གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ RANI SELVIA

3H 2023 Pendidikan Nilai dan Moral -> Forum Analisis Video 2

RANI SELVIA གིས-
Nama : Rani Selvia
Kelas : 3H
NPM : 2213053209
ANALISIS VIDEO 2
Tragedi tragis yang ada didunia Pendidikan

Seorang peserta didik menganiyaya seorang pendidik hingga tewas, korban Bernama ahmad budi cahyo guru honorer smk n 1 jawa timur, selain itu dilain sisi terdapat tragedi juga yaitu Seorang peserta didik mengajak duel seorang kepala sekolah tidak diketahui untuk motif yang ada didalamnya.
Menurut kovesioner KPAI bidang pendidikan
Melihat dari kasus ini pasti ada sebab dan akibatnya kemungkinan yang pertama yaitu dari pola pengasuhan anak didalam rumah, dan kemungkinan kedua yaitu dari sekolah bagaimana cara pendidik melakukan pengelolaan kelas saat berada disekolah.

Sisi Pengamat Pendidikan (Dr Itje chodidjah,MA)
Pendidik memiliki 4 standar kompetensi utama yaitu,
1. kompetensi kepribadian
2. kompetensi sosial
3. kompetensi profesional
4. kompetensi pedagogi
Pendidik harus memiliki keterampilan sosial yang baik. maka dari itu, diperlukan penguatan kepribadian.

Sisi psikolog (Vero Adesla)
anak itu tidak mampu mengontrol emosi ketika dia marah muncul rangsangan yang bereaksi seketika, karena nya Anak-anak perlu sekali untuk diajarkan mengelola emosi sejak dini.

3H 2023 Pendidikan Nilai dan Moral -> Forum Analisis Jurnal 2

RANI SELVIA གིས-
Nama : Rani Selvia
Kelas : 3H
NPM : 2213053209
ANALISIS JURNAL 2
Nama jurnal : Jurnal JIPSINDO
Oleh : Enung Hasanah
Nomor : 2
Volume : 6
Tahun Terbit : 2019
Judul Jurnal : PERKEMBANGAN MORAL SISWA SEKOLAH DASAR BERDASARKAN TEORI KOHLBERG

Pembahasan

A. Teori Kohlberg
Teori Kohlberg mengenai perkembangan moral secara formal disebut cognitive-dvelopmental theory of moralization, yang berakar pada karya Piaget. Dalam mengembangkan teorinya, Kohlberg tidak memusatkan perhatian pada tingkah laku moral, artinya apa yang dilakukan oleh seorang indivdu tidak menjadi pusat pengamatannya. Kohlberg tidak memusatkan perhatian pada tingkah laku moral, artinya apa yang dilakukan oleh seorang indivdu tidak menjadi pusat pengamatannya. Mengamati tingkah laku tidak menunjukan banyak mengenai kematangan moral. Kohlberg juga tidak memusatkan perhatian pada pernyataan (statement) seseorang, apakah dia mengatakan sesuatu hal benar atau salah. Teori (Kohlberg; L., Hersh, R.H. 1977) tentang Perkembangan Moral dibagi menjadi 3 level, yang masing-masing level dibagi menjadi beberapa tahap sebagai berikut:
Level 1. Moralitas Pra-konvensional • Tahap 1 - Ketaatan dan Hukuman, Tahap 2 - Individualisme dan Pertukaran.
Level 2. Moralitas Konvensional • Tahap 3 - Hubungan Interpersonal, Tahap 4 - Menjaga Ketertiban Sosial.
Level 3. Moralitas Pasca-konvensional. Tahap 5 - Kontrak Sosial dan Hak Perorangan, Tahap 6 - Prinsip Universal.

B. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah bentuk tindakan sosial yang menekankan pada cara orang menafsirkan, dan tidak memahami pengalaman mereka untuk memahami realitas sosial individu.
Responden/peserta dalam penelitian ini adalah siswa Sekolah Dasar yang berusia antara 11-12 tahun, diberikan pertanyaan tentang soal cerita. penelitian ini disertai panduan wawancara berupa soal dilema moral yang memerlukan jawaban terbuka dari para peserta penelitian.

Dari hasil pengisian angket tersebut secara umum, terlihat bahwa para peserta penelitian yang berusia antara 11 dan 12 tahun, memiliki perkembangan moral seperti apa yang dikemukakan oleh Kohlberg (1968), bahwa pada usia tersebut termasuk pada tahap 1. Penilaian ini diambil berdasarkan pada apa yang mereka sampaikan tentang motif perbuatan para peserta ketika mereka menyatakan akan tetap pergi belajar, bukan karena ingin pintar melainkan patuh semata-mata karena ingin berbuat patuh menghindari hukuman fisik atau kerusakan hak milik.
secara umum (90%) ternyata perkembangan moral para responden yang berada pada usia 11-12 tahun memang masih berada pada tingkat pra konvensional. Anak-anak kecil, lemah, tergantung dari orang lain dari masyarakat untuk memperoleh rasa senang an/atau rasa sakit. Dalam hasil penelitian sederhana ini, responden yang berusia 11-12 tahun cenderung baru memasuki tingkat 1 tahap 1, meskipun pada kasus tertentu mungkin saja ada pengecualian yaitu pada usia 11-12 bisa saja berada pada tingkat perkembangan moral yang lebih rendah atau yang lebih tinggi.

