Kiriman dibuat oleh Meldayanti putri 2213053088

Nama : Meldayanti putri
NPM : 2213053088

Analisis video 1

Tahap perkembangan moral dibagi menjadi 3 level
1. Pra-Konvensional
•Tahap 1. Menghindari hukuman (seseorang memiliki alasan untuk bertindak atau tidak bertindak sesuatu, karena untuk menghindari hukuman)
•Tahap 2. Keuntungan dan minat pribadi (tindakan di lakukan dengan memperhitungkan apa yang akan di dapatkan olehnya)
2. Konvensional
•Tahap 3. Menjaga sikap orang baik (menghindari pertengkaran karena memikirkan bagaimana kesepakatan sosial yang ada dan pendapat orang lain terhadapnya)
•Tahap 4. Memelihara peraturan (peraturan harus di tegakkan, jika tidak maka keadaan akan menjadi kacau, karenanya praturan harus selalu di patuhi)
3. Pasca-Konvensional
•Tahap 5. Orientasi kontrak sosial (menyadari bahwa setiap orang memiliki latar belakang dan situasi berbeda. hak hak individu harus di lihat bersamaan dengan hukum yang ada)
•Tahap 6. Prinsip etika universal (menggambarkan prinsip internal seseorang).
Nama : Meldayanti putri
NPM : 2213053088

Analisis Video 2
judul : Degradasi Moral Pelajar Jaman modern

Apa yang di lakukan oleh anak sebenernya tidak berdiri sendiri pasti ada sebab penyebab salah satu yang utama dilihat dari pola pengasuhan bagaimana anak ini dirumah , sikap dan perilaku di sekolah tidak di bentuk secara tiba-tiba itu ada sebuah proses panjang dalam hidup nya . Kemudian yang kedua ada kaitannya dengan guru di kelas dalam mengelola kelas , jadi menghadapi anak anak tertentu .
Apapun tidak boleh di lakukan dengan kekerasan baik dari guru maupun siswa itu tidak di benarkan.

Guru mempunyai 4 standar kompetensi utama
1. Kompetensi kepribadian
2. Kompetensi sosial
3. Kompetensi profesional
4. Kompetensi pedagogik
Yang sementara ini baik dalam pembekalan sebelum jadi guru apalagi dalam pelatihan setelah jadi guru ke empat hal ini belum dilaksanakan secara holistik .
Jadi misalnya pelatihan sebelum menjadi guru faktor kepribadian sebelum seseorang memasuki tahapan menjadi seorang pendidik mestinya dilakukan scrining (scrining psikologis ) supaya ketika dia sudah siap sekolah guru dia sudah betul betul siap untuk menjadi seorang pendidik .
Nama : Meldayanti putri
NPM : 2213053088

Analisis Jurnal 1
Nama jurnal : Jurnal Cakrawala Pendidikan
Tahun Terbit : 2009
Judul Jurnal : PENDIDIKAN NILAI MORAL DITINJAU DARI PERSPEKTIF GLOBAL

Dimensi Pendidikan Nilai Moral
Dalam rangka mengkaji pendidikan
nilai moral secara luas, berikut ini dikemukakan pula pembahasan mengenai perkembangan moral, pendidikan nilai moral, dan strategi pendidika nilai moral.

