གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Mutiara Deva Gusti 2213053135

Nama : Mutiara Deva Gusti
Npm : 2213053135
Kelas :3G

Pelajar anti korupsi

Seorang pelajar bernama Hanafi yang merupakan siswa SMK Negeri 3 Wonosari. Pada suatu ketika, temannya menyuru Hanafi untuk foto kopi lembar tugas. Harganya hanya 5.000 rupiah, tetapi Hanafi menulis di nota sebesar 10.000 rupiah. Jadi, Hanafi korupsi uang tersebut sebesar 5.000 rupiah.
Ketika jam istirahat tiba Bayu menghampiri Hanafi yang terlihat kurang enak badan. Di sini Bayu membahas mengenai korupsi, di situ Bayu berkata bahwa ketika kita memakan uang korupsi akan menyebabkan penyakit dalam tubuh kita.
Hanafi pun memikirkan hal tersebut, Ia jadi sadar dan meminta maaf kepada teman nya serta berjanji akan mengganti uang yang sudah ia ambil.
Nama : Mutiara Deva Gusti
Npm : 2213053135
Kelas :3G

Perbedaan pendidikan dasar Jepang dan Indonesia

1. Kebersihan dan pengelolaan sampah yang baik tidak diajarkan di kurikulum pendidikan indonesia.
Sedangkan kurikulum jepang mengharuskan semua siswa bertanggung jawab atas kebersihan kelas mereka sendiri agar siswa dapat bekerjasama, berbagi tanggung jawab, dan peka terhadap kondisi lingkungan yang kotor.

2. Sekolah di Indonesia memiliki kantin, serta jajanan di luar sekolah. Makanan untuk siswa diindonesia sangat beragam.
Sedangkan dalam pendidikan jepang, proses makan dianggap penting. Pendidikan jepang mengatur makanan siswa, mulai dari menu, gizi, hingga cara mereka makan. Makan siang siswa di jepang dilakukan bersama-sama dan diikuti oleh para guru guna membangun hubungan positif antar siswa maupun guru.

3. Mata pelajaran di indonesia sangat banyak, dan diajarkan berulang dalam semingu.
Sedangkan di Jepang, mata pelajaran tergolong sedikit dan hanya diajarkan di hari tertentu dalam seminggu.

4. Pendidikan karakter di Indonesia diwarnai dengan berbagai ujian.
Sedangkan pendidikan dasar jepang tidak melibatkan ujian dalam 3 tahun pertama. Para siswa akan difokuskan pada pendidikan karakter.

5. Indonesia memiliki minat baca yang rendah, yang disebabkan karena kurang dibiasakan untuk membaca buku di sekolah.
Sedangkan jepang, membiasakan para siswa untuk membiasakan membaca selama 10 menit, itu sebabnya mereka memiliki minat baca yang tinggi.

6. Di indonesia sekolah tidak terlalu memperhatikan perlengkapan sekolah siswa.
Sedangkan di jepang, perlengkapan sekolah sangat diperhatikan, seperti siswa harus mengenakan perlengkapan yang sama agar tidak menimbulkan kesenjangan.

7. Seragam Sekolah di indonesia memiliki banyak seragam sekolah.
Sedangkan di jepang, siswa hanya memakai satu seragam sekolah.
Nama : Mutiara Deva Gusti
Npm : 2213053135
Kelas :3G

Potret pendidikan di dusun terpencil

Dalam video tersebut menunjukkan kondisi para siswa SD Negeri Glak, Kabupaten Sikka yang membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah. Pasalnya, sekolah yang terletak di sebuah dusun terpencil itu terpaksa harus melakukan kegiatan belajar mengajar di teras kelas. Teras dipakai sebagai ruang kelas lantaran ketiadaan ruang kelas. Sekolah yang terletak di kaki gunung api Egon tersebut hanya memiliki 6 ruangan. Dimana 5 ruangan dipakai sebagai ruang kelas, dan 1 ruangan sebagai ruang guru. Jangankan kelas perpustakaan saja tak dimiliki sekolah ini. Meski begitu, para siswa tetap bersemangat untuk bersekolah. Setiap hari mereka harus berjalan kaki hingga 2 kilometer guna bisa belajar di sekolah. Di masa pandemi covid-19 ini, ketika pemerintah aktif mengkampanyekan belajar daring, sekolah ini tak mampu melaksanakannya. Di wilayah ini, belum ada jaringan telekomunikasi sama sekali. Karena itu, pihak sekolah terpaksa tetap melakukan kegiatan di sekolah. Pihak sekolah pun berharap, pemerintah bisa membuka mata melihat keadaan mereka dengan menyediakan fasilitas yang dibutuhkan.
Nama : Mutiara Deva Gusti
Npm : 2213053135
Kelas :3G

