Nama : Fadhila Cahya Ningtyas
Npm : 2213053271
Identitas Jurnal
Judul : Membina Nilai Moral Sosial Budaya IndonesiaDi Kalangan Remaja
Vol, nomor, tahun, dan halaman : Vol. 1. No. 1. April 2010, halaman 90-100
Penulis : H. Wanto Rivaie
Abstrak
Saat ini upaya orang tua dalam membina anak dengan kasih sayang untuk menjadi generasi mendatang yang bertanggung jawab dan berakhlaq mulia menjadi sesuatu yang langka. Kelangkan tersebut menyebabkan kenakalan remaja. Untuk itu upaya pendidikan perlu perlakuan yang menitik beratkan pada aspek afektif dan perilaku yang luhur.
Kata kunci : Nilai Moral, Sosial Budaya, Indonesia.
Pendahuluan
Kasih sayang adalah sifat luhur Tuhan Yang Maha Esa dan melekat pada ciptaannya. Hal ini terkandung dalam surah Al Isra (17): 23-25: yang artinya“.... dan hendaklah engkau merendah diri kepada keduanya karena belas kasihan dan kasih sayangmu, dan doakanlah untuk mereka dengan berkata: wahai Tuhanku cucurilah rahmat kepada mereka berdua sebagaimana mereka telah mencurahkan kasih sayangnya memelihara dan mendidikku semasa kecil”. Dalam surah tersebut Allah telah memberikan pedoman pada umat manusia untuk membina anak agar menjadi generasi mendatang yang bertanggungjawab dan berakhlaq mulia. Tanggung jawab dan akhlaq mulia dapat terwuju apabila ditanamkan nilai-nilai keimanan dan disertai kegiatan ibadah dan muamallah yang terus menerus dan konsisten disertai keteladanan orangtua dan para pemimpin/tokoh masyarakat yang ada.
Membangun Hubungan Interpersonal Antar Bangsa
Nilai-nilai hubungan antar manusia warga bangsa perlu dibangun berdasarkan saling menghargai, saling percaya untuk menciptakan kehidupan yang sejahtera. Prof . Dr. H. Nursid S, dala bukunya (2008, 31-44) bahwa manusia baru dapat dikatakan manusia yang sebenarnya, bila ada di dalam masyarakat. Namun saat ini hubungan antar manusia yang yang ada belum berjalan optimal seperti kemiskinan semakin meluas, pemerataan pendidikan belum optimal, pengangguran semakin besar jumlahnya, perampokan, pemerkosaan dan sejenisnya belum mendapat penanganan oleh segenap lapisan masyarakat secara bersinergi.Masalah bangsa ini memerlukan uluran tangan dan pikiran seluruh lapisan masyarakat bangsa Indonesia, berbagai unsur keluarga, dan masyarakat, perlu bantu membantu dan bahu-membahu membangun bangsa ini.
Pendidikan Generasi Muda Yang Memiliki Jati Diri Indonesia Yang Berkadar Modern
Jati diri generasi muda dapat dibentuk oleh tradisi kehidupan masyarakat atau oleh usaha yang terprogram, direncanakan dengan baik, dan sistematis/modern (Jalaluddin, dan Abdullah Idi, 2007, 184-185). Dengan memahami jati diri yang sebenarnya kita tidak akan menjadi tinggi hati melainkan menjadi rendah hati, menghargai makhluk lain khususnya manusia.
Diperlukan Pendidik Dalam Arti Seluas-luasnya (Orang Tua, Guru,Dosen, Tokoh Masayarakat Formal/Non Formal)
Nursid S. (2008, 31-33) berpendapat bahwa sepanjang hidupnya manusia dipengaruhi oleh pendidik dalam arti luas ini (orang tua, guru, dan tokoh masyarakat). Nursid S. (2008, 31) jugamenyatakan tentang orang tua sebagai pendidik berhadapan dengan kelompok sosial pertama dan terutama yang dikenal oleh anak-anak untuk meletakkan dasar-dasar pendidikan pada diri si bayi. Sedangkan di lembaga pendidikan formal dan non formal (masyarakat), pendidik yang bertugas membentuk nilai moral untuk membangun jatidiri generasi muda adalah guru dan tokoh masyarakat (Uyoh Sadulloh dkk, 6-12).
