Kiriman dibuat oleh BAGUS ADI SAPUTRA

Nama : Bagus Adi Saputra
NPM : 2113053147

1. Fungsi Agama
Keluarga menjadi tempat dimana nilai agama diberikan, diajarkan, dan dipraktikkan. Disini, orangtua berperan menanamkan nilai agama sekaligus memberi identitas agama kepada anak. Keluarga yang berhasil menerapkan nilai-nilai agama melalui contoh dalam kehidupan sehari-hari mampu memberikan fondasi yang kuat bagi setiap anggota keluarganya.
2. Fungsi Kasih Sayang
Sejak bayi dilahirkan, sejak itu pula ia mengenal kasih sayang. Perasaan disayangi sangat penting bagi seorang anak, karena kelak ia akan tumbuh menjadi seseorang yang mampu menyayangi pula. Hal ini akan menjadi modal bagi semua anggota keluarga untuk menumbuhkan rasa kasih sayang dalam konteks yang lebih luas dan mampu mengurangi munculnya bibit permusuhan dan anarkisme dalam masyarakat.
3. Fungsi Perlindungan
Idealnya, keluarga mampu menjadi tempat yang membuat anggotanya merasa aman dan tentram. Karena itu, seburuk apapun konflik yang terjadi di dalam keluarga, hindari terjadinya tindak kekerasan verbal maupun fisik, diskriminasi, dan pemaksaan kehendak.
4. Fungsi Sosial Budaya
Keluarga juga punya peran penting dalam memperkenalkan anak kepada nilai-nilai sosial budaya yang ada di masyarakat. Terlebih lagi di Indonesia, sopan santun sangat dijunjung tinggi, dengan berbagai macam norma, adat istiadat, dan budi pekerti yang berlaku di masyarakat. Dari anggota keluarga yang lebih tua lah anak bisa belajar bagaimana harus bersikap terhadap orang yang lebih tua dan mempelajari hal-hal yang pantas dan tidak pantas dalam budayanya.
5. Fungsi Reproduksi
Salah satu tujuan sebagian besar umat manusia untuk berkeluarga adalah untuk mendapatkan keturunan. Melalui pernikahan yang sah, keluarga menjadi entitas yang mampu menghasilkan generasi penerus bangsa. Pendidikan seks sejak dini dan sikap menghargai lawan jenis perlu ditanamkan dalam keluarga.
6. Fungsi Sosialisasi dan Pendidikan
Keluarga menjadi tempat pertama seorang anak belajar bersosialisasi dengan orang lain, yaitu orangtua dan saudara-saudaranya. Di dalam keluarga pula proses pendidikan untuk pertama kalinya diterima oleh anak.
7. Fungsi Ekonomi
Kondisi ekonomi sebuah keluarga biasanya mempengaruhi keharmonisan keluarga. Karena itu, mengajarkan anak untuk berhemat dan menumbuhkan jiwa wirausaha akan membuat mereka kelak dapat cerdas secara finansial.
8. Fungsi Pembinaan Lingkungan
Gaya hidup ramah lingkungan dapat terwujud jika ditanamkan sejak dini dalam keluarga. Begitu juga dengan kebiasaan peduli dengan lingkungan sekitar seperti tetangga dan masyarakat secara umum.
Nama : Bagus Adi Saputra
NPM : 2113053147

Pendekatan dalam pendidikan moral dibedakan menjadi tiga (3) yaitu;
1. Pendekatan Lawrence Kolhberg disebut Cognitive Moral Development
Kohlberg menyatakan bahwa orientasi moral individu terbentang sebagai konsekuensi dari perkembangan kognitif. Anak- anak dan remaja mennyusun pemikiran moralnya seiring dengan perkembanganya dari satu tahap ke tahap berikutnya, dibandingkan hanya secara pasif sekedar menerima norma-norma budaya mengenai moralitas.
2. Pendekatan L Metccalf dan Iman al Ghozalli disebut Affektive Moral Development
Perkembangan moral afektual, antara lain dianut oleh L. Metcalf, Justian Aronfeed, Imam Ghazali, yang meyakini bahwa dunia afektual bisa dibina dan dididik melalui pendekatan dan strategi tertentu dengan esensi pendidikan adalah mempribadikan nilai- moral norma. Sebagaimana pernyataan Al-Ghazali tentang akhlak (moral dalam Islam), akhlak tersebut merupakan perangai yang sudah tertanam dan menjadi label dalam diri seseorang, sehingga akan memunculkan perbuatan yang baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu. Perubahan-perubahan seringkali terjadi pada beberapa ciptaan Allah, kecuali hal-hal yang sudah menjadi ketetapan Allah seperti langit dan bintang-bintang.
3. Pendekatan Albert Bandura dan Skiner disebut Behavior Moral Development
Proses perkembangan sosial dan moral siswa selalu berkaitan dengan proses belajar karena menentukan kemampuan siswa dalambersikap dan berperilaku sosial yang selaras dengan norma moral agama, moral tradisi, moral hukum, dan norma moral lainnya yang berlaku dalam masyarakat.
Nama : Bagus Adi Saputra
NPM : 2113053147

