Posts made by Annisa Fadillah Quraini 2253053026

Nama: Annisa Fadillah Quraini
NPM: 2253053026
Analisis Jurnal 2

Jurnal ini menekankan peran krusial pendidikan nilai dalam menghadapi perubahan dan tantangan yang muncul di era globalisasi. Dalam konteks globalisasi yang membawa perubahan sosial, ekonomi, dan budaya yang signifikan, pendidikan nilai menjadi pondasi yang penting untuk membentuk karakter individu dan membantu mereka beradaptasi dengan perubahan tersebut.
Pendidikan nilai tidak hanya tentang pengajaran nilai-nilai universal seperti kejujuran, toleransi, tanggung jawab, dan kasih sayang, tetapi juga tentang penghargaan terhadap keragaman budaya. Hal ini memungkinkan individu untuk berinteraksi dengan baik dalam masyarakat yang semakin multikultural.
Kurikulum pendidikan perlu mencakup komponen pendidikan nilai agar nilai-nilai tersebut terintegrasi dalam proses pendidikan formal. Guru memiliki peran sentral dalam menyampaikan pendidikan nilai dengan menggabungkan pembelajaran akademik dengan pembelajaran karakter.
Pentingnya kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat juga ditekankan dalam upaya memberikan pendidikan nilai kepada generasi muda dan menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan karakter yang positif.
Dalam kesimpulannya, pendidikan nilai memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter individu, mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan, dan membantu mereka beradaptasi dengan perubahan yang terjadi dalam masyarakat global yang semakin terkoneksi. Rangkaiannya memerlukan upaya kolaboratif dari berbagai pihak untuk mencapai hasil yang efektif.
Nama: Annisa Fadillah Quraini
NPM: 2253053026
Analisis Jurnal 1

Identitas Jurnal
Judul Jurnal : Pendidikan Nilai dan Moral Dalam Sistem Kurikulum Pendidikan Di Aceh
Nama jurnal : Jurnal Pendidikan kewarganegaraan
Volume : 9
Nomor : 3
Halaman : 710-724
Tahun Terbit : 2021
Nama Penulis : Iwan Fajri, Rahmat, Dadang Sundawa, Mohd Zailani Mohd Yusoff
Kata kunci : Kurikulum Islami, Pendidikan Nilai, Pendidikan Aceh, Qanun.

Adapun hasil yang saya dapatkan setelah membaca jurnal tersebut ialah Pendidikan yang diselenggarakan di Aceh merupakan implikasi dari penerapan Undang- Undang Nomor 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Aceh yang berbasis islami. Salah satu bentuk otonomi khusus yang diberikan oleh pemerintah Indonesia untuk provinsi Aceh adalah penerapan syariah Islam di Aceh dan pelaksanaan teknisnya diatur dengan Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Syariah Islam Di Provinsi Daerah Istimewa Aceh.

Penyelenggaraan pendidikan Islami di Provinsi Aceh mengacu pada Qanun Nomor 9 Tahun 2015 perubahan atas Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan.

Dalam pendidikan nilai dan moral nya sendiri, di Aceh tidaklah hanya mengikuti pedoman nasional, tetapi juga berdasarkan pada penerapan melalui kurikulum Islami yang sesuai dengan hukum setempat.
Hal itu di karenakan proses pelaksanaan pendidikan Sekolah di Aceh secara keseluruhan sudah Islami, berbasis dan berorientasi kepada budaya islami yang berbasis syariat islam di Aceh. Contohnya seperti indikator sistem pengelolaan madrasah yang memiliki nilai transparansi, akuntabilitas, pendekatan keteladanan, pengembangan budaya berorientasi islami dan penerapan kurikulum islami sebagaimana diatur dalam Qanun.
Nama: Annisa Fadillah Quraini
NPM: 2253053026

Analisis Video 2
Kekerasan di Lingkungan Sekolah

Video diatas membahas fenomena tragis kekerasan di lingkungan sekolah, di mana nyawa anak-anak terancam bahkan hilang akibat perkelahian yang dimulai dari hal sepele. Peristiwa ini menyoroti seriusnya isu kekerasan di antara peserta didik, yang sayangnya terjadi di lingkungan yang seharusnya aman, yakni sekolah.
Fokus pada viralnya duel siswa SD di Garut, peristiwa ini telah mencoreng dunia pendidikan. Fenomena penganiayaan anak oleh teman sebayanya telah menjadi perhatian serius dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini memunculkan keprihatinan tentang pengawasan dan perlindungan yang seharusnya diamanatkan bagi hak anak.
Dengan adanya insiden-insiden tragis semacam ini, penting untuk mempertanyakan faktor-faktor yang memicu kekerasan di sekolah dan menyoroti urgensi pendidikan terkait empati, pengawasan, serta pengembangan keterampilan sosial dan resolusi konflik bagi para siswa. Langkah-langkah preventif dan intervensi yang lebih efektif perlu diambil untuk memastikan keamanan dan kesejahteraan anak-anak di lingkungan pendidikan.
Nama: Annisa Fadillah Quraini
NPM: 2253053026

