Posts made by Fadhila Cahya Ningtyas 2213053271

Analisis Video 1
Nama : Fadhila Cahya Ningtyas
NPM : 2213053271

" Sepenggal Cerita Pengajar Muda di Plosok Kalimantan -Lentera Indonesia"

Dalam video tersebut berisi tentang bagaimana guru muda dari program Indonesia Mengajar mengajar di pedalaman Kalimantan khususnya suku dayak. Martencis Veronica Siregar selaku pengajar yang ditempatkan disana berjuang dengan keras menyesuaikan diri dan mengerahkan tenaga serta pikiran membantu anak anak disana dalam menuntut ilmu. Desa penempatan dirinya mengajar sangat jauh untuk ditempuh. Anak anak disana sebagaian besar tidak minat melanjutkan pendidikan setelah taman SD, hal ini dikarenakan para orang tua belum tau pentingnya pendidikan. Bahkan banyak sekali pernikahan dini yang terjadi disana khususnya pada anak perempuan. Permasalahan tersebut merupakan tantangan yang dihadapi Veronica karena ia ingin bahwa para orang tua disana paham betapa pentingnya pendidikan. Veronica menggunakan metode yang menyenangkan dan kreatif pada kelas rendah dalam mengajar anak anak disana agar mereka semangat mengikuti pembelajaran. Selanjutnya yang menjadi tantangan yaitu menciptakan lingkungan yang kondusif pada kelas rendah. Selain tangangan dalam mengajar yang sulit, Veronica mengungkapkan bahwa bertahan hidup juga cukup sulit disana.

Dalam meningkatkan motivasi anak anak, kepala sekolah SD tersebut memberikan hadiah kepada anak yang berprestasi dengan jalan jalan keluar kota. Hal tersebut merupakan sesuatu yang spesial bagi anak anak disana karena sebagian besar mereka tidak pernah keluar dari desa mengingat transportasi yang sulit dan jarak tempuh yang jauh. Kemudian anak yang terpilih mengikuti jalan jalan keluar kota akan berbagi pengalaman pada peserta didik yang lain agar mereka memilih motivasi dan smangat belajar yang sama. Untuk bertahan hidup Veronica mengikuti tradisi disana yaitu berburu dan meramu. Selain Veronica terdapat juga orang orang yang berpengaruh dalam memajukan desa disana seperti Loly dan kepala sekolah disana.
Veronica merupakan inspirator bagi para calon guru muda agar bisa mengatasi tantangan dalam mendidik generasi bangsa dimanapun itu tidak terbatas teknologi, daerah, dan seberapa jauh jarak yang ditempuh. Para pendidik harus berjuang demi memajukan bangsa.
Nama : Fadhila Cahya Ningtyas
Npm : 2213053271

Tanggapan saya mengenai perbedaan kriteria nilai hasil dan soft skill yaitu Soft skill merupakan kemampuan yang begitu erat kaitannya dengan kepribadian seseorang dan menunjukkan bagaimana orang itu mampu berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Kemampuan soft skill dapat disebut dengan kemampuan interpersonal yang dibutuhkan dalam dunia kerja karena arahnya yaitu bagaimana seseorang berinteraksi dengan orang lain. Kemampuan sel skill ini bersifat lebih umum yang artinya pekerjaan apapun pasti membutuhkan keterampilan ini seperti komunikasi, manajemen waktu motivasi, hingga kecerdasan emosional.

Sedangkan hard skill merupakan kemampuan yang lebih cenderung terhadap kemampuan seseorang bekerja yang lebih spesifik. Kemampuan ini dapat dipelajari, diukur, dan dievaluasi. Adapun perbedaan soft skill dan hard skill dapat dilihat dari asal muasal pembagiannya. Soft skill lebih cenderung dilihat dari besaran EQ sedangkan hard skill dilihat dari tingginya nilai IQ. EQ sendiri merupakan hal yang terbentuk dari lingkungan, keluarga, dan sebagainya. Sedangkan IQ merupakan sesuatu yang bersifat dari lahir dan membuat seseorang memiliki hard skill yang baik. Selanjutnya perbedaan hard skill dan soft skill dapat dilihat dari sifatnya. Hard skill bersifat lebih objektif karena dibuktikan melalui sertifikat atau ijazah. Sementara soft skill lebih bersifat subjektif. Kemudian hard skill lebih ke pekerjaan teknis yang dipakai saat bekerja sementara soft skill merupakan keahlian yang berkaitan dengan kepribadian seseorang. Jadi pada intinya harus skill merupakan keahlian yang bisa diukur atau di kuantifikasi pengukurannya secara objektif lisan melalui gelar, kuliah, nilai atau sertifikat. Sementara soft skill merupakan keahlian yang lebih bersifat subjektif.
Nama : Fadhila Cahya Ningtyas
Npm: 2213053271
Analisis Jurnal 2

