Kiriman dibuat oleh Fadhila Cahya Ningtyas 2213053271

Nama : Fadhila Cahya Ningtyas
NPM : 2213053271
Kelas : 3G

Analisis video 2
Kekerasan di Lingkungan Sekolah

Video tersebut memberitakan kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah. Terdapat sejumlah kasus penganiayaan sesama anak di lingkungan sekolah di beberapa tahun terakhir di Indonesia. Pada September 2015 di Jakarta terdapat siswa yang meninggal dunia setelah berkelahi dengan teman sekolahnya sendiri. Hal ini terjadi karena kurangnya pengawasan sekolah terhadap kekerasan yang terjadi di sekolah tersebut. Pada tahun 2017 juga di Sukabumi siswa kelas 2 SD meninggal dunia dikarenakan dirundung dan dilempar minuman beku oleh temannya. Pada tahun yang sama di SD Negeri Bandung terjadi duel antara dua siswa SD saat hari guru. Kasus ini mengakibatkan nyawa siswa tidak tertolong karena kelalaian guru dan pihak sekolah dengan kronologi pelaku terganggu dengan korban yang menyalakan motor bising. Kasus-kasus kekerasan di atas merupakan hal yang tidak dapat disepelekan di Indonesia ini. Tidak hanya guru orang tua juga memegang peranan penting dalam membina anak-anaknya agar tidak melakukan penyimpangan moral atau kekerasan kepada siapapun.
Nama : Fadhila Cahya Ningtyas
NPM : 2213053271
Kelas : 3G

Analisis Video
Dari video tersebut terdapat dua pertanyaan survei kepada orang-orang dan penonton video mengenai moralitas. Dua pertanyaan tersebut berisi tentang pilihan menyelamatkan dan membunuh orang di mana keduanya sama-sama berujung membunuh orang lain. Antara menarik tuas kereta atau tidak dan mendorong satu orang atau tidak. Jelas dua pertanyaan tersebut membingungkan untuk dijawab.

Pada tahun 1967 Philippa Foot mengajukan sebuah eksperimen yang dikenal dengan Trolley Problem.
Eksperimental dari pertanyaan di atas telah diadaptasi untuk memahami konteks moral dalam kondisi seperti perang, penyiksaan, drone, aborsi dan eutanasia. Seperti ini menjadi penting saat perkembangan AI ( Artificial Inteligence) macine learning, di mana mesin diberikan kontrol untuk mengambil keputusan mana yang lebih bermoral pada berbagai kondisi yang terjadi. The Trolley Problem membuat manusia berpikir lebih jauh tentang konsekuensi dari sebuah pilihan apakah dibuat berdasarkan nilai moral tertentu atau lebih pada hasil akhirnya dan bagaimana kita mengekspresikannya dalam kehidupan sehari-hari. Suatu pemikiran bahwa mengorbankan sesuatu yang kecil untuk mendapatkan sesuatu yang besar kerap masuk sebagai doktrin di kehidupan, akibatnya moral sering digunakan sebagai alat oleh penguasa dan segelintir orang untuk membenarkan perang, memusnahkan etnis tertentu, genocide, diskriminasi minoritas, pengrusakan lingkungan, dan sebagainya hanya dengan alasan demi kepentingan dunia, kepentingan umum, atau demi masa depan yang lebih cerah. Mengorbankan sedikit demi mendapatkan yang lebih banyak bukanlah pilihan yang baik, dan apabila suatu hal yang buruk meskipun tidak dilakukan dengan tangan kita sendiri kita tidak boleh menyetujuinya atau membiarkan itu terjadi. Perilaku penyimpangan moral seperti diskriminasi dan stigmatisasi kelompok minoritas oleh kaum mayoritas, atau orang yang merasa paling benar dan paling berkuasa dengan alasan kepentingan umum bukanlah hal yang dapat dibenarkan. Begitu juga dengan perang terhadap sekelompok orang, oknum yang dicat pembuat toner dengan mengorbankan orang yang tidak bersalah hanya demi alasan perdamaian dan ketertiban dunia bukan juga pilihan yang lebih bermoral. Agar tidak berpikir untuk mengorbankan sesuatu yang sedikit untuk mendapatkan yang lebih besar kita harus berpikir dari sisi yang berbeda.

Moralitas memang sering menjadi alat pembenaran dari suatu penyimpangan saat seseorang berada di posisi yang diuntungkan atau memiliki kepentingan. Pada akhirnya moralitas hanya menjadi egoisme manusia dengan kepentingannya sendiri atau kelompoknya sendiri.

