Posts made by Adelina Kusumawati 2213053234

Nama : Adelina Kusumawati
NPM : 2213053234

Identitas jurnal
Nama jurnal : JIPSINDO
Nomor : 2
Volume : 6
Halaman : 131-145
Tahun terbit : 2019
Judul : Perkembangan Moral Siswa Sekolah Dasar Berdasarkan Teori Kohlberg
Nama penulis : Enung Hasanah


Pembahasan
Teori Kohlberg
Teori Kohlberg mengenai perkembangan moral secara formal disebut cognitive-dvelopmental theory of moralization, yang berakar pada karya Piaget. Asumsi utama Piaget adalah bahwa kognisi (pikiran) dan afek (perasaan) berkembang secara paralel dan keputusan moral merupakan proses perkembangan kognisi secara alami. Sebaliknya, kebanyakan ahli psikologi pada masa itu berasumsi bahwa pikiran moral lebih merupakan proses psikologi dan sosial. Dalam mengembangkan teorinya, Kohlberg tidak memusatkan perhatian pada tingkah laku moral, artinya apa yang dilakukan oleh seorang indivdu tidak menjadi pusat pengamatannya. Teori kohlberg dikenal sebagai teori yang mengukur tingkatan moral seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat perkembangan moral siswa SD yang berusia antara 11-12 tahun, berdasarkan tahapan perkembangan teori Kohlberg.

Teori (Kohlberg; L., Hersh, R.H. 1977) tentang Perkembangan Moral dibagi menjadi 3 level, yang masing-masing level dibagi menjadi beberapa tahap sebagai berikut:
1. Level 1. Moralitas Pra-konvensional
 Tahap 1 - Ketaatan dan Hukuman. Pada tahap ini, anakanak melihat aturan sebagai hal yang tetap dan absolut. Mematuhi aturan itu penting karena merupakan sarana untuk menghindari hukuman
 Tahap 2 - Individualisme dan Pertukaran. Pada tahap perkembangan moral ini, anak-anak menjelaskan sudut pandang individu dan menilai tindakan berdasarkan bagaimana mereka melayani kebutuhan individu

2. Level 2. Moralitas Konvensional
 Tahap 3 - Hubungan Interpersonal. Seringkali disebut sebagai orientasi "good boy-good girl", tahap perkembangan moral ini difokuskan pada memenuhi harapan dan peran sosial. Ada penekanan pada konformitas, bersikap "baik," dan mempertimbangkan bagaimana pilihan memengaruhi hubungan
 Tahap 4 - Menjaga Ketertiban Sosial. Pada tahap perkembangan moral ini, orang mulai menganggap masyarakat secara keseluruhan ketika membuat penilaian. Fokusnya adalah menjaga hukum dan ketertiban dengan mengikuti aturan, melakukan tugas seseorang dan menghormati otoritas.

3. Level 3. Moralitas Pasca-konvensional
 Tahap 5 - Kontrak Sosial dan Hak Perorangan. Pada tahap ini, orang mulai memperhitungkan perbedaan nilai, pendapat, dan kepercayaan orang lain.
 Tahap 6 - Prinsip Universal. Pada tahap ini, orang mengikuti prinsip-prinsip keadilan yang diinternalisasi ini, bahkan jika mereka bertentangan dengan hukum dan peraturan.
Nama : Adelina Kusumawati
NPM : 2213053234

Identitas jurnal
Nama jurnal : Jurnal cakrawala
Nomor : 2
Tahun : 2009
Judul : Pendidikan Nilai Moral Ditinjau Dari Perspektif Global
Penulis : Sudiati

