Nama: Aulia Zahwa Adinda
NPM: 2213053103
Kelas: 3G
Prodi: PGSD
Analisis Jurnal 1
A. IDENTITAS JURNAL
1. Judul: PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH
2. Penulis: Rukiyati (rukiyati@uny.ac.id) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta
Jurnal Humanika, Th. XVII, No. 1. September 2017
B. Isi Jurnal
Pendidikan moral di sekolah perlu dilaksanakan secara bersungguh-sungguh untuk membangun generasi bangsa yang berkualitas. Walaupun peran utama untuk mendidik moral anak adalah di tangan orang tua mereka, guru di sekolah juga berperan besar untuk mewujudkan moral peserta didik yang seharusnya. Keluarga, sekolah, dan masyarakat bersama-sama bertanggung jawab untuk mendidik anak-anak muda agar bermoral baik sekaligus pintar secara intelektual sehingga terwujud generasi muda yang unggul. Itulah tujuan utama pendidikan sebagaimana dinyatakan oleh Aristoteles.
Sekolah yang baik merupakan seperti keluarga, teman sebaya, sekolah keniscayaan agar pengaruhnya terhadap dan lingkungan tetangga. Di dalam positif merupakan bentuk pendidikan formal berinteraksi langsung dengan orang tua, Noeng Muhadjir guru-guru, teman sebaya dan yang lain.
Sekolah yang baik adalah sekolah yang peduli dan fokus pada pendidikan moral di sekolah dapat berjalan dengan lebih optimal. Moral atau pendidikan nilai di samping kegiatan pengajaran ilmu.
Istilah "pengembangan" diambil atau "development" lebih berkonotasi penelitian para pakar pendidikan moral seperti Kirschenbaum, Thomas Lickona, menumbuhkan, pemikiran memerdekakan manusia dari beban, Darmiyati Zuchdi dan rintangan dan kesulitan. Istilah ini juga bermakna proses yang berlangsung terus disintesiskan sepanjang waktu. Maka, pengembangan diperoleh kesatuan gagasan tentang teori pendidikan moral di sekolah. Dalam arti ini, sekolah adalah lebih mudah diterima dan diteladani oleh tempat publik bagi peserta didik untuk para peserta didiknya.
Pendidikan moral pada masa berbeda dengan negara sekuler dan negara komunis. Hal ini tentu berbeda sekali dengan masa di dalam ajaran agama menjadi sumber lalu. Anak-anak yang hidup sekarang mengidentifikasi jawab, "nilai-nilai toleransi, patriotisme, belas kasih. Indoktrinasi dipandang para ahli kasih, kerja sama, sabar, damai, ramah, sebagai metode yang sudah usang dan kebebasan, murah hati, jujur, adil, setia, tidak sejalan dengan semangat modern moderat, menghargai lingkungan hidup, tersebut. Maka, ada metode lain yang menghargai orang lain, menghargai diri sendiri, tanggung jawab, disiplin diri, sesuai inkulkasi penanaman nilai. Orang tua dan cerita kepahlawanan guru merupakan sosok yang harus tokoh-tokoh besar dalam sejarah yang memberikan teladan baik kepada subjek dikagumi dan patut dijadikan teladan. Bercerita juga dapat dilakukan guru di perilaku dari pada harus mengingat dan sekolah dengan tidak kalah menarik dari mengamalkan kata-kata yang diucapkan orang tua siswa. Terlebih lagi di sekolah, oleh orang tua dan guru. Cara mengevaluasi capaian belajar dalam ranah afektif mengenal dapat dilakukan perilaku muncul.
Terkait seseorang secara tidak langsung, yaitu dengan menafsirkan ada atau tidaknya pendidikan Islam juga menitikberatkan afek positif yang muncul pada evaluasi sikap dan perilaku.