Posts made by Fadhila Cahya Ningtyas 2213053271

Nama : Fadhila Cahya Ningtyas
Npm : 2213053271
Kelas : 3G

Analisis Jurnal 1
Identitas Jurnal
Judul Jurnal "Penanaman Nilai-Nilai Moral Pada Siswa di SD Negeri Lampeuneurut"
Penulis: Ruslan, Rosma Elly, Nurul Ain
Volume, Nomor dan Halaman: Vol. 01, No. 01, Hal 68-77
Tahun : Agustus 2016
Kata kunci: Penanaman, Nilai-nilai moral.

Abstrak
Abstrak jurnal ini membahas tentang penanaman nilai-nilai moral pada siswa di SD Negeri Lampeuneurut dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif. Penelitian ini melibatkan wawancara dengan 10 orang guru kelas dan observasi non-partisipasi. Temuan dari penelitian ini mencakup guru yang menyisipkan 10 nilai moral ke dalam mata pelajaran mereka, siswa yang umumnya jujur kepada guru, hubungan positif antara siswa, serta praktik memperdalam ilmu agama di sekolah dan tempat pengajian. Penelitian menyimpulkan bahwa penanaman nilai-nilai moral di SD Negeri Lampeuneurut telah berjalan baik, walaupun ada beberapa guru yang belum sepenuhnya paham nilai-nilai yang harus ditanamkan. Dalam keseluruhan, siswa memiliki tingkah laku yang baik berkat penanaman nilai-nilai moral.

A.Pendahuluan jurnal ini membahas tentang pentingnya penanaman nilai-nilai moral di Indonesia, terutama dalam mengatasi kemerosotan moral yang melibatkan kejujuran, kebenaran, dan keadilan. Kemerosotan moral generasi muda menjadi perhatian utama, dan penelitian ini fokus pada penanaman nilai moral sejak dini. Pendidikan moral dianggap sebagai pendekatan utama dalam penanaman nilai moral pada anak. Lingkungan dan individu yang membentuk anak memiliki peran besar dalam pembentukan karakter mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana nilai-nilai moral ditanamkan pada siswa di SD Negeri Lampeuneurut. Penelitian ini merinci bahwa kebanyakan guru di SD Negeri Lampeuneurut belum sepenuhnya menyadari dan menerapkan penanaman nilai-nilai moral, karena mereka tidak memiliki pandangan yang jelas tentang nilai-nilai moral yang harus diajarkan. Hal ini merupakan rumusan masalah dalam penelitian ini. Dalam penanaman nilai-nilai moral, nilai-nilai seperti religiusitas, sosialitas, gender, keadilan, demokrasi, kejujuran, kemandirian, daya juang, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap lingkungan alam dianggap penting. Penanaman nilai-nilai moral diharapkan dapat membentuk generasi muda yang memiliki moral yang baik dan mencegah kemerosotan moral di masa depan.

Metode Penelitian
Jurnal ini menggunakan metode penelitian kualitatif untuk menjelajahi penanaman nilai-nilai moral di SD Negeri Lampeuneurut. Poin penting tentang metode penelitian meliputi pendekatan kualitatif yang memungkinkan pemahaman mendalam, lokasi penelitian yang relevan, pemilihan subjek guru dengan teknik purposive sampling, penggunaan observasi dan wawancara dalam pengumpulan data, serta analisis data kualitatif yang membantu mengorganisasi temuan penelitian. Metode ini memungkinkan pemahaman yang mendalam tentang proses penanaman nilai-nilai moral di sekolah dasar oleh guru.


Hasil dan Pembahasan
Hasil penelitian dan pembahasan dalam jurnal ini membahas penanaman nilai-nilai moral pada siswa di SD Negeri Lampeuneurut. Dalam penelitian ini, ditemukan beberapa aspek penting:

