Kiriman dibuat oleh Mita Yogi Handayani 2213053107

Nama : Mita Yogi Handayani
NPM : 2213053107
Kelas : 3H

ANALISIS JURNAL 2

-Identitas Jurnal
Nama Jurnal : Jurnal JIPSINDO
Volume : 6
Nomor : 2
Halaman : 131-145
Tahun Terbit : 2019
Judul : PERKEMBANGAN MORAL SISWA SEKOLAH DASAR BERDASARKAN
TEORI KOHLBERG
Nama Penulis : Enung Hasanah

-Pembahasan
1. Teori Kohlberg
Teori Kohlberg mengenai perkembangan moral secara formal disebut cognitive-dvelopmental theory of moralization, yang berakar pada karya Piaget. Penelitian Kohlberg menunjukan bahwa bila penalaran-penalaran yang diajukan oleh seseorang mengapa ia mempunyai pertimbangan moral tertentu atau melakukan tindakan tertentu diperhatikan, maka akan tampak jelas adanya perbedaan-perbedaan yang berarti dalam pendangan moral orang tersebut.

Kohlberg; L., Hersh, R.H. 1977) tentang Perkembangan Moral dibagi menjadi 3 level, yang masing-masing level dibagi menjadi beberapa tahap sebagai berikut:

Level 1. Moralitas Pra-konvensional
•Tahap 1 - Ketaatan dan Hukuman
• Tahap 2 - Individualisme dan Pertukaran.

Level 2. Moralitas Konvensional
• Tahap 3 - Hubungan Interpersonal
• Tahap 4 - Menjaga Ketertiban Sosial.

Level 3. Moralitas Pasca-konvensional
• Tahap 5 - Kontrak Sosial dan Hak Perorangan
• Tahap 6 - Prinsip Universal

Berdasarkan teori Kohlberg, pada umumnya anak-anak yang berusia sekitar 10–13 tahun berada pada tahap pra-konvensional, meskipun juga ada orang-orang dewasa yang berhenti perkembangannya pada tahap tersebut. Karena orang dewasa yang terhenti pada tingkatan itu merupakan kekecualian.
Nama : Mita Yogi Handayani
NPM : 2213053107
Kelas : 3H


-Identitas Jurnal
Nama Jurnal : Jurnal Cakrawala Pendidikan
Volume :  -
Nomor : 2
Halaman : 209-221
Tahun Terbit : 2009
Judul : PENDIDIKAN NILAI MORAL 
DITINJAU DARI PERSPEKTIF GLOBAL 
Nama Penulis : Sudiati

-Pembahasan
1. Isu Pendidikan Nilai Moral di Berbagai Negara
Isu pendidikan nilai moral yang terjadi di empat negara, yaitu Indonesia, Malaysia, India, dan Cina. Empat negara itu dapat mewakili karakteristik bangsa dengan latar belakang ideologi yang berbeda. 
a. Indonesia
Pendidikan nilai di Indonesia disadari atau tidak masih belum banyak 
menyentuh pemberdayaan dan pencerahan kesadaran dalam perspektif global. Persoalan pembenahan pendikan masih terpaku pada kurikulum nasional dan lokal yang belum pernah tuntas. 

b. India
Pendidikan nilai di India tampak 
lebih populer dibandingkan dengan di 
negara lain. Dalam pendidikan nasional India, pendidikan nilai dikembangkan sebagai usaha untuk meningkatkan kesadaran nilai ilmiah, sosial, dan kewarganegaraan yang tidak secara khusus dikembangkan melalui satu sudut pandangan agama. Ini tidak berarti mengabaikan pentingnya pendidikan agama sebagai kekuatan dalam membangun karakter bangsa, melainkan untuk menempatkan pendidikan nilai dalam konteks pemahaman nilai agama yang universal.

c. Malaysia
Sistem pendidikan di Malaysia masih 
dihadapkan pada beberapa kendala. Di antaranya nilai masih banyak diajarkan melalui pendekatan pembelajaran yang preskriptif, alat evaluasi yang sesuai dengan kebutuhan, cara-cara pencatatan dan pelaporan pembelajaran nilai masih belum dilakukan secara konsisten oleh guru, dan pandangan guru, orang tua, dan masyarakat masih menempatkan kognisi sebagai aspek yang lebih penting daripada aspek afeksi 

d. Cina
Dalam tradisi Cina, pendidikan memiliki hubungan erat dengan kewajiban 
moral. Tradisi ini menempatkan pendidikan nilai sebagai bagian penting dalam percaturan pendidikan. Walaupun demikian, dalam perkembangannya, pendidikan nilai dihadapkan pada beberapa tantangan berikut. Harapan masyarakat dan orang tua siswa akan kemampuan akademik diandalkan dapat memacu konsentrasi peningkatan akademik yang kemudian berakibat tergesernya pengembangan sentimental, 
perasaan, dan moralitas.

