Kiriman dibuat oleh Muhammad Dzaki Rizkia 2053031004

AKM C2025 -> Penyerahan Jawaban Kasus 2

oleh Muhammad Dzaki Rizkia 2053031004 -
NAMA : MUHAMMAD DZAKI RIZKIA
NPM : 2053031004

Jika dibandingkan dengan metode kalkulasi biaya persediaan FIFO, metode LIFO pada umumnya menghasilkan laba bersih yang lebih rendah selama periode harga meningkat. Hal ini dikarenakan metode LIFO mengasumsikan bahwa barang yang terakhir dibeli (dengan harga yang lebih tinggi saat inflasi) adalah yang pertama dijual, sehingga biaya barang terjual menjadi lebih tinggi dan laba bersih lebih rendah. Sebaliknya, metode FIFO menggunakan biaya persediaan paling awal (biasanya lebih rendah selama inflasi), sehingga menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi.
Namun, selama periode harga menurun, pengaruhnya berbalik. Metode LIFO cenderung menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi daripada FIFO karena biaya barang terjual dihitung berdasarkan harga pembelian sebelumnya yang lebih tinggi, sedangkan persediaan akhir dicatat dengan harga yang lebih rendah. Jadi, laba bersih pada metode FIFO bisa lebih rendah selama deflasi. Secara komparatif, pilihan metode ini memengaruhi laporan laba rugi dan posisi keuangan perusahaan secara signifikan tergantung pada tren harga di pasar.

AKM C2025 -> Penyerahan Jawaban Kasus 1

oleh Muhammad Dzaki Rizkia 2053031004 -
NAMA : MUHAMMAD DZAKI RIZKIA
NPM : 2053031004

Metode FIFO, rata-rata tertimbang (average), dan identifikasi khusus memiliki karakteristik dan implikasi yang berbeda dalam penilaian persediaan, penentuan laba, dan nilai aktiva. FIFO mengasumsikan barang yang masuk pertama dijual lebih dulu, sehingga pada saat harga naik, laba cenderung lebih tinggi dan sisa persediaan di neraca lebih mendekati harga pasar saat ini. Metode rata-rata tertimbang menghasilkan laba dan nilai persediaan yang moderat karena menggunakan rata-rata biaya perolehan, sehingga fluktuasi harga tidak terlalu berdampak pada laporan keuangan. Metode identifikasi khusus paling akurat bila tiap barang bisa diidentifikasi, tapi tidak praktis untuk barang massal atau homogen sehingga jarang digunakan, walau secara teoretis sangat andal untuk penentuan laba khusus atau barang bernilai tinggi.

Dari sisi kelayakan teoretis, FIFO cocok untuk perusahaan dengan barang yang cepat berubah atau mudah rusak; nilai persediaan di neraca lebih relevan dengan nilai pasar terkini. Metode rata-rata tertimbang sesuai untuk stabilisasi laba, terutama jika fluktuasi harga cukup tinggi. Identifikasi khusus sangat layak diterapkan untuk barang unik atau bernilai tinggi, namun tidak efisien bagi barang massal. Terkait penilaian laba, FIFO menghasilkan laba yang lebih tinggi pada saat inflasi, rata-rata tertimbang berada di antara keduanya, sedangkan identifikasi khusus sangat tergantung pada biaya aktual barang yang dijual. Dalam penilaian aktiva, FIFO memberikan nilai persediaan akhir paling relevan secara ekonomi, average balance antara konservatif dan agresif, sementara identifikasi khusus sangat tepat jika pengelolaan barang memungkinkan.