a.Teori Perkembangan Moral
Dewasa ini, psikologi dan sosiolog
banyak membahas nilai-nilai moral dalam fisika dengan perkembangan dan pendidikan anak. Pembahasan itu bertolak dari anggapan bahwa tidak ada prinsip moral yang universal (kecuali moral agama) dan tetap atau tidak berubah-ubah. Pada dasarnya setiap
pribadi memperoleh keuntungannya sendiri dari kebudayaan eksternal. Nilai moral merupakan penilaian terhadap tindakan yang umumnya diyakini oleh anggota masyarakat tertentu sebagai yang salah atau benar (Berkowitz, 1964; dikutip Muhaimin, 2001: 215). Pertimbangan moral adalah penilaian mengenai benar dan baik suatu
tindakan. Akan tetapi, tidak semua penilaian mengenai baik dan benar merupakan pertimbangan moral. Banyak di antara tindakan yang justru merupakan penilaian terhadap kebaikan atau kebenaran, estetika, teknologi atau kebijaksanaan. Berbeda dengan penilaian terhadap kebijakan atau estetika, penilaian moral yang cenderung bersifat universal, inklusif, konsisten, dan didasarkan pada
alasan-alasan yang objektif, impersonal, atau ideal. Struktur pertimbangan moral ditetapkan berdasarkan pada apa
yang diperoleh seseorang sebagai sesuatu yang berharga pada setiap isu-isu moral dan bagaimana ia mampu memilih dan menetapkan nilai-nilai dengan disertai alasan mengapa seseorang memilih dan menetapkan bahwa sesuatu itu berharga.
Penetapan tingkat perkembangan moral ini didasarkan pada karakteristik empiris yang invarian dan tidak pernah terbalik dalam semua kondisi (kecuali mereka yang memiliki beberapa ciri pokok berikut. (1) Tahap-tahap pertimbangan moral tersusun secara utuh, artinya sistem berpikirnya terorganisasi. (2) Tahap
pertimbangan moral berurutan
yang mengalami trauma secara ekstrem perkembangannya selalu progresif). Tidak ada tahap-tahap yang terlompati dan gerakannya selalu menuju tahap yang lebih tinggi. (3) Tahap-tahap pertimbangan moral terintegrasi secara hierarkis. Artinya, tingkat pemikiran moral yang tinggi telah mencapai dan menguasai tahap-tahap dan pola pikir yang berada di bawah. (4) Struktur tingkat pertimbangan fungsi moral
melahirkan kecenderungan ke arah
tahapan-tahapan yang lebih tinggi. (5) Yang ditetapkan seseorang (se-bagai sesuatu yang berharga atau tidak berharga) dalam suatu situasi yang dihadapi disebut isi pertimbangan moral, sedangkan alasan tentang penetapan Struktur pertimbangan moral harus dibedakan dengan isi pertimbangan moral. Misalnya, suatu pilihan suatu pilihan (struktur penetapan pilihan) berdasarkan pemikiran moralnya disebut pertimbangan moral (melalui
Muhamimin, 2001: 216).

b.Pendidikan Nilai Moral
Pendidikan nilai moral adalah pendidikan yang berusaha mengembangkan komponen-komponen integrasi pribadi. Integrasi pribadi dapat dilukiskan sekurang-kurangnya dengan empat gambaran kepribadian. Menurut John
P. Miller (1976: 5), gambaran kepribadian menunjukkan beberapa ciri. Pertama, pribadi yang terintegrasikan selalu melakukan pertumbuhan dan perkembangan. Maksudnya,ia memandang kehidupan sebagai suatu proses menjadi dan berusaha memilih pengalaman-pengalaman yang mengakibatkan perkembangan tersebut.Kedua, pribadi yang terintegrasikan memiliki kesadaran akan jati dirinya dan identitasnya. Dia dapat mengenal
dan menjelaskan nilai-nilai dan keyakinan yang ia percayai dan menegaskannya secara terbuka, sejauh nilai-nilai itu menjadi kesatuan dengan jati dirinya.

C. Pendekatan Pendidikan Nilai Moral
Pendekatan komprehensif pendidikan nilai menurut Kirschenbaum
dalam Darmiyati Zuchdi, 2008: 36-37)
meliputi pendekatan (i) inculcating,
yaitu menanamkan nilai dan moralitas,
(ii) modeling, yaitu meneladankan nilai
dan moralitas, (iii) facilitating, yaitu memudahkan perkembangan nilai dan
moral, dan (iv) pengembangan keterampilan, yaitu mengembangkan keterampilan untuk mencapai kehidupan pribadi yang tentram dan kehidupan sosial yang kondusif.
d.Metode dan Teknik Pendidikan
Nilai Moral Untuk menerapkan konsep pendidikan nilai tersebut di atas, diperlukan beberapa metode, baik metode langsung maupun tidak langsung.Metode langsung dimulai dengan penentuan perilaku yang dinilai baik sebagai upaya indoktrinasi berbagai ajaran. Caranya dengan memusatkan perhatian
secara langsung pada ajaran melalui
bercerita, mengilustrasikan, menghafalkan, dan menyalinnya.Nomor : 2
Tahun Terbit : 2009
Judul Jurnal : PENDIDIKAN NILAI MORAL DITINJAU DARI PERSPEKTIF GLOBAL

