Kiriman dibuat oleh Shinta Dwi Kartika 2213053127

Nama : Shinta Dwi Kartika
NPM : 2213053127
Kelas : 3H
Analisis video
Degradasi Moral Pelajaran Jaman Modern

1. Menurut KPAI
Sikap dan perilaku yang dilakukan seorang anak tidak akan berdiri sendiri, semuanya pasti ada latar belakang yang menjadikan dirinya seperti itu, hal ini dapat kita tinjau dari latar belakang pendampingan serta pengelolaan mulai dari keluarga dan guru di sekolah

2. Menurut praktisi pendidikan
Untuk menjadi guru harus memiliki kelengkapan yang cukup pada dirinya sendiri sebagai sosok pribadi, seperti yang sudah diatur didalam undang-undang bahwa seorang guru harus memiliki 4 standar kompetensi utama diantaranya.
-Kompetensi kepribadian
-Kompetensi sosial
-Kompetensi profesional
-Kompetensi pedagogi
Oleh sebab itu guru harus memiliki pembekalan yang cukup melalui pelatihan guru, praktik mengajar dan program magang untuk menghadapi peserta didiknya.

3. Menurut Psikolog
Ketika seorang anak memiliki emosi yang tidak terkontrol maka akan muncul impuls yang mendorong untuk bereaksi seketika tanpa memikirkan konsekuensi yang akan terjadi, oleh sebab itu perlu dilatih untuk meningkatkan dan mengelola pengontrolan emosi pada anak. Kemudian level toleransi yang berbeda terhadap stress yang diserap secara berlebihan yang tidak diimbangi oleh kemampuan pada dirinya sendiri.
Nama : Shinta Dwi Kartik
NPM :2213053127
Kelas 3H

Analisis jurnal
Nama jurnal : JIPSINDO
Nomor : 2
Volume : 6
Halaman : 131-145
Tahun terbit : 2019
Nama penulis : Enung Hasanah
Judul : PERKEMBANGAN MORAL SISWA SEKOLAH DASAR BERDASARKAN TEORI KOHLBERG

Pembahasan
Teori Kohlberg mengenai perkembangan moral secara formal disebut cognitive-dvelopmental theory of moralization, yang berakar pada karya Piaget. Asumsi utama Piaget adalah bahwa kognisi (pikiran) dan afek (perasaan) berkembang secara paralel dan keputusan moral merupakan proses perkembangan kognisi secara alami. Sebaliknya, kebanyakan ahli psikologi pada masa itu berasumsi bahwa pikiran moral lebih merupakan proses psikologi dan sosial.Penelitian Kohlberg menunjukan bahwa bila penalaran-penalaran yang diajukan oleh seseorang mengapa ia mempunyai pertimbangan moral tertentu atau melakukan tindakan tertentu diperhatikan, maka akan tampak jelas adanya perbedaan yang berarti dalam pendangan moral orang tersebut

Teori (Kohlberg; L., Hersh, R.H. 1977) tentang Perkembangan Moral dibagi menjadi 3 level, yang masing-masing level dibagi menjadi beberapa tahap sebagai berikut:
Level 1. Moralitas Pra-konvensional
-Tahap 1 - Ketaatan dan Hukuman. Tahap awal perkembangan moral terutama terjadi pada anak-anak kecil, tetapi orang dewasa juga mampu mengekspresikan jenis penalaran ini. Pada tahap ini, anakanak melihat aturan sebagai hal yang tetap dan absolut. Mematuhi aturan itu penting karena merupakan sarana untuk menghindari hukuman.
-Tahap 2 - Individualisme dan Pertukaran. Pada tahap perkembangan moral ini, anak-anak menjelaskan sudut pandang individu dan menilai tindakan berdasarkan bagaimana mereka melayani kebutuhan individu.

Level 2. Moralitas Konvensional
-Tahap 3 - Hubungan Interpersonal. Seringkali disebut sebagai orientasi "good boy-good girl", tahap perkembangan moral ini difokuskan pada memenuhi harapan dan peran sosial. Ada penekanan pada konformitas, bersikap "baik," dan mempertimbangkan bagaimana pilihan memengaruhi hubungan.
-Tahap 4 - Menjaga Ketertiban Sosial. Pada tahap perkembangan moral ini, orang mulai menganggap masyarakat secara keseluruhan ketika membuat penilaian. Fokusnya adalah menjaga hukum dan ketertiban dengan mengikuti aturan, melakukan tugas seseorang dan menghormati otoritas.

Level 3. Moralitas Pasca-konvensional.
-Tahap 5 - Kontrak Sosial dan Hak Perorangan. Pada tahap ini, orang mulai memperhitungkan perbedaan nilai, pendapat, dan kepercayaan orang lain. Aturan hukum JIPSINDO No. 2, Volume 6, September 2019 penting untuk mempertahankan masyarakat, tetapi anggota masyarakat harus menyetujui standar-standar ini.
-Tahap 6 - Prinsip Universal. Tingkat penalaran moral terakhir Kolhberg didasarkan pada prinsip-prinsip etika universal dan penalaran abstrak. Pada tahap ini, orang mengikuti prinsip-prinsip keadilan yang diinternalisasi ini, bahkan jika mereka bertentangan dengan hukum dan peraturan.

