གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Annida Dwi Kirasti 2213053220

Nama : Annida Dwi Kirasti
NPM : 2213053220
Kelas : 3F

PENDIDIKAN NILAI DAN MORAL DALAM SISTEM KURIKULUM
PENDIDIKAN DI ACEH

Dalam jurnal tersebut dijelaskan tentang konsep dan kontekstual pendidikan nilai dan moral dalam sistem pendidikan kurikulum di Aceh. Penyelenggaraan pendidikan Islam berpedoman pada ketentuan Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2015 perubahan atas Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan, dan Pasal 1 ayat 21 adalah pendidikan yang didasarkan atau dijiwai dengan ajaran Islam. Selain itu, kurikulum pendidikan islam harus memuat mata pelajaran yang dibedakan menjadi 2 yaitu:
Mata Pelajaran Inti dan Mata pelajaran muatan lokal.

Prinsip penyelenggaraan pendidikan di Aceh juga didasarkan pada transparansi, akuntabilitas, demokrasi, dan pendekatan keteladanan yang juga disesuaikan dengan perkembangan teknologi dan era revolusi industri 4.0. Penerapan syariah Islam di Provinsi Aceh juga mengatur berbagai konteks yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Aceh diantaranya pendidikan politik, hukum, sosial, dan Islam di Aceh. Bukan hanya itu adanya Integrasi budaya Islam di Aceh dalam manajemen sekolah juga bertujuan untuk membentuk pola perilaku warga sekolah, Guru, tenaga administrasi, dan siswa yang relevan dengan hukum Islam. Selanjutnya penyelenggaraan Pendidikan Islami di Aceh merupakan upaya untuk mengembangkan seluruh aspek kepribadian peserta didik dalam rangka mewujudkan masyarakat Aceh yang berperadaban dan bermartabat. Secara singkat, penerapan pendidikan nilai dan moral dalam pendidikan di Aceh melalui kurikulum islami sesuai dengan yang diamanatkan oleh qanun Aceh tentang pendidikan.
Nama : Annida Dwi Kirasti
NPM : 2213053220
Kelas : 3F

Pentingnya Pendidikan Nilai di Era Globalisasi

Dalam jurnal tersebut dijelaskan bahwa nilai adalah sesuatu yang berharga, sesuatu yang Indah, sesuatu yang berguna, sesuatu yang memperkaya batin dan sesuatu yang menyadarkan manusia akan Harkat dan martabat nya. Nilai berfungsi untuk mendorong dan mengarahkan sikap serta perilaku. Secara hierakris ada empat kelompok nilai yaitu nilai kerohanian, nilai kejiwaan, nilai kehidupan dan nilai kenikmatan. empat nilai itu harus disusun secara benar sehingga bangunan keseluruhan nilai menjadi kokoh dan seimbang. Dalam jurnal tersebut dijelaskan bahwa pendidikan nilai adalah bagian integral dalam kegiatan pendidikan karena pendidikan nilai melibatkan pembentukan sikap dan kepribadian peserta didik.

Selain yang sudah dipaparkan dalam jurnal tersebut juga dijelaskan tentang dampak dari Globalisasi terhadap nilai nilai dan moral. Dengan adanya proses Globalisasi maka berlangsung dua dimensi ruang dan waktu dimensi ruang yang semakin menyempit dan dimensi waktu yang makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada sekala dunia. Globalisasi memiliki pengaruh dalam semua aspek kehidupan seperti aspek politik, ekonomi sosial, budaya dan sebagainya. Dalam perkembangnya globalisasi memiliki pengaruh positif dan pengaruh negatif. Untuk itu nilai nilai moral yang dibangun dengan susah payah dan melalui proses lama dan panjang ini didasarkan agar peserta didik tidak mudah terpengaruh oleh budaya luar. Untuk itu sebagai peserta didik kita harus mempraktikkan pembelajaran yang menjunjung nilai-nilai moral yang akan memiliki dampak positif terhadap karakter generasi muda saat ini.
Nama : Annida Dwi Kirasti
NPM : 2213053220
Kelas : 3F

PERKEMBANGAN MORAL SISWA SEKOLAH DASAR BERDASARKAN TEORI KOHLBERG

Teori Kohlberg dikenal sebagai teori yang mengukur tingkatan moral seseorang. Dalam jurnal tersebut dijelaskan bahwa untuk menemukan tahap kepatutan moral seseorang, Kohlberg telah menyusun instrumen penelitian guna menggolongkan proses penalaran orang tersebut dalam mengatasi dilema moral. Bukan hanya hal itu Kohlberg tidak memusatkan perhatian pada tingkah laku moral, artinya apa yang dilakukan oleh seorang indivdu tidak menjadi pusat pengamatannya. Mengamati tingkah laku tidak menunjukan banyak mengenai kematangan moral. Menurut penelitian Kohlberg menunjukan bahwa bila penalaran-penalaran yang diajukan oleh seseorang mengapa ia mempunyai pertimbangan moral tertentu atau melakukan tindakan tertentu diperhatikan, maka akan tampak jelas adanya perbedaan-perbedaan yang berarti dalam pendangan moral orang tersebut.