Nama : Fadhila Cahya Ningtyas

Npm : 2213053271

Identitas Jurnal

Judul : Membina Nilai Moral Sosial Budaya IndonesiaDi Kalangan Remaja

Vol, nomor, tahun, dan halaman : Vol. 1. No. 1. April 2010, halaman 90-100

Penulis : H. Wanto Rivaie


Abstrak

Saat ini upaya orang tua dalam membina anak dengan kasih sayang untuk menjadi generasi mendatang yang bertanggung jawab dan berakhlaq mulia menjadi sesuatu yang langka. Kelangkan tersebut menyebabkan kenakalan remaja. Untuk itu upaya pendidikan perlu perlakuan yang menitik beratkan pada aspek afektif dan perilaku yang luhur.

Kata kunci : Nilai Moral, Sosial Budaya, Indonesia.


Pendahuluan

Kasih sayang adalah sifat luhur Tuhan Yang Maha Esa dan melekat pada ciptaannya. Hal ini terkandung dalam surah Al Isra (17): 23-25: yang artinya“.... dan hendaklah engkau merendah diri kepada keduanya karena belas kasihan dan kasih sayangmu, dan doakanlah untuk mereka dengan berkata: wahai Tuhanku cucurilah rahmat kepada mereka berdua sebagaimana mereka telah mencurahkan kasih sayangnya memelihara dan mendidikku semasa kecil”. Dalam surah tersebut Allah telah memberikan pedoman pada umat manusia untuk membina anak agar menjadi generasi mendatang yang bertanggungjawab dan berakhlaq mulia. Tanggung jawab dan akhlaq mulia dapat terwuju apabila ditanamkan nilai-nilai keimanan dan disertai kegiatan ibadah dan muamallah yang terus menerus dan konsisten disertai keteladanan orangtua dan para pemimpin/tokoh masyarakat yang ada.


Membangun Hubungan Interpersonal Antar Bangsa

Nilai-nilai hubungan antar manusia warga bangsa perlu dibangun berdasarkan saling menghargai, saling percaya untuk menciptakan kehidupan yang sejahtera. Prof . Dr. H. Nursid S, dala bukunya (2008, 31-44) bahwa manusia baru dapat dikatakan manusia yang sebenarnya, bila ada di dalam masyarakat. Namun saat ini hubungan antar manusia yang yang ada belum berjalan optimal seperti kemiskinan semakin meluas, pemerataan pendidikan belum optimal, pengangguran semakin besar jumlahnya, perampokan, pemerkosaan dan sejenisnya belum mendapat penanganan oleh segenap lapisan masyarakat secara bersinergi.Masalah bangsa ini memerlukan uluran tangan dan pikiran seluruh lapisan masyarakat bangsa Indonesia, berbagai unsur keluarga, dan masyarakat, perlu bantu membantu dan bahu-membahu membangun bangsa ini.


Pendidikan Generasi Muda Yang Memiliki Jati Diri Indonesia Yang Berkadar Modern


Jati diri generasi muda dapat dibentuk oleh tradisi kehidupan masyarakat atau oleh usaha yang terprogram, direncanakan dengan baik, dan sistematis/modern (Jalaluddin, dan Abdullah Idi, 2007, 184-185). Dengan memahami jati diri yang sebenarnya kita tidak akan menjadi tinggi hati melainkan menjadi rendah hati, menghargai makhluk lain khususnya manusia.


Diperlukan Pendidik Dalam Arti Seluas-luasnya (Orang Tua, Guru,Dosen, Tokoh Masayarakat Formal/Non Formal)


Nursid S. (2008, 31-33) berpendapat bahwa sepanjang hidupnya manusia dipengaruhi oleh pendidik dalam arti luas ini (orang tua, guru, dan tokoh masyarakat). Nursid S. (2008, 31) jugamenyatakan tentang orang tua sebagai pendidik berhadapan dengan kelompok sosial pertama dan terutama yang dikenal oleh anak-anak untuk meletakkan dasar-dasar pendidikan pada diri si bayi. Sedangkan di lembaga pendidikan formal dan non formal (masyarakat), pendidik yang bertugas membentuk nilai moral untuk membangun jatidiri generasi muda adalah guru dan tokoh masyarakat (Uyoh Sadulloh dkk, 6-12).


Penciptaan Suasana Yang Kondusif Aktif, Efektif, Komunikatif Penuh Nilai Kreatif Dan Bertanggung Jawab


Menciptakan suasana pendidikan yang kondusif dimaksudkan, bahwa perlu dibangun interaksi timbal balik dua arah yang akan melahirkan masukan dan hasil.Komunikasi menunjukan kebersamaan, pertemanan, dan keadilan, berbagi dengan yang lain. Suasana pendidikan yang kondusif perlu didasari komunikasi yang penuh nilai seperti yang dinyatakan oleh Berry dalam Sofyan Sauri (2008, 58). Dalam komunikasi yang penuh nilai, kreatif dan bertanggung jawab, hal penting yang perlu diperhatikan adalah bagaimana peserta didik bisa tumbuh self confidence, dan self esterm agar potensi yang ada pada dirinya berkembang secara maksimal dan berbudi pekerti yang baik.