2. Dimensi Pendidikan Nilai Moral
a. Teori Perkembangan Moral
Dewasa ini, psikolog dan sosiolog 
banyak membahas nilai-nilai moral dalam kaitannya dengan perkembangan dan pendidikan anak. Pembahasan itu bertolak dari anggapan bahwa tidak ada prinsip moral yang universal (kecuali moral agama) dan tetap atau tidak berubah-ubah. Pertimbangan moral adalah penilaian mengenai benar dan baiknya sebuah tindakan. 

b. Pendidikan Nilai Moral
Pendidikan nilai moral adalah pendidikan yang berusaha mengembangkan komponen-komponen integrasi pribadi. Integrasi pribadi dapat dilukiskan sekurang-kurangnya dengan empat gambaran kepribadian. Pendidikan nilai merupakan bagian dari pendidikan afeksi karena aspek sistem nilai merupakan salah satu bagian dari aspek afeksi. 

c. Pendekatan Pendidikan Nilai Moral
Pendekatan dapat dipilih sesuai dengan banyaknya nilai yang dipilih untuk ditanamkan dan dikembangkan. 
Demikian pula, banyak sumber pengembangan nilai-nilai dan banyak 
pula faktor lain yang membatasinya. 

d. Metode dan Teknik Pendidikan Nilai Moral
Untuk mengaplikasikan konsep pendidikan nilai tersebut di atas, diperlukan beberapa metode.
•Metode langsung mulai dengan penentuan perilaku yang dinilai baik sebagai upaya indoktrinasi berbagai ajaran
•Metode tidak langsung tidak dimulai dengan menentukan perilaku yang 
diinginkan, tetapi dengan menciptakan situasi yang memungkinkan perilaku 
yang baik dapat dipraktikkan.
Nama : Mita Yogi Handayani
NPM : 2213053107
Kelas : 3H

ANALISIS VIDEO 2 "Degradasi Moral Pelajar Jaman Modern"

Sebuah tragedi tragis kembali muncul dari dunia pendidikan di Indonesia. Seorang siswa dikabarkan telah menganiyaya gurunya sendiri hingga tewas , korban bernama Ahmad Budi Cahyono guru honorer SMA N 1 torjun sampang jawa timur, Budi meninggal kan seorang istri yang bernama Sianingsih yang tengah mengandung 5 bulan. Selain itu muncul video seorang murid yang masih duduk di bangku SMP mengajak duel kepala sekolahnya.

Lantas dimanakah moral anak bangsa? calon penerus masa depan kita?

1. Menurut KPAI (Retno Listyarti selaku kovesioner bidang pendidikan)
Kekerasan cukup tinggi yang di lakukan oleh anak maupun anak yang jadi korbannya. Sejak tahun 2014 meningkat tetapi pada tahun 2017 menurun tetapi meskipun terjadi penurunan bukan berarti mungkin angka atau kejadian berkurang.
Namun terkait dengan kasus ini pasti ada sebab dan penyebabnya seperti Pola pengasuhan dirumah dan bagaimana guru dikelas dalam pengelolaan kelas di sekolah

2. Menurut Sisi Pengamat Pendidikan (Itje Chodidjah selaku Praktisi pendidikan)
Untuk sosok menjadi seorang guru kelengkapan yang utamanya adalah kelengkapan dalam dirinya sebagai sosok pribadi. Hal tersebut telah di atur dalam UUD yang mana seorang guru memiliki 4 standar kompetensi utama yaitu Kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi profesional dan kompetensi pedagogik. Calon guru mendapatkan berbagai pembekalan sebelum menjadi guru.

3. Menurut Sisi Psikologi
Anak masih muda bertumbuh dan memiliki tingkat level koknisi (kemampuan untuk menalar dan berfikir) apakah aksi nya ada konsekuensi tertentu. Pada kasus anak tidak mampu mengontrol emosi ketika dia marah, ketika dia benci maka akan muncul impuls yang mendorong dia untuk bereaksi seketika. Kemampuan untuk mengelola emosi dan stress harus di latih kepada anak anak.