A. Identitas Jurnal
1. Judul : "PROSES PENDIDIKAN NILAI MORAL DI LINGKUNGAN KELUARGA SEBAGAI UPAYA MENGATASI KENAKALAN REMAJA"
2. Penulis : Fahrudin
3. No/Tahun/Vol : Vol. 12 No. 1 - 2014
4.
Kata kunci : Pendidikan nilai, kenakalan remaha, pendidikan keluarga


Abstrak
Abstrak jurnal ini membahas pentingnya pembinaan nilai moral sejak dini dalam keluarga sebagai upaya untuk mencegah pelanggaran moral pada anak-anak. Lingkungan keluarga dipandang sebagai lingkungan pertama yang memengaruhi perkembangan moral anak. Untuk membentuk moral yang baik, langkah pertama adalah menanamkan nilai-nilai keimanan pada anak-anak sejak dini. Proses ini dimulai sejak kelahiran dengan memperkenalkan kalimah thoyyobah, lalu terus berlanjut hingga mereka dewasa. Selain nilai-nilai agama, nilai-nilai moral seperti cara berbicara, berpakaian, pergaulan, dan sifat-sifat baik juga diajarkan kepada anak-anak. Selain itu, menjaga harmoni hubungan antara ibu dan bapak di keluarga juga dianggap penting untuk menjadi teladan moral bagi anak-anak. Dalam keseluruhan, abstrak ini menekankan pentingnya pendidikan moral sejak dini dalam keluarga untuk membentuk generasi yang memiliki moral yang baik.

A. Pendahuluan
Pendahulu jurnal ini menekankan peran penting keluarga sebagai institusi pendidikan utama bagi anak-anak, di mana mereka pertama kali mengenal pendidikan sebelum menjalani pendidikan di masyarakat lebih luas. Orang tua disebut memiliki peran utama dalam mendidik anak-anak, karena pendidikan awal dalam keluarga akan menjadi dasar bagi pendidikan selanjutnya di sekolah. Proses pendidikan dalam keluarga bersifat informal dan berlangsung sepanjang masa melalui interaksi dan sosialisasi. Orang tua harus memberikan contoh tauladan yang baik, dan pendidikan moral, terutama nilai-nilai agama dan akhlak, harus ditanamkan pada anak-anak. Seiring dengan arus globalisasi, munculnya masalah-masalah moral seperti kenakalan remaja, narkoba, dan penyimpangan seksual menunjukkan kompleksitas masyarakat modern. Kerusakan moral individu dapat mengganggu ketentraman masyarakat. Oleh karena itu, penulis menyoroti pentingnya pendidikan moral dalam keluarga, khususnya nilai moral berbasis agama, agar anak-anak terhindar dari penyimpangan moral. Masalah yang diajukan dalam tulisan ini adalah bagaimana proses pendidikan nilai moral keagamaan di keluarga dapat mencegah penyimpangan moral, dan tujuan utamanya adalah untuk memahami proses tersebut.