Peranan Strategis Pendidikan Agama dalam Pembentukan 

Perilaku Peserta Didik dalam Kondisi Masyarakat yang PluralistisDengan landasan pendidikan agama yang dilakukan di keluarga, sekolah dan masyarakat dengan sebaik-baiknya, maka akan terbangun kepribadian peserta didik yang memiliki nilai-nilai moral yang tercantum dalam pancasila, dimana sila yang pertama adalah Sila Ketuhanan YME, yang menjadi dasar sila-sila yang lain. Acuan utama bagi terwujudnya masyarakat Indonesia yang multikultural dan pluralistis adalah multikulturalisme, yaitu sebuah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan baik secara individual maupun secara kebudayaan. Adapun upaya membangun masa depan bangsa Indonesia di atas multikultural hanya mungkin dapat terwujud apabila konsep multikulturalisme menyebar luas dan dipahami pentingnya bagi bangsa Indonesia, serta adanya keinginan bangsa Indonesia pada tingkat nasional maupun lokal untuk mengadopsi dan menjadi pedoman hidupnya dan upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk dapat mewujudkan cita-cita ini.


Faktor-Faktor Personal Yang Mempengaruhi Tindakan Manusia

Faktor-faktor personal yang mempengaruhi tindakan manusia diantaranya aspek biologis, aspek sosiopsikologis, motif sosiogenesis, konsepsi manusia dalam psikoanalisis, dan teori behaviorisme.


Menginternalisasikan Nilai Pancasila, Membina Jati diri Berwawasan Nasional


Upaya internalisasi nilai-nilai Pancasila perlu dilakukan sejak usia dini, yang dimulai dari kelompok primer yaitu lingkungan keluarga, sampai dengan lingkungan yang lebih luas/kelompok sekunder yaitu lingkungan tetangga, teman sebaya (peer group), lembaga pendidikan formal dan pendidikan non formal. 


Penutup 

Pembentukan nilai moral sosial budaya Indonesia di kalangan anak-anak dan remaja merupakan tanggung jawab orang tua, masyarakat dan pemerintah secara bersinergis. Namun saat ini ketiganya belum melakukan sinergitas yang optimal, sehingga di berbagai lingkungan pendidikan seringkali terjadi penyimpangan moral. Orang tua, masyarakat dan pemerintah perlu meningkatkan kerjasama yang kuat, koordinasi yang sistematis, dan saling bahu-membahu sehingga dapat menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang maju yang bernilai, bermoral, dan berbudaya Indonesia yang di Ridhai Tuhan Yang Maha Esa.

Nama : Fadhila Cahya Ningtyas
Npm : 2213053271
Identitas Jurnal
Judul : Penerapan Nilai Moral Pancasila dalam Mewujudkan Generasi Anti Korupsi di SD Negeri Osiloa Kupang Tengah
Vol, nomor, tahun, halaman : Vol 2 No 1 (2022), halaman 13-17
Nama Jurnal : Jurnal Pemimpin - Pengabdian Masyarkat Ilmu Pendidikan.
Penulis : Asti Yunita Benu, Agnes Maria Diana Rafael, Imanuel Baok, Intan Yunita Tungga, Maria M Nina Niron, Niski Astria Ndolu, dan Vebiyanti P Leo
Abstrak
Didalam jurnal ini abstrak disajikan dalam dua bahasa yaitu bahasa Indonesia dan Inggris serta dijelaskan tujuan dari Pendidikan Moral yaitu menumbuhkembangkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, serta menjadi standar baik atau buruknya perbuatan manusia. Penanaman nilai moral pancasila kepada peserta didik dapat membangun dan membekali peserta didik sebagai generasiemas dalam mewujudkan budaya anti korupsi sejak dini.
Kata kunci : nilai moral pancasila, generasi dan anti korupsi

Pendahuluan
Nilai moral Pancasila merupakan pedoman bagi warga negara Indonesia dalam berperilaku atau bertindak hidup mengikuti aturan yang telah ditetapkan dalam Pancasila atau ideologi Indonesia. Dapat pula dikatakan bahwa moral Pancasila merupakan sikap bermasyarakat yang baik yang harus dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Pendidikan moral Pancasila merupakan pendidikan yang berupaya untuk menumbuhkembangkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Metode ABDIMAS
Metode yang digunakan dalam jurnal ini adalah adalah sosialisasi kepada siswa kelas III-V di SD Negeri Osiloa, tentang menanamkan sikap dan nilai kejujuran, nilai kedisiplinan, nilai tanggung jawab serta nilai keadilan. Adapun tahapannta yaitu tahap 1 perizinan Tim pengabdian masyarakat meminta izin kepada kepalah sekolah dan guru guru di SD Negeri Osiloa melalui surat izin yang di berikan kampus Universitas Citra Bangsa, tahap 2 (pemaparan materi), dan terakhir memberikan kuis pertanyaan.