3H 2023 Pendidikan Nilai dan Moral -> Forum Analisis Jurnal 1

RANI SELVIA གིས-
Nama : Rani Selvia
Kelas : 3H
NPM : 2213053209
ANALISIS JURNAL 1
Nama jurnal : Jurnal Cakrawala Pendidikan
oleh : Sudiati
Nomor : 2
Tahun Terbit : 2009
Judul Jurnal : PENDIDIKAN NILAI MORAL DITINJAU DARI PERSPEKTIF GLOBAL

PENDIDIKAN NILAI MORAL DITINJAU DARI PERSPEKTIF GLOBAL
1. Isu Pendidikan Nilai Moral di Beberapa Negara
Indonesia merupakan negara Pancasila yang mayoritas Islam, India merupakan negara federal yang tetap mempertahankan nilai-nilai agama sebagai nilai universal. Malaysia merupakan representasi negara yang memiliki bangsa mayoritas Islam sebagaimana negara Indonesia, sedangkan Cina merupakan perwakilan negara sosialis komunis.
A. Indonesia
Hasil penelitian Afiyah, dkk. (2003), menyatakan bahwa kelemahan pendidikan agama antara lain terjadi karena materi pendidikan agama Islam, termasuk bahan ajar akhlak, cenderung terfokus pada pengayaan pengetahuan (kognitif), sedangkan pembentukan sikap (afektif) dan pembiasaan (psikomotorik) sangat minim.
B. India
Ruang lingkup pendidikan nilai meliputi (a) pendekatan dan metodologi pendidikan nilai pada tingkat dasar dan menengah, (b) untuk tingkat dasar program lebih dititikberatkan pada pengindentikasian nilainilai yang perlu ditanamkan kepada siswa dengan strategi dan teknik yang tepat, (c) pengembangan konseling melalui pendekatan agama, (d) program pengembangan afektif bagi para instruktur pelatihan guru.
C. Malaysia
Meski cukup konsisten dalam mengembangkan nilai, moral, norma, etika, estetika melalui pendidikan formal, sistem pendidikan di Malaysia masih dihadapkan pada beberapa kendala. Di antaranya, (a) nilai masih banyak diajarkan melalui pendekatan pembelajaran yang preskriptif (b) alat evaluasi yang sesuai dengan kebutuhan, (c) cara-cara pencatatan dan pelaporan pembelajaran nilai masih belum dilakukan secara konsisten oleh guru, dan (d) pandangan guru, orang tua, dan masyarakat masih menempatkan kognisi sebagai aspek yang lebih penting daripada aspek afeksi (Mujlyana, 2004: 237).
D. Cina
Banyak guru yang kurang memiliki kemampuan untuk mengembangkan pendidikan nilai.

2. Dimensi Pendidikan Nilai Moral

a.Teori Perkembangan Moral
Nilai moral merupakan penilaian terhadap tindakan yang umumnya diyakini oleh anggota masyarakat tertentu sebagai yang salah atau benar (Berkowitz, 1964; dikutip Muhaimin, 2001: 215). Sebagai contoh, suatu pilihan yang ditetapkan seseorang (se-bagai sesuatu yang berharga atau tidak berharga) dalam suatu situasi yang dihadapi disebut isi pertimbangan moral, sedangkan alasan tentang penetapan suatu pilihan (struktur penetapan pilihan) berdasarkan pemikiran moralnya disebut pertimbangan moral (melalui Muhamimin, 2001: 216).

b. Pendidikan Nilai Moral
Pendidikan nilai moral adalah pendidikan yang berusaha mengembangkan komponen-komponen integrasi pribadi.
gambaran kepribadian menunjukkan beberapa karakteristik.
Pertama, pribadi yang terintegrasikan selalu melakukan pertumbuhan dan perkembangan.
Kedua, pribadi yang terintegrasikan memiliki kesadaran akan jati dirinya dan identitasnya.
Ketiga, pribadi yang terintegrasikan senantiasa terbuka dan peka terhadap kebutuhan orang lain.
Keempat, pribadi yang terintegrasikan menggambarkan suatu kebulatan kesadaran.
Pendidikan nilai merupakan bagian dari pendidikan afeksi karena aspek sistem nilai merupakan salah satu bagian dari aspek afeksi.

c. Pendekatan Pendidikan Nilai Moral
Aktivitas dan praktik yang demokratis di sekolah merupakan faktor efektif yang mendukung keberhasilan pendidikan nilai, di samping kesediaan peserta didik itu sendiri. Yang ditekankan dalam pendidikan nilai adalah keseluruhan proses pendidikan nilai yang sangat kompleks dan menyeluruh yang melibatkan cakupan yang luas dan beragam variasi yang dialami.