B. Peranan Keluarga Bagi Anak Anak
Pada point ini penulis membahas peran penting keluarga sebagai institusi pendidikan utama bagi anak-anak. Penulis merinci makna kata "keluarga" yang mengandung unsur pemberian dan pengambilan, di mana anggota keluarga memiliki tanggung jawab dan hak dalam mengurus kepentingan keluarga. Keluarga merupakan tempat pertama di mana anak-anak tumbuh dan berkembang, dan pengaruh lingkungan keluarga dapat memengaruhi perkembangan jiwa anak. Keluarga juga berperan sebagai lingkungan awal di mana individu memperoleh pengetahuan, nilai-nilai, dan akhlak, serta merasakan kasih sayang dan ketenangan. Dalam konteks sosialisasi, keluarga merupakan tempat awal di mana individu memperoleh unsur-unsur dasar kepribadian. Oleh karena itu, keluarga dianggap sebagai simbol nilai-nilai mulia seperti keimanan, pengorbanan, dan cinta kepada kebaikan. Ini menunjukkan bahwa keluarga penting sepanjang kehidupan individu, dan keberadaannya juga memiliki dampak besar pada masyarakat secara keseluruhan. Keluarga memiliki peran kunci dalam pendidikan anak, khususnya dalam pendidikan nilai moral. Teori yang mendasari ini mengacu pada fungsi-fungsi keluarga yang meliputi edukasi, sosialisasi, proteksi, afeksi, religius, ekonomi, rekreasi, dan biologis. Dalam konteks pendidikan moral, orang tua memiliki tanggung jawab penting dalam memberikan pendidikan moral kepada anak-anak mereka, yang merupakan bagian dari fungsi keluarga sebagai pendidik pertama dan utama.

C. Peranan Nilai Moral Bagi Anak Anak
Pada bagian ini didalam jurnal dijelaskan tentang pengertian moral dan istilah-istilah terkait seperti akhlak, karakter, etika, budi pekerti, dan susila. Moral didefinisikan sebagai penilaian umum terkait perbuatan, sikap, kewajiban, budi pekerti, dan susila, serta sebagai ajaran kesusilaan. Selanjutnya, penulis menguraikan peran penting keluarga dalam pendidikan moral anak-anak. Keluarga dipandang sebagai lingkungan awal di mana anak-anak tumbuh dan berkembang, serta sebagai tempat pertama di mana mereka memperoleh pengetahuan, nilai-nilai, dan akhlak. Keluarga juga dianggap sebagai simbol atas nilai-nilai mulia seperti keimanan, pengorbanan, kesediaan berkorban, cinta kepada kebaikan, dan kesetiaan. Dalam kaitannya dengan pendidikan moral, penulis menekankan bahwa peran keluarga tidak dapat digantikan oleh lembaga-lembaga pendidikan lain. Keluarga memiliki tanggung jawab utama dalam mendidik anak-anak, terutama dalam memberikan cinta, kasih sayang, dan ketenangan. Meskipun lembaga-lembaga pendidikan lain dapat memberikan bantuan, keluarga tetap memiliki peran paling pokok dalam membentuk moral dan karakter anak-anak.

C. Peranan Nilai Moral Bagi Anak Anak

Didalam bagian ini dijelaskan pentingnya nilai moral (moralitas) dalam konteks anak-anak, masyarakat, bangsa, dan umat. Penulis mencatat bahwa berbagai istilah seperti moral, akhlak, karakter, etika, budi pekerti, dan susila sering digunakan secara bergantian, tetapi pada dasarnya merujuk pada konsep yang sama. Dalam bahasa Indonesia, "moral" didefinisikan sebagai penilaian umum tentang baik dan buruk yang berkaitan dengan perbuatan, sikap, kewajiban, budi pekerti, dan susila. Moral juga dapat dilihat sebagai ajaran kesusilaan. adapun konsep moral bisa diklasifikasikan menjadi tiga aspek utama:
(1) moral sebagai ajaran kesusilaan, yang berkaitan dengan tuntutan untuk melakukan perbuatan baik dan meninggalkan perbuatan buruk sesuai dengan norma masyarakat,
(2) moral sebagai aturan yang digunakan oleh masyarakat untuk menilai perbuatan individu apakah baik atau buruk, dan
(3) moral sebagai gejala kejiwaan yang tercermin dalam perbuatan, seperti keberanian, kejujuran, kesabaran, dan semangat.

D. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Kemerosotan
Moral
Menurut Zakiyah Darajat (1971: 45-46), di antara
faktor-faktor kemerosotan moral tersebut, yang terpenting adalah:
1. Kurang tertanamnya nilai-nilai keimanan pada anak-anak.
2. Lingkungan masyarakat yang kurang sehat.
3. Pendidikan moral tidak terlaksana menurut mestinya, baik di rumah
tangga, sekolah maupun masyarakat.
4. Suasana rumah tangga yang kurang baik.
5. Diperkenalkannya secara populer obat-obat terlarang dan alat-alat anti
hamil.
6. Banyaknya tulisan-tulisan, gambar-gambar, siaran-siaran, kesenian-
kesenian yang tidak mengindahkan dasar-dasar dan tuntunan mora
7. Kurang adanya bimbingan untuk mengisi waktu luang (leisure time) dengan
cara yang baik, dan yang membawa kepada pembinaan moral.
8. Tidak ada atau kurangnya markas-markas bimbingan dan penyuluhan bagi
anak-anak dan pemuda-pemuda.
9. Pengaruh westernisasi, yaitu berupa yahudinisasi dan kristenisasi.

E. Proses Pendidikan Nilai Moral Untuk Mengatasi
Kenakalan Remaja Dalam Keluarga

Penulis menjelaskan bahwa keluarga memegang peran kunci dalam membentuk nilai dan moral anak-anak, terutama dalam konteks nilai-nilai beragama.

Untuk mencapai moral yang baik dan mencegah pelanggaran moral pada anak-anak, penulis merinci beberapa langkah penting dalam membina moral dan iman anak-anak:
1. Penanaman Pendidikan Keimanan
Orang tua harus membimbing anak-anak dalam memahami dan mempraktikkan keyakinan iman sejak dini. Ini mencakup mengenalkan prinsip-prinsip Islam, hukum-hukum halal dan haram, mendorong beribadah, dan menumbuhkan cinta kepada Allah dan Rasulullah.

2. Penanaman Pendidikan Moral
Orang tua perlu memberikan perhatian khusus terhadap pendidikan moral anak-anak mereka. Mereka harus memberikan contoh yang baik dalam pergaulan sehari-hari, seperti berbicara sopan, berpakaian layak, dan bersikap adil. Selain itu, harus ditumbuhkan sifat-sifat baik seperti kejujuran, keadilan, rendah hati, hidup sederhana, dan kesabaran.

3. Menciptakan Suasana Rumah Tangga Harmonis
Orang tua harus menciptakan hubungan yang harmonis di antara sesama anggota keluarga, termasuk hubungan antara Ibu-Bapak. Hubungan yang baik di antara anggota keluarga ini akan menjadi contoh positif bagi anak-anak.

F. Kesimpulan
Kesimpulan dari jurnal ini adalah bahwa lingkungan keluarga memegang peran penting dalam pendidikan nilai moral keagamaan anak-anak. Berbagai faktor dapat menyebabkan kemerosotan moral pada anak, termasuk kurangnya nilai-nilai keimanan, lingkungan masyarakat yang tidak baik, dan kurangnya pendidikan moral di keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Untuk memastikan bahwa anak-anak memiliki moral yang baik dan terhindar dari pelanggaran moral, diperlukan kerjasama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Proses pembinaan nilai-nilai moral keagamaan harus dimulai sejak anak lahir, termasuk pengenalan nilai-nilai agama yang berkaitan dengan keimanan, pendidikan moral, dan pembentukan sifat-sifat baik seperti kejujuran dan keadilan. Selain itu, hubungan harmonis antara ibu dan bapak dalam keluarga juga penting, karena mereka menjadi teladan bagi anak-anak mereka dalam membentuk nilai-nilai moral yang baik.
Nama : Fadhila Cahya Ningtyas
Npm :2213053271
Analisis Jurnal 2

A. Identitas Jurnal
1. Judul : "PROSES PENDIDIKAN NILAI MORAL DI LINGKUNGAN KELUARGA SEBAGAI UPAYA MENGATASI KENAKALAN REMAJA"
2. Penulis : Fahrudin
3. No/Tahun/Vol : Vol. 12 No. 1 - 2014
4.
Kata kunci : Pendidikan nilai, kenakalan remaha, pendidikan keluarga