Pembahasan
1. Isu Pendidikan Nilai Moral di Beberapa Negara
a. Indonesia
Pendidikan nilai di Indonesia disadari atau tidak masih belum banyak menyentuh pemberdayaan dan pencerahan kesadaran dalam perspektif global. Persoalan pembenahan pendidikan masih terpaku pada kurikulum nasional dan lokal yang belum pernah tuntas
b. India
Pendidikan nilai di India tampak lebih populer dibandingkan dengan di negara lain. Dalam pendidikan nasional India, pendidikan nilai dikembangkan sebagai usaha untuk meningkatkan kesadaran nilai ilmiah, sosial, dan ke- warganegaraan yang tidak secara khusus dikembangkan melalui satu sudut pandangan agama
c. Malaysia
Pendidikan nilai dilakukan di sekolah dasar dan pengembangannya dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Meski cukup konsisten dalam mengembangkan nilai, moral, norma, etika, estetika melalui pendidikan formal, sistem pendidikan di Malaysia masih dihadapkan pada beberapa kendala.
d. Cina
Dalam tradisi Cina, pendidikan memiliki hubungan erat dengan kewajiban moral. Walaupun sekolah memilki tanggung jawab yang besar dalam mengembangkan kepribadian siswa, hal itu kurang didukung oleh kerjasama yang erat antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Banyak guru yang kurang memiliki kemampuan untuk mengembangkan pendidikan nilai.

2. Dimensi Pendidikan Nilai Moral
a. Teori Perkembangan Moral
Nilai moral merupakan penilaian terhadap tindakan yang umumnya diyakini oleh anggota masyarakat tertentu sebagai yang salah atau benar (Berkowitz, 1964; dikutip Muhaimin, 2001: 215). Kohlberg mengidentifikasi enam tahap tingkat pertimbangan moral, yaitu (i) orientasi hukuman atau kepatuhan, (ii) orientasi instrumental-relatif, (iii) orientasi masuk kelompok anak manis atau anak baik, (iv) orientasi hukum dan ketertiban, (v) orientasi kontrak sosial legalitas, dan (vi) orientasi prinsip kewajiban. Hasil ini dikritik oleh Gilligan (1982) karena semua responden penelitian berjenis laki-laki, padahal menurut Gilligan wanita memiliki perbedaan dengan laki dalam membuat keputusan moral (Zuchdi, 2008: 19). Secara singkat dikatakan laki-laki dalam membuat keputusan moral mengutamakan “hak”, sedangkan wanita mengutamakan “tanggung jawab”.
b. Pendidikan Nilai Moral
Pendidikan nilai moral adalah pendidikan yang berusaha mengembangkan komponen-komponen integrasi pribadi. Integrasi pribadi dapat dilukiskan sekurang-kurangnya dengan empat gambaran kepribadian. Menurut John P. Miller (1976: 5), gambaran kepribadian menunjukkan beberapa karakteristik. Pertama, pribadi yang terintegrasikan selalu melakukan pertumbuhan dan perkembangan. Kedua, pribadi yang terintegrasikan memiliki kesadaran akan jati dirinya dan identitasnya. Ketiga, pribadi yang terintegrasikan senantiasa terbuka dan peka terhadap kebutuhan orang lain. Keempat, pribadi yang terintegrasikan menggambarkan suatu kebulatan kesadaran.
c. Pendekatan Pendidikan Nilai Moral
Pendekatan komprehensif pendidikan nilai menurut Kirschenbaum dalam Darmiyati Zuchdi, 2008: 36-37) meliputi pendekatan (i) inculcating, yaitu menanamkan nilai dan moralitas, (ii) modelling, yaitu meneladankan nilai dan moralitas, (iii) facilitating, yaitu memudahkan perkembangan nilai dan moral, dan (iv) skill development, yaitu pengembangan keterampilan untuk mencapai kehidupan pribadi yang tentram dan kehidupan sosial yang kondusif.
d. Metode dan Teknik Pendidikan Nilai Moral
Untuk mengaplikasikan konsep pendidikan nilai tersebut di atas, diperlukan beberapa metode, baik metode langsung maupun tidak langsung. Di samping itu, pendidikan nilai moral dapat diselenggarakan dengan menggunakan (i) metode dogmatis, (ii) metode deduktif, (iii) metode induktif, atau (iv) metode reflektif (Muhadjir, 1988:161).
Nama : Adelina Kusumawati
NPM : 2213053234

Analasis Video
Degradasi Moral Pelajar Jaman Modern
1. Menurut KPAI
Penyebab terjadinya tindakan amoral dipengaruhi oleh pola asuh dirumah, yang artinya peran orang tua dalam mendidik dan mengajarkan pendidikan moral yang dirasa cukup kurang, lalu peran guru di kelas dalam menghadapi sikap perilaku anak disekolah.