d.Metode dan Teknik Pendidikan Nilai Moral
Metode tidak langsung tidak dimulai dengan menentukan perilaku yang diinginkan, tetapi dengan menciptakan situasi yang memungkinkan perilaku yang baik dapat dipraktikkan. pendidikan nilai moral dapat diselenggarakan dengan menggunakan (i) metode dogmatis, (ii) metode deduktif, (iii) metode induktif, atau (iv) metode reflektif (Muhadjir, 1988:161). Teknik pendidikan nilai moral yang berorientasi pada nilai (afek) ada bermacam-macam, di antaranya ialah (i) teknik indoktrinasi, (ii) teknik moral reasoning, (iii) teknik meramalkan konsekuensi, (iv) teknik klarifikasi, dan (v) teknik internalisasi (Muhadjir, 1988: 199).

3H 2023 Pendidikan Nilai dan Moral -> Forum Analisis Video 1

RANI SELVIA གིས-
Nama : Rani Selvia
Kelas : 3H
NPM : 2213053209
ANALISIS VIDEO 1

6 TAHAP PERKEMBANGAN MORAL MENURUT KOHLBERG
Ia melakukan penelitian di amerika, menurutnya perkembangan moral ada 3 level dan disetiap level ada 2 tahap sehingga seluruhnya menjadi 6 tahap.
Level pertama yaitu pra-konvensional yang terdiri dari tahap satu menghindari hukuman (seseorang memiliki alasan untuk bertindak atau tidak bertindak sesuatu karena untuk menghindari hukuman) dan tahap dua keuntungan dan minat pribadi (Tindakan dilakukan dengan memperhitungkan apa yang akan didapatkan olehnya).
Level kedua yaitu konvensional yang terdiri dari tahap ketiga yaitu menjaga sikap orang baik (memikirkan bagaimana kesepakatan sosial yang ada dan pendapat orang lain terhadapnya ) tahap keempat memelihara peraturan (jika peraturan tidak ada yang mematuhinya maka keadaan akan terjadi kacau karenanya peraturan harus selalu dipatuhi).
Level ketiga pasca-konvensional yang terdiri dari tahap lima yaitu orientasi kontrak sosial (setiap orang memiliki situasi yang berbeda beda tidak ada yang absolut, hak hak individu harus dilihat bersamaan dengan hukum yang ada )dan tahap enam prinsip etika universal (menggambarkan prinsip internal seseorang, ia melakukan apa yang menurutnya benar walau bertentangan dengan hukum yang ada ).
Kohlberg menggunakan cerita dilemma dalam penelitiannya yaitu Dilemma Heinz.

3H 2023 Pendidikan Nilai dan Moral -> Forum Analisis Jurnal 2

RANI SELVIA གིས-
Nama : Rani Selvia
Kelas : 3H
NPM : 2213053209
ANALISIS JURNAL 2

IDENTITAS JURNAL :
Nama Penulis : Hidayati
Judul Jurnal : PENTINGNYA PENDIDIKAN NILAI DI ERA GLOBALISASI
Nama Jurnal: Dinamika Pendidikan
No : 2
Tahun Terbit : 2008

Pembahasan dari jurnal 2
Indonesia masih mengalami krisis Multidimensi salah satunya di bidang pendidikan. Salah satu dampak negatif yang ditimbulkan yaitu lunturnya nilai moral dan akhlak dalam masyarakat yang berlawanan dengan sikap luhur bangsa. Pada situasi seperti ini, pentingnya pendidikan nilai moral di selenggarakan di dunia pendidikan.
Ada 4 kelompok nilai yang tersusun secara hierarki menurut Max Scheler dalam YB Adimassana 2000:2, yaitu : Nilai religius,Nilai kejiwaan,Nilai kehidupan,Nilai kenikmatan.

Globalisasi adalah suatu proses gagasan yang dimunculkan kemudian ditawarkan untuk diikuti bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa di seluruh dunia. Proses globalisasi berlangsung melalui dua dimensi yaitu ruang dan waktu. terdapat pengaruh positif dan pengaruh negatifn. Pengaruh positifnya meliputi (aspek politik, aspek ekonomi dan sosial budaya) sedangkan Pengaruh negatif meliputi (aspek ekonomi, masyarakat kita, terjadinya kesenjangan sosial, munculnya individualisme.

Pentingnya Pendidikan Nilai dan Moral Bagi Anak
Tujuan pendidikan adalah menjadikan peserta didik menjadi "manusia yang utuh sempurna". Pribadi yang bermoral yaitu yang memiliki kemampuan untuk mengelola hidupnya sesuai dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Kemampuan seperti itu ada pada hati nurani yang telah mencapai kedewasaan. Maka dari itu segala usaha yang bertujuan untuk membina hati nurani mesti diarahkan agar peserta didik mempunyai kepekaan dan penghayatan atas nilai-nilai luhur.