Nama : Fadhila Cahya Ningtyas
Npm: 2213053271
Analisis Jurnal 2
A. Identitas Jurnal
1. Judul : "PROSES PENDIDIKAN NILAI MORAL DI LINGKUNGAN KELUARGA SEBAGAI UPAYA MENGATASI KENAKALAN REMAJA"
2. Penulis : Fahrudin
3. No/Tahun/Vol : Vol. 12 No. 1 - 2014
4.
Kata kunci : Pendidikan nilai, kenakalan remaha, pendidikan keluarga
Abstrak
Abstrak jurnal ini membahas pentingnya pembinaan nilai moral sejak dini dalam keluarga sebagai upaya untuk mencegah pelanggaran moral pada anak-anak. Lingkungan keluarga dipandang sebagai lingkungan pertama yang memengaruhi perkembangan moral anak. Untuk membentuk moral yang baik, langkah pertama adalah menanamkan nilai-nilai keimanan pada anak-anak sejak dini. Proses ini dimulai sejak kelahiran dengan memperkenalkan kalimah thoyyobah, lalu terus berlanjut hingga mereka dewasa. Selain nilai-nilai agama, nilai-nilai moral seperti cara berbicara, berpakaian, pergaulan, dan sifat-sifat baik juga diajarkan kepada anak-anak. Selain itu, menjaga harmoni hubungan antara ibu dan bapak di keluarga juga dianggap penting untuk menjadi teladan moral bagi anak-anak. Dalam keseluruhan, abstrak ini menekankan pentingnya pendidikan moral sejak dini dalam keluarga untuk membentuk generasi yang memiliki moral yang baik.
A. Pendahuluan
Pendahulu jurnal ini menekankan peran penting keluarga sebagai institusi pendidikan utama bagi anak-anak, di mana mereka pertama kali mengenal pendidikan sebelum menjalani pendidikan di masyarakat lebih luas. Orang tua disebut memiliki peran utama dalam mendidik anak-anak, karena pendidikan awal dalam keluarga akan menjadi dasar bagi pendidikan selanjutnya di sekolah. Proses pendidikan dalam keluarga bersifat informal dan berlangsung sepanjang masa melalui interaksi dan sosialisasi. Orang tua harus memberikan contoh tauladan yang baik, dan pendidikan moral, terutama nilai-nilai agama dan akhlak, harus ditanamkan pada anak-anak. Seiring dengan arus globalisasi, munculnya masalah-masalah moral seperti kenakalan remaja, narkoba, dan penyimpangan seksual menunjukkan kompleksitas masyarakat modern. Kerusakan moral individu dapat mengganggu ketentraman masyarakat. Oleh karena itu, penulis menyoroti pentingnya pendidikan moral dalam keluarga, khususnya nilai moral berbasis agama, agar anak-anak terhindar dari penyimpangan moral. Masalah yang diajukan dalam tulisan ini adalah bagaimana proses pendidikan nilai moral keagamaan di keluarga dapat mencegah penyimpangan moral, dan tujuan utamanya adalah untuk memahami proses tersebut.
B. Peranan Keluarga Bagi Anak Anak
Pada point ini penulis membahas peran penting keluarga sebagai institusi pendidikan utama bagi anak-anak. Penulis merinci makna kata "keluarga" yang mengandung unsur pemberian dan pengambilan, di mana anggota keluarga memiliki tanggung jawab dan hak dalam mengurus kepentingan keluarga. Keluarga merupakan tempat pertama di mana anak-anak tumbuh dan berkembang, dan pengaruh lingkungan keluarga dapat memengaruhi perkembangan jiwa anak. Keluarga juga berperan sebagai lingkungan awal di mana individu memperoleh pengetahuan, nilai-nilai, dan akhlak, serta merasakan kasih sayang dan ketenangan. Dalam konteks sosialisasi, keluarga merupakan tempat awal di mana individu memperoleh unsur-unsur dasar kepribadian. Oleh karena itu, keluarga dianggap sebagai simbol nilai-nilai mulia seperti keimanan, pengorbanan, dan cinta kepada kebaikan. Ini menunjukkan bahwa keluarga penting sepanjang kehidupan individu, dan keberadaannya juga memiliki dampak besar pada masyarakat secara keseluruhan. Keluarga memiliki peran kunci dalam pendidikan anak, khususnya dalam pendidikan nilai moral. Teori yang mendasari ini mengacu pada fungsi-fungsi keluarga yang meliputi edukasi, sosialisasi, proteksi, afeksi, religius, ekonomi, rekreasi, dan biologis. Dalam konteks pendidikan moral, orang tua memiliki tanggung jawab penting dalam memberikan pendidikan moral kepada anak-anak mereka, yang merupakan bagian dari fungsi keluarga sebagai pendidik pertama dan utama.
C. Peranan Nilai Moral Bagi Anak Anak
Pada bagian ini didalam jurnal dijelaskan tentang pengertian moral dan istilah-istilah terkait seperti akhlak, karakter, etika, budi pekerti, dan susila. Moral didefinisikan sebagai penilaian umum terkait perbuatan, sikap, kewajiban, budi pekerti, dan susila, serta sebagai ajaran kesusilaan. Selanjutnya, penulis menguraikan peran penting keluarga dalam pendidikan moral anak-anak. Keluarga dipandang sebagai lingkungan awal di mana anak-anak tumbuh dan berkembang, serta sebagai tempat pertama di mana mereka memperoleh pengetahuan, nilai-nilai, dan akhlak. Keluarga juga dianggap sebagai simbol atas nilai-nilai mulia seperti keimanan, pengorbanan, kesediaan berkorban, cinta kepada kebaikan, dan kesetiaan. Dalam kaitannya dengan pendidikan moral, penulis menekankan bahwa peran keluarga tidak dapat digantikan oleh lembaga-lembaga pendidikan lain. Keluarga memiliki tanggung jawab utama dalam mendidik anak-anak, terutama dalam memberikan cinta, kasih sayang, dan ketenangan. Meskipun lembaga-lembaga pendidikan lain dapat memberikan bantuan, keluarga tetap memiliki peran paling pokok dalam membentuk moral dan karakter anak-anak.
