གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Mita Yogi Handayani 2213053107

Nama : Mita Yogi Handayani
NPM : 2213053107
Kelas : 3H

ANALISIS VIDEO 1 "6 Tahap Perkembangan Moral Menurut Kohlberg"

Lawrence Kholberg melakukan penilitian di Amerika, Menurut nya tahap perkembangan moral dibagi menjadi 3 level. Setiap level memiliki 2 tahap sehingga seluruhnya menjadi 6 tahap yang meliputi

1. Pra-Konvensional
Level pertama ini terdiri dari :
Tahap 1 menghindari hukuman (seseorang memiliki alasan untuk bertindak atau tidak bertindak sesuatu, karena untuk menghindari hukuman) dan tahap 2 Keuntungan dan minat pribadi (tindakan di lakukan dengan memperhitungkan apa yang akan di dapatkan olehnya)

2. Konvensional
Level kedua ini terdiri dari :
Tahap 3 Menjaga sikap orang baik (seseorang mungkin menghindari pertengkaran karena ia memikirkan bagaimana kesepakatan sosial yang ada dan pendapat orang lain terhadapnya, ia tidak bertengkar karena itu tidak baik dan orang baik tidak melakukannya) dan tahap 4 memelihara peraturan (seorang ketua kelas memarahi kedua orang temannya yang bertengkar karena ia pikir praturan harus di tegakkan, dan jika tidak ada yang mematuhinya maka keadaan akan menjadi kacau,karenanya praturan harus selalu di patuhi)

3. Pasca-Konvensional
Level ketiga ini terdiri dari :
Tahap 5 Orientasi kontrak sosial (seseorang menyadari bahwa setiap orang memiliki latar belakang dan situasi berbeda, dia berfikir tidak ada yang absolut atau pasti ketika melihat sebuah kasus.hak hak individu harus di lihat bersamaan dengan hukum yang ada) dan Tahap 6 Prinsip etika universal (tahap yang menggambarkan prinsip internal seseorang ia melakukan hal yang di anggapnya benar walaupun bertentangan dengan hukum yang ada)
Nama : Mita Yogi Handayani
NPM : 2213053107
Kelas : 3H

ANALISIS VIDEO 1 "Apakah Moral? ~The Trolley Problem"

Philippa Foot tahun 1967, foot mengajukan suatu eksperimen yaitu the trolley problem. Ekperimen yang telah diadaptasi untuk memhami konteks moral dalam berbagai kondisi antara lain : perang, penyiksaan, drone, aborsi dan euthanasia. Studi ini semakin penting saat perkembangan dengan kehadiran AI ( Artificial intelligence), machine learning dimana mesin diberi control untuk mengambil keputusan mana yang lebih bermoral pada berbagai kondisi yang terjadi.
the trolley problem membuat kita berpikir lebih jauh tentang konsekuensi dari sebuah pilihan.

•Apakah itu dibuat berdasarkan nilai moral tertentu atau lebih kepada hasil akhirnya dan bagaimana kita mengekspresikannya dalam kehidupan sehari hari?
•Apakah mengorbankan yang lebih sedikit untuk menyelamatkan yang lebih banyak adalah sesuatu yang lebih bermoral?
Atau hanya sebuah pembenaran belaka?

Bahwa memang harus ada yang dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar maka, tak heran jika kemudian moral sering digunakan sebagai alat oleh penguasa atau segelintir orang untuk membenarkan perang, genocide, diskriminasi minoritas, pengerusakan lingkungan,industrialisasi hanya dengan alasan demi perdamaian dunia, kepentingan umum, kelompok yang lebih besar, demi masa depan yang lebih cerah, atau karna 90 % orang berpikir demikian tak mengapa mengorbankan yang sedikit untuk yang lebih besar lantas semua itu seolah menjadi benar dan bermoral.

Jadi moralitas sering dijadikan alat pembenaran saat diri kita merasa berada dalam posisi yang diuntungkan atau memiliki kepentingan. Moralitas hanyalah soal egoisme manusia dengan segala kepentingan dirinya sendiri ataupun kepentingan kelompoknya sendiri.
Nama : Mita Yogi Handayani
NPM : 2213053107
Kelas : 3H

ANALISIS VIDEO 2 "Mirisnya Kekerasan di Lingkungan Sekolah"

Ada sejumlah kasus penganiayaan anak yang dilakukan oleh teman sebaya nya. Harusnya lingkungan sekolah bisa menjadi tempat kedua untuk mendapatkan pendidikan dan perlindungan bukan justru menyebabkan korban jiwa.