The Trolley Problem merupakan sebuah skenario atau eksperimen pemikiran yang digunakan dalam etika dan filsafat untuk menggali pertanyaan tentang moralitas dan pengambilan keputusan moral. Skenario ini melibatkan situasi fiktif di mana seorang individu dihadapkan pada pilihan sulit yang melibatkan nyawa orang lain. Seringkali, skenario ini diilustrasikan sebagai berikut:
Ada kereta yang tak terkendali yang menuju ke arah lima pekerja rel. Anda berada di sisi sebelah kiri rel dan di tangan Anda ada sebuah tuas yang dapat mengganti jalur kereta. Anda tahu bahwa jika Anda mengganti jalur kereta, kereta akan berbelok ke jalur lain, tetapi ada seorang pekerja rel di sana. Dalam situasi ini, Anda dihadapkan pada pilihan antara membiarkan kereta melaju dan menabrak lima pekerja rel atau mengganti jalur kereta untuk menyelamatkan lima pekerja tetapi mengorbankan satu pekerja rel.
Terdapat beberapa pendekatan teoritis dalam menganalisis moralitas dalam konteks The Trolley Problem:
1. Konsekuensialisme: Pendekatan ini menekankan bahwa keputusan yang etis adalah yang menghasilkan konsekuensi yang paling baik secara keseluruhan. Dalam konteks Trolley Problem, ini berarti mengganti jalur kereta untuk menyelamatkan lima pekerja rel karena itu akan mengurangi jumlah korban.
2. Deontologi: Pendekatan ini mengutamakan prinsip moral atau aturan yang harus diikuti tanpa memandang konsekuensinya. Dalam konteks ini, beberapa orang mungkin berargumen bahwa membunuh seseorang dengan mengganti jalur kereta adalah tindakan yang tidak etis meskipun bertujuan untuk menyelamatkan lima orang.
3. Utilitarianisme: Teori utilitarianisme memandang bahwa tindakan yang benar adalah yang menghasilkan sejumlah kebahagiaan yang maksimum atau penderitaan yang minimum bagi semua orang yang terlibat. Ini berarti dalam kasus Trolley Problem, tindakan yang benar adalah yang menghasilkan hasil yang paling baik dalam hal kebahagiaan keseluruhan.

The Trolley Problem mengilustrasikan kompleksitas dalam pengambilan keputusan moral dan memunculkan pertanyaan etis tentang nilai nyawa individu versus jumlah. Setiap pendekatan etika dapat menghasilkan hasil yang berbeda dalam skenario ini, dan itu menjadi bahan diskusi yang berharga dalam memahami moralitas.
Nama: Annisa Fadillah Quraini
NPM: 2253053026

Analisis Video

Penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari adalah langkah penting untuk membangun masyarakat yang adil, harmonis, dan beradab. Beberapa nilai-nilai yang harus kita teladani dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai berikut:

1. Ketuhanan Yang Maha Esa: Hormati keberagaman agama dan keyakinan. Berikan kebebasan beribadah sesuai dengan agama masing-masing dan hindari diskriminasi berdasarkan agama.
2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab: Tunjukkan empati, peduli, dan keadilan terhadap sesama manusia. Jangan diskriminasi berdasarkan ras, gender, atau latar belakang sosial.
3. Persatuan Indonesia: Hargai keberagaman budaya, etnis, dan suku di Indonesia. Saling menghormati dan mempromosikan persatuan di tengah perbedaan.
4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan: Berpartisipasi dalam proses demokrasi, pemilihan umum, dan pengambilan keputusan yang bersifat kolektif. Ajukan pendapat dan pendekatan yang membangun.
5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia: Bagikan kekayaan dan peluang secara adil. Jangan biarkan kesenjangan sosial terus bertambah.

Adapun Cara supaya seseorang dapat meneladani dan menerapkan nilai-nilai Pancasila, terutama dalam era modern yang mungkin mengalami pergeseran nilai, moral, dan etika, adalah dengan mendorong Pendidikan yang berfokus pada nilai-nilai Pancasila di sekolah dan keluarga. Guru, orang tua, dan pemimpin muda dapat berperan dalam mengajar dan mempraktikkan nilai-nilai tersebut. Selanjutnya memiliki figur teladan yang menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi inspirasi. Dan yang terakhir memilih dan mengonsumsi konten media dan teknologi dengan bijak, serta mempromosikan konten yang mendukung nilai-nilai positif. Hindari menyebarkan konten yang merusak moral dan etika.