Abstrak
Abstrak jurnal ini membahas pentingnya pembinaan nilai moral sejak dini dalam keluarga sebagai upaya untuk mencegah pelanggaran moral pada anak-anak. Lingkungan keluarga dipandang sebagai lingkungan pertama yang memengaruhi perkembangan moral anak. Untuk membentuk moral yang baik, langkah pertama adalah menanamkan nilai-nilai keimanan pada anak-anak sejak dini. Proses ini dimulai sejak kelahiran dengan memperkenalkan kalimah thoyyobah, lalu terus berlanjut hingga mereka dewasa. Selain nilai-nilai agama, nilai-nilai moral seperti cara berbicara, berpakaian, pergaulan, dan sifat-sifat baik juga diajarkan kepada anak-anak. Selain itu, menjaga harmoni hubungan antara ibu dan bapak di keluarga juga dianggap penting untuk menjadi teladan moral bagi anak-anak. Dalam keseluruhan, abstrak ini menekankan pentingnya pendidikan moral sejak dini dalam keluarga untuk membentuk generasi yang memiliki moral yang baik.

A. Pendahuluan
Pendahulu jurnal ini menekankan peran penting keluarga sebagai institusi pendidikan utama bagi anak-anak, di mana mereka pertama kali mengenal pendidikan sebelum menjalani pendidikan di masyarakat lebih luas. Orang tua disebut memiliki peran utama dalam mendidik anak-anak, karena pendidikan awal dalam keluarga akan menjadi dasar bagi pendidikan selanjutnya di sekolah. Proses pendidikan dalam keluarga bersifat informal dan berlangsung sepanjang masa melalui interaksi dan sosialisasi. Orang tua harus memberikan contoh tauladan yang baik, dan pendidikan moral, terutama nilai-nilai agama dan akhlak, harus ditanamkan pada anak-anak. Seiring dengan arus globalisasi, munculnya masalah-masalah moral seperti kenakalan remaja, narkoba, dan penyimpangan seksual menunjukkan kompleksitas masyarakat modern. Kerusakan moral individu dapat mengganggu ketentraman masyarakat. Oleh karena itu, penulis menyoroti pentingnya pendidikan moral dalam keluarga, khususnya nilai moral berbasis agama, agar anak-anak terhindar dari penyimpangan moral. Masalah yang diajukan dalam tulisan ini adalah bagaimana proses pendidikan nilai moral keagamaan di keluarga dapat mencegah penyimpangan moral, dan tujuan utamanya adalah untuk memahami proses tersebut.

B. Peranan Keluarga Bagi Anak Anak
Pada point ini penulis membahas peran penting keluarga sebagai institusi pendidikan utama bagi anak-anak. Penulis merinci makna kata "keluarga" yang mengandung unsur pemberian dan pengambilan, di mana anggota keluarga memiliki tanggung jawab dan hak dalam mengurus kepentingan keluarga. Keluarga merupakan tempat pertama di mana anak-anak tumbuh dan berkembang, dan pengaruh lingkungan keluarga dapat memengaruhi perkembangan jiwa anak. Keluarga juga berperan sebagai lingkungan awal di mana individu memperoleh pengetahuan, nilai-nilai, dan akhlak, serta merasakan kasih sayang dan ketenangan. Dalam konteks sosialisasi, keluarga merupakan tempat awal di mana individu memperoleh unsur-unsur dasar kepribadian. Oleh karena itu, keluarga dianggap sebagai simbol nilai-nilai mulia seperti keimanan, pengorbanan, dan cinta kepada kebaikan. Ini menunjukkan bahwa keluarga penting sepanjang kehidupan individu, dan keberadaannya juga memiliki dampak besar pada masyarakat secara keseluruhan. Keluarga memiliki peran kunci dalam pendidikan anak, khususnya dalam pendidikan nilai moral. Teori yang mendasari ini mengacu pada fungsi-fungsi keluarga yang meliputi edukasi, sosialisasi, proteksi, afeksi, religius, ekonomi, rekreasi, dan biologis. Dalam konteks pendidikan moral, orang tua memiliki tanggung jawab penting dalam memberikan pendidikan moral kepada anak-anak mereka, yang merupakan bagian dari fungsi keluarga sebagai pendidik pertama dan utama.