Hasil penelitian menunjukkan Responden/peserta dalam penelitian ini adalah siswa Sekolah Dasar yang berusia antara 11-12 tahun. Berdasarkan teori Kohlberg, pada umumnya anak-anak yang berusia sekitar 10–13 tahun berada pada tahap pra-konvensional, meskipun juga ada orang-orang dewasa yang berhenti perkembangannya pada tahap tersebut. Karena orang dewasa yang terhenti pada tingkatan itu merupakan kekecualian (Duska & Whelan, 1984: 65).
Nama : Shinta Dwi Kartika
NPM : 2213053127
Kelas : 3H

Analisis jurnal
Nama jurnal : Jurnal Cakrawala Pendidikan
oleh : Sudiati
Nomor : 2
Tahun Terbit : 2009
Judul Jurnal : PENDIDIKAN NILAI MORAL DITINJAU DARI PERSPEKTIF GLOBAL

Pembahasan
1. Isu Pendidikan Nilai Moral di Beberapa Negara
Isu pendidikan nilai moral yang terjadi di empat negara, yaitu Indonesia, Malaysia, India, dan Cina, negara tersebut memiliki karakteristik dengan latar belakang yang berbeda-beda. Pendidikan nilai moral pada jenjang pendidikan dasar menunjukkan beberapa kesamaan. Fokus pendidikan nilai moral pada jenjang pendidikan berkaitan dengan nilai tata kepribadian diri dan tata hidup berbangsa dan bernegara. Pendidikan nilai moral di empat negara tersebut sama-sama dihadapkan pada berbagai persoalan, baik yang pendidikan nilai moralnya terencana dan
terprogram dalam kurikulum maupun
yang tidak.

2. Dimensi Pendidikan Nilai Moral
a. Teori perkembangan moral
Kohlberg mengidentifikasi ada enam tahap tingkat pertimbangan moral, yaitu
- orientasi hukuman atau kepatuhan
- orientasi instrumental-relatif
- orientasi masuk kelompok anak manis atau anak baik
- orientasi hukum dan ketertiban
- orientasi kontrak sosialegalitas, dan
- orientasi prinsip kewajiban.
Ada dua hal esensial menghadapi peradaban manusia, yaitu
1. Lahirnya kesadaran baru
2. Kehidupan sarat nilai.
b.Pendidikan Nilai Moral
Pendidikan nilai moral adalah pendidikan yang berusaha mengembangkan komponen-komponen integrasi pribadi. Integrasi pribadi dapat dilukiskan sekurang-kurangnya empat
gambaran kepribadian. Pendidikan nilai merupakan bagian dari pendidikan afeksi karena aspek sistem nilai merupakan salah satu bagian dari aspek afeksi. Aspek afektif meliputi harga diri, minat, motivasi, sikap, sistem nilai, dan keyakinan (Darmiyati Zuchdi, 1997: 5).
Ada beberapa model pendidikan
afektif (nilai) yang dapat dipertimbangkan. Empat buah rumpun model pendidilan afektif yaitu
1. model-model perkembangan (developmental models)
2. model-model pengenalan diri (self conceps models)
3. model-model kepekaan dan kecenderungan kelompok (sensitivity and group orientation models)
4. model-model perluasan kesadaran (consciousness-expansion models)
c. Pendekatan Pendidikan Nilai Moral
Pendekatan komprehensif pendidikan nilai menurut Kirschenbaum dalam Darmiyati Zuchdi, 2008: 36-37) meliputi
- pendekatan inculcating,
yaitu menanamkan nilai dan moralitas, modelling, yaitu meneladankan nilai dan moralitas
- facilitating,
yaitu memudahkan perkembangan nilai dan moral
- skill development,
yaitu pengembangan keterampilan untuk mencapai kehidupan pribadi yang aman dan kehidupan sosial yang kondusif
d. Metode dan Teknik Pendidikan Nilai Moral
Pendidikan nilai moral dapat diselenggarakan dengan menggunakan metode dogmatis, metode deduktif, metode induktif, atau metode reflektif (Muhadjir, 1988:161).
Nama : Shinta Dwi Kartika
NPM : 2213053127
Kelas : 3H

Analisis video
Menurut Kohlberg terdapat 6 Tahap perkembangan. Lawrence Kohlberg melakukan penelitian di Amerika yg menjadi pondasi untuk merumuskan tahapan pengembangan moral.
Tahap perkembangan dibagi menjadi 3 level dimana setiap levelnya terbagi menjadi 2 tahapan diantaranya.
1. Level Pra konvensional
- Tahapan menghindari hukuman
Seseorang dapat memiliki alasan untuk bertindak maupun tidak bertindak karena alasan untuk menghindari hukuman. Contohnya ketika seseorang berkendara yang tidak menerobos lampu merah.
- Tahapan keuntungan dari minat pribadi
Tindakan memperhitungkan apa yg akan didapat olehnya seperti apa untungnya bagi ku. Contohnya seperti aku membantunya karena pada suatu saat nanti dia akan membantu ku
2. Level Konvensional
- Tahapan menjaga sikap orang baik
Seseorang memikirkan bagaimana kesepakatan sosial yang ada dan pendapat orang lain. Contohnya menghindari pertengkaran
- Tahapan memelihara peraturan
Peraturan harus di tegakkan apabila tidak ada yang mematuhi nya maka keadaan akan menjadi kacau, oleh karena itu peraturan harus ditegakkan
3. level Pasca Konvensional
- Tahapan orientasi kontrak sosial
Seseorang menyadari setiap orang memiliki latar belakang, tidak ada yg absolut ketika seseorang melihat kasus, hak individu harus terlihat transparan dengan hukum yang ada.
- Tahapan prinsip etika universal
Tahap ini menggambarkan prinsip internal seseorang, dimana ia melakukan hal yang dianggap benar meskipun bertentangan dengan hukum