Pada September 2015 di SD
Negeri 2 Kebayoran Lama, Jakarta terdapat Siswa kelas 2 SD yang meninggal dunia setelah berkelahi dengan teman sekelasnya dilingkungan sekolah, diduga karena perkelahian mulut

Pada Agustus 2017 di Sukabumi, Jawa Barat terdapat Siswa kelas 2 SD meninggal dunia setelah berkelahi di halaman sekolah, diduga karena dirundung dan dilempar minuman beku

Pada November 2017 di SD Negeri, Kan. Bandung terdapat Duel antara 2 siswa kelas 5 SD saat perlombaan senam hari guru diduga karena Pelaku terganggu korban yang menyalakan motor bising.

Seharusnya ada hak dan kewajiban dari orang tua untuk melakukan pembinaan terhadap anaknya sendiri karena anak anak tersebut masih dibawah umur.
Nama : Mita Yogi Handayani
NPM : 2213053107
Kelas : 3H

ANALISIS JURNAL 2

-Identitas Jurnal
Nama Jurnal : Dinamika Pendidikan
Volume : -
Nomor : 2
Halaman : 63-75
Tahun Terbit : 2008
Judul : Pentingnya Pendidikan Nilai di Era Globalisasi
Nama Penulis : Hidayati

-Pendahuluan
Melalui pendidikan Indonesia telah gagal dalam membentuk manusia yang berkepribadian, beriman, menghargai perbedaan dan berakhlak mulia. Era informasi dan globalisasi sebagai akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini telah berdampak hampir kesemua aspek kehidupan masyarakat. Nilai-nilai yang sementara ini dipegang kuat oleh masyarakat mulai bergeser dan ditinggalkan. Pada situasi yang seperti inilah, barangkali relevan bagi kita untuk berpikir pentingnya pendidikan nilai, khususnya di sekolah-sekolah.

•Pengertian Nilai
Nilai adalah segala sesuatu yang berharga. Terdapat dua nilai yaitu nilai ideal dan nilai aktual. Nilai ideal adalah nilai yang menjadi cita cita setiap orang. Sedangkan nilai aktual adalah nilai yang diekspresikan dalam perilaku seseorang. Nilai berfungsi untuk mendoring, mengarahkan sikap dan perilaku.

•Globalisasi dan dampaknya terhadap nilai-nilai dan moral
Globalisasi adalah suatu proses gagasan yang dimunculkan kemudian ditawarkan untuk diikuti bangsa laij yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa di seluruh dunia. Proses globalisasi berlangsung melalui dua dimensi yaitu ruang dan waktu. Kehadiran globalisasi membawa pengaruh bagi suatu kehidupan antarmegara. Pengaruhnya terdapat pengaruh positif dan pengaruh negatifn. Pengaruh positif (aspek politik, aspek ekonomi dan sosial budaya) sedangkan Pengaruh negatif (aspek ekonomi, masyarakat kita, terjadinya kesenjangan sosial, munculnya individualisme.

• Mengapa Pendidikan Nilai Gagal?
Dunia pendidikan telah kehilangan nilai nilai moral, ini bisa dilihat dari kenyataan banyaknya praktik dalam dunia pendid6yang justru membuat anak belajar tidak jujur, curang dan malas. Faktor penyebab gagalnya pendidikan nilai adalah pendidikan disekolah hanyalah acara formal, materi dan proses.

•Pentingnya pendidikan nilai dan moral bagi anak
Tujuan pendidikan adalah menjadikan peserta didik menjadi "manusia yang utuh sempurna". Pribadi yang bermoral adalah yang memiliki kemampuan untuk mengelola hidup sesuai dengan nilai luhur kemanusiaan. Pendidikan nilai sebenarnya dapat terlaksana dengan berbagai macam kegiatan yang memenuhi seluruh ruang dan waktu dalam hidup seseorang.
Sehubungan dengan pentingnya pendidikan nilai terutama diera global sekarang ini, Sarlito W. Sarwono, mengatakan bahwa sebelum masuk dalam dunia pendidikan formal (SD, SMP, SMA), sudah selayaknya anak memperoleh pendidikan informal guna mempersiapkan dan memudahkan mereka beradaptasi. Salah satu cara mendidik anak ialah dengan menanamkan nilai-nilai moral di usia sedini mungkin. Dengan begitu generasi tua hanya perlu memberikan pemahaman informasi dan nilai estetika, sehingga anak dapat memenuhi syarat sehat mental di era globalisasi ini.
Nama : Mita Yogi Handayani
NPM : 2213053107
Kelas : 3H