Hasil dan Pembahasan

Tujuan dari Penerapan Nilai Moral Pancasila Sejak Dini Dalam Mewujudkan Generasi Anti Korupsi di SD Negeri Osiloa Kupang Tengah ialah membangun dan membekali peserta didik sebagai generasi emas dengan jiwa Pancasila yang baik guna menghadapi dinamika perubahan, menembangkan pendidikan nasional yang meletakan pendidikan moral Pancasila sebagai jiwa utama dalam penyelenggaraan pendidikan bagi peserta didik dengan dukungan keterlibatan publik yang di lakukan melalui pendidikan jalur formal, nonformal dan informal, merevitalisasi dan memperkuat potensi pendidik, tenaga pendidikan, peserta didik ,masyarakat dan lingkungan keluarga. Nilai moral memiliki fungsi yaitu mengingatkan manusia untuk melakukan kebaikan demi diri sendiri dan sesama sebagai bagian dari masyarakat, menarik perhatian pada permasalahan-permasalahan moral yang kurang ditanggapi manusia, dan menjadi penarik perhatian manusia kepada gejala (Pembiasaan emosional).

Kesimpulan
Dalam jurnal ini sosialisasi penerapan nilai moral Pancasila dalam mewujudkan generasi anti korupsi di SD Negeri Osiola Kupang Tengah, memiliki kesimpulan bahwa menanamkan nilai moral sedini mungkin dapat mencegah dorongan negatif untuk melakukan korupsi sejak dini dan penanaman nilai moral Pancasila kepada peserta didik dapat membangun serta membekali peserta didik sebagai generasi emas dalam mewujudkan budaya anti korupsi sejak dini.
Nama : Fadhila Cahya Ningtyas
Npm : 2213053271
Kelas : 3G
Prodi : PGSD
Analisis video
" Pengalaman Pancasila dalam Kehidupan"

Lambang negara Indonesia yaitu Garuda Pancasila dan di bagian tengahnya terdapat perisai yang berisi lambang dari sila Pancasila. Pancasila harus diamalkan, pengamalan Pancasila berarti penerapan nilai-nilai Pancasila di dalam kehidupan sehari-hari.
Bentuk bentuk pengalaman sila Pancasila diantaranya:

1. Ketuhanan Yang Maha Esa
Sila pertama ini dilambangkan dengan bintang, sila ini berisi ajakan kepada seluruh warga negara untuk percaya kepada Tuhan dan melaksanakan perintah-Nya. Contoh pengamalannya yaitu bersyukur kepada Tuhan, berdoa sebelum dan sesudah makan, menghormati agama orang lain, tidak memaksakan suatu agama kepada orang lain, dan tekun melaksanakan ibadah sesuai agama yang dianut.

2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Sila kedua ini dilambangkan dengan gambar rantai. Pada sila ini kita diajak untuk saling mencintai sesama manusia seperti membantu korban bencana alam, membantu keluarga, tidak berbuat kasar kepada orang lain, menolong sesama, dan bersikap sopan kepada orang tua.

3. Persatuan Indonesia
Sila ketiga ini dilambangkan dengan pohon beringin. Sila ini mengajak kita sebagai warga negara untuk cinta terhadap bangsa Indonesia. Contoh pengalaman sila ke-3 ialah melestarikan budaya daerah, bermain dengan rukun, berteman tidak membeda-bedakan suku dan agama, mencintai produk Indonesia, dan mengikuti upacara dengan tertib.

4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan
Sila keempat dilambangkan dengan kepala banteng. Pada sila ini mengajak kita untuk bermusyawarah dalam menyelesaikan suatu masalah. Adapun contoh-contoh pengamalan sila ke-4 yaitu menyampaikan pendapat, berdiskusi, menghargai pendapat orang lain, dan menerima hasil musyawarah dengan lapang dada.

5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Ini dilambangkan dengan padi dan kapas yang mengajak kita untuk bersikap adil terhadap sesama. Contoh pengamalan sila ini diantaranya tidak berbuat curang, menghargai hasil karya orang lain, boros dan suka menabung, melaksanakan hak dan kewajiban secara seimbang, dan bergotong-royong.