Pertama, guru-guru di sekolah tersebut mendorong siswa untuk mendalami ilmu agama, tidak hanya dalam pelajaran di sekolah, tetapi juga melalui kegiatan di luar seperti pengajian dan TPA. Ini sesuai dengan pentingnya pendidikan agama dalam membentuk moral siswa. Kedua, tingkah laku siswa yang beragam, termasuk perilaku nakal, dianggap sebagai peluang untuk mendidik mereka agar bertingkah laku lebih baik, mencerminkan pendekatan pembimbingan dalam pendidikan moral. Ketiga, penanaman nilai-nilai moral dilakukan melalui berbagai cara, termasuk integrasi nilai-nilai moral dalam mata pelajaran, memberikan nasihat, memberikan contoh, dan mendorong penghargaan terhadap perbedaan pendapat. Keempat, pentingnya nilai-nilai seperti kejujuran dan tanggung jawab yang ditanamkan pada siswa, serta kesadaran mereka tentang konsekuensinya. Kelima, penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar guru telah berhasil menanamkan beragam nilai moral, termasuk nilai agama, kejujuran, kemandirian, tanggung jawab, dan menghargai perbedaan. Ini sejalan dengan pandangan bahwa pendidikan moral harus mencakup berbagai aspek nilai-nilai moral. Terakhir, penelitian ini menyoroti perlunya pelatihan dan pemahaman yang lebih baik tentang pendidikan moral di kalangan guru yang mungkin belum sepenuhnya sadar akan nilai-nilai moral yang perlu ditanamkan.

Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan pentingnya pendidikan moral yang berkelanjutan di dalam dan di luar kelas dalam membentuk karakter siswa di sekolah dasar.

Kesimpulan
Berdasarkan temuan dalam penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa guru-guru di SD Negeri Lampeuneurut telah berhasil menanamkan sepuluh nilai moral yang mencakup nilai religius, sosialitas, gender, keadilan, demokrasi, kejujuran, kemandirian, daya juang, tanggungjawab, dan penghargaan terhadap lingkungan. Cara yang digunakan untuk penanaman nilai-nilai ini melibatkan penyisipan nilai-nilai tersebut ke dalam semua mata pelajaran yang diajarkan, serta melalui lingkungan sekolah dan kerjasama dengan orang tua siswa. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa siswa di SD Negeri Lampeuneurut memiliki perilaku yang baik, yang sebagian besar dapat dihubungkan dengan pemahaman nilai-nilai moral yang mereka miliki, yang kemudian memudahkan guru dalam mengembangkan dan melanjutkannya.
Analis Video 2
Nama : Fadhila Cahya Ningtyas
NPM : 2213053271
Kelas : 3G
Pendidikan Moral merupakan usaha yang dilakukan cara terencana untuk mengubah sikap, perilaku, dan tindakan yang dilakukan oleh peserta didik agar mampu berinteraksi dengan lingkungan masyarakatnya sesuai dengan nilai moral dah budaya masyarakat setempat.

Tahap - Tahap Perkembangan Moral
1. Usia 6-12 bulan
Pada tahap ini orang tua lah yang memegang peran penting dalam memandu, mengendalikan, dan melindungi bayi.
2. Usia 12-18 bulan
Membuat komitmen dan patuh sesuai dengan keadaan merupakan awal tanda hati nurani. Perhatian terhadap objek yang cocok atau rusak mencerminkan kecemasan diri dalam melakukan hal yang salah.
3. Usia 18-30 bulan
Pada usia ini anak mulai menunjukkan perilaku menolong, rasa bersalah, malu, dan empati mendorong perkembangan moral.
4. Usia 30-36 bulan
Lebih banyak verbal
5. Usia 3-4 tahun
Akruisme dan perilaku tolong-menolong lebih lazim dilakukan motifnya yaitu untuk mendapatkan pujian. Pada usia ini rasa bersalah jika anak berbuat salah akan memuncak.
6. Usia 4-6
Penalaran moral makin fleksibel.
7. Usia 7-8 tahun
Penalaran moral makin menjadi fleksibel. Rasa empati akan meningkat. Agresi terutama jenis permusuhan berkurang.
8. 9-11 tahun
Manusia ini penalaran moral makin dipandu oleh rasa keadilan. Agresi beralih ke hubungan.
9. Usia 12-15 tahun
Penalaran moral pada usia ini mencerminkan peningkatan kesadaran akan keadilan dan pembuat aturan yang kooperatif.
10.16-20 tahun
Usia ini relativis mau memainkan peran yang penting dalam penalaran moral
11. Dewasa muda 20-40 tahun
Pada usia ini penalaran moral dan penilaian moral menjadi lebih rumit.
12. Dewasa tengah 40-65 tahun
13. Usia 65 tahun

