesuai dengan nilai dan moral yang ingin ditanamkan. Orang tua atau wali juga harus mengajarkan dan mengingatkan anak-anak tentang nilai dan moral yang penting, seperti menghormati orang tua, bersyukur, jujur, bertanggung jawab, toleran, dan lain-lain.

- Di lingkungan sekolah, guru dan tenaga pendidik lainnya juga memiliki peran penting dalam memberikan pendidikan nilai dan moral kepada siswa. Guru dan tenaga pendidik lainnya harus menjadi contoh dan teladan yang baik bagi siswa, dengan menunjukkan perilaku dan sikap yang sesuai dengan nilai dan moral yang ingin ditanamkan. Guru dan tenaga pendidik lainnya juga harus mengintegrasikan nilai dan moral dalam proses pembelajaran, baik melalui kurikulum, metode, media, maupun evaluasi. Guru dan tenaga pendidik lainnya juga harus memberikan pengawasan, bimbingan, dan koreksi jika siswa melakukan kesalahan atau menyimpang dari nilai dan moral yang diajarkan. Guru dan tenaga pendidik lainnya juga harus memberikan pujian, penghargaan, dan motivasi jika siswa menunjukkan perilaku dan sikap yang baik sesuai dengan nilai dan moral yang diharapkan.

- Di lingkungan masyarakat, tokoh dan anggota masyarakat juga memiliki peran dalam memberikan pendidikan nilai dan moral kepada anak-anak. Tokoh dan anggota masyarakat harus menjadi contoh dan teladan yang baik bagi anak-anak, dengan menunjukkan perilaku dan sikap yang sesuai dengan nilai dan moral yang ingin ditanamkan. Tokoh dan anggota masyarakat juga harus memberikan dukungan, fasilitas, dan lingkungan yang kondusif bagi pendidikan nilai dan moral yang dilakukan oleh keluarga dan sekolah. Tokoh dan anggota masyarakat juga harus memberikan pengawasan, bimbingan, dan koreksi jika anak-anak melakukan kesalahan atau menyimpang dari nilai dan moral yang diajarkan. Tokoh dan anggota masyarakat juga harus memberikan pujian, penghargaan, dan motivasi jika anak-anak menunjukkan perilaku dan sikap yang baik sesuai dengan nilai dan moral yang diharapkan.

Hambatan-hambatan yang dapat mengganggu proses penanaman nilai dan moral di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat antara lain:

- Kurangnya kesadaran, komitmen, dan konsistensi dari orang tua, guru, tenaga pendidik, tokoh dan anggota masyarakat dalam memberikan pendidikan nilai dan moral kepada anak-anak. Hal ini dapat menyebabkan anak-anak tidak mendapatkan contoh dan teladan yang baik, tidak mendapatkan pengajaran dan pengingatan yang cukup, tidak mendapatkan pengawasan dan koreksi yang tepat, dan tidak mendapatkan pujian dan penghargaan yang layak.
- Kurangnya koordinasi, komunikasi, dan kerjasama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam memberikan pendidikan nilai dan moral kepada anak-anak. Hal ini dapat menyebabkan anak-anak tidak mendapatkan pendidikan nilai dan moral yang terpadu, tidak mendapatkan dukungan dan fasilitas yang memadai, tidak mendapatkan lingkungan yang kondusif, dan tidak mendapatkan motivasi yang optimal.
- Adanya pengaruh negatif dari lingkungan luar, seperti media massa, internet, pergaulan, dan budaya populer yang tidak sesuai dengan nilai dan moral yang ingin ditanamkan. Hal ini dapat menyebabkan anak-anak terpapar dan terpengaruh oleh perilaku dan sikap yang menyimpang, tidak sesuai, atau bahkan bertentangan dengan nilai dan moral yang diajarkan.

Trik atau strategi yang dapat digunakan untuk memastikan penanaman nilai dan moral di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat dapat menjadi kebiasaan dan dilakukan secara terus menerus oleh anak-anak antara lain:

- Meningkatkan kesadaran, komitmen, dan konsistensi dari orang tua, guru, tenaga pendidik, tokoh dan anggota masyarakat dalam memberikan pendidikan nilai dan moral kepada anak-anak. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memberikan pemahaman, penyadaran, dan edukasi tentang pentingnya nilai dan moral bagi perkembangan dan masa depan anak-anak, serta memberikan sanksi dan reward bagi mereka yang melaksanakan atau tidak melaksanakan pendidikan nilai dan moral dengan baik.
- Meningkatkan koordinasi, komunikasi, dan kerjasama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam memberikan pendidikan nilai dan moral kepada anak-anak. Hal ini dapat dilakukan dengan cara membuat forum, rapat, diskusi, atau pertemuan rutin antara pihak-pihak yang terkait, membuat perencanaan, program, dan kegiatan bersama yang terkait dengan pendidikan nilai dan moral, serta membuat evaluasi, monitoring, dan pelaporan bersama tentang pelaksanaan dan hasil pendidikan nilai dan moral.
- Mencegah dan mengatasi pengaruh negatif dari lingkungan luar, seperti media massa, internet, pergaulan, dan budaya populer yang tidak sesuai dengan nilai dan moral yang ingin ditanamkan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memberikan filter, sensor, dan kontrol terhadap akses dan konsumsi anak-anak terhadap media massa, internet, pergaulan, dan budaya populer yang negatif, memberikan bimbingan, konseling, dan nasehat kepada anak-anak yang terpapar dan terpengaruh oleh media massa, internet, pergaulan, dan budaya populer yang negatif, serta memberikan alternatif, pilihan, dan solusi kepada anak-anak yang mengalami kesulitan, konflik, atau masalah akibat media massa, internet, pergaulan, dan budaya populer yang negatif.
Nama : Devi Kelana Rindu Bintara
NPM : 2213053095
Kelas : 3G

Analisis jurnal 2

A) Identitas Jurnal
Judul : Pengaruh pengetahuan moral Terhadap perilaku moral Pada siswa SMP Negeri Kota Pekanbaru berdasarkan pendidikan orang tua
Penulis : Ilham Hadi
Tahun : 2017
Nomor :1
Volume : 2
Halaman : 30-44
Nama Jurnal : Jurnal Moral Kemasyarakatan
Kata Kunci : Pengetahuan Moral, Perilaku Moral, Pendidikan Orang Tua.

B.) Hasil Analisis
Ada banyak faktor yang berkontribusi mempengaruhi kualitas moral di kalangan siswa. Salah satu faktor tersebut; adalah keteladanan dari guru, orangtua, dan masyarakat. Keteladanan ini dalam alam Indonesia dianggap langka. Di sekolah siswa memerlukan institusi dan sesi formal untuk mendapatkan pengetahuan moral (moral knowing), untuk menghargai nilai-nilai murni (moral feeling) dan untuk melaksanakan moral (moral action) yang baik.

Terdapat Enam pengetahuan moral berikut diharapkan dapat menjadi tujuan pendidikan karakter.
1. Kesadaran Moral (Moral Awareness)
2.. Mengetahui Nilai-Nilai Moral (Moral Values)
3. Pengambilan Perspektif(Perspektive Taking)
4. Penalaran Moral (Moral Reasoning)
5. Membuat Keputusan (Decision Making)
6. Memahami Diri Sendiri (Self Knowledge)

Pelaksanaan pendidikan karakter (moral-budi pekerti) tidak berdiri sendiri dan berproses dalam satu institusi besar. Perlu juga disadari bahwa pembinaan imtaq dan pembudayaan pada dasarnya meliputi pembinaan terhadap keyakinan, sikap, budi pekerti, dan nilai-nilai luhur budaya bangsa.