Sepenggal Cerita Pengajar Muda Di Pelosok Kalimantan

Martencis Siregar, pengajar mua dari Indonesia Mengajar yang di tempatkan di desa Tanjung Matol, Kalimantan Utara. Beliau sempat menjadi relavan peduli HIV AIDS di papua. Martencis mengajar anak anak kelas 1 sd dan menjadi guru les kelas 6 sd. Anak- anak di Tanjung Matol masih sedikit yang berminat melanjutkan pendidikan setelah Sekolah menyelesaikan pendidikan Dasar karena orang tua di desa tersebut masih kurang sadar akan pentingnya pendidikan. Banyak anak anak perempuan yang menikah di usia dini di sekitaran umur 12 tahun. Kurangnya perhatian orang tua kepada anak pun masih menjadi persoalan di desa Tanjung Motal. Membuat orang tua sadar akan pentingnya pendidikan masih menjadi pekerjaan yang harus di selesaikan. Kelas 1 menjadi langkah awal untuk menempuh pendidikan panjang karena TK dan PAUD belum masuk di desa Tanjung Matol. Martencis selalu menekankan kepada anak-anak bahwa belajar itu bisa dari mana saja dan dimana saja. Untuk menumbuhkan semangat belajar anak-anak di desa Tanjung Matol ini diberikannya motivasi, anak-anak yang berprestasi diberikan reward. Memberikan hadiah sekedar jalan jalan keluar dari esa Matol memberikan wawasan baru bagi anak anak Matol terutama soal cerita dunia luar. Warga desa Matol mencari makan menggukan cara berburu untuk bertahan hidup.Terdapat seorang pemudi bernama Loly, gadis berusia 18 tahun yang memiliki ketertarikan pada bidang pendidikan di desa Matol dan ialah yang juga membantu Martencis mengajar anak anak di Sekolah Dasar. Tidak hanya Loly, tetapi juga guru-guru yang penuh semangat . Bersama orang-orang hebat seperti mereka kelak masa depan anak-anak desa Matol dapat terukir. Berada di tapal batas negara, namun cita cita anak desa Matol melintasi pelosok negara

3G 2023 Pendidikan nilai dan moral -> FORUM pertanyaan

Mutiara Deva Gusti 2213053135 གིས-
Nama : Mutiara Deva Gusti
Npm : 2213053135

Menurut saya Hard skill adalah keterampilan yang bisa dipelajari dan terukur. Umumnya, hard skill bisa dipelajari dan dikembangkan melalui pendidikan formal, kursus, pelatihan perusahaan, atau sertifikasi. Nah, ijazah, sertifikat pelatihan, atau penghargaan adalah contoh alat untuk mengukur seberapa kamu menguasai hard skill tertentu. Selain menunjukkan seberapa kemampuan kamu terhadap suatu hard skill berdasarkan nilai, ijazah dan sertifikat juga merupakan bukti yang nyata kalau kamu memang benar-benar menguasai hard skill tersebut.Misalnya, kamu mau belajar bahasa Inggris. Lalu kamu mengikuti kursus di lembaga tertentu. Setelah semua kursus selesai, kamu mengikuti tes TOEFL atau IELTS dan mendapatkan sertifikat yang berisi skor tes. Nah, nilai TOEFL ini menjadi bukti kamu mahir berbahasa Inggris dengan level tertentu. Begitu juga dengan sertifikasi lainnya. Sedangkan,soft skill adalah kemampuan yang dibutuhkan oleh pekerjaan apapun. Misalnya, komunikasi, manajemen waktu, motivasi, kecerdasan emosional, dan lainnya. Apapun pekerjaanmu, pasti perlu kemampuan komunikasi, manajemen waktu, kecerdasan emosional, motivasi kerja, dan soft skill lainnya untuk mendukung kinerja mereka. Sama seperti hard skill, soft skill juga bisa dipelajari dan dikembangkan. Soft skill bisa dipelajari melalui kursus atau pelatihan. Tapi, karena soft skill adalah kepribadian dasar dari seseorang atau bawaan, maka cara terbaik untuk meningkatkannya adalah dengan banyak berinteraksi dengan orang lain dan mengamati lingkungan sekitar.
Misalnya, kamu mau mengembangkan skill komunikasi. Kamu bisa belajar teorinya melalui kursus atau pelatihan. Tapi untuk meningkatkannya, kamu harus praktik. Belajar untuk ngobrol dengan orang lain, belajar mendengarkan, berpendapat, berdiskusi, dan juga menyimak. Bisa dengan ikut komunitas, ikut project di tempat kerja, gabung ke kelompok belajar, dan lainnya. Dengan praktik, pelan-pelan kemampuan komunikasi akan berkembang.