Implikasi perkembangan sosial dan pribadi anak dalam KBM di sekolah dasar
Pada implikasi dalam perkembangan dalam KBM baik perkembangan pribadi dan sosial sangat diperlukan dalam belajar.
Implikasi identitas gender dalam perkembangan moral anak sekolah dasar dapat dilakukan dengan mengajarkan peserta didik mengenai identitas gender agar dapat mengontrol prilaku sesuai dengan gendernya. Orang tua dan pendidik sama-sama memegang peranan penting dalam hal ini.


Permasalahan dan Solusi Perkembangan Moral Anak SD
1. Hilangnya Kejujuran, solusinya yaitu dengan mengajarkan anak untuk bersikap jujur dan percaya diri dengan jawabannya. Pendidik tidak boleh memarahi peserta didik apabila mereka berkata jujur meskipun itu salah, pendidik harus memberi nasehat dan meluruskan tindakan yang tidak benar.
2. Hilangnya Rasa Tanggung Jawab, nah sikap ini dapat diatasi dengan mengajarkan peserta didik untuk bersikap tanggung jawab, pendidik dapat bersikap tegas kepada peserta didik agar mereka dapat menjunjung tinggi rasa tanggung jawab. Contohnya apabila peserta didik tidak mengerjakan tugas maka pendidik akan menyuruhnya maju ke depan mengerjakan tugas yang tidak ia kerjakan.
3. Rendahnya Disiplin
Guru dan kepala sekolah harus membuat peraturan secara tegas beserta sanksinya agar apa peserta didik tidak melanggar peraturan dan dapat bersikap disiplin.
4. Kurang Bisa Bekerja Sama
Solusinya yaitu pendidikan harus bisa membiasakan peserta didik untuk terlibat dalam bekerja sama.
5. Menggambil Hak Orang Lain
Solusinya itu pendidik harus bisa mengajarkan kepada peserta didik bahwa mengambil hak orang lain adalah tindakan yang salah.
Analisis video 1

Nama : Fadhila Cahya Ningtyas
Npm : 2213053271
Kelas : 3G

"Pendidikan Moral "Tanggung Jawab Diri Dalam Keluarga"

Video tersebut berisi materi tentang tanggung jawab diri dalam keluarga yang ditujukan untuk peserta didik tingkat sekolah dasar. Adapun materi atau pembahasan didalam video tersebut yaitu :

Tanggung Jawab dalam Keluarga
1. Mendengarkan nasihat orang tua
2. Membantu ibu
3. Menemani kakak
4. Menjaga adik dirumah

Pentingnya Tanggung Jawab dalam Keluarga
Tanggung jawab dalam keluarga sangat penting dilaksanakan untuk mempererat hubungan antara anggota keluarga. Dengan adanya sikap tanggung jawab maka keluarga akan menjadi lebih harmonis dan bahagia. Selain itu dengan adanya tanggung jawab didalam keluarga maka tugas keluarga akan menjadi ringan. Peserta didik juga memiliki tanggung jawab belajar dengan sungguh-sungguh agar dapat membanggakan keluarga.
Nama : Fadhila Cahya Ningtyas
NPM : 2213053371
Kelas : 3G

Analisis Jurnal 2

Identitas Jurnal
Judul : Menangkal Degradasi Moral di Era Digital Bagi
Kalangan Millenial
Jenis Jurnal : Jurnal Pengabdian
Vol, no, tahun, halaman : Vol. 3, No. 1, Juli 2020 halaman 79 - 84
Penulis : Ahmad Yani Nasution danMoh Jazuli

Abstrak
Abstrak jurnal ini membahas tantangan moral yang dihadapi generasi milenial di era digital dan upaya untuk mengatasi degradasi moral ini. Dosen agama dari Universitas Pamulang melakukan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat dengan tema "Menangkal Degradasi Moral di Era Digital" di MTs Insan Madani. Kegiatan tersebut berlangsung selama tiga hari dan melibatkan berbagai pihak.