C. Peranan Nilai Moral Bagi Anak Anak
Didalam bagian ini dijelaskan pentingnya nilai moral (moralitas) dalam konteks anak-anak, masyarakat, bangsa, dan umat. Penulis mencatat bahwa berbagai istilah seperti moral, akhlak, karakter, etika, budi pekerti, dan susila sering digunakan secara bergantian, tetapi pada dasarnya merujuk pada konsep yang sama. Dalam bahasa Indonesia, "moral" didefinisikan sebagai penilaian umum tentang baik dan buruk yang berkaitan dengan perbuatan, sikap, kewajiban, budi pekerti, dan susila. Moral juga dapat dilihat sebagai ajaran kesusilaan. adapun konsep moral bisa diklasifikasikan menjadi tiga aspek utama:
(1) moral sebagai ajaran kesusilaan, yang berkaitan dengan tuntutan untuk melakukan perbuatan baik dan meninggalkan perbuatan buruk sesuai dengan norma masyarakat,
(2) moral sebagai aturan yang digunakan oleh masyarakat untuk menilai perbuatan individu apakah baik atau buruk, dan
(3) moral sebagai gejala kejiwaan yang tercermin dalam perbuatan, seperti keberanian, kejujuran, kesabaran, dan semangat.
D. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Kemerosotan
Moral
Menurut Zakiyah Darajat (1971: 45-46), di antara
faktor-faktor kemerosotan moral tersebut, yang terpenting adalah:
1. Kurang tertanamnya nilai-nilai keimanan pada anak-anak.
2. Lingkungan masyarakat yang kurang sehat.
3. Pendidikan moral tidak terlaksana menurut mestinya, baik di rumah
tangga, sekolah maupun masyarakat.
4. Suasana rumah tangga yang kurang baik.
5. Diperkenalkannya secara populer obat-obat terlarang dan alat-alat anti
hamil.
6. Banyaknya tulisan-tulisan, gambar-gambar, siaran-siaran, kesenian-
kesenian yang tidak mengindahkan dasar-dasar dan tuntunan mora
7. Kurang adanya bimbingan untuk mengisi waktu luang (leisure time) dengan
cara yang baik, dan yang membawa kepada pembinaan moral.
8. Tidak ada atau kurangnya markas-markas bimbingan dan penyuluhan bagi
anak-anak dan pemuda-pemuda.
9. Pengaruh westernisasi, yaitu berupa yahudinisasi dan kristenisasi.
E. Proses Pendidikan Nilai Moral Untuk Mengatasi
Kenakalan Remaja Dalam Keluarga
Penulis menjelaskan bahwa keluarga memegang peran kunci dalam membentuk nilai dan moral anak-anak, terutama dalam konteks nilai-nilai beragama.
Untuk mencapai moral yang baik dan mencegah pelanggaran moral pada anak-anak, penulis merinci beberapa langkah penting dalam membina moral dan iman anak-anak:
1. Penanaman Pendidikan Keimanan
Orang tua harus membimbing anak-anak dalam memahami dan mempraktikkan keyakinan iman sejak dini. Ini mencakup mengenalkan prinsip-prinsip Islam, hukum-hukum halal dan haram, mendorong beribadah, dan menumbuhkan cinta kepada Allah dan Rasulullah.
2. Penanaman Pendidikan Moral
Orang tua perlu memberikan perhatian khusus terhadap pendidikan moral anak-anak mereka. Mereka harus memberikan contoh yang baik dalam pergaulan sehari-hari, seperti berbicara sopan, berpakaian layak, dan bersikap adil. Selain itu, harus ditumbuhkan sifat-sifat baik seperti kejujuran, keadilan, rendah hati, hidup sederhana, dan kesabaran.
3. Menciptakan Suasana Rumah Tangga Harmonis
Orang tua harus menciptakan hubungan yang harmonis di antara sesama anggota keluarga, termasuk hubungan antara Ibu-Bapak. Hubungan yang baik di antara anggota keluarga ini akan menjadi contoh positif bagi anak-anak.
F. Kesimpulan
Kesimpulan dari jurnal ini adalah bahwa lingkungan keluarga memegang peran penting dalam pendidikan nilai moral keagamaan anak-anak. Berbagai faktor dapat menyebabkan kemerosotan moral pada anak, termasuk kurangnya nilai-nilai keimanan, lingkungan masyarakat yang tidak baik, dan kurangnya pendidikan moral di keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Untuk memastikan bahwa anak-anak memiliki moral yang baik dan terhindar dari pelanggaran moral, diperlukan kerjasama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Proses pembinaan nilai-nilai moral keagamaan harus dimulai sejak anak lahir, termasuk pengenalan nilai-nilai agama yang berkaitan dengan keimanan, pendidikan moral, dan pembentukan sifat-sifat baik seperti kejujuran dan keadilan. Selain itu, hubungan harmonis antara ibu dan bapak dalam keluarga juga penting, karena mereka menjadi teladan bagi anak-anak mereka dalam membentuk nilai-nilai moral yang baik.