Posts made by Febrianti Azzahra 2213053208

Nama : Febrianti Azzahra
NPM : 2213053208
Kelas : 3F

Analisis Jurnal 2

Dari jurnal tersebut dapat kita pahami bahwa pendidik nilai moral sangat penting terlebih lagi di era globalisasi ini. Dampak globalisasi telah menimbulkan transformasi nilai-nilai dalam kehidupan masyarakat. Kesadaran akan hak-hak personal seseorang semakin tinggi, kehidupan cenderung semakin individualis, semakin permisif, dan lunturnya nilai-nilai moral. Pendidikan nilai selama ini banyak terjadi adanya keterpaksaan, yaitu nilai-nilai diajarkan dengan paksa untuk diketahui secara kognitif dan dilaksanakan, tetapi karena dipaksakan maka tidak sampai menyentuh hati. Hasilnya sikap dan perilaku anak didik berakar dari pengalaman nilai yang otentik. Kita tidak bisa menghentikan pengaruh jaman, dan tidak dapat memalingkan perhatian mereka dari nilai-nilai yang sedang trend. Yang dapat kita lakukan adalah mendampingi dan mendorong mereka agar menjalani hidup dengan menggunakan nalar dan hati. Dengan nalar dan hati yang berfungsi dengan baik diharapkan mereka akan dapat mempertimbangkan segala perbuatan, tingkah laku, dan keputusan yang diambil.

Secara individual setiap pendidik diharapkan mencoba melaksakan tugasnya "mengajar" dan "mendidik" secara bertanggungjawab. Hal yang mendesak dan harus dilakukan adalah mengajari anak didik untuk dapat menggunakan nalar dan hati sebaik-baiknya, melalui sarana segala aktivitas yang dapat mendewasakan dirinya. Untuk menghindarkan anak didik dari arus globalisasi harus dibekali dengan nalar dan hati yang benar, norma dan agama yang kuat, rasa nasionalisme yang benar, dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa.
Nama : Febrianti Azzahra
NPM : 2213053208
Kelas : 3F

Analisis Video 2
Mirisnya Kekerasan di Lingkungan Sekolah

Kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah 
- Tahun 2015 Siswa kelas 2 di SDN Kebayoran Lama, Jakarta meninggal dunia berkelahi dengan temannya yang diduga karena perkelahian mulut - Tahun 2017 siswa kelas 2 SD di Sukabumi Jawa Barat meninggal di halaman sekolah setelah berkelahi, yang dugaannya karena dirundung dan dilempar minuman beku.
-Tahun 2017, duel antar dua siswa kelas 5 SD saat perlombaan senam Hari Guru yang terjadi di SDN kabupaten Bandung.

Dari penjelasan kasusu di atas dapat dilihat bahwa banyak sekali kasus kekerasan yang terjadi dilingkungan sekolah apalagi yang menjadi tersangka adalah para pelajar itu sendiri. Harusnya permasalahan seperti tidak boleh di anggap remeh, kebanyakan dari kasus tersebut pasti orang tua selalu mengatakan perkelahian itu wajar bagi anak padahal hal itu dapat membentuk karakter yang kurang baik.
Maka dari itu menanamkan nilai moral pada anak sejak dini sangatlah penting terutama peran keluarga. Karena anak banyak menghabiskan waktu di rumah harusnya para orang tua bisa lebih banyak waktu dalam mengajar anaknya tentang moral dan menghormati orang lain, namun banyak kasus yang malah menyalahkan sekolah, menurut saya memang semua terlibat dalam mendidik karakter anak namun yang berperan penting itu dari keluarga terutama orangtua.
Nama : Febrianti Azzahra
NPM : 2213053208
Kelas : 3F

Analisis Video 1

Dari video tersebut menjelaskan masalah tentang "Trolly Problem" yaitu sebuah skenario yang dibangun untuk menciptakan rasa moral seseorang, dan diajak berfikir dan memutuskan tindakan yang kita ambil. a). Skenario Pertama; Kamu berada di dalam kereta yang bergerak cepat. Di depanmu, ada lima orang yang terikat di rel kereta dan tidak bisa bergerak. Dan terdapat belokan namun ada satu orang juga yang terikat di rel kereta. disini kamu disuruh memilih untuk menarik tuas yang akan membuat kereta berbelok dan hanya membunuh satu orang yang ada di jalur itu atau lurus yang akan membunuh 5 orang di jalur depan. b). Skenario Kedua: Kamu berada di atas jembatan yang melintasi rel kereta. Di depanmu, ada satu orang yang dapat kamu dorong ke rel kereta untuk menghentikan kereta dan menyelamatkan lima orang yang ada di jalur depan. kamu harus memutuskan apakah kamu mendorong satu orang tersebut untuk menyematkan 5 orang di rel kereta atau tidak melakukan apa-apa dan membunuh 5 orang yang ada di jalur rel kereta.

The trolly problem membuat kita untuk berfikir lebih jauh mengenai konsekuensi atau akibat dari sebuah pilihan, yang mana hal ini didasarkan pada nilai moral ataukah lebih kepada hasil akhirnya.
"Apakah mengorbankan yang lebih sedikit untuk menyelamatkan yang lebih banyak adalah sesuatu yang lebih bermoral?". Dalam konteks berpikir mengorbankan sedikit untuk yang lebih banyak, mungkin itu menjadi pilihan yang lebih bermoral. Akan tetapi, jika kita berada di sisi yang berbeda kita tidak akan mengorbankan hal tersebut. Moralitas terlalu sering menjadi alat pembenaran saat berada di posisi yang diuntungkan atau yang memiliki kepentingan dan ternyata moralitas hanyalah egoisme manusia dengan kepentingan dirinya atau kelompoknya sendiri.