Hasil pelatihan ini memberikan softskill kepada anak-anak remaja di MTs Insan Madani. Saran yang diberikan adalah pentingnya dukungan dari berbagai pihak untuk membantu generasi muda memiliki bekal moral yang baik dan mengembangkan softskill. Ini penting terutama bagi remaja yang sedang mencari jati diri. Penulis berharap pelatihan semacam ini dapat terus ditingkatkan di berbagai jenjang pendidikan.

Kata kunci : Degradasi Moral, Era Digital Dan Millenial


Pendahuluan
Pendahuluan jurnal ini memperkenalkan konsep Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) sebagai bagian dari Tri Darma Perguruan Tinggi di Universitas Pamulang (Unpam). LP2M Unpam berperan penting dalam mengkoordinasikan kegiatan P3KM, dan saat ini, sedang memfokuskan kampanye PKM. Dosen Agama Islam Unpam mengamati fenomena degradasi moral di era digital, khususnya di kalangan milenial, yang memiliki akses luas ke media sosial. Fenomena ini termasuk perubahan perilaku, seperti hilangnya sopan santun, kenakalan remaja, dan menjauh dari nilai-nilai agama. Untuk mengatasi degradasi moral ini, mereka berencana memberikan pelatihan dan pemahaman kepada siswa di Mts Insan Madani sebagai generasi penerus bangsa. Tujuan dari PKM ini adalah memberikan pemahaman tentang degradasi moral di kalangan milenial dan memberikan wawasan agama untuk menangkalnya. Kegiatan ini bertujuan untuk memotivasi siswa agar bisa menghadapi tantangan moral di era digital dengan cara meningkatkan keimanan, ibadah, dan bermedia sosial dengan bijak.

Metode Pelaksanaan Kegiatan
Kegiatan PKM dilakukan di Mts Insan Madani, dan berlangsung selama tiga hari dari 17 hingga 19 Desember 2019, mulai pukul 13.30 hingga 17.00 WIB setiap harinya. Subjek dari kegiatan ini adalah siswa-siswi Mts Insan Madani. Metode pelaksanaan kegiatan ini melibatkan pelatihan dengan menggunakan dua pendekatan utama, yaitu memberikan presentasi dan diskusi antara pemateri dan peserta. Dalam pelatihan ini, pemateri memberikan penjelasan dan materi melalui presentasi, dan peserta terlibat dalam diskusi untuk membahas topik yang ada.

Hasil dan Pembahasan
Hasil dari kegiatan PKM ini mencakup beberapa tahapan, yang dimulai dengan persiapan, termasuk survei awal dan wawancara dengan kepala sekolah Mts Insan Madani. Selanjutnya, materi pelatihan PKM disampaikan oleh dua pemateri, Ahmad Yani Nasution dan Muhammad Jazuli, dengan topik-topik yang berfokus pada degradasi moral di era digital dan solusi menghadapinya. Selama sesi pelatihan, peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi dan aktif berpartisipasi. Beberapa pertanyaan diajukan oleh peserta, seperti tentang pengaruh globalisasi terhadap degradasi moral dan metode dakwah yang tepat untuk kalangan millennial. Pemateri memberikan jawaban yang menjelaskan pentingnya standar moral berdasarkan Al-Qur'an dan hadits serta memberikan wawasan keagamaan dan pemahaman tentang bermedia sosial yang baik sebagai solusi.

Peserta PKM terlihat antusias dan bersemangat mengikuti kegiatan ini, yang juga melibatkan games dan aktivitas seru lainnya. Ini menunjukkan efektivitas kegiatan PKM dalam memberikan pemahaman dan mengatasi degradasi moral di kalangan millennial.