Isu Pendidikan Nilai Moral di
Beberapa Negara.Di bawah ini akan dibahas isu pendidikan nilai moral yang terjadi di empat negara, yaitu Indonesia, Malaysia, India, dan Cina. Empat negara itu dapat mewakili karakteristik suatu bangsa dengan latar belakang ideologi yang berbeda-beda. india merupakan negara Pancasila yang mayoritas beragama Islam, India merupakan negara federal yang tetap mempertahankan nilai-nilai agama sebagai nilai universal. Malaysia merupakan representasi negara yang memiliki bangsa mayoritas Islam sebagaimana
negara Indonesia, sedangkan Cina
merupakan perwakilan negara sosialis
komunis.

A. Indonesia
Pendidikan nilai di Indonesia disadari atau belum banyak menyentuh kesadaran dan kesadaran kesadaran dalam perspektif
global. Persoalan pembenahan pendipendidikan masih dicakup pada kurikulum nasional dan lokal yang belum pernah tuntas.Hasil penelitian Afiyah, dkk. (2003),menyatakan bahwa kelemahan pendidikan agama antara lain terjadi karena materi pendidikan agama Islam,termasuk bahan ajar akhlak, cenderungTerfokus pada pengayaan pengetahuan(kognitif), sedangkan pembentukan sikap(afektif) dan pembiasaan (psikomotorik) sangat minim. Dengan kata lain, pendidikan agama lebih didominasi oayo pindah
ilmu pengetahuan agama dan lebih banyak bersifat hafalan tekstual, sehingga aspeknya kurang menyentuh
sosial mengenai ajaran hidup yang toleran dalam bermasyarakat dan berbangsa.

B. India
Nilai pendidikan di India tampak
lebih populer dibandingkan dengan di
negara lain. Dalam pendidikan nasional
India, pendidikan nilai dikembangkan
sebagai usaha untuk meningkatkan kesadaran nilai ilmiah, sosial, dan kemudian warga negara yang tidak secara khusus dikembangkan melalui satu sama lain.sudut pandang agama. Hal ini tidak berarti mengabaikan pentingnya pendidikan agama sebagai kekuatan dalam membangun karakter bangsa, melainkan untuk menempatkan nilai-nilai pendidikan dalam konteks pemahaman nilai
agama yang universal (Mulyana, 2004:
230).

C. Malaysia
Nilai Pendidikan dilakukan di sekolah dasar dan pengembangannya dilakukan secara langsung dan tidak
langsung. Secara langsung pendidikan
nilai diajarkan melalui pendidikan moral dan mata pelajaran agama, sedangkan pendidikan nilai yang tidak secara
langsung dikembangkan melalui sejumlah mata pelajaran lainnya, seperti program pendidikan kewarganegaraan dan melalui kegiatan kokurikuler.Silabus pendidikan nilai-nilai untuk sekolah dasar berupa kebersihan badan dan pikiran, empati, sikap tidak berlebihan, bersyukur, rajin, jujur, adil, kasih sayang, hormat, keharmonisan sosial, kesederhanaan, dan kebebasan.

D.Dalam tradisi Cina
pendidikan memiliki hubungan erat dengan kewajibanmoral. Tradisi ini menempatkan nilai pendidikan sebagai bagian penting dalam peraturan pendidikan. Meskipun demikian, dalam perkembangannya, pendidikan mempunyai nilai yang lemah pada
beberapa tantangan berikut. Harapan
masyarakat dan orang tua siswa akan
kemampuan akademik dapat memacu konsentrasi peningkatan akademik yang kemudian berakibat tergesernya pengembangan sentimental,perasaan, dan moralitas. Walaupun sekolah memilki tanggung jawab yang besar dalam mengembangkan kepribadian siswa, hal itu kurang didukung oleh kerjasama yang erat antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.