ANALISIS JURNAL 1

-Identitas Jurnal
Nama jurnal : Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha
Volume : 9
Nomor : 3
Halaman : 710 - 724
Tahun Terbit : 2021
Judul : PENDIDIKAN NILAI DAN MORAL DALAM SISTEM KURIKULUM PENDIDIKAN DI ACEH
Nama penulis : Iwan Fajri, Rahmat, Dadang Sundawa, & Mohd Zailani Mohd Yusoff

-Abstrak: Perubahan pesat dalam kehidupan sosial merupakan salah satu perbincangan paling signifikan tentang hukum dan moral siswa. Masalah iklim masyarakat moralitas remaja selama dekade
terakhir masih belum pernah terjadi sebelumnya. Pelaksanaan pendidikan di Sekolah di Aceh secara keseluruhan
sudah Islami, dengan indikator sistem pengelolaan sekolah memiliki nilai transparansi,
akuntabilitas, pendekatan keteladanan, pengembangan budaya berorientasi islami dan
penerapan kurikulum islami sebagaimana diatur dalam qanun.

-Pendahuluan: Pendidikan memegang peran utama dalam pembentukan akhlak siswa sekolah bahkan menjadi tumpuan budaya masyarakat. peran Pendidikan dalam hal ini sangat penting karena adanya perubahan sosial yang pesat dalam gaya hidup yang menyebabkan ketidak bercintaan dalam sosial budaya khususnya para remaja. Pada bagian ini juga membahas mengenai konsep dan kontekstual pendidikan nilai dan moral dalam sistem pendidikan kurikulum di Aceh. Aceh sebagai provinsi yang memiliki otonomi khusus selain bidang agama, budaya dan politik, juga diberikan khusus dalam bidang pendidikan. Oleh karena itu, Aceh dalam proses penyelenggaraannya selain berpedoman dengan peraturan yang dikeluarkan oleh pusat juga berpedoman pada qanun yang ada di provinsi Aceh.

-Tinjauan Literatur: Pendidikan di Aceh saat ini sedang mempersiapkan kurikulum Aceh yang disusun
berdasarkan ajaran Qanun Aceh tentang penyelenggaraan pendidikan Islam. Kurikulum Aceh
dapat disebut sebagai kurikulum nasional plus, karena seluruh muatan kurikulum nasional 2013
termasuk kurikulum Aceh ditambah dengan materi pendidikan Islam dan materi muatan lokal.
Qanun pendidikan diharapkan dapat diterapkan dalam bidang pendidikan di Aceh. Penerapan nya
dilakukan pada setiap jenjang pendidikan dan setiap lembaga pendidikan yang ada di Aceh serta
pada setiap mata pelajaran yang ada

-Pembahasan: Konsep Pendidikan moral dan sistem Pendidikan kurikulum di Aceh. Aceh dalam penyelenggaraan Pendidikan islam berpedoman pada qanun yang ada di provinsi Aceh. Selain itu, pada bagian ini dijelaskan mengenai konsep dan kontekstual pendidikan nilai dan moral dalam sistem pendidikan kurikulum di Aceh. Aceh sebagai provinsi yang memiliki otonomi khusus selain bidang agama, budaya dan politik, juga diberikan khusus dalam bidang pendidikan. Oleh karena itu, Aceh dalam proses penyelenggaraannya selain berpedoman dengan peraturan yang dikeluarkan oleh pusat juga berpedoman pada qanun yang ada di provinsi Aceh. Dalam pembahasan juga dijelaskan bahwa pendidikan nilai dan moral di Aceh sangat penting dalam membentuk karakter siswa. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Sulaiman et al. (2020) yang menjelaskan bahwa prinsip penyelenggaraan pendidikan di Provinsi Aceh mengacu pada ketentuan Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2015 perubahan atas Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan, Pasal 5 Diatur. Terdapat pula pembahasan bahwa pendidikan nilai dan moral di Aceh harus mengacu pada nilai-nilai Islam. Hal ini sejalan dengan konsep pendidikan nilai dan moral menurut Lickona (2004) yang menggambarkan bahwa nilai terlihat. Oleh karena itu, pendidikan nilai dan moral di Aceh harus mengacu pada nilai-nilai Islam yang menjadi landasan dalam kehidupan masyarakat Aceh.

-Kesimpulan: Penyelenggaraan pendidikan Islami di Provinsi Aceh mengacu pada Qanun Nomor 9
Tahun 2015 perubahan atas Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan
Pendidikan. Pelaksanaan pendidikan di Sekolah di Aceh secara keseluruhan sudah Islami, Pendidikan nilai dan moral di satuan pendidikan di Aceh
diselenggarakan selain sesuai dengan pendidikan nasional, juga mengacu pada penerapan melalui
kurikulum islami yang berpedoman sesuai dengan qanun pendidikan di Aceh.