Kesimpulan dan Saran
Kegiatan PKM "Menangkal Degradasi Moral di Era Digital bagi kalangan Millenial" di Mts Insan Madani Kp. Rahong Desa Tegallega Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor telah berjalan dengan baik dan sesuai rencana. Saran dari pelatihan ini adalah pentingnya dukungan dari berbagai pihak untuk membekali generasi muda dengan moral yang baik, serta memperkuat kemampuan softskill, terutama bagi siswa yang sedang mencari jati diri. Harapannya, kegiatan semacam ini dapat terus ditingkatkan dan dilanjutkan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat merupakan kewajiban dosen dalam rangka memenuhi Tri Dharma Perguruan Tinggi dan berkontribusi pada pembangunan nasional. Melalui kegiatan ini, masyarakat dapat memperoleh bekal untuk menghadapi tantangan dalam kehidupan mereka dan memberikan pembelajaran bagi perguruan tinggi tentang realitas kehidupan. PKM ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang terlibat dan menginspirasi dukungan untuk kegiatan serupa di masa depan.
Nama : Fadhila Cahya Ningtyas
NPM : 2213053271
Kelas : 3G

Analisis Jurnal
Identitas Jurnal
Judul : Rekonstruksi Evaluasi Pendidikan Moral Menuju Harmoni Sosial
Vol, no, tahun, halaman : Vol. 05 No. 01, tahun 2018, 69-81.
Penulis : Ulil Hidayah
Korespondensi : Permata_ulya@yahoo.co.id

Pendahuluan
Pendahuluan dalam jurnal ini menggambarkan peran penting sistem pendidikan nasional dalam dinamika bangsa Indonesia. Pemicu konflik di negara ini sering kali berhubungan dengan perbedaan agama, suku, budaya, dan ideologi. Politik identitas menjadi sensitif dan dapat memicu benturan antar kelompok. Fenomena ini terkait dengan kepentingan kelompok sosial dan isu lokal, seperti keadilan dan pembangunan yang tidak merata. Dalam konteks globalisasi, pendidikan Islam menghadapi dua sudut pandang berbeda: ada yang melihatnya sebagai sarana radikalisme dan fundamentalisme, sementara yang lain mencari pendekatan yang lebih membumi dan humanistik berdasarkan nilai-nilai al-Qur'an dan al-Hadits. Didalam pendahuluan juga disebutkan bahwa pendidikan nasional memiliki kelemahan, seperti ketidakseimbangan dalam menghasilkan lulusan dengan kemampuan intelektual dan pemahaman agama yang tidak seimbang. Terdapat tiga kelompok besar output pendidikan saat ini, masing-masing memiliki kekurangan dalam memahami teknologi, agama, atau nilai-nilai agama. Menurut Mgainun Naim, 2010 kelompok yang memiliki kemampuan intelektual yang mampu menguasai agama akan tetapi tidak mampu menghayati nilai-nilai luhur sebagai subtansi ajaran agama.
Selain itu dalam pendahuluan juga dibahas pentingnya mengkaji dan memperbaiki sistem pendidikan untuk menghasilkan individu yang lebih seimbang dalam kemampuan intelektual, pemahaman agama, dan moralitas.

Tantangan Materi Pelajaran di Sekolah

Jurnal ini membahas tantangan dalam penanaman dan penghayatan sikap-sikap budi pekerti di sekolah. Hasilnya belum termanifestasi secara permanen dalam diri peserta didik, terutama ketika mereka keluar dari lingkungan sekolah. Terdapat dua mata pelajaran yang dianggap bertanggung jawab atas hal ini, yaitu Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).
PAI adalah pendidikan untuk membekali anak didik dengan pengetahuan, pemahaman, dan praktik ajaran agama Islam. Sementara PKn bertujuan untuk membantu peserta didik menjadi warga negara yang politik dewasa dan berkontribusi dalam sistem politik demokratis.

Kedua mata pelajaran ini mencakup norma-norma moral, pemahaman tentang agama dan negara, serta materi tentang toleransi terhadap perbedaan dalam masyarakat. Paradigma pendidikan Islam juga menjadi bagian dari konteks ini. Jurnal ini mungkin menyoroti pentingnya memastikan bahwa materi pelajaran ini dapat membantu peserta didik menginternalisasi nilai-nilai budi pekerti secara permanen dalam kehidupan mereka.

Persiapan, Pelaksanaan dan Evaluasi PAI dan PKn di Sekolah

Jurnal ini membahas persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di sekolah. Pada tahap persiapan, disoroti pentingnya memastikan bahwa kurikulum mematuhi standar kompetensi lulusan dan berfokus pada Kompetensi Inti (KI). Kurikulum 2013 menekankan pendekatan yang dinamis dan bukan hanya menciptakan peserta didik yang patuh, tetapi yang mampu belajar dengan cara yang lebih bebas.