Jurnal tersebut juga menjelaskan bahwa perkembangan Moral menurut teori Kohlberg dibagi menjadi 3 level, yang masing-masing level dibagi menjadi beberapa tahap sebagai berikut: Level 1. Moralitas Prakonvensional, level 2. Moralitas Konvensional, dan level 3. Moralitas Pasca-konvensional. Dari teori perkembangan moral Kohlberg, anak-anak usia 11-12 tahun memang masih berada pada tahap pra konvensional tahap 1⁄2 yang dominan diikuti tahap 2 dan 2/3, yang cenderung ingin melakukan sesuatu karena takut dihukum.
Nama : Annida Dwi Kirasti
NPM : 2213053220
Kelas : 3F

PENDIDIKAN NILAI MORAL DITINJAU DARI PERSPEKTIF GLOBAL

Dari jurnal diatas dijelaskan tentang isu pendidikan nilai moral yang terjadi di empat negara, yaitu Indonesia, India, Malaysia dan Cina.

- Indonesia
Di dalam jurnal tersebut dijelaskan bahwa pendidikan nilai di Indonesia masih dikatakan belum banyak menyentuh pemberdayaan dan pencerahan kesadaran dalam perspektif global. Hal ini karena pendidikan masih terpaku pada kurikulum nasional dan lokal yang belum pernah tuntas.
- India
Pendidikan nilai di India tampak lebih populer dibandingkan dengan di negara lain. Dalam pendidikan nasional India, pendidikan nilai dikembangkan sebagai usaha untuk meningkatkan kesadaran nilai ilmiah, sosial, dan kewarganegaraan yang tidak secara khusus dikembangkan melalui satu sudut pandangan agama. Adapun ruang lingkup pendidikan nilai meliputi pendekatan dan metodologi pendidikan nilai pada tingkat dasar dan menengah, tingkat dasar program lebih dititik beratkan pada pengindentikasian nilai-nilai yang perlu ditanamkan kepada siswa dengan strategi dan teknik yang tepat, pengembangan konseling melalui pendekatan agama, dan program pengembangan afektif bagi para instruktur pelatihan guru.
- Malaysia
Pendidikan nilai di malaysia dilaksanakan secara langsung dan tidak langsung. Meskipun pendidikan nilai di Malaysia cukup konsisten dalam mengembangkan nilai, moral, norma, etika, estetika melalui pendidikan formal, akan tetapi sistem pendidikan di Malaysia masih dihadapkan pada beberapa kendala.
- Cina
Dalam tradisi Cina, pendidikan memiliki hubungan erat dengan kewajiban moral. Walaupun se- kolah memilki tanggung jawab yang besar dalam mengembangkan kepribadian siswa, hal itu kurang didukung oleh kerjasama yang erat antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Dari pemaparan isu tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan nilai memiliki persamaan dan perbedaan. Pendidikan nilai moral pada jenjang pendidikan tersebut selalu berkaitan dengan nilai tata kepribadian diri dan tata hidup berbangsa dan bernegara.

Selain itu juga dijelaskan bahwa Pendidikan nilai moral adalah pen- didikan yang berusaha mengembangkan komponen-komponen integrasi pribadi. Pendidikan nilai moral merupakan alternatif pemecahan masalah yang bersifat lokal, regional, nasional, dan internasional.
Nama : Annida Dwi Kirasti
NPM : 2213053220
Kelas : 3F

Degradasi moral pelajar zaman modern adalah fenomena di mana nilai-nilai moral tradisional cenderung terkikis atau terdegradasi dalam perilaku dan tindakan pelajar pada era kontemporer. Degradasi moral pelajar zaman modern sering dibicarakan dalam konteks pendidikan dan perkembangan sosial saat ini. Hal ini dapat diakibatkan oleh berbagai faktor dan dapat tercermin dalam berbagai perilaku yang dianggap tidak etis atau tidak sesuai dengan nilai-nilai moral yang diharapkan.

Beberapa poin penting menurut pendapat dari Bu Retno (KPAI) yaitu sebagai berikut
a) Moral seorang anak sebenarnya dapat dilihat dari pendidikan pertama ia yaitu pada lingkungan keluarga atau di Rumah.
b) Kemudian di lingkungan sekolah berkaitan mengenai bagaimana pengelolaan kelas yang dilakukan seorang pendidik terutama dalam mengatasi dan menyikapi anak yang bisa dikatakan moralnya sangat rendah.
c) Baik guru dan siswa tidak dibenarkan menyikapi sesuatu dengan kekerasan
Sedangkan menurut Dr. Itje, yakni sebagai berikut.
a) Sebelumnya ia menuturkan bahwa terdapat kompetensi yang ada pada guru yaitu kompetensi kepribadian, sosial, profesional, dan pendagogik.
b) Pembekalan bagi seorang calon pendidik saat ini masih holistik, sehingga harus lebih ditekankan juga pada hal kepribadian dengan memperkenalkan beragam sekolah dan watak siswa sehingga dapat menyikapinya dengan benar.