Dari video itu kita dapat melihat bahwa setiap keputusan selalu memiliki resiko masing-masing dan ada pasti ada masalah yang timbul saat kita membuat keputusan, hanya saja kita perlu memikirkan mana jalan yang terbaik sehingga keputusan yang kita ambil tidak terlalu merugikan kita dan orang lain.
Nama : Febrianti Azzahra
NPM : 2213053208
Kelas : 3 F

Analisis jurnal 1

PENDIDIKAN NILAI DAN MORAL DALAM SISTEM KURIKULUM PENDIDIKAN DI ACEH

Dari jurnal tersebut dijelaskan mengenai konsep dan kontekstual pendidikan nilai dan moral dalam sistem pendidikan kurikulum di Aceh. Sebagai provinsi yang memiliki otonomi khusus selian bidang agama, budaya dan politik. Aceh juga diberikan khusus dalam bidang pendidikan, sehingga Aceh dalam proses penyelenggaraan nya selain berpedoman dengan peraturan yang dikeluarkan oleh pusat juga berpedoman pada qanun yang ada di provinsi Aceh.
Dasar qanun tersebut adalah pelaksanaan pendidikan Islam di sekolah di Provinsi Aceh, dapat terlaksana secara ideal. Penyelenggaraan pendidikan Islam berpedoman pada ketentuan Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2015 perubahan atas Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan, dan Pasal 1 ayat 21 adalah pendidikan yang didasarkan atau dijiwai dengan ajaran Islam. Dengan dasar tersebut satuan pendidikan yang ada di provinsi Aceh menyelenggarakan pendidikan berdasarkan ajaran islam.

Penerapan kurikulum Islam berdasarkan Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2015 perubahan atas Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan, Pasal 44 ayat (2)mengatur bahwa kurikulum pendidikan Islam harus memuat mata pelajaran sebagai berikut: (a) Mata Pelajaran Inti: (1). Pendidikan Islam dan amalannya terdiri dari (Keyakinan dan akhlak, fiqh) dan Al Quran dan Hadis) (2). Pendidikan Kewarganegaraan; (3) Matematika / aritmatika; (4) Ilmu Pengetahuan Alam; (5) Ilmu Sosial; (6) Bahasa dan Sastra Indonesia; (7) Bahasa Inggris; (8) Arab; (9). Pendidikan jasmani dan olahraga; dan (10) Sejarah Kebudayaan Islam. (b). Mata pelajaran muatan lokal terdiri dari: (1) Bahasa daerah; (2) Sejarah Aceh; (3) Adat, budaya, dan kearifan lokal dan (4) Pendidikan Keterampilan.

Pendidikan yang diselenggarakan di Aceh merupakan implikasi dari penerapan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Aceh yang berbasis islami. Penerapan syariah Islam di Provinsi Aceh mengatur berbagai konteks yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Aceh; Pendidikan politik, hukum, sosial, dan Islam di Aceh.
Pemerintah Provinsi Aceh mengharapkan dengan penerapan Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2015 perubahan atas Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan ini dapat mewujudkan proses pendidikan di Aceh yang berlangsung secara islami di seluruh satuan pendidikan di Aceh dan mengintegrasikan budaya Islam dalam proses pendidikan di Aceh.
Nama : Febrianti Azzahra
Kelas : 3F
NPM : 2213053208

Analisis Jurnal 2

Dalam suasana kehidupan dewasa ini yang banyak tuntutan, tantangan dan masalah, upaya orang tua membina anak dalam keluarga dengan sentuhan kasih sayang untuk menjadi generasi mendatang yang bertanggung jawab dan berakhlaq mulia. Menjadi sesuatu yang langka. Kelangkaan sentuhan orang tua tersebut kini menggejala dengan munculnya berbagai kenakalan remaja, tawuran pelajar, dan penggunaan obat terlarang narkoba dan semacamnya, merupakan pelarian dari suasana mental remaja yang bersifat terminal. Untuk itu upaya pendidikan perlu perlakuan yang menitik beratkan pada aspek afektif dan perilaku yang luhur.

Pembinaan generasi muda (SDM) melalui pendidikan berbeda dari zaman ke zaman, intinya dalam membina kepribadian, sebagai upaya membentuk jati diri remaja tidak bisa lepas dari filsafat hidup atau pandangan hidup seseorang, masyarakat atau bangsa dimana mereka menjalani kehidupan. Jati diri generasi muda dapat dibentuk oleh tradisi kehidupan masyarakat atau oleh usaha yang terprogram, direncanakan dengan baik, dan sistematis/modern (Jalaluddin, dan Abdullah Idi, 2007, 184-185). Namun demikian sesederhana apapun pembentukan jati diri generasi muda tidak bisa dilepaskan dari peran pendidikan.

Pembentukan nilai moral sosial budaya Indonesia di kalangan anak-anak dan remaja merupakan tanggung jawab orang tua, masyarakat dan pemerintah secara bersinergis. Kerjasama yang baik antara ketiga lingkungan pendidikan yang oleh Ki Hajar Dewantoro (1964) disebut dengan Tri Pusat Pendidikan pada dasarnya sudah dikenal seusia kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Dalam realitas kehidupan aaat ini terlihat ketiganya belum melakukan sinergitas yang optimal, sehingga di berbagai lingkungan pendidikan seringkali terjadi penyimpangan terhadap nilai moral dan norma yang tidak sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat Indonesia.