2. Sisi pengemat pendidikan
Saat inipembekalan pada guru hanya berfokus pada pengetahuan, sedangkan pembekalan guru terhadap penguatan keterampilan, serta pembenahan perilaku masih belum menjadi fokus utama. Guru harus memiliki 4 komponen utama yaitu, kopetensi sosial, kepribadian, profesional, dan pedagogik.

3. Sisi psikologi
Kurangnya kemampuan mengelola emosi, menyebabkan anak bereaksi tanpa memikirkan akibat yang akan ditimbulkan, perilaku impulsif tersebut disebabkan juga oleh tekanan yang besar tanda diimbangi dengan kemampuan mengelola emosi, hal tersebut menyebabkan anak mudah stress.
Nama : Adelina Kusumawati
NPM : 2213053234

Analasis Video
6 Tahap Perkembangan Moral menurut Kohlberg, Tahap perkembangan moral dibagi menjadi 3 level
1. Pra-Konvensional
•Tahap 1. Menghindari hukuman (seseorang memiliki alasan untuk bertindak atau tidak bertindak sesuatu, karena untuk menghindari hukuman)
•Tahap 2. Keuntungan dan minat pribadi (tindakan di lakukan dengan memperhitungkan apa yang akan di dapatkan olehnya)
2. Konvensional
•Tahap 3. Menjaga sikap orang baik (menghindari pertengkaran karena memikirkan bagaimana kesepakatan sosial yang ada dan pendapat orang lain terhadapnya)
•Tahap 4. Memelihara peraturan (peraturan harus di tegakkan, jika tidak maka keadaan akan menjadi kacau, karenanya praturan harus selalu di patuhi)
3. Pasca-Konvensional
•Tahap 5. Orientasi kontrak sosial (menyadari bahwa setiap orang memiliki latar belakang dan situasi berbeda. hak hak individu harus di lihat bersamaan dengan hukum yang ada)
•Tahap 6. Prinsip etika universal (menggambarkan prinsip internal seseorang)
Nama : Adelina Kusumawati
NPM : 2213053234

Identitas Jurnal
Nama Jurnal : Dinamika Pendidikan
Nomor : 2
Halaman : 63-75
Tahun Terbit : 2008
Judul : Pentingnya Pendidikan Nilai di Era Globalisasi
Nama Penulis : Hidayati

Pembahasan
Pengertian nilai, Menurut I Wayan Koyan (Dwi Siswo yo. 2005 :22), nilai adalah segala sesuatu yang berharga. Nilai itu ada dua yaitu nilai ideal dan nilai aktual. Nilai ideal adalah nilai yang menjadi cita-cita setiap orang, sedangkan nilai aktual adalah nilai yang diekspresikan dalam perilaku sehari-hari. Nilai adalah sesuatu yang berharga, sesuatu yang indah, sesuatu yang berguna, sesuatu yang memperkaya batin. sesuatu yang menyadarkan manusia akan harkat dan martabatnya (Dwi Siswoyo, dkk. 2005). Nilai berfungsi untuk mendorong, mengarahkan sikap dan perilaku. Oleh karena itu memiliki nilai-nilai yang luhur akhirnya seseorang bisa disebut sebagai memiliki budi pekerti yang luhur. Menurut Max Scheler dalam (YB Adimassana. 2000: 2) ada empat kelompok nilai yang tersusun secara hierarkis (dari yang tertinggi sampai yang terendah), yaitu: (a) nilai-nilai religius-kerohanian, (b) nilai-nilai kejiwaan, (c) nilai-nilai kehidupan, (d) nilai-nilai kenikmatan, Empat macam nilai tersebut harus disusun secara benar, sehingga bangunan keseluruhan nilai menjadi kokoh dan seimbang.

