Kiriman dibuat oleh Hasa Hesta Wahid 2213053042

Nama : Hasa Hesta Wahid
NPM : 2213053042

Menurut Lawrence Kohlberg seseorang yang ahli dalam bidang psikologi terkhusus pada perkembangan nilai moral anak dan remaja,ia mengklasifikasi bahwa ada 6 tahap perkembangan moral yang terbagi dalam 3 level, masing-masing levelnya memiliki 2 tahap. Berikut tahapan-tahapannya.

Tahap Pra-konvensional:
a) Menghindari hukuman, yaitu seseorang bertindak agar tidak dihukum, seperti berhenti di lampu merah agar tidak ditilang.
b) Keuntungan dan minat pribadi, yaitu tindakan dilakukan dengan mempertimbangkan manfaat pribadi, seperti membantu orang karena berharap mendapat bantuan balik.

Tahap Konvensional:
a) Menjaga sikap orang baik, yaitu seseorang hindari konflik karena memperhatikan norma sosial dan pendapat orang lain.
b) Memelihara peraturan, Penting untuk mematuhi peraturan agar tidak terjadi kekacauan.

Tahap PASCA-KONVENSIONAL:
a) Orientasi kontrak sosial, dimana setiap individu memiliki latar belakang berbeda, dan hak-hak individu harus diperhatikan bersamaan dengan hukum yang berlaku.
b) Prinsip etika universal, yaitu seseorang bertindak sesuai prinsip internalnya, bahkan jika bertentangan dengan hukum.
Nama : Hasa Hesta Wahid
NPM : 2213053042

Jurnal ini membahas perkembangan moral dari perspektif psikologis, seperti teori belajar, psikoanalisis, Jean Piaget, dan Lawrence Kohlberg. Kohlberg mengidentifikasi masalah filosofis dalam studi moral, termasuk relativisme moral yang menyatakan bahwa nilai moral berbeda antar budaya. Teori Kohlberg tentang perkembangan moral berakar pada karya Piaget, dengan fokus pada penalaran moral. Kohlberg mengembangkan instrumen penelitian untuk menggolongkan penalaran individu dalam mengatasi dilema moral. Dia menekankan bahwa tingkah laku bukan pusat perhatiannya, melainkan pertimbangan moral yang digunakan oleh individu. Dalam teori Kohlberg, perkembangan moral dibagi menjadi tiga level dengan beberapa tahap di setiap level: pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional.

• Pra-konvensional (Tahap 1 dan 2): Fokus pada ketaatan aturan untuk menghindari hukuman, dan pertimbangan berdasarkan kebutuhan individu.
• Konvensional (Tahap 3 dan 4): Menekankan konformitas sosial, bersikap "baik," dan menjaga ketertiban sosial dengan mengikuti aturan serta menghormati otoritas.
• Pasca-konvensional (Tahap 5 dan 6): Memperhitungkan perbedaan nilai dan prinsip etika universal, bahkan jika bertentangan dengan hukum.

Kesimpulannya, teori ini mengungkap bagaimana individu mengembangkan pemahaman moral mereka seiring pertumbuhan dan pengalaman mereka, berfokus pada penalaran moral daripada tingkah laku semata.
Nama : Hasa Hesta Wahid
NPM : 2213053042

Jurnal ini membahas pendidikan nilai moral di empat negara yaitu Indonesia, Malaysia, India, dan Cina. Keempat negara ini memiliki latar belakang ideologi yang berbeda. Di Indonesia, pendidikan nilai masih belum sepenuhnya menyentuh nilai-nilai global dan masih terfokus pada kurikulum nasional. Di India, pendidikan nilai lebih populer dan tidak terbatas pada sudut pandang agama. Di Malaysia, pendidikan nilai diajarkan secara langsung melalui pendidikan moral dan agama, serta tidak langsung melalui mata pelajaran lain dan kegiatan kokurikuler. Di Cina, pendidikan nilai juga dihadapi tantangan, terutama karena tekanan pada kemampuan akademik siswa.

Meskipun ada perbedaan, semua negara ini berupaya mengembangkan nilai moral dalam pendidikan, baik melalui kurikulum formal maupun pendekatan yang lainnya. Tapi, pendidikan nilai moral ini juga menghadapi beberapa tantangan seperti preskriptifnya pendekatan pembelajaran, kurangnya dukungan dari keluarga dan masyarakat, dan kemampuan guru yang bervariasi. Pemerintah di setiap negara mengambil berbagai kebijakan untuk mengatasi tantangan ini. Pendeknya, pendidikan nilai moral di keempat negara ini memiliki persamaan dalam fokus pada tata kepribadian, namun juga memiliki perbedaan yang berkaitan dengan ideologi dan tantangan yang dihadapi.
Nama : Hasa Hesta Wahid
NPM : 2213053042

Analisis dari vidio kekerasan tersebut yaitu.
Di Indonesia, kekerasan di sekolah itu menjadi masalah yang cukup serius. Banyak kasus kekerasan terjadi, seperti perundungan atau tindakan kasar kepada siswa lain. Masalah ini muncul karena beberapa alasan, seperti tekanan dari pelajaran yang berat, perbedaan ekonomi di antara siswa, dan juga pengaruh media sosial. Kekerasan sering kali terjadi dalam bentuk perundungan, yaitu tindakan seperti membully, mengancam, atau bahkan memukul teman sekelas. Perundungan ini berdampak sangat buruk pada siswa yang menjadi korban. Mereka bisa merasa sangat tertekan dan stres, yang membuat mereka sulit fokus belajar, melukai, dan bahkan sampai merenggut nyawa korban. Seperti yang terjadi diantara nya yaitu seperti Tahun 2015 Siswa kelas 2 di SDN Kebayoran Lama, Jakarta meninggal dunia setelah berkelahi dengan temannya yang diduga karena diawali dengan perkelahian mulut, di Tahun 2017 siswa kelas 2 SD di Sukabumi Jawa Barat meninggal di halaman sekolah setelah berkelahi, yang dugaannya karena dirundung dan dilempar minuman beku.

Kesimpulannya yaitu penting dan perlunya pengawasan dan bimbingan secara intensif dari semua pihak dalam menangani kasus-kasus kekerasan disekolah, karena ini merupakan tindakan tidak bermoral yang akan terus-menerus berlanjut dan akan berdampak buruk untuk penerus bangsa selanjutnya.
Nama : Hasa Hesta Wahid
NPM : 2213053042

Analisis dari vidio ini ialah tentang Philipa Foot yang memperkenalkan eksperimen pada tahun 1967 yang dikenal sebagai Trolley Problem. Eksperimen ini berupa serangkaian pertanyaan yang dimodifikasi untuk menggali aspek moral dalam situasi-situasi seperti perang, penyiksaan, penggunaan narkoba, aborsi, dan euthanasia. Keberadaan Trolley Problem menjadi semakin relevan ketika mesin-mesin saat ini memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan moral dalam berbagai situasi. Melalui Trolley Problem, kita diajak untuk merenung lebih dalam mengenai konsekuensi dari pilihan yang kita buat, apakah pilihan tersebut didasarkan pada nilai-nilai moral tertentu atau lebih terfokus pada hasil akhirnya. Selain itu, eksperimen ini mendorong kita untuk memikirkan bagaimana kita mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Saat ini, terdapat risiko bahwa moral sering kali digunakan oleh penguasa untuk membenarkan tindakan seperti perang, penindasan terhadap kelompok tertentu, diskriminasi terhadap minoritas, kerusakan lingkungan, dan industrialisasi, disebut untuk kepentingan umum dan demi masa depan yang lebih cerah bagi kelompok yang lebih besar.