2. Dimensi Pendidikan Nilai Moral
Dalam rangka mengkaji pendidikan
nilai moral secara luas, berikut ini dikemukakan pula pembahasan mengenai perkembangan moral, pendidikan nilai moral, dan strategi pendidika nilai moral.

a.Teori Perkembangan Moral
Dewasa ini, psikologi dan sosiolog
banyak membahas nilai-nilai moral dalam fisika dengan perkembangan dan pendidikan anak. Pembahasan itu bertolak dari anggapan bahwa tidak ada prinsip moral yang universal (kecuali moral agama) dan tetap atau tidak berubah-ubah. Pada dasarnya setiap
pribadi memperoleh keuntungannya sendiri dari kebudayaan eksternal. Nilai moral merupakan penilaian terhadap tindakan yang umumnya diyakini oleh anggota masyarakat tertentu sebagai yang salah atau benar (Berkowitz, 1964; dikutip Muhaimin, 2001: 215). Pertimbangan moral adalah penilaian mengenai benar dan baik suatu
tindakan. Akan tetapi, tidak semua penilaian mengenai baik dan benar merupakan pertimbangan moral. Banyak di antara tindakan yang justru merupakan penilaian terhadap kebaikan atau kebenaran, estetika, teknologi atau kebijaksanaan. Berbeda dengan penilaian terhadap kebijakan atau estetika, penilaian moral yang cenderung bersifat universal, inklusif, konsisten, dan didasarkan pada
alasan-alasan yang objektif, impersonal, atau ideal. Struktur pertimbangan moral ditetapkan berdasarkan pada apa
yang diperoleh seseorang sebagai sesuatu yang berharga pada setiap isu-isu moral dan bagaimana ia mampu memilih dan menetapkan nilai-nilai dengan disertai alasan mengapa seseorang memilih dan menetapkan bahwa sesuatu itu berharga.
Penetapan tingkat perkembangan moral ini didasarkan pada karakteristik empiris yang invarian dan tidak pernah terbalik dalam semua kondisi (kecuali mereka yang memiliki beberapa ciri pokok berikut. (1) Tahap-tahap pertimbangan moral tersusun secara utuh, artinya sistem berpikirnya terorganisasi. (2) Tahap
pertimbangan moral berurutan
yang mengalami trauma secara ekstrem perkembangannya selalu progresif). Tidak ada tahap-tahap yang terlompati dan gerakannya selalu menuju tahap yang lebih tinggi. (3) Tahap-tahap pertimbangan moral terintegrasi secara hierarkis. Artinya, tingkat pemikiran moral yang tinggi telah mencapai dan menguasai tahap-tahap dan pola pikir yang berada di bawah. (4) Struktur tingkat pertimbangan fungsi moral
melahirkan kecenderungan ke arah
tahapan-tahapan yang lebih tinggi. (5) Yang ditetapkan seseorang (se-bagai sesuatu yang berharga atau tidak berharga) dalam suatu situasi yang dihadapi disebut isi pertimbangan moral, sedangkan alasan tentang penetapan Struktur pertimbangan moral harus dibedakan dengan isi pertimbangan moral. Misalnya, suatu pilihan suatu pilihan (struktur penetapan pilihan) berdasarkan pemikiran moralnya disebut pertimbangan moral (melalui
Muhamimin, 2001: 216).

b.Pendidikan Nilai Moral
Pendidikan nilai moral adalah pendidikan yang berusaha mengembangkan komponen-komponen integrasi pribadi. Integrasi pribadi dapat dilukiskan sekurang-kurangnya dengan empat gambaran kepribadian. Menurut John
P. Miller (1976: 5), gambaran kepribadian menunjukkan beberapa ciri. Pertama, pribadi yang terintegrasikan selalu melakukan pertumbuhan dan perkembangan. Maksudnya,ia memandang kehidupan sebagai suatu proses menjadi dan berusaha memilih pengalaman-pengalaman yang mengakibatkan perkembangan tersebut.Kedua, pribadi yang terintegrasikan memiliki kesadaran akan jati dirinya dan identitasnya. Dia dapat mengenal
dan menjelaskan nilai-nilai dan keyakinan yang ia percayai dan menegaskannya secara terbuka, sejauh nilai-nilai itu menjadi kesatuan dengan jati dirinya.