Globalisasi dan Dampaknya Terhadap Nilai-nilai dan Moral, Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa-bangsa di seluruh dunia (A. Jamil Edison, dkk: 2005). Pengaruh positif globalisasi terhadap nilai-nilai dan moral diantaranya:
1. Aspek politik, pemerintahan dijalankan secara terbuka dan demokratis Jika pemerintahan dijalankan secara jujur, bersih dan dinamis tentunya akan mendapat tanggapan positif dari rakyat
2. aspek ekonomi, terbukanya pasar internasional, meningkatkan kesempatan kerja dan meningkatkan devisa negara. Dengan demikian akan meningkatkan pula kehidupan ekonomi bangsa.
3. Aspek sosial-budaya, kita dapat meniru pola berpikir yang baik seperti etos kerja yang tinggi, disiplin, dan Iptek dari bangsa yang sudah maju untuk meningkatkan kemajuan bangsa.
Pengaruh negatif globalisasi terhadap nilai-nilai dan moral diantaranya:
1. Aspek ekonomi, hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri karena banyaknya produk luar negeri.
2. Masyarakat kita, khususnya anak muda banyak yang lupa akan identitas diri sebagai bangsa Indonesia, karena gaya hidupnya cenderung meniru budaya barat
3. erjadinya kesenjangan sosial yang tajam antara yang kaya dan miskin, karena adanya persaingan bebas dalam globalisasi ekonomi.
4. Munculnya sikap individualisme yang menimbulkan ketidakpedulian antar pelaku sesama warga.

Mengapa pendidikan nilai gagal? Menurut Diat Ahadiat, (2008) faktor-faktor penyebab gagalnya pendidikan nilai antara lain:
1. Pendidikan di sekolah hanyalah acara formal. Pendidikan di sekolah yang klasikal telah menempatkan pelajaran sekedar acara formal, proses dan isinya tidak dianggap penting.
2. Materi, karena banyaknya materi pelajaran yang dituntut kurikulum setiap minggunya, pengetahuan hanya disampaikan dengan dril dan mentransfer dari buku paket, anak didik dipaksa untuk menelan mentah-mentah materi yang sudah diprogram.
3. Proses, dalam proses pembelajaran anak didik tidak dilibatkan dalam pengalaman fisik dan mental.

Pentingnya Pendidikan Nilai dan Moral Bagi anak, Tujuan pendidikan adalah menjadikan peserta didik menjadi "manusia yang utuh sempurna". Tercapainya kesempurnaan ditunjukkan oleh terbentuknya "pribadi yang bermoral" (Driyakara. 1980: 129). Pribadi yang bermoral adalah yang memiliki kemampuan untuk mengelola hidupnya sesuai dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan." Pendidikan nilai akan berhasil jika peserta didik ada disposisi batin yang benar, antara lain sikap terbuka dan percaya, jujur, rendah hati, bertanggungjawab, berniat baik, dan taat melaksankan nilai-nilai. Nilai itu tidak dapat dipaksakan dari luar, melainkan masuk ke dalam hati kita secara lembut ketika hati kita secara bebas membuka diri. Menurut YB. Adimassana, menyatakan bahwa pendidikan nilai akan efektif jika melalui tahap-tahap sebagai berikut:
1. Tahap pertama, preparasi atau persiapan yaitu penataan disposisi batin/hati yang meliputi: keterbukaan, kelurusan, keterarahan seluruh niat, kehendak, pikiran, dan perhatian
2. Tahap kedua, konsentrasi/integrasi yaitu pemusatan perhatian
3. Tahap ketiga, asimilasi/transformasi yaitu penangkapan, peresapan dan terjadinya perubahan
4. Tahap keempat, realisasi/aktualisasi yaitu perwujudan nilai ke dalam bentuk yang konkrit.
Pendidikan nilai akan efektif jika tahap-tahap di atas dilalui secara baik oleh peserta didik.