C. Peranan Nilai Moral Bagi Anak Anak
Pada bagian ini didalam jurnal dijelaskan tentang pengertian moral dan istilah-istilah terkait seperti akhlak, karakter, etika, budi pekerti, dan susila. Moral didefinisikan sebagai penilaian umum terkait perbuatan, sikap, kewajiban, budi pekerti, dan susila, serta sebagai ajaran kesusilaan. Selanjutnya, penulis menguraikan peran penting keluarga dalam pendidikan moral anak-anak. Keluarga dipandang sebagai lingkungan awal di mana anak-anak tumbuh dan berkembang, serta sebagai tempat pertama di mana mereka memperoleh pengetahuan, nilai-nilai, dan akhlak. Keluarga juga dianggap sebagai simbol atas nilai-nilai mulia seperti keimanan, pengorbanan, kesediaan berkorban, cinta kepada kebaikan, dan kesetiaan. Dalam kaitannya dengan pendidikan moral, penulis menekankan bahwa peran keluarga tidak dapat digantikan oleh lembaga-lembaga pendidikan lain. Keluarga memiliki tanggung jawab utama dalam mendidik anak-anak, terutama dalam memberikan cinta, kasih sayang, dan ketenangan. Meskipun lembaga-lembaga pendidikan lain dapat memberikan bantuan, keluarga tetap memiliki peran paling pokok dalam membentuk moral dan karakter anak-anak.

C. Peranan Nilai Moral Bagi Anak Anak

Didalam bagian ini dijelaskan pentingnya nilai moral (moralitas) dalam konteks anak-anak, masyarakat, bangsa, dan umat. Penulis mencatat bahwa berbagai istilah seperti moral, akhlak, karakter, etika, budi pekerti, dan susila sering digunakan secara bergantian, tetapi pada dasarnya merujuk pada konsep yang sama. Dalam bahasa Indonesia, "moral" didefinisikan sebagai penilaian umum tentang baik dan buruk yang berkaitan dengan perbuatan, sikap, kewajiban, budi pekerti, dan susila. Moral juga dapat dilihat sebagai ajaran kesusilaan. adapun konsep moral bisa diklasifikasikan menjadi tiga aspek utama:
(1) moral sebagai ajaran kesusilaan, yang berkaitan dengan tuntutan untuk melakukan perbuatan baik dan meninggalkan perbuatan buruk sesuai dengan norma masyarakat,
(2) moral sebagai aturan yang digunakan oleh masyarakat untuk menilai perbuatan individu apakah baik atau buruk, dan
(3) moral sebagai gejala kejiwaan yang tercermin dalam perbuatan, seperti keberanian, kejujuran, kesabaran, dan semangat.

D. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Kemerosotan
Moral
Menurut Zakiyah Darajat (1971: 45-46), di antara
faktor-faktor kemerosotan moral tersebut, yang terpenting adalah:
1. Kurang tertanamnya nilai-nilai keimanan pada anak-anak.
2. Lingkungan masyarakat yang kurang sehat.
3. Pendidikan moral tidak terlaksana menurut mestinya, baik di rumah
tangga, sekolah maupun masyarakat.
4. Suasana rumah tangga yang kurang baik.
5. Diperkenalkannya secara populer obat-obat terlarang dan alat-alat anti
hamil.
6. Banyaknya tulisan-tulisan, gambar-gambar, siaran-siaran, kesenian-
kesenian yang tidak mengindahkan dasar-dasar dan tuntunan mora
7. Kurang adanya bimbingan untuk mengisi waktu luang (leisure time) dengan
cara yang baik, dan yang membawa kepada pembinaan moral.
8. Tidak ada atau kurangnya markas-markas bimbingan dan penyuluhan bagi
anak-anak dan pemuda-pemuda.
9. Pengaruh westernisasi, yaitu berupa yahudinisasi dan kristenisasi.

E. Proses Pendidikan Nilai Moral Untuk Mengatasi
Kenakalan Remaja Dalam Keluarga

Penulis menjelaskan bahwa keluarga memegang peran kunci dalam membentuk nilai dan moral anak-anak, terutama dalam konteks nilai-nilai beragama.

Untuk mencapai moral yang baik dan mencegah pelanggaran moral pada anak-anak, penulis merinci beberapa langkah penting dalam membina moral dan iman anak-anak:
1. Penanaman Pendidikan Keimanan
Orang tua harus membimbing anak-anak dalam memahami dan mempraktikkan keyakinan iman sejak dini. Ini mencakup mengenalkan prinsip-prinsip Islam, hukum-hukum halal dan haram, mendorong beribadah, dan menumbuhkan cinta kepada Allah dan Rasulullah.