Di video tersebut dijelaskan tentang korupsi yang merupakan penyakit bangsa yang harus dijauhi. Pada video tersebut terlihat seorang peserta didik yang sering melakukan korupsi uang kas saat diminta tolong untuk fotocopy. Kasus tersebut tidak bisa dibiarkan begitu saja. sekecil apapun uang yang dikorupsikan itu tetap dosa dan tidak baik, apalagi telah menjadi kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus. Maka dari itu, agar sikap koruptif tidak terbentuk dan tumbuh dalam diri anak-anak yang merupakan generasi penerus bangsa, kita perlu melakukan edukasi tentang karakter yang baik. Tindakan korupsi dan efek kecanduan yang ditimbulkan dan jika tidak diberhentikan ataupun dihilangkan di diri seseorang maka efek tersebut akan terus tertanam dalam diri orang tersebut sampai perkembangan pertumbuhan anak tersebut menjadi dewasa, namun jika anak tersebut memiliki lingkungan keluarga dan lingkungan pertemanan yang baik di sekolah maupun diluar sekolah yang lebih mengarahkan dan mengajarkan terkait pengajaran agama maka si anak tersebut lama kelamaan akan mulai tersadar dan merasa bersalah atas apa yang sudah dia lakukan.
Nama : Bagus Adi Saputra
NPM : 2113053147

Di video tersebut dipaparkan tentang perbedaan pendidikan jepang dengann idnonesia, Pendidikan di Jepang memang berbeda dengan Indonesia. Di negara tersebut mengajarkan peserta didik untuk menjaga kebersihan. Hal ini karena kurikulum di Jepang mengharuskan seluruh peserta didik untuk tanggung jawab atas kebersihan kelas mereka agar mereka dapat bekerja sama, berbagi tanggung jawab dan peka terhadap kondisi lingkungan sekitar. Di Indonesia sendiri pendidikan untuk menjaga kebersihan sebenarnya sudah diajarkan, tetapi tetap saja dalam hal pengimplementasiannya kurang. Masih banyak yang belum membuang sampah pada tempatnya. Sistem pendidikan di Indonesia seolah olah membuat siswa harus menguasai segala mata pelajaran yang jumlahnya tidak sedikit. Dimana hal tersebut dapat membuat siswa di Indonesia lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar materi pelaajaran daripada belajar untuk meningkatkan lifeskills dan juga softskills mereka. Lalu, jika pendidikan di Indonesia diwarnai berbagai ujian, dimulai dari ujian tulis, membaca, sampai nantinya menjadi faktor dalam kenaikan kelas. Sedangkan di Jepang tidak melibatkan ujian dalam tiga tahun awal pendidikan dasar, pada tiga tahun pertama siswa akan diberi ujian agar mereka fokus dalam belajar pendidikan karakter seperti sopan santun, tolong menolong. Selain itu, minat baca antara negara Jepang dan negara Indonesia sangatlah berbeda dimana Negara indonesia masih rendah minat bacaanya berbeda dengan jepang yang dari dini sudah diajarkan dan dilatih minantnya untuk meembaca. Dari hal hal di atas tentunya sangat membedakan antara sistem pendidikan di negara maju seperti jepang dan negara berkembang Indonesia. Maka dari itu, sistem pendidikan antara negara Jepang dengan negara Indonesia berbeda membuat kemajuan individu hasil pendidikan yang berbeda pula.