Nama : Richia Deha Azizah
NPM : 2213053024
Kelas : 3F
Analisis Video 4
Stand Up Comedy - Bagaimana Cara Menjadi Anak Baik?
Penampil memulai monolognya dengan mengungkapkan kebanggaannya terhadap pengalaman pendidikan di Institut Teknologi Nasional Malang meskipun awalnya tidak berhasil masuk ke kampus negeri. Dengan analogi mesin produksi, ia mengilustrasikan perbedaan antara kampus negeri dan swasta.
Kemudian, penampil mengkritisi sistem pendidikan Indonesia, fokus pada permasalahan dalam pendidikan moral. Ia mencermati perubahan nama mata pelajaran PMP menjadi PPKN dan PKN, sambil menyuarakan keraguan terhadap efektivitas pendidikan moral tersebut. Ketidaksesuaian antara kriteria anak baik yang diajarkan dengan realitas kehidupan sehari-hari menjadi sorotan utama.
Penampil menyampaikan perasaannya terkait perubahan kriteria anak baik, termasuk sindiran terhadap kekurangan stok nenek-nenek yang perlu diseburangkan. Di bagian akhir, ia menggambarkan realitas tugas perkuliahan, mencatat kecenderungan mahasiswa yang memilih cara mudah dengan copy-paste, dan menyindir dosen yang memberi nilai hanya dengan pura-pura mengoreksi. Monolog diakhiri dengan aksi teatrikal dan tepuk tangan menggema, memberikan sentuhan humor yang mengesankan.
NPM : 2213053024
Kelas : 3F
Analisis Video 4
Stand Up Comedy - Bagaimana Cara Menjadi Anak Baik?
Penampil memulai monolognya dengan mengungkapkan kebanggaannya terhadap pengalaman pendidikan di Institut Teknologi Nasional Malang meskipun awalnya tidak berhasil masuk ke kampus negeri. Dengan analogi mesin produksi, ia mengilustrasikan perbedaan antara kampus negeri dan swasta.
Kemudian, penampil mengkritisi sistem pendidikan Indonesia, fokus pada permasalahan dalam pendidikan moral. Ia mencermati perubahan nama mata pelajaran PMP menjadi PPKN dan PKN, sambil menyuarakan keraguan terhadap efektivitas pendidikan moral tersebut. Ketidaksesuaian antara kriteria anak baik yang diajarkan dengan realitas kehidupan sehari-hari menjadi sorotan utama.
Penampil menyampaikan perasaannya terkait perubahan kriteria anak baik, termasuk sindiran terhadap kekurangan stok nenek-nenek yang perlu diseburangkan. Di bagian akhir, ia menggambarkan realitas tugas perkuliahan, mencatat kecenderungan mahasiswa yang memilih cara mudah dengan copy-paste, dan menyindir dosen yang memberi nilai hanya dengan pura-pura mengoreksi. Monolog diakhiri dengan aksi teatrikal dan tepuk tangan menggema, memberikan sentuhan humor yang mengesankan.