2. Penanaman Pendidikan Moral
Orang tua perlu memberikan perhatian khusus terhadap pendidikan moral anak-anak mereka. Mereka harus memberikan contoh yang baik dalam pergaulan sehari-hari, seperti berbicara sopan, berpakaian layak, dan bersikap adil. Selain itu, harus ditumbuhkan sifat-sifat baik seperti kejujuran, keadilan, rendah hati, hidup sederhana, dan kesabaran.

3. Menciptakan Suasana Rumah Tangga Harmonis
Orang tua harus menciptakan hubungan yang harmonis di antara sesama anggota keluarga, termasuk hubungan antara Ibu-Bapak. Hubungan yang baik di antara anggota keluarga ini akan menjadi contoh positif bagi anak-anak.

F. Kesimpulan
Kesimpulan dari jurnal ini adalah bahwa lingkungan keluarga memegang peran penting dalam pendidikan nilai moral keagamaan anak-anak. Berbagai faktor dapat menyebabkan kemerosotan moral pada anak, termasuk kurangnya nilai-nilai keimanan, lingkungan masyarakat yang tidak baik, dan kurangnya pendidikan moral di keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Untuk memastikan bahwa anak-anak memiliki moral yang baik dan terhindar dari pelanggaran moral, diperlukan kerjasama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Proses pembinaan nilai-nilai moral keagamaan harus dimulai sejak anak lahir, termasuk pengenalan nilai-nilai agama yang berkaitan dengan keimanan, pendidikan moral, dan pembentukan sifat-sifat baik seperti kejujuran dan keadilan. Selain itu, hubungan harmonis antara ibu dan bapak dalam keluarga juga penting, karena mereka menjadi teladan bagi anak-anak mereka dalam membentuk nilai-nilai moral yang baik.
Nama : Fadhila Cahya Ningtyas
NPM : 2213053271
Kelas : 3G
Analisis Jurnal 1

A. Identitas Jurnal
1. Judul : "PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH"
2. Penulis : Rukiyati (rukiyati@uny.ac.id)
3. No/Tahun : Th. XVII, No. 1. Maret 2017
4. Kata kunci : tujuan pendidikan, nilai moral, sekolah, komprehensif

Abstrak
Abstrak jurnal tersebut membahas pentingnya pelaksanaan pendidikan moral di sekolah sebagai upaya untuk membangun generasi berkualitas dalam masyarakat. Meskipun orang tua memiliki peran utama dalam mendidik moral anak-anak, guru di sekolah juga memiliki peran yang signifikan dalam membentuk moral peserta didik. Selain itu, pendidikan moral harus melibatkan kerjasama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat untuk memastikan bahwa anak-anak mendapatkan pendidikan moral yang baik dan juga pengembangan intelektual. Aristoteles telah mengemukakan tujuan utama pendidikan yang mengacu pada hal ini. Pentingnya perancangan yang komprehensif dalam pendidikan moral di sekolah, yang mencakup pendidik, materi, metode, dan evaluasi, diharapkan akan menghasilkan hasil yang optimal dalam membentuk generasi muda yang unggul.
Kata kunci : Kata kunci: tujuan pendidikan, nilai moral, sekolah, komprehensif.

Pendahuluan
Pendahuluan jurnal ini menjelaskan pentingnya sekolah sebagai lingkungan mikrosistem dalam perkembangan individu.Menurut Bronfenbrenner (1979: 22)
menjelaskan bahwa mikrosistem adalah
sebuah pola dari aktivitas, peran dan
relasi interpersonal yang dialami oleh seseorang yang sedang tumbuh
berkembang di dalam setting tertentu dengan karakteristik fisik khusus, yaitu suatu lingkungan kehidupan yang di dalamnya seorang individu menghabiskan sebagian besar waktunya, seperti keluarga, teman sebaya, sekolah dan lingkungan tetangga. Dalam konteks mikrosistem ini, individu berinteraksi dengan orang tua, guru, teman sebaya, dan lingkungan sekitarnya. Sekolah dianggap memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan subjek didik, terutama dalam konteks pendidikan formal. Penekanan diberikan pada tiga fungsi utama pendidikan, yaitu mengembangkan kreativitas, nilai-nilai insani, dan nilai-nilai religius. Dalam kerangka ini, pendidikan moral di sekolah dianggap sangat penting. Tulisan ini akan membahas komprehensifnya komponen pendidikan moral, termasuk pendidik, materi, metode, dan evaluasi, untuk memastikan bahwa pendidikan moral di sekolah dapat berjalan secara optimal.