Sedangkan pada tahap pelaksanaan pembelajaran, kurikulum 2013 menerapkan pendekatan saintifik yang mencakup aktivitas seperti mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengkomunikasikan. Peran guru berubah menjadi fasilitator yang mendampingi peserta didik dalam proses pembelajaran, menciptakan suasana kondusif, dan memberikan kebebasan untuk mengeksplorasi pengetahuan.

Evaluasi dalam pembelajaran mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pemberian skor dilakukan dalam berbagai kegiatan, termasuk diskusi, pengayaan materi, refleksi akhlak mulia, ulangan, dan pemantauan sikap karakter peserta didik. Namun, praktek evaluasi kadang-kadang terkendala oleh jumlah jam pelajaran dan materi yang harus dicakup, dan diperlukan keterampilan pendidik dalam melakukan penilaian yang sporadis.

Rekonstruksi Evaluasi Pendidikan Moral

Pentingnya bagaimana materi diajarkan dalam tahap perencanaan pembelajaran hingga evaluasi di sekolah untuk mencapai tujuan harmoni sosial diungkapkan. Artikel menggarisbawahi bahwa kurikulum nasional tidak bisa memastikan keadaan di setiap institusi pendidikan, dan perlu ada penekanan pada evaluasi yang menilai perilaku moral yang mendasari kepribadian peserta didik.

Rekonstruksi evaluasi harus mempertimbangkan kemampuan pendidik dalam membawa materi ajar pendidikan moral, menghadapkan peserta didik pada masalah yang relevan, memberikan ruang untuk kerja berkelompok, menyertakan pembelajaran multikultural, dan menilai aspek afektif dan psikomotorik peserta didik. Evaluasi tulis, seperti ulangan harian, harus menjadi bagian dari penilaian, tetapi bukan penilaian utama.



Tujuan Pendidikan Nasional

Tujuan pendidikan nasional dengan merujuk pada pemikiran Naquib Al-Attas. Menurut Al-Attas, pendidikan adalah proses perwujudan manusia yang memiliki adab, yang melibatkan kesadaran terhadap tanggung jawab terhadap Tuhan, pemenuhan kewajiban terhadap diri sendiri dan masyarakat dengan adil, serta usaha terus-menerus untuk mencapai kesempurnaan dalam hal akhlak.

Selanjutnya, jurnal ini membahas peran pendidikan sebagai agen perubahan untuk mengubah individu yang kurang beradab menjadi lebih beradab. Pierre Bourdieu, seorang ahli sosiologi, mengatakan bahwa pendidikan berperan dalam reproduksi kultural dan mendampingi berbagai kelas sosial dalam masyarakat. Sekolah memiliki peran penting dalam mengatasi jurang sosial antar kelas melalui nilai-nilai akhlak. Selain itu kebijakan desentralisasi dalam pendidikan dan pentingnya political will dari pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Kesuksesan pendidikan di daerah tertentu sangat tergantung pada komitmen dan kebijakan pemerintah daerah.


Kesimpulan

Kesimpulan dari jurnal ini adalah bahwa tantangan moral yang dihadapi bangsa Indonesia adalah tanggung jawab bersama, khususnya pendidikan, dalam membentuk generasi yang unggul secara intelektual dan moral. Evaluasi pendidikan perlu diperbaiki secara serius untuk memenuhi kebutuhan moral generasi bangsa.

Pendidikan moral, terutama melalui mata pelajaran seperti Pendidikan Agama Islam, Budi Pekerti, dan Pendidikan Kewarganegaraan, bertanggung jawab atas penanaman nilai-nilai moral dalam masyarakat. Ini mencakup aspek seperti toleransi, penghargaan terhadap perbedaan, semangat belajar, keterampilan berpikir kritis, pemahaman politik, dan semangat nasionalisme.

Kesimpulan ini menekankan pentingnya pendidikan moral dalam membentuk warga negara yang bermoral dan peduli terhadap masyarakat dan negara serta menekankan perlunya pendidikan moral yang komprehensif dan terus-menerus untuk mendukung perkembangan generasi muda Indonesia.