Penciptaan Suasana Yang Kondusif Aktif, Efektif, Komunikatif Penuh Nilai Kreatif Dan Bertanggung Jawab
Menciptakan suasana pendidikan yang kondusif dimaksudkan, bahwa perlu dibangun interaksi timbal balik dua arah yang akan melahirkan masukan dan hasil.Komunikasi menunjukan kebersamaan, pertemanan, dan keadilan, berbagi dengan yang lain. Suasana pendidikan yang kondusif perlu didasari komunikasi yang penuh nilai seperti yang dinyatakan oleh Berry dalam Sofyan Sauri (2008, 58). Dalam komunikasi yang penuh nilai, kreatif dan bertanggung jawab, hal penting yang perlu diperhatikan adalah bagaimana peserta didik bisa tumbuh self confidence, dan self esterm agar potensi yang ada pada dirinya berkembang secara maksimal dan berbudi pekerti yang baik.
Peranan Strategis Pendidikan Agama dalam Pembentukan
Perilaku Peserta Didik dalam Kondisi Masyarakat yang PluralistisDengan landasan pendidikan agama yang dilakukan di keluarga, sekolah dan masyarakat dengan sebaik-baiknya, maka akan terbangun kepribadian peserta didik yang memiliki nilai-nilai moral yang tercantum dalam pancasila, dimana sila yang pertama adalah Sila Ketuhanan YME, yang menjadi dasar sila-sila yang lain. Acuan utama bagi terwujudnya masyarakat Indonesia yang multikultural dan pluralistis adalah multikulturalisme, yaitu sebuah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan baik secara individual maupun secara kebudayaan. Adapun upaya membangun masa depan bangsa Indonesia di atas multikultural hanya mungkin dapat terwujud apabila konsep multikulturalisme menyebar luas dan dipahami pentingnya bagi bangsa Indonesia, serta adanya keinginan bangsa Indonesia pada tingkat nasional maupun lokal untuk mengadopsi dan menjadi pedoman hidupnya dan upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk dapat mewujudkan cita-cita ini.
Faktor-Faktor Personal Yang Mempengaruhi Tindakan Manusia
Faktor-faktor personal yang mempengaruhi tindakan manusia diantaranya aspek biologis, aspek sosiopsikologis, motif sosiogenesis, konsepsi manusia dalam psikoanalisis, dan teori behaviorisme.
Menginternalisasikan Nilai Pancasila, Membina Jati diri Berwawasan Nasional
Upaya internalisasi nilai-nilai Pancasila perlu dilakukan sejak usia dini, yang dimulai dari kelompok primer yaitu lingkungan keluarga, sampai dengan lingkungan yang lebih luas/kelompok sekunder yaitu lingkungan tetangga, teman sebaya (peer group), lembaga pendidikan formal dan pendidikan non formal.
Penutup
Pembentukan nilai moral sosial budaya Indonesia di kalangan anak-anak dan remaja merupakan tanggung jawab orang tua, masyarakat dan pemerintah secara bersinergis. Namun saat ini ketiganya belum melakukan sinergitas yang optimal, sehingga di berbagai lingkungan pendidikan seringkali terjadi penyimpangan moral. Orang tua, masyarakat dan pemerintah perlu meningkatkan kerjasama yang kuat, koordinasi yang sistematis, dan saling bahu-membahu sehingga dapat menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang maju yang bernilai, bermoral, dan berbudaya Indonesia yang di Ridhai Tuhan Yang Maha Esa.