Metode penelitian

Metode penelitian dalam jurnal ini menggabungkan teori dengan hasil penelitian lapangan. Penulis merangkum berbagai teori dari pakar pendidikan moral dan kemudian menginterpretasikannya untuk menciptakan kesatuan gagasan tentang teori pendidikan moral di sekolah. Selain itu, data lapangan diperoleh dari penelitian yang dilakukan oleh penulis di sebuah sekolah dasar Islam di Sleman pada tahun 2012. Penelitian ini berfokus pada pendidikan moral bagi siswa, menjadikan pendidikan moral sebagai tujuan sekolah yang signifikan bersama dengan pendidikan intelektual. Dengan demikian, penelitian ini mencampurkan pemahaman teoritis dengan hasil penelitian lapangan untuk menyajikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang pendidikan moral di sekolah.


Hasil dan Pembahasan

Hasil dan pembahasan dalam jurnal ini membahas beberapa aspek kunci terkait dengan pendidikan moral di sekolah. Pertama, penekanan pada peran guru sebagai pendidik moral utama di sekolah, serta pentingnya bahwa guru itu sendiri harus memiliki moral yang baik untuk memberikan contoh yang positif kepada siswa. Juga, dijelaskan bahwa seluruh staf sekolah, termasuk pegawai tata usaha, pramu kantor, tukang kebun, dan komite sekolah, memiliki peran dalam membangun moral siswa.

Yang kedua yaitu, materi pendidikan moral yang mencakup nilai-nilai moral terhadap diri sendiri, sesama manusia, alam semesta, dan Tuhan Yang Maha Esa. Ini mencakup nilai-nilai seperti kerjasama, toleransi, kebersihan diri, dan banyak lagi. Menurut (Zuriah, 2010) menjelaskan bahwa materi pendidikan moral mencakup ajaran dan pengalaman belajar untuk menjadi orang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, moral terhadap sesama manusia dan alam semesta serta moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Ketiga, metode pendidikan moral yang dibahas mencakup berbagai pendekatan, termasuk inkulkasi nilai, keteladanan, klarifikasi nilai, fasilitasi nilai, dan keterampilan nilai moral. Setiap metode memiliki ciri khasnya sendiri, dan penekanan diberikan pada pentingnya menggunakan metode yang sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan siswa.

Keempat, evaluasi pendidikan moral harus mencakup tiga aspek utama: evaluasi penalaran moral, evaluasi karakteristik afektif, dan evaluasi perilaku moral. Tujuannya adalah untuk mengukur ketercapaian tujuan pendidikan moral yang mencakup pemahaman nilai, perasaan nilai, dan perilaku moral siswa. Evaluasi afektif dibagi menjadi beberapa tahap perkembangan, dan penekanan diberikan pada pemahaman dan penerimaan nilai-nilai moral oleh siswa.

Dengan demikian, hasil dan pembahasan jurnal ini memberikan wawasan yang komprehensif tentang komponen-komponen kunci dalam pendidikan moral di sekolah, serta metode yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan moral tersebut.

Kesimpulan
Kesimpulan jurnal ini menekankan pentingnya pendidikan moral di sekolah yang dilakukan oleh guru dan seluruh komponen sekolah. Komprehensifnya pendidikan moral dapat tercapai dengan memperhatikan cakupan materi, variasi metode, dan evaluasi yang menyeluruh. Dengan memperhatikan komponen-komponen ini, sekolah dapat merancang pendidikan moral yang lebih efektif, yang pada akhirnya akan menghasilkan generasi muda yang berkualitas dengan nilai-nilai moral yang kuat.