C. Pendekatan Pendidikan Nilai Moral
Pendekatan komprehensif pendidikan nilai menurut Kirschenbaum
dalam Darmiyati Zuchdi, 2008: 36-37)
meliputi pendekatan (i) inculcating,
yaitu menanamkan nilai dan moralitas,
(ii) modeling, yaitu meneladankan nilai
dan moralitas, (iii) facilitating, yaitu memudahkan perkembangan nilai dan
moral, dan (iv) pengembangan keterampilan, yaitu mengembangkan keterampilan untuk mencapai kehidupan pribadi yang tentram dan kehidupan sosial yang kondusif.
d.Metode dan Teknik Pendidikan
Nilai Moral Untuk menerapkan konsep pendidikan nilai tersebut di atas, diperlukan beberapa metode, baik metode langsung maupun tidak langsung.Metode langsung dimulai dengan penentuan perilaku yang dinilai baik sebagai upaya indoktrinasi berbagai ajaran. Caranya dengan memusatkan perhatian
secara langsung pada ajaran melalui
bercerita, mengilustrasikan, menghafalkan, dan menyalinnya.
Nama : Meldayanti putri
NPM : 2213053088

Analisis jurnal 2
Nama jurnal : Jurnal JIPSINDO
penerbit : Enung Hasanah
Volume : 6
Tahun Terbit : 2019
Judul Jurnal : PERKEMBANGAN MORAL SISWA SEKOLAH DASAR BERDASARKAN TEORI KOHLBERG
Metode Penelitian : Kualitatif

Teori (Kohlberg; L., Hersh, R.H. 1977) tentang Perkembangan
Moral dibagi menjadi 3 level, yang masing-masing level dibagi menjadi
beberapa tahap sebagai berikut: Level 1. Moralitas Pra-konvensional • Tahap 1 - Ketaatan dan Hukuman. Tahap awal perkembangan moral terutama terjadi pada anak-anak kecil, tetapi orang dewasa juga mampu mengekspresikan jenis penalaran ini. Pada tahap ini, anakanak melihat aturan sebagai hal yang tetap dan absolut. Mematuhi aturan itu penting karena merupakan sarana untuk menghindari hukuman.; Tahap 2 - Individualisme dan Pertukaran. Pada tahap perkembangan moral ini, anak-anak menjelaskan sudut pandang individu dan menilai tindakan berdasarkan bagaimana mereka melayani kebutuhan individu. Dalam dilema Heinz, anak-anak berpendapat bahwa tindakan terbaik adalah pilihan yang paling baik memenuhi kebutuhan Heinz. Timbal balik adalah mungkin, tetapi hanya jika melayani kepentingan diri sendiri.
Level 2. Moralitas Konvensional • Tahap 3 - Hubungan Interpersonal. Seringkali disebut sebagai orientasi "good boy-good girl", tahap perkembangan moral ini difokuskan pada memenuhi harapan dan peran sosial. Ada penekanan pada konformitas, bersikap "baik," dan mempertimbangkan bagaimana pilihan memengaruhi hubungan.; Tahap 4 - Menjaga Ketertiban Sosial. Pada tahap perkembangan moral ini, orang mulai menganggap masyarakat secara keseluruhan ketika membuat penilaian. Fokusnya adalah menjaga hukum dan ketertiban dengan mengikuti aturan, melakukan tugas seseorang dan menghormati otoritas.
Level 3. Moralitas Pasca konvensional. Tahap 5 - Kontrak Sosial dan Hak Perorangan. Pada tahap ini, orang mulai memperhitungkan perbedaan nilai, pendapat, dan kepercayaan orang lain. Aturan hukum penting untuk mempertahankan masyarakat, tetapi anggota masyarakat harus menyetujui standar-standar ini.; Tahap 6 - Prinsip Universal. Tingkat penalaran moral terakhir Kolhberg didasarkan pada prinsip-prinsip etika universal dan penalaran abstrak. Pada tahap ini, orang mengikuti prinsip-prinsip keadilan yang diinternalisasi ini, bahkan jika mereka bertentangan dengan hukum dan peraturan.